مشاركة

Istri Kontrak Politisi Angkuh
Istri Kontrak Politisi Angkuh
مؤلف: raintara

1. Pertemuan Keluarga

مؤلف: raintara
last update تاريخ النشر: 2026-06-12 12:34:01

"Ini putri sulung saya, namanya Bening. Yang kemarin saya bicarakan. Bukankah dia cantik?"

Diam-diam, Bening meremas gaun yang dikenakannya, kala ayahnya mengenalkannya kepada keluarga pimpinan partai koalisi yang akan mendukung ayahnya maju sebagai calon gubernur.

Sebelum datang ke pertemuan ini, ayahnya sudah mewanti-wantinya agar bersikap baik, karena sikapnya sangat menentukan masa depan karier ayahnya.

Saat ini, mereka berada di ruangan VIP sebuah restoran mewah, untuk membahas rencana perjodohan yang memperkuat kedudukan kedua partai di mata politik.

"Sesuai perkataan Anda kemarin, Pak Bramasta. Putri Anda sangat cantik. Cocok bersanding dengan anak kami Kalingga,” jawab Pramudya, pemimpin partai koalisi.

Bramasta--ayah Bening, terkekeh ringan. Diusapnya bahu Bening dengan bangga. Tanpa disadari siapa pun, Bening menegang menerima sentuhan dari sang ayah.

"Bening akan menjadi istri yang baik. Dia adalah gadis yang penurut dan mengerti tata krama. Begitulah ajaran di keluarga kami,” ucap Bramasta lagi membanggakan putrinya.

“Apa dia pintar memasak dan bersih-bersih?” suara wanita menyahut. Dia Laras, istri Pramudya, yang meski tersenyum, tatapannya penuh penilaian kepada Bening.

“Meski nanti dia akan menjadi istri pejabat tinggi, seorang istri tidak boleh melupakan kewajibannya yang utama mengurus rumah dan berbakti pada suaminya, kan? Kami ingin anak laki-laki kami diringankan bebannya, bukan menikahi istri pajangan saja,” lanjutnya lagi dengan tenang.

“Tentu saja, Bu Laras. Anda tidak perlu khawatir. Bening ini paket komplit. Putri kami ini pintar sekali melakukan semua urusan rumah,” jawab pria itu sambil terkekeh.

Meski diperlakukan seperti barang yang sedang dipromosikan seluruh fungsi dan kelebihannya, Bening hanya bisa menahan diri dan tersenyum sopan.

“Saya setuju, putri baik-baik datang dari keluarga yang baik. Dan saya sudah lama mengenal Pak Bramasta,” ujar Pramudya, membuat Laras diam-diam memutar bola matanya. “Perjodohan ini adalah jalan yang terbaik untuk menyatukan keluarga kita.”

Sementara Bening merasa miris dalam hati. Keluarga baik-baik? Ayahnya saja menjual putrinya dengan pernikahan demi jabatan politik.

“Lalu,” Bramasta berdeham. “Di mana Nak Kalingga?”

Kalingga Adiyaksa. Anak sulung dari keluarga Adiyaksa. Pria yang dijodohkan dengannya.

Bening sendiri belum pernah bertemu dengannya. Mungkin, sama sepertinya, Kalingga sebenarnya keberatan dengan perjodohan ini. Dan ketidakhadirannya adalah bentuk penolakan itu.

“Kalingga sebentar lagi—” ucapan Pramudya terputus oleh suara pintu ruangan mereka yang terbuka.

Seorang pria jangkung dengan perawakan atletis yang dibalut jas hitam masuk.

“Maaf, saya terlambat,” suara baritonnya terdengar dalam dan tegas. Mata tajam pria itu menyapu seluruh ruangan dan berhenti pada Bening.

“Kalingga, dari mana saja kamu?” tegur Pramudya, segera menarik kursi dan menyuruhnya duduk. “Ayo, duduk, keluarga Pak Bramasta sudah—”

“Kamu Bening?” tanya pria itu, memotong begitu saja ucapan ayahnya, dan membuat Bening seketika mengangguk kaku.

“Berdiri, ikut saya. Kita bicara berdua,” ucapnya, tegas, tajam dan singkat. Siapapun yang mendengarnya tidak akan berani menentang.

Bening dengan kikuk berdiri, setelah melihat Bramasta mengangguk kecil padanya dan memberi izin. Ia lalu mengikuti pria jangkung itu—Kalingga, keluar ruangan meninggalkan orang tua mereka.

Punggung pria itu terlihat menjulang dan kokoh dari belakang. Aura pria ini begitu dominan.

Tidak hanya itu, wajahnya terpahat dengan sempurna. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, Bening rasanya tidak menemukan celah sedikit pun atas penampilannya.

