FAZER LOGINBening menyentuh pipinya yang terasa kebas. Ditatapnya sang ibu dengan tatapan nanar. Air matanya menggenang di pelupuk mata.
"Ma, ini tidak seperti yang Mama pikirkan. Justru–” "Sudah, tidak usah diperpanjang, Bening pasti kesal karena perjodohan ini," sela Bramasta memutus penjelasan yang akan Bening sampaikan. Manik pria paruh baya itu melirik Bening sembari mengelus bahu Bening, dengan topeng ayah yang berwibawa. “Meski begitu, dia tidak seharusnya melawan ayahnya sendiri!” Sarah tetap marah. “Anak durhaka seperti kamu butuh dinasihati!” Bening menelan ludah, berusaha angkat suara, “Ma, Papa tadi hampir–” “Diam, Bening! Jangan membantah!” bentak Sarah. Bening terperanjat kaget mendengarnya. “Kenapa kamu melawan ayahmu sendiri yang sudah susah payah membantu perjodohanmu?!” Bening menggeleng membantah. Air matanya sudah turun membasahi pipi. "Tidak, Ma! Aku tidak melakukan apa-apa. Justru Papa yang hampir melecehkanku!" “Apa kamu bilang?!” Sarah semakin murka. “Berani sekali kamu memfitnah Ayahmu sendiri?! Mama harus memberimu pelajaran!” Sarah hempaskan tubuh Bening hingga terbentur sudut meja rias. "Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?" tanya Binar berjalan mendekat. "Lihat kakakmu ini, Binar.” Sarah menunjuk Bening bersama maniknya yang menatap nyalang. “Dia melawan ayahmu tadi. Gadis tak tahu diri ini mendorongnya ke lantai!” Binar menatap ke arah Bening. Lalu dia bersedekap dada sembari mendengus sinis. “Dasar tidak tahu diuntung. Padahal ayah sudah menjodohkanmu dengan putra bungsu Adiyaksa. Pria tampan dan mapan, tapi malah kamu bersikap begitu, Kak?” sambungnya berdecak sinis. “Sudah, sudah. Cukup,” ujar Bramasta layaknya ayah yang begitu bijak. “Papa tidak apa-apa.” “Lagipula, besok Bening akan bertemu lagi dengan keluarga Adiyaksa. Jangan sampai mereka menemukan bekas luka di tubuhnya.” Selanjutnya, Bramasta membenarkan kemejanya. Sekali lagi, dia melirik Bening yang masih setia dengan posisinya. “Sudah, kita tinggalkan Bening sendiri dulu. Biarkan Bening beristirahat.” Bramasta meninggalkan kamar Bening yang diikuti oleh Sarah. Binar berdecak tak suka, meskipun begitu dia tetap pergi menyusul orangtuanya. Sepeninggal mereka, Bening luruh ke lantai. Tangisnya pecah. Memeluk dirinya sendiri, gadis itu berharap semua penderitaannya akan segera berakhir. . . "Hati-hati. Jangan pulang terlalu larut, ya. Bagaimanapun juga kalian belum sah menjadi suami istri." Seperti orang tua yang begitu bijak menasihati anaknya, Bramasta mengusap kepala Bening seraya tersenyum penuh wibawa. Hari ini adalah persiapan pernikahannya. Bening dan Kalingga akan memesan cincin pernikahan dan mengukur gaun pengantin. Mendengar petuah ayahnya, Bening memaksakan senyum. Di sisi gadis itu, Kalingga meliriknya sekilas. Pria itu berjalan terlebih dahulu dan memasuki mobil milik Kalingga. Bening buru-buru menyusul, tapi tertegun melihat Laras, calon ibu mertuanya itu, duduk di kursi penumpang. “Kenapa kamu kaget seperti itu?” tanya Laras tajam, meski bibirnya tersenyum elegan. “Kamu pikir hanya akan berdua saja dengan Kalingga?” Bening terdiam sejenak, lalu hanya menyapa dengan sopan. “Selamat siang, Bu. Senang bertemu Ibu lagi.” Laras tersenyum miring. “Kalian butuh wanita yang punya sense yang bagus buat memilih model gaun. Kalingga juga tahu, kalau pilihan saya yang terbaik.” Kalingga tidak menjawab, hanya