Share

I15. Umpan Pertama

Penulis: Cheezyweeze
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-04 13:34:03

Istana tidak pernah bergerak dengan tergesa. Ia menunggu. Mengamati. Lalu menusuk saat korbannya lengah. Begitu juga dengan racun. Racun tidak selalu pahit. Kadang ia disajikan dalam cangkir teh, dengan paling sopan.

Elora menyadarinya pagi itu, bukan dari teriakan, bukan juga dari tuduhan. Melainkan dari perubahan kecil yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Seorang dayang baru menggantikan Lysa tanpa penjelasan. Senyumnya sopan, geraknya sempurna, tapi matanya tidak pernah benar-benar men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I100. Saksi yang Kembali

    Aula besar di Istana Valerion belum benar-benar pulih dari kekacauan yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Anak panah yang ditembakkan dari balkon masih tergeletak di atas lantai batu, menjadi pengingat bahwa musuh tidak hanya berada di luar tembok istana—tetapi mungkin juga di dalamnya. Obor-obor kembali dinyalakan di sepanjang dinding aula. Cahaya mereka bergoyang tertiup angin malam yang masuk dari pintu besar yang setengah terbuka.Di tengah ruangan, para bangsawan berdiri dalam kelompok kecil, saling berbisik dengan wajah tegang. Di depan tangga singgasana, tiga sosok berdiri dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain. Elora Avelyne berdiri tegak dengan ekspresi tenang, meski matanya terus mengawasi setiap gerakan di ruangan itu. Tidak jauh darinya, Aethran Valerion berdiri dengan sikap kaku. Tatapannya sesekali melirik potret besar Lady Mirela yang masih terpajang di tengah aula. Di sisi lain, Adrian Valerion tampak jauh lebih santai. Ia bersandar pada salah satu pi

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I99. Panglima yang Hilang

    Aula kerajaan di Istana Valerion masih diselimuti ketegangan setelah potret besar itu dibuka. Potret Lady Mirela berdiri tegak di tengah ruangan, diterangi cahaya obor yang bergetar. Wajah wanita itu terlihat tenang, bahkan hampir tersenyum—seolah tidak peduli bahwa kemunculannya kembali telah mengguncang seluruh kerajaan. Namun perhatian semua orang kini tidak hanya tertuju pada Mirela. Melainkan pada pria yang berdiri di sampingnya dalam lukisan itu. Seorang panglima kerajaan yang telah lama menghilang.Kael Draven berdiri beberapa langkah dari potret itu, menatapnya dengan mata tajam. “Pedang itu,” gumamnya pelan. Di sampingnya, Cassren Vale menyipitkan mata. “Kau mengenalinya?” Kael mengangguk sedikit. “Lambang di gagang pedangnya adalah lambang komando penjaga istana dua puluh tahun lalu.” Cassren menghembuskan napas perlahan. “Itu berarti dia memimpin penjagaan saat malam kelahiran bayi Ratu Isolde.” Bisikan langsung memenuhi au

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I98. Potret dari Masa Lalu

    Aula kerajaan di Istana Valerion belum sempat kembali tenang sejak kematian Lord Vareon Halbrecht. Tubuh bangsawan tua itu telah dibawa keluar oleh para penjaga, namun bayangan kematiannya masih terasa berat di udara. Empat pewaris masih berdiri di depan tangga singgasana. Elora Avelyne berdiri dengan tangan saling menggenggam untuk menahan kegelisahan. Di sampingnya, Aethran Valerion terlihat semakin tidak sabar. Sedikit di belakang, Rhevan masih menjaga sikap seperti seorang prajurit. Sementara di tengah aula, Adrian Valerion memperhatikan semuanya dengan ketenangan yang sulit ditebak.Di tangan Kael Draven, panah hitam milik pasukan bayangan masih berkilau di bawah cahaya obor. “Pasukan rahasia kerajaan,” gumam Kael. Cassren Vale berdiri di sampingnya. “Pasukan itu seharusnya sudah lama dibubarkan.” Kael menggeleng pelan. “Tidak.” Ia menatap ujung panah itu sekali lagi. “Pasukan seperti itu tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya… menunggu perin

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I97. Teka-Teki Valerion

    Tubuh Lord Vareon Halbrecht masih terbaring di lantai marmer aula kerajaan Istana Valerion. Darahnya perlahan merambat di antara celah batu putih, membentuk garis merah yang menakutkan di tengah ruangan yang sebelumnya menjadi tempat perdebatan takhta. Tidak ada yang berbicara. Para bangsawan berdiri kaku. Beberapa di antara mereka bahkan tidak berani mendekati tubuh Halbrecht.Sementara di tangga singgasana, empat orang yang kini menjadi pusat nasib kerajaan masih berdiri di tempat mereka. Elora Avelyne menatap tubuh Halbrecht dengan wajah pucat. Di sampingnya, Aethran Valerion terlihat tegang, rahangnya mengeras. Sedikit di belakang mereka, Rhevan berdiri tanpa bergerak. Dan di tengah aula— Adrian Valerion memperhatikan semuanya dengan tatapan tenang yang membuat beberapa bangsawan merasa tidak nyaman.Keheningan itu akhirnya pecah. “Cari pemanahnya!” Suara Cassren Vale menggema keras di aula. Beberapa penjaga langsung berlari menuju jendela besar tempa

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I96. Kematian Sang Saksi Kunci

    Aula kerajaan di Istana Valerion tidak lagi terasa seperti tempat kekuasaan. Tempat itu kini seperti medan perang tanpa pedang. Empat orang berdiri di depan tangga singgasana. Empat nama yang tiba-tiba menjadi pusat masa depan kerajaan.Elora Avelyne berdiri dengan punggung tegak, meski jantungnya masih berdetak keras. Di sampingnya, Aethran Valerion menatap lurus ke arah pria yang baru saja mengklaim takhta. Sedikit di belakang mereka, Rhevan berdiri kaku, tangannya masih menggenggam gagang pedang. Dan di tengah aula— Adrian Valerion berdiri dengan tenang. Seolah kehadirannya di istana bukan sesuatu yang mustahil.Bisikan para bangsawan mulai terdengar di seluruh ruangan. “Empat pewaris…” “Ini gila…”“Kerajaan tidak akan bertahan…” Beberapa bangsawan bahkan sudah mulai bergerak mendekati orang yang mereka anggap paling menguntungkan. Situasi mulai terasa seperti bara yang siap meledak.Di depan tangga singgasana, Cas

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I95. Pria yang Kembali dari Kematian

    Cassren menyipitkan mata. Ia merasa wajah itu familiar. Namun sebelum ia sempat mengingat— pria itu berhenti di tengah aula. Tatapannya menyapu ruangan perlahan. Kemudian berhenti pada tiga orang di tangga singgasana.Elora merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Tatapan pria itu terasa seperti seseorang yang sedang menilai mangsanya. “Menarik,” katanya pelan. Suaranya tenang, namun menggema jelas di aula yang sunyi. “Jadi rumor itu benar.” Ia menunjuk ke arah tangga singgasana. “Tiga pewaris berdiri di satu ruangan.”Aethran tersenyum tipis. “Rumor apa pun yang kau dengar, kau datang ke tempat yang salah.” Pria itu memandangnya dengan tatapan penuh arti. “Aku rasa tidak.” Beberapa penjaga bergerak maju. Cassren mengangkat tangan. “Berhenti di situ.” Pedangnya terangkat. “Siapa kau?”Pria itu tidak langsung menjawab. Sebaliknya ia memandang beberapa bangsawan yang berdiri di sisi aula. Tatapannya berhenti pada salah satu dari mer

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status