ログインPria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.
Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. Tampak biasa saja. Terlalu biasa. Mereka membicarakan hal-hal kecil tentang dekorasi pernikahan. Wajah Dira tampak tenang, atau mungkin terlalu tenang.
Bumi mengingat satu hal yang kini terasa seperti tamparan keras. Dia menolak diantar pulang.
Dengan segala kenaifannya yang sedang jatuh cinta, dia hanya mengangguk dan mengusap kepala Dira tanpa curiga sedikit pun. Dia tidak menyangka bahwa itu adalah senyum perpisahan.
Tujuh tahun. Tujuh tahun Bumi menjaga hati untuk gadis itu. Dari masa kuliah, merintis karier sebagai dosen, hingga mencapai posisi sekarang, nama Anindira adalah satu-satunya tujuan. Rumahnya untuk kembali.
Dan kini, rumah itu mendadak rata dengan tanah tepat saat dia sudah berdiri di depan pintunya dengan kunci di tangan.
Di tengah kemacetan jalanan yang bising, setetes air mata jatuh tanpa permisi di balik kacamatanya. Pria sedingin es itu akhirnya hancur.
"Bilang ini mimpi, sayang... tolong," desisnya lirih, suaranya pecah dan bergetar.
Mobilnya melaju menuju gedung pencakar langit tempat sebuah bank swasta, tempt Dira bekerja. Dia harus membuktikan bahwa Dira masih ada di sana.
Tapi, begitu dia melangkah masuk ke lobi kantor yang megah itu, jawaban yang dia terima justru mendorongnya masuk makin dalam atas kenyataan.
"Beliau sudah mengundurkan diri resmi sejak tiga hari yang lalu, Pak. Kemarin sore adalah hari terakhirnya serah terima jabatan," ucap staf HRD itu dengan sopan.
Bumi terhuyung.
Jadi, saat mereka makan sore kemarin, Dira bukan sedang merencanakan masa depan mereka, melainkan sedang merayakan keberhasilannya memutuskan hubungan dengan cara yang paling pengecut.
Pria itu keluar dari lobi bank itu dengan langkah yang nyaris terseret. Oksigen di sekitarnya seolah menipis.Tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang di lobi, dia masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan keras.
Tangannya yang gemetar menyambar Hp, mencari nama-nama yang selama ini menjadi lingkaran terdekat Dira.
"Lho, Mas Arka? Bukannya Dira lagi sama Mas? Dari semalam saya telepon nomornya nggak aktif. Tadi pagi saya mau kirim kado malah nggak bisa dihubungin," jawab suara di seberang sana dengan nada bingung.
Bumi memutus sambungan tanpa ucapan terima kasih. Ia beralih ke nama berikutnya. Lalu berikutnya. Jawaban mereka semua seragam, bak skrip yang sudah diatur untuk menghancurkan harapannya.
"Nggak tahu, Mas. Nomornya nggak aktif. Kita kira dia lagi sibuk persiapan akad."
Sampai ada satu jawaban yang sedikit menerangi gelap kepalanya
"Oh, Dira? Kemarin pagi sih masih kelihatan di kafe deket sini, Mas Arka. Katanya mau ada urusan penting. Coba cek ke kosan Ivi mas, yang di jalan Malang," sahut salah satu teman Dira lewat telepon.
Bumi langsung menegakkan tubuhnya seolah menemukan oksigen. Mobilnya meleset cepat ke satu titik cerah itu. Tapi lagi-lagi harapan haya harapan.
Bumi dikirim ke sana kemari seperti bola pingpong. Dari satu kafe ke kafe lain, dari satu alamat ke alamat lain, tapi hasilnya nihil. Dira benar-benar menghapus jejaknya dengan sangat rapi, menyisakan Bumi yang berdiri di pinggir jalan dengan kemeja yang kini benar-benar kusut dan keringat yang membasahi pelipisnya.
**
Di ruang tengah rumah itu. Maura duduk bersila di sofa kecil sambil menonton Tv yang tak benar-benar dia tonton. Wajahnya sudah semrawut. HP-nya panas karena terus-menerus digunakan untuk menelpon.