melirik lewat kaca spion. Laras menganggapnya sebagai Kalingga menyetujui perkataannya. Kemudian mobil melaju meninggalkan pelataran kediaman Bramasta. Tidak ada percakapan berarti, sampai sopir memberitahu bahwa mereka telah sampai di butik ternama di kota ini. Kalingga keluar terlebih dahulu. Membukakan pintu untuk mamanya dan Bening. Mereka bertiga memasuki butik ternama di kota itu. "Selamat datang, Tuan Kalingga, Nyonya Laras, dan… Nona Bening. Kami sudah menunggu kalian sedari tadi." sapa seorang wanita berpakaian formal dengan senyumnya yang mengembang. Dia adalah manager butik ini. Kalingga tidak menjawab. Laras pun memilih duduk di sofa tunggu. Lantas, mata elang Kalingga melirik Bening yang berdiri kaku di sampingnya. "Pilihkan gaun yang cocok untuknya." "Baik, kebetulan kami memiliki rancangan terbaru. Belum ada yang memakainya karena gaun ini ekslusif." Kemudian, sang manager memberi isyarat kepada para pegawainya dengan tepukan tangan. Lalu, ada dua pegawai wanita yang mendorong gantungan berisi gaun-gaun yang indah. "Nona Bening bisa melihat desainnya terlebih dahulu. Desain gaun nanti kami sesuaikan sesuai selera Anda." "Pilihkan desain terbaik kalian," tandas Kalingga. Manager tadi semakin mengembangkan senyumnya. Diambilnya salah satu gaun berwarna putih tanpa lengan. "Ini adalah gaun ekslusif pilihan kami, tema flora dengan hiasan kupu-kupu dan mutiara yang elegan." Laras ikut menilai gaun itu, lalu menggeleng dengan wajah tak suka. “Terlalu elegan buat perempuan ini. Ganti desain yang lebih simpel.” “Biarkan dia coba dulu yang itu,” tukas Kalingga, membuat mamanya mendelik, seolah kaget permintaannya ditepis begitu saja. Pada akhirnya, ucapan Kalingga adalah titah yang segera dituruti sang manager, meski Laras bersedekap tak setuju. Bening mengikuti langkah pegawai ke ruang pas untuk mengganti baju. "Wahh! Nyonya terlihat sangat cantik!" Selang sepuluh menit, Bening keluar. Gaun itu tampak pas di tubuhnya. Rambutnya yang tergerai indah membuat Bening terlihat begitu anggun. Kalingga memperhatikan Bening dengan saksama. Entah untuk alasan apa, Bening merasa gugup. Sampai kemudian, mata elang Kalingga melihat ada yang janggal di lengan Bening. Sebuah warna merah keunguan seperti luka lebam. "Ada apa dengan lenganmu?" Bening tersentak. Rasa gugup yang tadi menyergap menguap seketika, dilihatnya lengan yang dimaksud oleh Kalingga "Oh … i--ini, semalam aku tidak sengaja kepentok meja." Alibi Bening terdengar canggung. “Ambilkan kompresan,” titah Kalingga kemudian pada pegawai yang lewat. Tanpa disuruh dua kali, pegawai itu segera berlari kecil ke dalam. “Bening, kemari. Duduk di samping saya." Mengedipkan matanya, Bening menurut. Kakinya melangkah mendekat ke arah Kalingga dan duduk di samping pria itu. Tak lama, pegawai tadi datang, menyerahkan kompresan berisi es. "Lain kali, jaga tubuhmu, Bening. Saya tidak mau dicap sebagai suami yang buruk karena kecerobohanmu." Bening tatap Kalingga dengan bingung. Ucapannya terdengar mengintimidasi, tapi sikapnya berbanding terbalik. Pria itu mengompres lengannya dengan lembut. “Kalingga, Mama ingin bicara,” suara Laras tiba-tiba menginterupsi. Wanita dengan rambut disanggul itu pergi terlebih dahulu keluar dari butik. “Kompres terus lenganmu agar memarnya berkurang.” Bening menurut. Kemudian Kalingga pergi menyusul ibunya. Di sana, Laras sudah menunggunya