MasukMenikah kontrak?
Biasanya Bening melihat hal seperti ini di sebuah novel atau film. Pernikahan yang awalnya didasari dengan kontrak, lalu lambat laun suami istri yang katanya tidak akan pernah jatuh cinta mengingkari perkataannya sendiri. Lalu pada akhirnya mereka bersatu. Tapi ... itu hanya di novel. Di kehidupan nyata, semua tidak seindah itu. Terlihat Kalingga mengeluarkan ponselnya. Dinyalakannya benda itu. "Kirimkan nomormu, saya akan mengirimkan file perjanjiannya." Bening segera menyebutkan nomor untuk Kalingga ketik. Tidak membutuhkan waktu lama, ponsel gadis itu berdenting, menandakan ada pesan yang masuk. "Buka, baca, dan pahami. Jika ada hal yang kurang atau kamu tidak paham, kita bisa membicarakannya." Bening menurut. Setelah mengunduh dokumen yang Kalingga kirimkan, gadis itu membaca isinya dengan seksama. SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN. Deretan huruf itu menyambut Bening di halaman pertama. Menggulir ponselnya kian ke bawah, Bening baca kata demi kata dengan saksama. Di situ tertera bahwa dirinya dan Kalingga akan menjalani pernikahan dalam kurun waktu satu tahun. Dan dalam satu pernikahan itu, ada beberapa hak dan kewajiban yang harus keduanya jalani. Salah satunya, merahasiakan perjanjian kontrak ini dari siapa pun. Bening setuju saja. Bisa dihajar Bramasta dia, jika ayahnya sampai tahu ujung pernikahan ini adalah perceraian. Lalu keduanya berhak atas privasi masing-masing. Keduanya juga wajib berlakon selayaknya suami istri yang harmonis di depan publik. Kening Bening berkerut samar saat membaca pasal tentang salah satu haknya. Kalingga akan memberikannya uang kompensasi sebesar 50 juta setiap bulannya selama pernikahan? 50 juta bukanlah uang yang sedikit. Selama 12 bulan, Bening bisa mendapatkan uang 600 juta. Uang itu lebih dari cukup bagi Bening gunakan untuk memulai kehidupannya yang baru. Menjauh dari semua orang yang ada di sini dan bertemu orang-orang baru yang bisa menganggapnya sebagai manusia, bukan barang yang bisa digunakan sesuka hati demi sebuah keuntungan. Membayangkan saja mampu membuat bibir Bening tertarik tipis. "Kalau tidak ada keberatan, kita bisa proses kontrak ini agar bisa kita tanda tangani." Bening mengangkat wajahnya dan berbicara pelan. "Mas Lingga, setahuku, perjodohan ini ada karena Ayah dan Pak Pramudya ingin menjalin hubungan lebih dekat, dan membangun citra baik dan memperkuat kedudukan partai mereka di mata politik." "Jika suatu hari kita bercerai, apa kabar itu tidak akan mempengaruhi partai mereka? Oposisi pasti akan memanfaatkan situasi itu untuk menjatuhkan mereka." Kalingga tetap tenang. Pria itu malah terkekeh tanpa suara. Sikap yang membuat Bening bertanya-tanya. "Di saat seperti ini, kamu masih memikirkan ayahmu," gumamnya rendah, lalu menatap Bening dan menjawab, "Begitu kita menikah, urusan partai adalah urusan saya. Kamu tidak usah memikirkan hal lain." Jawaban tegas tak mau dibantah itu, Bening telan bulat-bulat. Menyimpannya dalam memori bersama keresahan yang mulai menggerogoti. "Kalau kamu sudah mengerti, saya akan pergi." Bening hanya terdiam. Kalingga yang memahami hal itu sebagai persetujuan Bening atas kontrak mereka pun mengangguk tanpa banyak bicara, dan pergi meninggalkannya di sana. . . Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Terhitung seperempat jam yang lalu keluarga Bramasta pulang ke kediaman. Di kamarnya, Bening duduk di kursi rias, menatap kaca dengan tatapan kosongnya. Sampai kemudian, pintu kamarnya terbuka. Derit suaranya membuat Bening tersadar dari lamunan. "Kerja bagus, Bening. Pernikahanmu dan putra Adiyaksa telah ditentukan. Kamu membuat Ayah bangga," suara Bramasta mengudara. Dari pantulan kaca, Bening dapat melihat langkah sang ayah yang mendekat. Bening menahan nafas, genggamannya pada botol pembersih make-up mengetat tanpa disadarinya. "Angsa putih kesayanganku ..." Bramasta berhenti tepat di belakang punggung Bening. Sangat dekat, hingga Bening dapat membaui aroma rokok yang melekat di tubuh ayahnya. Gadis itu tersentak