MasukSuasana di dalam ruang keluarga kediaman Arron siang ini terasa begitu hangat dan dipenuhi oleh aura kebahagiaan yang membuncah. Kian, Arthur, Arron, dan Sienna duduk bersama, berbagi senyum dan tawa kecil yang selama lima tahun ini sempat meredup dari rumah tersebut. Beban rahasia yang telah luruh berganti dengan rasa syukur yang teramat besar di hati Sienna.Dan Kian sekeluarga, kini mendapatkan apa yang hilang dari mereka dalam lima tahun ini.Tatapan Kian tertuju pada Sienna. Senyumnya terangkat kecil saat Sienna juga ternyata memandang ke arahnya. “Sienna, aku serius dengan ucapanku tadi. Kamu benar-benar harus tetap tinggal di rumah ini bersama kami. Mulai sekarang, aku ingin kamu fokus penuh pada kesehatanmu agar bisa segera sembuh dari penyakit tuberkulosis yang kamu derita.” Kian bicara dengan nada penuh penekanan.“Tidak usah bekerja. Bahkan di rumah ini, aku melarangmu menyentuh pekerjaan apa pun. Tidak ada bantahan.” Kian kembali bicara untuk mengingatkan agar Sienna tak
Setelah semua kepastian yang mereka dapatkan.Sekarang, Kian dan Arthur melangkah pelan masuk ke dalam kamar tempat Kaylan beristirahat.Mereka mendekati ranjang tempat Kaylan tengah tertidur pulas. Kening Arthur berkerut dalam melihat kepala Kaylan diperban.“Kepalanya kenapa?” tanya Arthur sambil menoleh pada Kian yang berdiri di sampingnya.“Dia jatuh di sekolah, tadi aku buru-buru meninggalkan perusahaan untuk menjemputnya di rumah sakit. Bahkan ponsel dan tasku masih di mobil, karena itu aku tidak membalas panggilan apa pun.” Kiran menjelaskan secara terperinci.Tatapan Kian kembali tertuju pada Kaylan, lalu dia bicara lagi. “Karena luka itulah, aku akhirnya tahu kalau Kaylan bayi kita. Aku mengganti pakaiannya, dan melihat tanda lahirnya.”Kian menyandarkan kepala di pundak Arthur setelah selesai bicara.Sedangkan Arthur kini merangkul pundak Kian dan ikut bersandar di kepala Kian.Mata Arthur menatap lekat pada wajah damai Kaylan yang sekarang dia ketahui sebagai darah dagingn
Arthur terpaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya menegang kaku, sementara napasnya seolah berhenti berembus bahkan jantungnya seolah ikut berhenti berdetak. Matanya menatap lekat pada wajah Kian, mencoba memastikan apa yang baru saja istrinya katakan bukanlah candaan semata.“Kian, apa maksud ucapanmu?” Suara Arthur pelan dan terdengar meragu."Menemukan?” Ulang Arthur memastikan. “Sayang, tolong jangan bercanda dengan hal sensitif seperti ini.” Arthur menatap tak percaya.Kian menggeleng dengan cepat. Buliran kristal bening kembali luruh dari pelupuk matanya bersamaan dengan senyumnya yang terangkat lembut di bibirnya.“Aku tidak bercanda, Sayang. Aku benar-benar tidak sedang bercanda! Aku sudah menemukan bayi kita yang hilang.” Kian mengangguk-angguk untuk meyakinkan.Tubuh Arthur membeku mendengar kalimat yang begitu meyakinkan dari istrinya.“Benar-benar sudah ditemukan?” Arthur kembali memastikan seolah apa yang baru saja didengarnya tidaklah benar.Kian mengangguk-angguk mantap.
