ログインTanganku terkepal geram mendengar jawabannya. Hatiku sakit dan muak. Tapi bukan karakterku yang mudah terpancing emosi di depan. Aku menarik napas, lalu mengembuskannya, pelan. Aku harus tenang.
Aku memaksakan senyum. “Kenyataannya aku istrinya Mas Leo. Aku tinggal serumah sama Mas Leo, loh, nggak mungkin dong aku nggak mengenal suamiku.”“Tapi buktinya kamu nggak tahu kenapa Leo minum, kan? Leo juga udah cerita banyak kok sama saya tentang pernikahan kalian. PernAku berjalan terburu-buru menemui Bu Nita ke ruangannya seiring dengan pikiranku yang menebak-nebak, kira-kira ada masalah apa lagi kali ini? Bahkan aku nyaris saja menabrak kereta pengantar makanan. Di tengah koridor menuju ke sana, aku berpapasan dengan dua perawat. Begitu melirikku mereka langsung berbisik-bisik. “Bu Kirana tampaknya buru-buru banget, kayaknya dipanggil deh.”“Udah pasti itu. Gara-gara kelalaian dia pasien hampir mati. Epinefrin yang di datanya masih ada, tapi ternyata di lemari kosong. Sedangkan yang tanda tangan terakhir kan dia. Kesalahan fatal sih itu.”“Duh, setelah ini bakal ada drama apa lagi ya, siap-siap aja.”Jantungku berdebar kencang mendengar percakapan mereka. Jadi stok obat di lemari kosong? Yang benar saja. Apa yang sudah kulakukan ya … Tuhan. Sesampai di depan ruang Farmasi, degup jantungku makin kencang. Tanganku dingin. Aku menyadari betapa fatalnya kesalahanku ini. Tapi bagaimana bisa? Aku yakin aku tidak salah input. Dengan tangan gemetar d
Pagi itu aku berangkat pagi sekali, yakni sekitar pukul enam. Karena sebelum ke rumah sakit aku singgah dulu ke kosan Danu menggunakan taksi. Sudah lama juga aku tak menjenguk adikku, kemarin aku hanya mengirimkannya uang untuk praktikum. “The Green House Kost.” Aku mendongak membaca nama kosan itu yang terpampang di gerbangnya. Gedung kosan Danu terletak di kawasan elit, bertetanggaan dengan apartemen dan kantor-kantor. Gedung kosannya bertingkat dua. Fasilitas kamarnya lengkap dengan perabotan. Ada AC dan Wi-Fi, ada toilet di dalam kamar juga. Aku sengaja mencarikan tempat tinggal terbaik untuknya biar dia nyaman. Motor tampak berjejer rapi di parkirannya saat aku menjenguk di balik pagar yang terbuka sedikit. Aku mengedar pandang di setiap sudut gedung, CCTV di mana-mana. Keamanan kosan ini sangat terjaga. Pagi itu suasana kosan Danu agak sepi, maklumlah masih pagi. Namun, pintu sudah terbuka, beberapa orang terlihat santai di teras. “Permisi!” “Eh, Mbak Kirana, ya?” Seorang
Tanganku terkepal geram mendengar jawabannya. Hatiku sakit dan muak. Tapi bukan karakterku yang mudah terpancing emosi di depan. Aku menarik napas, lalu mengembuskannya, pelan. Aku harus tenang. Aku memaksakan senyum. “Kenyataannya aku istrinya Mas Leo. Aku tinggal serumah sama Mas Leo, loh, nggak mungkin dong aku nggak mengenal suamiku.”“Tapi buktinya kamu nggak tahu kenapa Leo minum, kan? Leo juga udah cerita banyak kok sama saya tentang pernikahan kalian. Pernikahan yang amat menyedihkan.” Melia menatapku iba. Lagi, aku tak menyangka dengan apa yang Melia katakan. Apa saja yang sudah Mas Leo ceritakan pada perempuan itu tentang pernikahan kami? Bagaimana bisa Mas Leo bisa sebegitu percaya dan berani menceritakan masalah pribadinya pada orang lain, sekalipun itu mantannya sendiri. Aku jadi sulit percaya, perempuan ini sedang mengarang atau jujur? Oh atau … aku membelalak kala sebuah praduga muncul begitu sa
