Compartir

12. Terulang Lagi

Autor: Aprillia D
last update Fecha de publicación: 2026-08-22 15:46:02

Di depanku kini berdiri Melia yang sedang memapah Mas Leo. Kepala suamiku menempel di bahu perempuan itu, dia seperti dalam keadaan setengah sadar.

Mas Leo seperti ….

Dahiku berkerut menatap Melia. “Suamiku kenapa?”

“Berisik, bisa minggir nggak?! Bantuin kek!”

Cerita Bi Inem tentang sikap Melia tadi langsung terbayang lagi di ingatanku. Benar yang Bi Inem katakan. Perempuan di hadapanku ini tidak punya sopan santun. Harusnya aku yang marah, bukan dia.

“Mas Leo mabuk, ya?” tanyaku lagi tanpa b
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    18. Terlanjur Bergantung

    “Ngapain sih ikut demo?! Bahaya tahu nggak? Syukur sekarang kamu nggak kenapa-kenapa dan cuman ditahan, kalau kamu tertusuk, kena batu, kena lemparan bahkan sampai ....” Aku menggeleng. Tak sanggup melanjutkan kalimatku. Tak sanggup membayangkan hal yang buruk terjadi pada Danu, adikku, keluargaku satu-satunya. Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil, aku masih memarahi Danu habis-habisan. Aku masih tak habis pikir dengan apa yang anak itu lakukan. Dan yang lebih parahnya dia tak memberitahuku soal ini. Kalau bukan pihak kampus yang memberitahu, mungkin anak itu masih mendekam di aula Polres, entah sampai kapan.“Sekali lagi aku minta maaf, Kak. Aku salah. Aku janji nggak akan bikin kakak khawatir lagi, nggak akan bikin masalah lagi.”Aku menoleh padanya yang duduk di belakang. “Selalu aja bilangnya gitu, janji janji, tapi diulang lagi. Ingat nggak udah berapa kali kamu ngomong begitu? Tapi masih aja bikin masalah.”“Kamu jangan marahin dia terus lah.” Mas Leo yang sejak tadi diam me

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    17. Menjemput Adik

    “Selamat sore, Bu Kirana. Kami dari Fakultas Kedokteran. Ingin menginformasikan bahwa Danu Aditya beserta dua belas mahasiswa lain diamankan di Polres Metro Jakarta saat aksi demo. Mohon kesediaan wali untuk menjemput ….”Aku membelalak mendapati pesan tak terduga itu. Aku sungguh tidak percaya. Dengan jantung berdebar aku menatap Mas Leo yang semakin menjauh. “Mas!” Tanpa sadar aku memanggil Mas Leo. Aku sebenarnya ragu untuk memanggilnya, enggan, tapi mulutku seakan bertindak di luar kendaliku. Mas Leo menoleh. Langkahnya terhenti. “Ada apa?”Mas Leo menyahut. Aku baru ingat sekarang kita sudah mau pulang, artinya sudah tidak jam kerja lagi. Aku sama Mas Leo bukan lagi sebagai atasan dan bawahan di sini. Aku setengah berlari mendekatinya. “Mas ….”“Ada apa, Kirana?” Kini kami berdiri berhadapan. Mas Leo menatapku penuh tanya. Lantas dia melirik ponsel yang kupegang, yang masih menampilkan isi chat dari kampus Danu. “Danu, Mas,” ucapku kemudian. “Danu ada masalah. Tolong aku, Ma

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    16. Penyelidikan Bersama

    “Jam dua siang, akses terbuka, ID: Kirana Larasati,” gumam Mas Leo yang lantas menoleh melihatku. “Iya, itu s-saya …,” jawabku. Sesuai kesepakatan, malam ini aku lembur dengan Mas Leo. Malam ini aku terpaksa menunda masalah Danu meskipun rasanya aku ingin berlari mencari ke mana pun adikku itu berada. Saat ini kami sudah berada di ruangan perawat, duduk berdampingan di depan komputer yang menyala, menampilkan layar SIMRS. Di bawah cahaya remang-remang itu, bahu kami nyaris bersentuhan. Suasana di sini hening, hanya ada suara AC dan detak jarum jam yang terdengar. Aku dan Mas Leo sejak tadi lebih banyak diam, hanya membahas masalah pekerjaan. Aku tak berani mengajaknya membahas hal lain, meskipun aku sangat ingin bercerita tentang Danu. Aku melirik wajah Mas Leo dari samping dan dari jarak sedekat ini. Aroma tubuh khas suamiku itu terendus. Aku jadi rindu suasana di mana biasanya aku dan Mas Leo menghabiskan waktu hanya berdua, sedekat ini. Kejadian akhir-akhir ini membuat h

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    15. Salah Siapa?