Arthur mengembuskan napas kasar mendengar ucapan Kendrick. Kalimat dari asistennya ini benar-benar tidak menenangkannya sama sekali.“Bagaimana bisa dia baik-baik saja, kalau tiba-tiba dia pergi dan tidak bisa dihubungi?” Arthur menoleh pada Kendrick dengan wajah setengah kesal.“Sekarang, percepat saja laju mobilnya agar kita bisa segera tiba di rumah,” perintah Arthur setelah merasa kalau Kendrick mengemudikan mobil dengan sangat lambat.Bukannya segera mempercepat laju mobil ini, Kendrick malah menceramahi. “Tidak baik mengemudi terlalu cepat, Tuan. Jangan sampai terjadi sesuatu pada kita, sebelum kita tahu apa yang terjadi pada Kian.”Arthur melotot, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena Kendrick yang memegang kemudi.Kendrick tetap mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang agak lenggang siang ini, meskipun dia terus mendengar Arthur mengeluh sampai memprotes sikapnya.Kendrick tidak peduli atasannya mengomel, baginya sekarang adalah mengantar Arthur
Di HW. Company.Arthur duduk di balik meja dengan tatapan lurus yang tertuju tajam pada layar tablet digital di hadapannya. Jarinya sesekali bergerak mengusap layar, memeriksa langsung postingan video yang tengah menjadi perbincangan panas dan viral di berbagai platform media sosial sejak semalam. Berita buruk mengenai tuduhan kontaminasi produk makanan kemasan dan mie instan milik HW. Company telah menyebar dengan sangat cepat.Kendrick berdiri tegap di depan meja kerja Arthur. Dia terus memperhatikan raut wajah Arthur yang dingin.Kendrick diam menunggu instruksi selanjutnya untuk mengambil tindakan hukum atau merilis klarifikasi resmi.Namun, keheningan di dalam ruangan itu mendadak terpecah saat ponsel di saku jas Kendrick bergetar.Kendrick mengeluarkan benda pipih itu, dia membaca sebuah pesan singkat yang baru saja didapatnya.Mendapati itu pesan dari Ginny, Kendrick maju selangkah lebih dekat dengan tepian meja Arthur.“Tuan Arthur.” Kendrick memanggil pelan. Begitu tatapan
Kian tersentak mendengar kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Sienna. Kening Kian berkerut dalam. Genggaman tangannya di jemari Sienna semakin mengerat.“Pergi? Apa maksud ucapanmu itu? Kamu mau pergi ke mana?” Kian memastikan, tatapannya begitu serius menunggu penjelasan Sienna.Sienna memaksakan senyumnya terangkat kecil, meski matanya kembali berkaca-kaca. “Tujuanku kembali ke kota ini sejak awal memang hanya untuk mencari tahu siapa orang tua kandung Kaylan, Kian. Aku tahu keterbatasanku, aku tidak akan bisa memberikan masa depan yang layak untuknya.”Sienna mengembuskan napas pelan, lalu kembali bicara. “Sekarang, karena tujuan itu sudah tercapai dan Kaylan sudah berada di tangan yang tepat, tugasku benar-benar sudah selesai. Aku tidak mau kehadiran atau masa laluku justru mengganggu kebahagiaan keluarga kalian.”“Sienna, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kamu sama sekali tidak boleh pergi dari rumah ini!” Kian membalas dengan cepat.Kian menatap lekat wajah Sienna. “Sek
Setelah mengurus suaminya dan sarapan bersama. Kian mengemudikan mobilnya membelah jalanan pagi, menuju kawasan tempat tinggal Sienna. Begitu tiba di dekat gang sempit akses menuju rumah Sienna. Kian lebih dulu memarkirkan kendaraannya di bahu jalan raya seperti biasa, setelahnya dia melangkah ma
Jarum jam sudah menunjuk ke angka sebelas malam lewat sedikit saat Mia akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar kontrakannya yang sempit. Suasana sepi langsung menyambut. Dengan sisa tenaga yang ada, dia meletakkan tas selempangnya di atas meja kayu kecil, lalu mendudukkan diri di tepian ranjang yan
Pria itu menengok ke kanan dan kiri memastikan situasi, lalu kembali menatap pada Sienna.“Begini, nanti kamu pura-pura terkejut kalau ada wanita yang mendekatimu bersama beberapa orang yang membawa kamera di belakangnya.”Sienna mengerutkan kening, sampai dia kembali mendengar pria ini bicara.“Na
Pintu ruangan kerja Arthur terbuka perlahan. Kian melangkah masuk dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya, membawa sebuah paper bag berisi beberapa kotak bekal makanan yang dipesannya.Saat melihat Arthur sibuk di balik meja, Kian dengan cepat memanggil. "Sayang, ayo makan siang dulu." Tatapan