"Ayo dong Mbak, angkat... lo di mana sih?! Gila ya lo beneran bikin gue mati berdiri!" gerutu Maura sambil menekan tombol redial untuk ke-157 kalinya ke nomor yang sama.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
"Aaaarrghh! Jangkauan matamu!" umpat Maura frustrasi pada suara operator.
Dia berganti menelpon teman Dira yang lain, lalu yang lain lagi. Maura bahkan sempat mengirim pesan singkat ke nomor Dira yang isinya sudah mulai bernada ancaman.
Mbak, kalau lo nggak muncul dalam satu jam, koleksi tas branded lo di kamar gue loak-in semua! Demi apa pun gue nggak bohong!
Namun, layar Hp tetap bisu. Hanya ada suara mamanya yang sedang menghubungi keluarga-keluarga jauh untuk menanyakan keberadaan anak sulungnya. Maura menoleh ke arah sang Papanya di meja makan dengan wajah tampak pucat. Rasa sedih mulai mengalahkan rasa marahnya.
**
Maura masih duduk di sofa kecil, posisi yang sama sejak sore. TV di depannya masih menyala, menampilkan acara komedi yang harusnya mengundang tawa, ironisnya, tidak satu pun yang terasa lucu.
HP-nya tergeletak di pangkuan, layarnya gelap. Untuk pertama kalinya sejak tadi, dia berhenti menelpon.
Sampai akhirnya pria itu datang.
Bumi Arkatama.
Kemejanya kusut. Lengan yang tadi digulung kini sedikit turun tidak rapi. Rambutnya yang biasanya selalu tertata kini berantakan, seolah sudah berkali-kali disapu tangan karena frustrasi.
Langkahnya masih tegap. Tapi ada yang hilang.
Presisinya retak.
“Bumi? Gimana? Ketemu?” mama langsung menghampiri.
Sunyi sepersekian detik.
Bumi menggeleng pelan. Satu gerakan kecil yang rasanya seperti menjatuhkan harapan semua orang ke lantai.
"Nggak ada tante," jawabnya singkat.
Bumi melangkah masuk lebih jauh. Berhenti di tengah ruang tamu. Tangannya mengepal sebentar, lalu dilepas lagi.
Matanya menyapu ruangan. Lalu berhenti. “Paspor Dira di rumah?” tanyanya.
Pagi itu, garasi rumah Bumi Arkatama dihiasi satu unit mobil warna putih mutiara yang tampak masih kinclong. Mobil baru yang dibelikan Bumi dua minggu lalu, hadiah manis menyambut usia kehamilan Maura yang kini menginjak hampir tujuh bulan, terparkir manis di samping mobil hitam suaminya. Tidak hanya mobil, Bumi yang super protektif juga langsung mempekerjakan seorang sopir pribadi bernama Pak Yanto untuk memastikan istri dan adik iparnya aman saat berkeliling kota."Mbak, beneran mobil ini dipake buat kita nyari kampus?" tanya Ragil cemas sambil mengelus kap mobil yang mengilap bersih. Remaja jangkung itu mengenakan kemeja kotak-kotak rapi dan celana kain, membawa tas berisi berkas-berkas kelulusannya."Ya iyalah! Masa mau kita pamerin ke kolam ikan doang!" sahut Maura dari teras. Wanita hamil itu berjalan pelan dengan dress hamil pastel dilapisi kardigan rajut manis. Perutnya yang kini membuncit sempurna di usia tujuh bulan membuatnya melangkah agak lambat. "Ayo masuk. Pak Yanto uda
