Home / Romansa / Istri Kontrak Politisi Angkuh / 2. Perjanjian Pernikahan

Share

2. Perjanjian Pernikahan

Author: raintara
last update publish date: 2026-06-12 12:37:11

Menikah kontrak?

Biasanya Bening melihat hal seperti ini di sebuah novel atau film.

Pernikahan yang awalnya didasari dengan kontrak, lalu lambat laun suami istri yang katanya tidak akan pernah jatuh cinta mengingkari perkataannya sendiri. Lalu pada akhirnya mereka bersatu.

Tapi ... itu hanya di novel. Di kehidupan nyata, semua tidak seindah itu.

Terlihat Kalingga mengeluarkan ponselnya. Dinyalakannya benda itu. "Kirimkan nomormu, saya akan mengirimkan file perjanjiannya."

Bening segera menyebutkan nomor untuk Kalingga ketik. Tidak membutuhkan waktu lama, ponsel gadis itu berdenting, menandakan ada pesan yang masuk.

"Buka, baca, dan pahami. Jika ada hal yang kurang atau kamu tidak paham, kita bisa membicarakannya."

Bening menurut. Setelah mengunduh dokumen yang Kalingga kirimkan, gadis itu membaca isinya dengan seksama.

SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN. Deretan huruf itu menyambut Bening di halaman pertama. Menggulir ponselnya kian ke bawah, Bening baca kata demi kata dengan saksama.

Di situ tertera bahwa dirinya dan Kalingga akan menjalani pernikahan dalam kurun waktu satu tahun. Dan dalam satu pernikahan itu, ada beberapa hak dan kewajiban yang harus keduanya jalani.

Salah satunya, merahasiakan perjanjian kontrak ini dari siapa pun. Bening setuju saja. Bisa dihajar Bramasta dia, jika ayahnya sampai tahu ujung pernikahan ini adalah perceraian.

Lalu keduanya berhak atas privasi masing-masing. Keduanya juga wajib berlakon selayaknya suami istri yang harmonis di depan publik.

Kening Bening berkerut samar saat membaca pasal tentang salah satu haknya. Kalingga akan memberikannya uang kompensasi sebesar 50 juta setiap bulannya selama pernikahan?

50 juta bukanlah uang yang sedikit. Selama 12 bulan, Bening bisa mendapatkan uang 600 juta.

Uang itu lebih dari cukup bagi Bening gunakan untuk memulai kehidupannya yang baru. Menjauh dari semua orang yang ada di sini dan bertemu orang-orang baru yang bisa menganggapnya sebagai manusia, bukan barang yang bisa digunakan sesuka hati demi sebuah keuntungan.

Membayangkan saja mampu membuat bibir Bening tertarik tipis.

"Kalau tidak ada keberatan, kita bisa proses kontrak ini agar bisa kita tanda tangani."

Bening mengangkat wajahnya dan berbicara pelan.

"Mas Lingga, setahuku, perjodohan ini ada karena Ayah dan Pak Pramudya ingin menjalin hubungan lebih dekat, dan membangun citra baik dan memperkuat kedudukan partai mereka di mata politik."

"Jika suatu hari kita bercerai, apa kabar itu tidak akan mempengaruhi partai mereka? Oposisi pasti akan memanfaatkan situasi itu untuk menjatuhkan mereka."

Kalingga tetap tenang. Pria itu malah terkekeh tanpa suara. Sikap yang membuat Bening bertanya-tanya.

"Di saat seperti ini, kamu masih memikirkan ayahmu," gumamnya rendah, lalu menatap Bening dan menjawab, "Begitu kita menikah, urusan partai adalah urusan saya. Kamu tidak usah memikirkan hal lain."

Jawaban tegas tak mau dibantah itu, Bening telan bulat-bulat. Menyimpannya dalam memori bersama keresahan yang mulai menggerogoti.

"Kalau kamu sudah mengerti, saya akan pergi."

Bening hanya terdiam. Kalingga yang memahami hal itu sebagai persetujuan Bening atas kontrak mereka pun mengangguk tanpa banyak bicara, dan pergi meninggalkannya di sana.

.

.

Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Terhitung seperempat jam yang lalu keluarga Bramasta pulang ke kediaman.

Di kamarnya, Bening duduk di kursi rias, menatap kaca dengan tatapan kosongnya. Sampai kemudian, pintu kamarnya terbuka. Derit suaranya membuat Bening tersadar dari lamunan.

"Kerja bagus, Bening. Pernikahanmu dan putra Adiyaksa telah ditentukan. Kamu membuat Ayah bangga," suara Bramasta mengudara.

Dari pantulan kaca, Bening dapat melihat langkah sang ayah yang mendekat. Bening menahan nafas, genggamannya pada botol pembersih make-up mengetat tanpa disadarinya.

"Angsa putih kesayanganku ..." Bramasta berhenti tepat di belakang punggung Bening. Sangat dekat, hingga Bening dapat membaui aroma rokok yang melekat di tubuh ayahnya.