Tapi, dari tatapannya yang dingin, Bening merasa … pria itu tidak menyukainya.

"Saya tidak setuju dengan perjodohan ini."

Kalimat Kalingga sudah langsung menghantamnya begitu pria itu berbalik, menghadap Bening di lorong yang sepi.

"Tapi, saya tidak punya pilihan lain. Saya harus mau menikah dengan kamu untuk memenuhi wasiat Kakek saya, sebelum jabatan sebagai pimpinan partai resmi diberikan kepada saya."

Bening masih bungkam. Lebih tepatnya, dia bingung ingin menyahut yang seperti apa.

Sama seperti Kalingga, Bening juga tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau dia harus menerima perjodohan ini, karena ia tidak bisa menentang begitu saja perintah keluarganya.

Bening membasahi bibirnya yang terasa kering. Dengan jemari yang saling bertaut, gadis itu menjawab dengan suaranya yang pelan.

“Jangan khawatir, Mas.” Bening beranikan diri menatap manik Kalingga.

“Aku setuju dengan perjodohan ini demi memenuhi kewajibanku juga. Aku nggak berekspektasi apa-apa, asalkan kerja sama antara keluarga kita berjalan baik.”

Mendengar itu, Kalingga menaikkan satu sudut bibirnya. “Baguslah. Kamu juga tidak perlu khawatir. Pernikahan ini tidak untuk selamanya.”

Bening menatap Kalingga tak mengerti. “Tidak untuk selamanya?”

“Setelah satu tahun kita menikah dan menjadi pemimpin partai, kita akan bercerai.”

Kalimat itu menghantam Bening hingga sekujur tubuhnya membeku.

“Selama pernikahan ini, saya akan memberikanmu uang kompensasi setiap bulannya. Dengan uang itu, kamu bisa memulai kehidupan yang baru setelah kita berpisah nanti.”

Bening tergagap. "Mak--maksudnya?"

Kalingga tatap Bening dengan tatapan tajamnya.

"Singkatnya, kita akan menikah kontrak."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   9. Jangan Memberiku Harapan

    Bening bangun dengan kepalanya yang terasa berat. Niat awalnya yang ingin menguping justru membawa Bening kembali ke alam mimpi. Dan kini Bening terkena getahnya. Tenggorokannya terasa kering. Kepalanya juga terasa berat. Mungkin ini efek dari menangis sampai tertidur. "Sudah bangun?" Bening terperanjat. Menoleh ke sumber suara, Kalingga tampak sedang fokus pada laptopnya. Kacamata baca membingkai mata pria itu, membuat Kalingga tampak lebih menawan. 'Astaga, Bening. Berhentilah memujinya.' batin Bening menggelengkan kepalanya. "Saya sudah pesankan makanan di atas nakas." ujar Kalingga tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop. "Sebaiknya kamu makan. Setelah itu, minum obat."Bening tidak menjawab. Melirik jam dinding, mata Bening sedikit membesar. Sudah pukul delapan malam. Selama itukah dirinya tertidur? Berdehem untuk mengurangi serak di tenggorokannya, Bening akhirnya membuka suara. "Kayaknya aku mau mandi dulu, deh, Mas. Badanku lengket karena keringat."Kalingga menoleh p

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   8. Bukan Kamu Yang Dia Mau, Bening

    Bening membuka matanya yang terasa berat. Rasa pusing yang menyergap kepalanya masih terasa. Gadis itu berusaha bangkit dari pembaringan. Mengedarkan pandangannya, Bening tertegun saat mendapati Kalingga duduk di sofa dengan tatapan tajamnya yang mengarah padanya. "Mas Lingga?" suara Bening terdengar serak. "Apa yang sudah terjadi?"Kalingga tak menjawab. Sebaliknya, pria itu berdiri, lalu berjalan mendekat pada Bening. Tanpa sadar, Bening menelan salivanya merasa gugup. Kalingga mengambil sejumlah obat, sebelum kemudian diserahkan pada Bening."Minum." titahnya. Tak ingin suaminya kesal karena menunggu terlalu lama, Bening gegas menerima obat itu. Menelannya, sampai kemudian Kalingga mengarahkan gelas berisi air putih ke mulutnya.Saat menenggak air putih itu, Bening amati wajah tanpa ekspresi milik Kalingga. Pria itu begitu perhatian untuk ukuran suami di atas kertas. Membuat sudut terkecil hati Bening menjadi serakah, berandai-andai jika pernikahan ini berlaku untuk seumur hidup