saat Bramasta menyingkirkan rambutnya yang tergerai ke samping. Pembersih make upnya seketika terjatuh dari tangannya. Ia ganti jadi meremas gaun putih yang belum digantinya. Kemudian, ayahnya itu menunduk, membisikkan kalimat puja tepat di telinganya. "Kamu cantik sekali hari ini, Bening. Ayah sampai tidak bisa berkedip melihatnya.” Ini rahasia. Bramasta---ayah kandungnya sendiri---kerap melakukan tindak tercela kepadanya. Di depan orang lain, Bramasta akan bersikap seperti pria itu tidak menyukai Bening. Tapi, saat hanya ada mereka berdua, Bramasta akan berubah menjadi monster yang menjijikan. Semua kebusukan Bramasta, mampu pria itu sembunyikan dengan rapi di balik wibawanya yang agung. Membuat Bening menyimpan aib ini sendirian. Mengungkapkannya pun percuma. Tidak akan ada yang percaya. Juga, Bening tidak siap dengan tanggapan orang-orang nantinya. "Tapi, Bening, kamu belum menjawab pertanyaan Ayah. Tadi, apa yang kamu bicarakan berdua dengan putra Adiyaksa?" Tepat saat bibir Bramasta menyentuh pundaknya, Bening berjengit kaget dan sontak mendorong ayahnya, hingga pria terdorong ke belakang. “A--Ayah,” panik, Bening bercicit dengan wajah pucat, “Maaf. Aku, aku tidak sengaja..." Bramasta berdiri. Tatapannya berubah penuh peringatan. "Berani sekali kamu menentang Ayah? Lihat bagaimana Ayah akan menghukummu!" Tanpa aba-aba, Bramasta menarik Bening, lalu didorongnya anaknya itu ke ranjang. “Tidak! Jangan, Ayah!” Lalu, entah kekuatan dari mana, Bening berhasil mendorong ayahnya itu hingga terjatuh ke lantai. Bertepatan dengan itu, pintu kamarnya terbuka. Bening merasakan jantungnya berhenti berdetak. Menoleh ke arah pintu, terlihatlah Sarah, ibunya, yang menatapnya terkejut. "Apa yang kamu lakukan ke ayahmu, Bening?!" sentaknya. Sarah berjalan mendekat. Bening ingin berbicara, mengungkapkan kebejatan ayahnya. Saat dia baru saja membuka mulut, Sarah terlebih dahulu mengangkat tangannya. Lalu, tamparan keras mendarat di wajah Bening. Plak! "Kurang ajar! Begini caramu bersikap pada Ayahmu sendiri?!"'Mati aku!'Bening mengingat semuanya. Dari saat dia pergi diam-diam dari apartemen, bertemu dengan pria bernama Alex hingga-- tidak. Bening tidak mau mengingatnya lagi. 'Kenapa aku bisa sebodoh itu? Kenapa aku malah menyerahkan diri?!' Jujur saja. Bening sudah tidak ada muka di depan Kalingga. Bening menggeliat gelisah di ranjang. Pipinya memanas, bukan hanya karena mabuk yang belum sepenuhnya hilang, tapi juga karena rasa malu yang menjalar sampai ke ubun-ubun.Sekarang, pasti Kalingga sedang menertawakan betapa murahannya dia. Bening menendang selimut, lalu duduk dengan wajah kusut. “Bening, kamu gila,” gumamnya lirih. “Kenapa kamu malah mencium Mas Lingga? Kenapa kamu malah--- akhh aku malu!!" erang Bening menjambak rambutnya sendiri. Kecemasan itu semakin menekan dadanya. Bening ingin bersembunyi, kemana pun asal tidak bertemu dengan suaiminya. Tapi, bayangan tatapan dingin Kalingga semalam terus menghantui.Larut dalam rasa kefrustasian, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Bening
Setelah memastikan Kalingga benar-benar pergi dengan jas rapi dan wajah dinginnya, Bening berdiri lama di depan pintu apartemen. Nafasnya tercekat, tapi tekadnya bulat. Sekali saja, dia ingin merasakan kebebasan. Ia mengambil tas kecil, menyelipkan dompet dan ponsel. Langkahnya ringan, meski jantungnya berdegup kencang. Ia keluar dari apartemen, menuruni lift, dan akhirnya menjejakkan kaki di jalanan Singapura yang sibuk. Tujuannya jatuh pada Gardens by the Bay, taman ikonik dengan pohon-pohon raksasa buatan yang menjulang. Ia berjalan di antara bunga tropis, menatap air mancur yang berkilau. Bening menghirup udara dalam-dalam. Menikmati suasana yang begitu menenangkan. Bening, tidak pernah merasa setenang ini sebelumnya. Namun, kenyamanannya itu segera terganggu saat seorang pria dengan rambut coklat mendekat. Tersenyum ramah, pria asing itu menyapa. “Hi, are you alone?” (Hai, kamu sendirian?) Bening menegang. Jantungnya berdebar cemas. Awalnya, Bening ingin menghindari.