Gadis itu tersentak saat Bramasta menyingkirkan rambutnya yang tergerai ke samping. Pembersih make upnya seketika terjatuh dari tangannya. Ia ganti jadi meremas gaun putih yang belum digantinya.

Kemudian, ayahnya itu menunduk, membisikkan kalimat puja tepat di telinganya.

"Kamu cantik sekali hari ini, Bening. Ayah sampai tidak bisa berkedip melihatnya.”

Ini rahasia. Bramasta---ayah kandungnya sendiri---kerap melakukan tindak tercela kepadanya.

Di depan orang lain, Bramasta akan bersikap seperti pria itu tidak menyukai Bening. Tapi, saat hanya ada mereka berdua, Bramasta akan berubah menjadi monster yang menjijikan.

Semua kebusukan Bramasta, mampu pria itu sembunyikan dengan rapi di balik wibawanya yang agung. Membuat Bening menyimpan aib ini sendirian.

Mengungkapkannya pun percuma. Tidak akan ada yang percaya. Juga, Bening tidak siap dengan tanggapan orang-orang nantinya.

"Tapi, Bening, kamu belum menjawab pertanyaan Ayah. Tadi, apa yang kamu bicarakan berdua dengan putra Adiyaksa?"

Tepat saat bibir Bramasta menyentuh pundaknya, Bening berjengit kaget dan sontak mendorong ayahnya, hingga pria terdorong ke belakang.

“A--Ayah,” panik, Bening bercicit dengan wajah pucat, “Maaf. Aku, aku tidak sengaja..."

Bramasta berdiri. Tatapannya berubah penuh peringatan. "Berani sekali kamu menentang Ayah? Lihat bagaimana Ayah akan menghukummu!"

Tanpa aba-aba, Bramasta menarik Bening, lalu didorongnya anaknya itu ke ranjang.

“Tidak! Jangan, Ayah!”

Lalu, entah kekuatan dari mana, Bening berhasil mendorong ayahnya itu hingga terjatuh ke lantai. Bertepatan dengan itu, pintu kamarnya terbuka.

Bening merasakan jantungnya berhenti berdetak. Menoleh ke arah pintu, terlihatlah Sarah, ibunya, yang menatapnya terkejut.

"Apa yang kamu lakukan ke ayahmu, Bening?!" sentaknya.

Sarah berjalan mendekat. Bening ingin berbicara, mengungkapkan kebejatan ayahnya. Saat dia baru saja membuka mulut, Sarah terlebih dahulu mengangkat tangannya. Lalu, tamparan keras mendarat di wajah Bening.

Plak!

"Kurang ajar! Begini caramu bersikap pada Ayahmu sendiri?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   9. Jangan Memberiku Harapan

    Bening bangun dengan kepalanya yang terasa berat. Niat awalnya yang ingin menguping justru membawa Bening kembali ke alam mimpi. Dan kini Bening terkena getahnya. Tenggorokannya terasa kering. Kepalanya juga terasa berat. Mungkin ini efek dari menangis sampai tertidur. "Sudah bangun?" Bening terperanjat. Menoleh ke sumber suara, Kalingga tampak sedang fokus pada laptopnya. Kacamata baca membingkai mata pria itu, membuat Kalingga tampak lebih menawan. 'Astaga, Bening. Berhentilah memujinya.' batin Bening menggelengkan kepalanya. "Saya sudah pesankan makanan di atas nakas." ujar Kalingga tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop. "Sebaiknya kamu makan. Setelah itu, minum obat."Bening tidak menjawab. Melirik jam dinding, mata Bening sedikit membesar. Sudah pukul delapan malam. Selama itukah dirinya tertidur? Berdehem untuk mengurangi serak di tenggorokannya, Bening akhirnya membuka suara. "Kayaknya aku mau mandi dulu, deh, Mas. Badanku lengket karena keringat."Kalingga menoleh p

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   8. Bukan Kamu Yang Dia Mau, Bening

    Bening membuka matanya yang terasa berat. Rasa pusing yang menyergap kepalanya masih terasa. Gadis itu berusaha bangkit dari pembaringan. Mengedarkan pandangannya, Bening tertegun saat mendapati Kalingga duduk di sofa dengan tatapan tajamnya yang mengarah padanya. "Mas Lingga?" suara Bening terdengar serak. "Apa yang sudah terjadi?"Kalingga tak menjawab. Sebaliknya, pria itu berdiri, lalu berjalan mendekat pada Bening. Tanpa sadar, Bening menelan salivanya merasa gugup. Kalingga mengambil sejumlah obat, sebelum kemudian diserahkan pada Bening."Minum." titahnya. Tak ingin suaminya kesal karena menunggu terlalu lama, Bening gegas menerima obat itu. Menelannya, sampai kemudian Kalingga mengarahkan gelas berisi air putih ke mulutnya.Saat menenggak air putih itu, Bening amati wajah tanpa ekspresi milik Kalingga. Pria itu begitu perhatian untuk ukuran suami di atas kertas. Membuat sudut terkecil hati Bening menjadi serakah, berandai-andai jika pernikahan ini berlaku untuk seumur hidup

