Share

4. Pernikahan

Author: raintara
last update publish date: 2026-06-12 12:41:20

Dan hari itu tiba.

Setelah satu bulan yang lalu banyak media yang membicarakan pernikahannya, kini Bening duduk terpaku di depan cermin rias dengan mengenakan gaun yang dipilihnya dari butik beberapa hari lalu.

Wajahnya telah dirias secantik mungkin, bahkan Bening hampir tidak mengenali wajahnya.

Ceklek.

Pintu kamar hotelnya terbuka. Ibunya yang mengenakan kebaya modern datang menjemput. Seperti biasa, Sarah menatap tak suka padanya.

"Pernikahan akan segera dimulai. Ayahmu sudah menunggu untuk mengantarmu ke altar."

Menelan salivanya yang terasa pahit, Bening mengedipkan matanya. Gadis itu berdiri, menghampiri ibunya sebelum wanita itu membentaknya.

"Ingat, Bening. Setelah ini kamu akan menjadi istri seseorang. Jaga sikapmu, patuhi semua perkataan suamimu, jangan berani membantah. Jadi istri yang baik karena kamu akan membawa nama keluarga Bramasta. Paham?" peringat Sarah di sela-sela langkah mereka.

Bening tidak banyak bersuara. Gadis itu anggukkan kepalanya dengan menurut.

Bramasta menyambut kehadiran Bening dengan suka cita. Diusapnya pundak Bening yang terekspos.

"Mas, aku masuk dulu ke aula. Sebentar lagi, pembawa acara akan memanggil kalian." izin Sarah yang langsung diangguki oleh Bramasta.

Lantas, Sarah berbalik, meninggalkan Bening sendirian bersama Bramasta.

"Bening, sayang?" Gadis itu tersentak. Bramasta menyentuh pipinya tanpa izin. "Ayo, Ayah antar kamu ke altar."

Lantas, dengan tangan yang bergetar, Bening gapai uluran tangan ayahnya. Senyum puas tersungging dari bibir Bramasta. Pria itu gegas memepetkan tubuhnya.

"Tentang kejadian dua minggu lalu, Ayah tidak marah.”

Ah, ini dia. Ucapan pengantar ayahnya tiap kali Bramasta habis melecehinya. Bening menggigit bibir dalamnya sekencang mungkin.

“Mana mungkin Ayah akan marah dengan angsa putih Ayah? Kamu terlalu berharga untuk ayah marahi. Tapi …”

Bramasta menggantung sejenak ucapannya. Ia merendahkan kepalanya hingga di dekat telinga Bening.

Tubuh gadis itu menegang. Ia sudah tahu apa yang akan ayahnya katakan saking seringnya ucapan itu terdengar olehnya. Bening menahan napasnya.

"Sekali rahasia itu bocor, Ayah akan menghukum kamu. Paham soal itu kan, Bening?"

Kaku, Bening menganggukkan kepalanya cepat mendengar ancaman Bramasta. Ia hanya ingin semua ini cepat selesai.

"Gadis pintar," Bramasta terkekeh senang lalu lanjut mengiringi Bening menuju aula. Tidak memedulikan Bening yang sedang menahan air matanya.

.

.

"Sebentar lagi, pengantin wanita akan segera menaiki altar!"

Suara pembawa acara menggema di setiap penjuru aula yang sudah dirias semegah mungkin. Semua tamu bertepuk tangan dengan heboh, menanti bintang utama yang sudah ditunggu sedari tadi.

Kalingga menunggu di atas altar dengan ekspresi datarnya. Pria itu tampak gagah mengenakan jas putih dengan celana senada. Di dada kirinya terdapat bros berbentuk kupu-kupu, persis seperti mutiara yang menyemati gaun Bening.

Saat Bening bersama sang ayah, perhatian tamu terfokuskan pada kecantikan Bening hari ini. Tak sedikit dari mereka yang berbisik memuji.

Sementara di ujung altar, Bening bisa melihat tatapan mata elang Kalingga yang tajam seolah mengawasinya.

"Aku serahkan putriku kepadamu. Tolong, jaga Bening. Bening adalah harta paling berharga dalam hidupku," ujar Bramasta penuh wibawa, namun juga menyiratkan sebuah arti.

Kalingga balas tersenyum sopan. Diterimanya tangan Bening agar bersisian dengannya.

"Tentu saja, Pak Bramasta. Mulai sekarang, Bening adalah tanggung jawab saya."

Kemudian, Bramasta berlalu. Duduk bergabung bersama Sarah dan Binar di meja khusus keluarga.

"Sumpah pernikahan akan dimulai." Pendeta memberikan instruksi. Membuat suasana yang dari tadi mendengung menjadi sunyi.

Kalingga tatap Bening tanpa ekspresi, lalu dengan tegas dia ucapkan sumpah pernikahan seperti yang pendeta instruksikan. Selanjutnya, Bening pun mengucapkan sumpahnya.