Bening terkekeh sumir. Tanpa menatap Kalingga, gadis berujar pedih. "Memangnya aku siapa?" Matanya yang memandang gedung-gedung tinggi dari kaca kembali mengeluarkan air matanya. "Tanpa kamu minta juga, aku paham, Mas. Siapa aku dan di mana posisiku." "Jadi, kamu jangan khawatir." Selanjutnya, Bening membersihkan diri menoleh pada Kalingga. Tatapan mereka bertemu seakan saling menyelami. Kalingga tetap diam, namun tatapannya mendingin saat melihat setetes air mata membasahi pipi Bening. "Aku hanya minta dua hal dari kamu." suara serak Bening kembali menyambangi telinga Kalingga. "Jangan pernah bersikap seperti kamu memberikan harapan padaku." Bening menarik panjang nafasnya. "Cukup jangan pedulikan aku." Pandangan Bening menerawang pada udara.Sejenak, gadis itu menutup matanya, sebelum terbuka kembali dengan tatapannya yang menyendu. "Dari dulu, aku selalu diabaikan. Oleh keluargaku dan dunia. Kalau pun ada yang memperhatikan, itu bukan kasih sayang. Tapi penghakiman y
Bening tidak tahu dengan apa yang terjadi. Yang pasti, Kalingga tidak dalam kondisi mood yang baik. Bening merasa tertekan di sepanjang perjalanan menuju rumah. Brak! Gadis itu terperanjat, saat Kalingga membanting pintu kasar. Tanpa menganggap Bening ada, Kalingga gegas masuk ke dalam rumah dengan auranya yang tidak mengenakkan. 'Sebenarnya ada apa, sih?' keluh Bening mengikuti jejak Kalingga. Sampai di ruang utama, Bening dapat melihat pelayan yang mondar-mandir sedang bekerja. Lalu, tak lama Kalingga kembali terlihat dengan menarik kopernya. Wajah pria itu masih sama. Dingin dan mengeras. Kemudian, munculah Ira. Wanita itu juga membawa koper. Bedanya, koper yang dibawa Ira diserahkan padanya. "Nyonya, ini koper anda." kata Ira dengan nafas yang memburu. "Perasaan, aku tidak memintamu menyiapkannya." balas Bening. Meskipun begitu, ia tetap menerima kopernya dari tangan Ira. "Tuan yang memerintah saya, Nyonya." Lantas, Bening kembali melirik Kalingga. Pria itu sedang b
"Kamu pikir, saya semurah itu, Bening?" jawaban Kalingga dengan suaranya yang rendah berhasil membangkitkan bulu kuduk Bening. "Jawab.""Bu--bukan seperti itu maksudku..." Bening menggigit bibirnya. Kenapa malah dirinya yang terpojok? Niatnya ingin membuat Kalingga mengiyakan permintaannya, tapi kenapa malah dirinya yang menjadi di intimidasi. "Kamu salah kalau ingin mengendalikan saya, Bening." ucap Kalingga membuat nafas Bening semakin tercekat. "Terimakasih kopinya. Silakan keluar dari ruangan saya." Pengusiran itu, Bening tanggapi dengan hembusan nafas panjang. Tanpa menjawab, Bening beranjak pergi. Namun, baru dua langkah dia berjalan, tidak sengaja kakinya tersandung kaki meja. Bening terpekik. Kalingga yang melihat kejadian itu, reflek menarik lengan Bening. Mungkin, tujuan Kalingga supaya Bening tidak terjatuh ke lantai. Namun, yang terjadi malah Bening yang tertarik ke pangkuannya.Keduanya terdiam di tengah keheningan. Bahkan Bening dapat mendengar debar jantungnya send
“Ikut saya.”Suara Kalingga terdengar dingin, berat dan rendah. Pria itu meraih pergelangan tangan Bening, menariknya tanpa memberi kesempatan untuk bertanya. Langkahnya tegas, membuat Bening harus setengah berlari agar tidak tertinggal.“Mas Lingga, kita mau ke mana?” suara Bening cemas, penuh kepanikan. Tidak ada jawaban. Kalingga terus melangkah, membawa istrinya menuju lift. Saat pintu terbuka, Kalingga mendorong Bening agar masuk ke dalamnya, sebelum kemudian dia menyusul. Suasana di dalam lift terasa menekan. Hanya suara mesin yang terdengar, sementara Bening menunduk. Mengigit bibir cemas, jemari Bening meremas ujung dress pastel yang dia kenakan. Apa yang salah dari pertanyaannya? Bening membatin. Dia hanya menyebut nama Serena, tapi reaksi Kalingga seolah Bening mengumumkan perang dunia ketiga. Lift berhenti di lantai tiga. Kalingga menggiring Bening keluar, lalu membuka pintu sebuah kamar. Begitu masuk, ia menutup pintu dengan keras. Bening terperanjat ketika tubuhnya di