Di depanku kini berdiri Melia yang sedang memapah Mas Leo. Kepala suamiku menempel di bahu perempuan itu, dia seperti dalam keadaan setengah sadar. Mas Leo seperti ….Dahiku berkerut menatap Melia. “Suamiku kenapa?”“Berisik, bisa minggir nggak?! Bantuin kek!” Cerita Bi Inem tentang sikap Melia tadi langsung terbayang lagi di ingatanku. Benar yang Bi Inem katakan. Perempuan di hadapanku ini tidak punya sopan santun. Harusnya aku yang marah, bukan dia.“Mas Leo mabuk, ya?” tanyaku lagi tanpa bergeser sedikit pun. Mas Leo lalu tampak bergumam tidak jelas di bahu perempuan itu. Aku yakin Melia yang sudah membuat suamiku seperti itu. Tanpa menjawab pertanyaanku, perempuan itu langsung saja menerobos masuk melewatiku. Dia berteriak memanggil Mama Sarah. Tak lama kemudian Mama muncul dari dalam. Melihat keadaan Mas Leo, Mama langsung panik. “Ya ampun, Leo kenapa?” “Ini loh, Tante, aku udah bilangin jangan minum terlalu banyak. Leo masih aja ngeyel, jadinya begini, kan?” adu perempuan
“Kirana, apakah kamu ada di dalam? Buka pintunya.”Itu suara Mas Leo. Mendengar suaranya saja aku langsung terbayang adegan di restoran tadi. Bagaimana Melia memeluk Mas Leo. Dan suamiku membiarkannya.Dan kalimat-kalimat menyakitkan Mas Leo. “Kenapa sekarang dia memanggilku? Mau apa dia?” “Kirana.” Dia memanggil lagi. Dengan malas aku membuka pintu. Wajah datar Mas Leo langsung menyambut pemandanganku. Aku membalasnya dengan tatapan serupa. “Ada apa?” tanyaku dingin. “Aku minta yang tadi terakhir kali kamu ikut campur urusanku.” Mas Leo langsung saja bicara begitu. Walaupun aku sudah menduganya, tapi hatiku tetap sakit mendengarnya. Apalagi kini tatapan tajamnya terasa begitu menusuk. Aku langsung mengalihkan pandangan ke bawah. Tak kuasa melihat tatapan itu. Aku tahu di mata Mas Leo yang aku lakukan itu salah, fatal. Karena kami hanya menikah kontrak.
“Kamu sendiri ngapain sama dia?” Mas Leo menatapku dengan pandangan seolah-olah aku adalah perempuan paling berkhianat di dunia. Aku tertunduk, “a-aku ….” Aku bingung menjawab apa. Mendadak otakku rasanya sulit menyusun kata-kata. Aku khawatir jawabanku semakin membuat Mas Leo salah paham. “Kenapa kamu nggak bisa jawab?” Namun, sepertinya keraguanku membuat Mas Leo semakin curiga padaku. Dan aku tak mau itu terjadi. “Aku–”“Gue cuman bantuin Kirana buat nyusulin suaminya.” Revan yang menjawab. Dia berdiri di sampingku, entah sejak kapan. “Cuman itu, nggak ada yang aneh, kan?” Mas Leo mendengkus lantas dia menatapku dan Revan bergantian. “Kalian pikir aku percaya?” Aku melotot tak percaya dengan apa yang keluar dari mulutnya. “Mas! Aku sama Revan nggak ada hubungan apa-apa. Aku minta tolong dia buat ngejar kamu ke sini, bahkan aku sampai meninggalkan pekerjaanku!” Ma