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   7. Perjamuan

    "Sudah siap?"Dari pantulan kaca, Bening dapat melihat Kalingga menghampirinya yang sedang duduk di kursi rias. Sebentar lagi mereka akan menghadiri perjamuan keluarga. Bening mengangguk. "Sudah, Mas." jawabnya pelan. Kalingga memindai penampilan Bening yang saat ini memakai dress santai motif bunga. Juga, di leher gadis itu terdapat bercak merah bekas lipstik yang tadi dia oleskan.Ditatap sebegitu intesnya oleh sang suami, membuat Bening berdehem salah tingkah. "Ayo." Kalingga mengulurkan tangannya. "Semua keluarga sudah menunggu."Bening menatap uluran tangan itu lama. Hatinya berdesir. Ajakan Kalingga terlalu sopan di telinganya, tidak seperti keluarganya yang kerap melontarkan kalimat paksaan yang menjelma sebagai perintah tak bisa dibantah.Bening menerima uluran tangan itu. Telapak tangan Kalingga yang hangat menyelimuti tangan dinginnya.Kemudian, sepasang suami istri itu berjalan meninggalkan kamar hotel untuk menuju aula yang sudah disiapkan sebagai tempat perjamuan.Sua

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   6. Tentang Malam Pertama

    Bening berdehem canggung. Dia lekas menjauh dari Kalingga. "Aku... aku bisa sendiri." "Oh," Kalingga menjawab singkat, namun tatapannya yang tak lepas padanya berhasil membuat darah Bening berdesir panas. "Silahkan." Berusaha mengabaikan Kalingga, Bening berusaha menurunkan resleting punggung gaunnya. Tidak dapat dipungkiri, dirinya mengalami kesulitan. Sesekali Bening mendesis pelan. Selanjutnya, Bening dikejutkan saat tangannya yang bertengger di resleting gaun disingkirkan oleh Kalingga. Pria itu tanpa berkomentar membantunya, tangannya menurunkan resleting gaun Bening. "Lain kali, kalau butuh bantuan, bilang," ucapnya, terdengar dingin. Bening menahan nafasnya. Jaraknya dan Kalingga terlampau dekat. Bahkan Bening dapat meraba nafas hangat Kalingga yang menerpa lehernya. "Mas Kalingga..." panggil Bening nyaris berbisik. "Hm?" “Mas Kalingga mau melakukan malam pertama?” Jemari Bening meremas ujung gaun, lewat pantulan cermin rias, matanya menatap penuh cemas pada sosok

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   5. Pembelaan

    Kalingga berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajamnya yang menusuk. Langkahnya mantap, tidak tergesa, tapi cukup membuat Bramasta segera menjauh dari tubuh Bening. Gadis itu masih terpojok, napasnya tersengal. Sementara ayahnya berusaha menampilkan wajah tenang seolah tak terjadi apa-apa. "Nak Kalingga?" Bramasta lekas menjauh dari Bening. "Nak Kalingga, saya harap Nak Kalingga bisa memaafkan kesalahan Bening. Tadi dia memang berbuat tidak sopan kepada saya, untuk itu tolong maafkan putri saya," tetap tenang, Bramasta mencoba memutar balikkan fakta. Bening terperangah, matanya membesar mendengar tuduhan itu. “Pa---" suaranya tercekat, namun Bramasta menatapnya tajam, memberi isyarat agar diam. Kalingga melihat Bening yang mencoba menarik gaunnya yang melorot. Ia melepaskan jasnya untuk dipakaikan kepada sang istri. Selanjutnya, pria itu menatap ayah mertuanya. "Pak Bramasta, Anda bermaksud bilang,” suara Kalingga dingin dan tajam, “Bening, anak Anda sendiri, berani menggo

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   4. Pernikahan

    Dan hari itu tiba. Setelah satu bulan yang lalu banyak media yang membicarakan pernikahannya, kini Bening duduk terpaku di depan cermin rias dengan mengenakan gaun yang dipilihnya dari butik beberapa hari lalu.Wajahnya telah dirias secantik mungkin, bahkan Bening hampir tidak mengenali wajahnya. Ceklek. Pintu kamar hotelnya terbuka. Ibunya yang mengenakan kebaya modern datang menjemput. Seperti biasa, Sarah menatap tak suka padanya."Pernikahan akan segera dimulai. Ayahmu sudah menunggu untuk mengantarmu ke altar."Menelan salivanya yang terasa pahit, Bening mengedipkan matanya. Gadis itu berdiri, menghampiri ibunya sebelum wanita itu membentaknya. "Ingat, Bening. Setelah ini kamu akan menjadi istri seseorang. Jaga sikapmu, patuhi semua perkataan suamimu, jangan berani membantah. Jadi istri yang baik karena kamu akan membawa nama keluarga Bramasta. Paham?" peringat Sarah di sela-sela langkah mereka. Bening tidak banyak bersuara. Gadis itu anggukkan kepalanya dengan menurut.Bram

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status