dengan tatapan tajam. “Kamu kenapa hari ini? Tadi menentang pilihan Mama, lalu kelihatan peduli sama perempuan itu,” todongnya tak suka. Kalingga menatap ibunya dengan tatapan tak terbaca seperti biasa. “Ma, lengannya memar di depan mata saya. Bagaimana mungkin saya mengabaikannya?” Laras berdecak. “Mama tidak suka dengan pernikahan ini, Kalingga. Pokoknya setelah ayahmu memberimu jabatan itu, kamu harus menceraikannya.” “Saya tahu apa yang harus saya lakukan, Ma. Mama tidak perlu khawatir.” “Bagaimana Mama tidak khawatir? Jika Serena tahu kamu menikah, dia bisa patah hati. Untungnya dia sedang ada di luar negeri sekarang.” Bening mendengar semuanya. Dari balik kaca, dilihatnya ibu dan anak yang sedang bercakap itu. Serena? Siapa dia? Mungkinkah, dia pacar Kalingga?Bening bangun dengan kepalanya yang terasa berat. Niat awalnya yang ingin menguping justru membawa Bening kembali ke alam mimpi. Dan kini Bening terkena getahnya. Tenggorokannya terasa kering. Kepalanya juga terasa berat. Mungkin ini efek dari menangis sampai tertidur. "Sudah bangun?" Bening terperanjat. Menoleh ke sumber suara, Kalingga tampak sedang fokus pada laptopnya. Kacamata baca membingkai mata pria itu, membuat Kalingga tampak lebih menawan. 'Astaga, Bening. Berhentilah memujinya.' batin Bening menggelengkan kepalanya. "Saya sudah pesankan makanan di atas nakas." ujar Kalingga tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop. "Sebaiknya kamu makan. Setelah itu, minum obat."Bening tidak menjawab. Melirik jam dinding, mata Bening sedikit membesar. Sudah pukul delapan malam. Selama itukah dirinya tertidur? Berdehem untuk mengurangi serak di tenggorokannya, Bening akhirnya membuka suara. "Kayaknya aku mau mandi dulu, deh, Mas. Badanku lengket karena keringat."Kalingga menoleh p
Bening membuka matanya yang terasa berat. Rasa pusing yang menyergap kepalanya masih terasa. Gadis itu berusaha bangkit dari pembaringan. Mengedarkan pandangannya, Bening tertegun saat mendapati Kalingga duduk di sofa dengan tatapan tajamnya yang mengarah padanya. "Mas Lingga?" suara Bening terdengar serak. "Apa yang sudah terjadi?"Kalingga tak menjawab. Sebaliknya, pria itu berdiri, lalu berjalan mendekat pada Bening. Tanpa sadar, Bening menelan salivanya merasa gugup. Kalingga mengambil sejumlah obat, sebelum kemudian diserahkan pada Bening."Minum." titahnya. Tak ingin suaminya kesal karena menunggu terlalu lama, Bening gegas menerima obat itu. Menelannya, sampai kemudian Kalingga mengarahkan gelas berisi air putih ke mulutnya.Saat menenggak air putih itu, Bening amati wajah tanpa ekspresi milik Kalingga. Pria itu begitu perhatian untuk ukuran suami di atas kertas. Membuat sudut terkecil hati Bening menjadi serakah, berandai-andai jika pernikahan ini berlaku untuk seumur hidup
"Sudah siap?"Dari pantulan kaca, Bening dapat melihat Kalingga menghampirinya yang sedang duduk di kursi rias. Sebentar lagi mereka akan menghadiri perjamuan keluarga. Bening mengangguk. "Sudah, Mas." jawabnya pelan. Kalingga memindai penampilan Bening yang saat ini memakai dress santai motif bunga. Juga, di leher gadis itu terdapat bercak merah bekas lipstik yang tadi dia oleskan.Ditatap sebegitu intesnya oleh sang suami, membuat Bening berdehem salah tingkah. "Ayo." Kalingga mengulurkan tangannya. "Semua keluarga sudah menunggu."Bening menatap uluran tangan itu lama. Hatinya berdesir. Ajakan Kalingga terlalu sopan di telinganya, tidak seperti keluarganya yang kerap melontarkan kalimat paksaan yang menjelma sebagai perintah tak bisa dibantah.Bening menerima uluran tangan itu. Telapak tangan Kalingga yang hangat menyelimuti tangan dinginnya.Kemudian, sepasang suami istri itu berjalan meninggalkan kamar hotel untuk menuju aula yang sudah disiapkan sebagai tempat perjamuan.Sua