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   7. Perjamuan

    "Sudah siap?"Dari pantulan kaca, Bening dapat melihat Kalingga menghampirinya yang sedang duduk di kursi rias. Sebentar lagi mereka akan menghadiri perjamuan keluarga. Bening mengangguk. "Sudah, Mas." jawabnya pelan. Kalingga memindai penampilan Bening yang saat ini memakai dress santai motif bunga. Juga, di leher gadis itu terdapat bercak merah bekas lipstik yang tadi dia oleskan.Ditatap sebegitu intesnya oleh sang suami, membuat Bening berdehem salah tingkah. "Ayo." Kalingga mengulurkan tangannya. "Semua keluarga sudah menunggu."Bening menatap uluran tangan itu lama. Hatinya berdesir. Ajakan Kalingga terlalu sopan di telinganya, tidak seperti keluarganya yang kerap melontarkan kalimat paksaan yang menjelma sebagai perintah tak bisa dibantah.Bening menerima uluran tangan itu. Telapak tangan Kalingga yang hangat menyelimuti tangan dinginnya.Kemudian, sepasang suami istri itu berjalan meninggalkan kamar hotel untuk menuju aula yang sudah disiapkan sebagai tempat perjamuan.Sua

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   6. Tentang Malam Pertama

    Bening berdehem canggung. Dia lekas menjauh dari Kalingga. "Aku... aku bisa sendiri." "Oh," Kalingga menjawab singkat, namun tatapannya yang tak lepas padanya berhasil membuat darah Bening berdesir panas. "Silahkan." Berusaha mengabaikan Kalingga, Bening berusaha menurunkan resleting punggung gaunnya. Tidak dapat dipungkiri, dirinya mengalami kesulitan. Sesekali Bening mendesis pelan. Selanjutnya, Bening dikejutkan saat tangannya yang bertengger di resleting gaun disingkirkan oleh Kalingga. Pria itu tanpa berkomentar membantunya, tangannya menurunkan resleting gaun Bening. "Lain kali, kalau butuh bantuan, bilang," ucapnya, terdengar dingin. Bening menahan nafasnya. Jaraknya dan Kalingga terlampau dekat. Bahkan Bening dapat meraba nafas hangat Kalingga yang menerpa lehernya. "Mas Kalingga..." panggil Bening nyaris berbisik. "Hm?" “Mas Kalingga mau melakukan malam pertama?” Jemari Bening meremas ujung gaun, lewat pantulan cermin rias, matanya menatap penuh cemas pada sosok

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   5. Pembelaan

    Kalingga berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajamnya yang menusuk. Langkahnya mantap, tidak tergesa, tapi cukup membuat Bramasta segera menjauh dari tubuh Bening. Gadis itu masih terpojok, napasnya tersengal. Sementara ayahnya berusaha menampilkan wajah tenang seolah tak terjadi apa-apa. "Nak Kalingga?" Bramasta lekas menjauh dari Bening. "Nak Kalingga, saya harap Nak Kalingga bisa memaafkan kesalahan Bening. Tadi dia memang berbuat tidak sopan kepada saya, untuk itu tolong maafkan putri saya," tetap tenang, Bramasta mencoba memutar balikkan fakta. Bening terperangah, matanya membesar mendengar tuduhan itu. “Pa---" suaranya tercekat, namun Bramasta menatapnya tajam, memberi isyarat agar diam. Kalingga melihat Bening yang mencoba menarik gaunnya yang melorot. Ia melepaskan jasnya untuk dipakaikan kepada sang istri. Selanjutnya, pria itu menatap ayah mertuanya. "Pak Bramasta, Anda bermaksud bilang,” suara Kalingga dingin dan tajam, “Bening, anak Anda sendiri, berani menggo

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   4. Pernikahan

    Dan hari itu tiba. Setelah satu bulan yang lalu banyak media yang membicarakan pernikahannya, kini Bening duduk terpaku di depan cermin rias dengan mengenakan gaun yang dipilihnya dari butik beberapa hari lalu.Wajahnya telah dirias secantik mungkin, bahkan Bening hampir tidak mengenali wajahnya. Ceklek. Pintu kamar hotelnya terbuka. Ibunya yang mengenakan kebaya modern datang menjemput. Seperti biasa, Sarah menatap tak suka padanya."Pernikahan akan segera dimulai. Ayahmu sudah menunggu untuk mengantarmu ke altar."Menelan salivanya yang terasa pahit, Bening mengedipkan matanya. Gadis itu berdiri, menghampiri ibunya sebelum wanita itu membentaknya. "Ingat, Bening. Setelah ini kamu akan menjadi istri seseorang. Jaga sikapmu, patuhi semua perkataan suamimu, jangan berani membantah. Jadi istri yang baik karena kamu akan membawa nama keluarga Bramasta. Paham?" peringat Sarah di sela-sela langkah mereka. Bening tidak banyak bersuara. Gadis itu anggukkan kepalanya dengan menurut.Bram

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status