"Selamat, kalian sudah sah menjadi suami istri." ucap pendeta, yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari para tamu.

“Cium! Cium! Cium!”

Sorak tamu memenuhi aula. Awalnya, Bening pikir, Kalingga tidak akan melakukannya, mengingat surat kontrak yang mengikat.

Namun, asumsi itu terbantahkan saat tiba-tiba pinggangnya direngkuh agar mendekat kepada Kalingga.

Bening terkejut. Belum sempat gadis itu mencerna, sebuah bibir Kalingga sudah terlebih dahulu menempel di bibirnya.

Kalingga … pria itu menciumnya.

.

.

Pernikahan telah usai. Kini, Bening berada di kamar hotelnya untuk berganti baju. Memandangi cermin, dia menyentuh bibirnya sendiri.

Bibir hangat Kalingga masih terasa, menyisakan semburat merah di pipi Bening.

Tidak ingin larut dalam euforia yang menggelitik, Bening memutuskan untuk segera melepas gaun beratnya. Baru saja dia menurunkan resleting punggung, pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Sontak Bening menutup bagian dadanya yang terekspos. Ia tersentak begitu melihat siapa yang datang.

Bramasta. Orang yang dengan lancang membuka kamarnya tanpa permisi. Pria itu berjalan mendekat, menampilkan raut kurang ajar.

“Pa--Papa ngapain di sini?” panik Bening berjalan mundur.

“Apalagi?” Bramasta terkekeh. “Papa ingin meminta jatah. Tadi, di altar Kalingga sudah menciummu. Papa juga ingin merasakannya.”

Bramasta mendekat satu langkah lagi. “Papa cemburu, Bening… Kenapa Kalingga boleh mencium kamu begitu? Sekarang giliran Papa, ya?”

Bening terpojok. Punggungnya membentur tembok.

Lantas, Bramasta menyeringai puas. Dia tarik lengan Bening, hingga anaknya itu masuk ke dekapannya.

“Pa, jangan!!”

Mengabaikan protes Bening yang memberontak, pria tua itu mencengkeram rahang kecilnya. Saat pria itu ingin menodai bibir anaknya, tiba-tiba sebuah suara menginterupsi.

“Apa yang kalian lakukan?” Suara bariton Kalingga menggema.

Bramasta lupa menutup pintu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   7. Perjamuan

    "Sudah siap?"Dari pantulan kaca, Bening dapat melihat Kalingga menghampirinya yang sedang duduk di kursi rias. Sebentar lagi mereka akan menghadiri perjamuan keluarga. Bening mengangguk. "Sudah, Mas." jawabnya pelan. Kalingga memindai penampilan Bening yang saat ini memakai dress santai motif bunga. Juga, di leher gadis itu terdapat bercak merah bekas lipstik yang tadi dia oleskan.Ditatap sebegitu intesnya oleh sang suami, membuat Bening berdehem salah tingkah. "Ayo." Kalingga mengulurkan tangannya. "Semua keluarga sudah menunggu."Bening menatap uluran tangan itu lama. Hatinya berdesir. Ajakan Kalingga terlalu sopan di telinganya, tidak seperti keluarganya yang kerap melontarkan kalimat paksaan yang menjelma sebagai perintah tak bisa dibantah.Bening menerima uluran tangan itu. Telapak tangan Kalingga yang hangat menyelimuti tangan dinginnya.Kemudian, sepasang suami istri itu berjalan meninggalkan kamar hotel untuk menuju aula yang sudah disiapkan sebagai tempat perjamuan.Sua

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   6. Tentang Malam Pertama

    Bening berdehem canggung. Dia lekas menjauh dari Kalingga. "Aku... aku bisa sendiri." "Oh," Kalingga menjawab singkat, namun tatapannya yang tak lepas padanya berhasil membuat darah Bening berdesir panas. "Silahkan." Berusaha mengabaikan Kalingga, Bening berusaha menurunkan resleting punggung gaunnya. Tidak dapat dipungkiri, dirinya mengalami kesulitan. Sesekali Bening mendesis pelan. Selanjutnya, Bening dikejutkan saat tangannya yang bertengger di resleting gaun disingkirkan oleh Kalingga. Pria itu tanpa berkomentar membantunya, tangannya menurunkan resleting gaun Bening. "Lain kali, kalau butuh bantuan, bilang," ucapnya, terdengar dingin. Bening menahan nafasnya. Jaraknya dan Kalingga terlampau dekat. Bahkan Bening dapat meraba nafas hangat Kalingga yang menerpa lehernya. "Mas Kalingga..." panggil Bening nyaris berbisik. "Hm?" “Mas Kalingga mau melakukan malam pertama?” Jemari Bening meremas ujung gaun, lewat pantulan cermin rias, matanya menatap penuh cemas pada sosok