Bening berdehem canggung. Dia lekas menjauh dari Kalingga. "Aku... aku bisa sendiri." "Oh," Kalingga menjawab singkat, namun tatapannya yang tak lepas padanya berhasil membuat darah Bening berdesir panas. "Silahkan." Berusaha mengabaikan Kalingga, Bening berusaha menurunkan resleting punggung gaunnya. Tidak dapat dipungkiri, dirinya mengalami kesulitan. Sesekali Bening mendesis pelan. Selanjutnya, Bening dikejutkan saat tangannya yang bertengger di resleting gaun disingkirkan oleh Kalingga. Pria itu tanpa berkomentar membantunya, tangannya menurunkan resleting gaun Bening. "Lain kali, kalau butuh bantuan, bilang," ucapnya, terdengar dingin. Bening menahan nafasnya. Jaraknya dan Kalingga terlampau dekat. Bahkan Bening dapat meraba nafas hangat Kalingga yang menerpa lehernya. "Mas Kalingga..." panggil Bening nyaris berbisik. "Hm?" “Mas Kalingga mau melakukan malam pertama?” Jemari Bening meremas ujung gaun, lewat pantulan cermin rias, matanya menatap penuh cemas pada sosok
Kalingga berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajamnya yang menusuk. Langkahnya mantap, tidak tergesa, tapi cukup membuat Bramasta segera menjauh dari tubuh Bening. Gadis itu masih terpojok, napasnya tersengal. Sementara ayahnya berusaha menampilkan wajah tenang seolah tak terjadi apa-apa. "Nak Kalingga?" Bramasta lekas menjauh dari Bening. "Nak Kalingga, saya harap Nak Kalingga bisa memaafkan kesalahan Bening. Tadi dia memang berbuat tidak sopan kepada saya, untuk itu tolong maafkan putri saya," tetap tenang, Bramasta mencoba memutar balikkan fakta. Bening terperangah, matanya membesar mendengar tuduhan itu. “Pa---" suaranya tercekat, namun Bramasta menatapnya tajam, memberi isyarat agar diam. Kalingga melihat Bening yang mencoba menarik gaunnya yang melorot. Ia melepaskan jasnya untuk dipakaikan kepada sang istri. Selanjutnya, pria itu menatap ayah mertuanya. "Pak Bramasta, Anda bermaksud bilang,” suara Kalingga dingin dan tajam, “Bening, anak Anda sendiri, berani menggo
Dan hari itu tiba. Setelah satu bulan yang lalu banyak media yang membicarakan pernikahannya, kini Bening duduk terpaku di depan cermin rias dengan mengenakan gaun yang dipilihnya dari butik beberapa hari lalu.Wajahnya telah dirias secantik mungkin, bahkan Bening hampir tidak mengenali wajahnya. Ceklek. Pintu kamar hotelnya terbuka. Ibunya yang mengenakan kebaya modern datang menjemput. Seperti biasa, Sarah menatap tak suka padanya."Pernikahan akan segera dimulai. Ayahmu sudah menunggu untuk mengantarmu ke altar."Menelan salivanya yang terasa pahit, Bening mengedipkan matanya. Gadis itu berdiri, menghampiri ibunya sebelum wanita itu membentaknya. "Ingat, Bening. Setelah ini kamu akan menjadi istri seseorang. Jaga sikapmu, patuhi semua perkataan suamimu, jangan berani membantah. Jadi istri yang baik karena kamu akan membawa nama keluarga Bramasta. Paham?" peringat Sarah di sela-sela langkah mereka. Bening tidak banyak bersuara. Gadis itu anggukkan kepalanya dengan menurut.Bram