    Aku berjalan terburu-buru menemui Bu Nita ke ruangannya seiring dengan pikiranku yang kalut. Kira-kira ada masalah apa lagi kali ini? Bahkan aku nyaris saja menabrak kereta pengantar makanan. Di tengah koridor menuju ke sana, aku berpapasan dengan dua perawat. Begitu melirikku mereka langsung berbisik-bisik. “Bu Kirana tampaknya buru-buru banget, kayaknya dipanggil deh.” “Udah pasti itu. Gara-gara kelalaian dia pasien hampir mati. Epinefrin yang di datanya masih ada, tapi ternyata di lemari kosong. Sedangkan yang tanda tangan terakhir kan dia. Kesalahan fatal sih itu.” “Duh, setelah ini bakal ada drama apa lagi ya, siap-siap aja.” Jantungku berdebar kencang mendengar percakapan mereka. Jadi stok obat di lemari kosong? Yang benar saja. Apa yang sudah kulakukan ya … Tuhan. Sesampai di depan ruang Farmasi, degup jantungku makin kencang. Tanganku dingin. Aku menyadari betapa fatalnya kesalahanku ini. Tapi bagaimana bisa? Aku yakin aku tidak salah input. Dengan tangan gemetar aku

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    14. Masalah yang Datang Bertubi-tubi

    Pagi itu aku berangkat pagi sekali, yakni sekitar pukul enam. Karena sebelum ke rumah sakit aku singgah dulu ke kosan Danu menggunakan taksi. Sudah lama juga aku tak menjenguk adikku, kemarin aku hanya mengirimkannya uang untuk praktikum. “The Green House Kost.” Aku mendongak membaca nama kosan itu yang terpampang di gerbangnya. Gedung kosan Danu terletak di kawasan elit, bertetanggaan dengan apartemen dan kantor-kantor. Gedung kosannya bertingkat dua. Fasilitas kamarnya lengkap dengan perabotan. Ada AC dan Wi-Fi juga, bahkan toilet di dalam kamar. Aku sengaja mencarikan tempat tinggal terbaik untuknya biar dia nyaman. Motor tampak berjejer rapi di parkirannya saat aku menjenguk di balik pagar yang terbuka sedikit. Aku mengedar pandang di setiap sudut gedung, CCTV di mana-mana. Keamanan kosan ini sangat terjaga. Pagi itu suasana kosan Danu agak sepi, maklumlah masih pagi. Namun, pintu sudah terbuka, beberapa orang terlihat santai di teras. “Permisi!” “Eh, Mbak Kirana, ya?”

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    13. Adu Argumen

    Tanganku terkepal geram mendengar jawabannya. Hatiku sakit dan muak. Tapi bukan karakterku yang mudah terpancing emosi di depan. Aku menarik napas, lalu mengembuskannya, pelan. Aku harus tenang. Aku memaksakan senyum. “Kenyataannya aku istrinya Mas Leo. Aku tinggal serumah sama Mas Leo, loh, nggak mungkin dong aku nggak mengenal suamiku.” “Tapi buktinya kamu nggak tahu kenapa Leo minum, kan? Leo juga udah cerita banyak kok sama saya tentang pernikahan kalian. Pernikahan yang amat menyedihkan.” Melia menatapku iba. Lagi, aku tak menyangka dengan apa yang Melia katakan. Apa saja yang sudah Mas Leo ceritakan pada perempuan itu tentang pernikahan kami? Bagaimana bisa Mas Leo bisa sebegitu percaya dan berani menceritakan masalah pribadinya pada orang lain, sekalipun itu mantannya sendiri. Aku jadi sulit percaya, perempuan ini sedang mengarang atau jujur? Oh atau … aku membelalak kala sebuah praduga muncul begitu saja di kepala. Atau jangan-jangan Melia memang sengaja menjebak Mas L

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status