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   5. Pembelaan

    Kalingga berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajamnya yang menusuk. Langkahnya mantap, tidak tergesa, tapi cukup membuat Bramasta segera menjauh dari tubuh Bening. Gadis itu masih terpojok, napasnya tersengal. Sementara ayahnya berusaha menampilkan wajah tenang seolah tak terjadi apa-apa. "Nak Kalingga?" Bramasta lekas menjauh dari Bening. "Nak Kalingga, saya harap Nak Kalingga bisa memaafkan kesalahan Bening. Tadi dia memang berbuat tidak sopan kepada saya, untuk itu tolong maafkan putri saya," tetap tenang, Bramasta mencoba memutar balikkan fakta. Bening terperangah, matanya membesar mendengar tuduhan itu. “Pa---" suaranya tercekat, namun Bramasta menatapnya tajam, memberi isyarat agar diam. Kalingga melihat Bening yang mencoba menarik gaunnya yang melorot. Ia melepaskan jasnya untuk dipakaikan kepada sang istri. Selanjutnya, pria itu menatap ayah mertuanya. "Pak Bramasta, Anda bermaksud bilang,” suara Kalingga dingin dan tajam, “Bening, anak Anda sendiri, berani menggo

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   4. Pernikahan

    Dan hari itu tiba. Setelah satu bulan yang lalu banyak media yang membicarakan pernikahannya, kini Bening duduk terpaku di depan cermin rias dengan mengenakan gaun yang dipilihnya dari butik beberapa hari lalu.Wajahnya telah dirias secantik mungkin, bahkan Bening hampir tidak mengenali wajahnya. Ceklek. Pintu kamar hotelnya terbuka. Ibunya yang mengenakan kebaya modern datang menjemput. Seperti biasa, Sarah menatap tak suka padanya."Pernikahan akan segera dimulai. Ayahmu sudah menunggu untuk mengantarmu ke altar."Menelan salivanya yang terasa pahit, Bening mengedipkan matanya. Gadis itu berdiri, menghampiri ibunya sebelum wanita itu membentaknya. "Ingat, Bening. Setelah ini kamu akan menjadi istri seseorang. Jaga sikapmu, patuhi semua perkataan suamimu, jangan berani membantah. Jadi istri yang baik karena kamu akan membawa nama keluarga Bramasta. Paham?" peringat Sarah di sela-sela langkah mereka. Bening tidak banyak bersuara. Gadis itu anggukkan kepalanya dengan menurut.Bram

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   3. Luka Itu

    Bening menyentuh pipinya yang terasa kebas. Ditatapnya sang ibu dengan tatapan nanar. Air matanya menggenang di pelupuk mata."Ma, ini tidak seperti yang Mama pikirkan. Justru–”"Sudah, tidak usah diperpanjang, Bening pasti kesal karena perjodohan ini," sela Bramasta memutus penjelasan yang akan Bening sampaikan. Manik pria paruh baya itu melirik Bening sembari mengelus bahu Bening, dengan topeng ayah yang berwibawa.“Meski begitu, dia tidak seharusnya melawan ayahnya sendiri!” Sarah tetap marah. “Anak durhaka seperti kamu butuh dinasihati!”Bening menelan ludah, berusaha angkat suara, “Ma, Papa tadi hampir–”“Diam, Bening! Jangan membantah!” bentak Sarah. Bening terperanjat kaget mendengarnya. “Kenapa kamu melawan ayahmu sendiri yang sudah susah payah membantu perjodohanmu?!”Bening menggeleng membantah. Air matanya sudah turun membasahi pipi. "Tidak, Ma! Aku tidak melakukan apa-apa. Justru Papa yang hampir melecehkanku!"“Apa kamu bilang?!” Sarah semakin murka. “Berani sekali kamu

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   2. Perjanjian Pernikahan

    Menikah kontrak? Biasanya Bening melihat hal seperti ini di sebuah novel atau film.Pernikahan yang awalnya didasari dengan kontrak, lalu lambat laun suami istri yang katanya tidak akan pernah jatuh cinta mengingkari perkataannya sendiri. Lalu pada akhirnya mereka bersatu.Tapi ... itu hanya di novel. Di kehidupan nyata, semua tidak seindah itu.Terlihat Kalingga mengeluarkan ponselnya. Dinyalakannya benda itu. "Kirimkan nomormu, saya akan mengirimkan file perjanjiannya."Bening segera menyebutkan nomor untuk Kalingga ketik. Tidak membutuhkan waktu lama, ponsel gadis itu berdenting, menandakan ada pesan yang masuk. "Buka, baca, dan pahami. Jika ada hal yang kurang atau kamu tidak paham, kita bisa membicarakannya."Bening menurut. Setelah mengunduh dokumen yang Kalingga kirimkan, gadis itu membaca isinya dengan seksama.SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN. Deretan huruf itu menyambut Bening di halaman pertama. Menggulir ponselnya kian ke bawah, Bening baca kata demi kata dengan saksama. Di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status