"Ada satu lokasi yang Mas minat, tapi nggak tahu kamu suka atau enggak," tutur Bumi tenang. "Ada empat kamar. Yang satu khusus buat Ragil, rencanaku.""Aku?" Ragil menunjuk dadanya sendiri dengan sendok, matanya melotot kaget sampai suapan nasinya tertunda di udara."Iya, siapa lagi," kata Bumi lempeng, menatap adik iparnya itu tanpa kedipan. "Tapi syaratnya kuliah yang bener.""Aku mau ngekos aja kalau udah kerja, Mas. Mana bisa aku ngerusuh terus di rumah Mas Bumi," kata Ragil sungkan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Bumi menaruh sendoknya perlahan. "Kamu bantuin Mbakmu. Mbakmu sebentar lagi mau lahiran, dan dia enggak mau nyari ART yang menetap, cuma mau cari baby sitter. Kamu bisa bantuin Mbakmu masak atau ngapain gitu di rumah. Nggak kasihan kamu sama Mbakmu?" kata Bumi panjang lebar, suaranya tenang namun sarat penekanan yang tak bisa dibantah."Tapi..." Ragil linglung, menoleh menatap Maura dan Bumi bergantian dengan raut serba salah.Maura yang dari tadi asyik mengunyah
Suara denting piring beradu dengan kompor yang menyala di area dapur menjadi musik latar malam itu. Di meja makan berlantai marmer, Bumi dan Ragil duduk bersisian, meghadao ke dapur, ke arah Maura. Ragil melipat kedua tangannya di atas meja dengan posisi duduk super tegap dan pandangan lurus ke depan, dan Bumi santai menyandarkan punggungnya.Keduanya sama-sama bungkam, sibuk mendengarkan omelan Maura yang tak kunjung surut sejak sepuluh menit lalu."Kamu tuh bener-bener ya, Gil! Gimana bisa dari sana sampe sini sendirian, kalau kenapa-kenapa dijalan gimana mbak ngomong ke ibu!" cerocos Maura sembari membolak-balik emping mlonjo di atas wajan. Ya, oleh-oleh itu langsung dia goreng sedikit, karena penasaran rasanya. "Udah untung nggak tipu orang!""Kan sampai ke kantor Mas Bumi dengan selamat, Mbak..." cicit Ragil pelan, matanya melirik takut-takut."Diem! Mbak belum selesai ngomong!" potong Maura menunjuk adiknya dengan sodet kayu.Ia lalu berbalik, menatap suaminya dengan mata mendel
Deretan kendaraan bermotor berdesakan memenuhi jalanan ibu kota yang mulai dipadati arus pulang kerja. Cahaya jingga senja memantul indah di kaca depan sedan hitam milik Bumi, rencanapulang di canangkan siang tadi molor satu setengah jam. Dengung halus AC dan alunan musik instrumental lembut menjadi latar belakang perjalanan mereka menuju rumah.Bumi mengemudi dengan satu tangan di lingkar kemudi, mata tegapnya sesekali melirik Ragil yang duduk di kursi penumpang sampingnya. Remaja jangkung itu masih sibuk memandangi jajaran gedung tinggi dan hiruk-pikuk kota dari balik kaca mobil dengan binar mata takjub."Kamu ke sini cuma bawa tas itu?" tanya Bumi memecah keheningan, mengode tas ransel kusam yang tergeletak di bawah kaki Ragil."Iya, Mas," jawab Ragil polos menoleh cepat. "Di dalamnya cuma ada baju dua potong. Selebihnya bingkisan yang dibuat Ibu untuk Mbak Maura.""Apa?" tanya Bumi menaikkan sebelah alisnya penasaran."Sambel pecel, ada sambel gado-gado, ada krecek rambak, ada e
Lift khusus eksekutif meluncur mulus tanpa getaran menuju lantai tertinggi gedung Arkatama Group. Di dalam ruangan berlapis kaca tebal itu, Ragil tak henti-hentinya menempelkan wajah ke kaca, memandangi panorama hamparan gedung pencakar langit Jakarta yang mendadak terlihat cilik di bawah sana."Ya Tuhan mas Bumi... Mas Bumi! Ini mah tinggi banget! Berasa lagi naik helikopter!" seru Ragil dengan mata membelalak lebar, penuh takjub."Emang kamu udah pernah naik helikopter," balas Bumi yang berdiri santai di sampingnya, masih menyelempangkan tas ransel lusuh Ragil di pundaknya. "Jangan terlalu dekat ke kaca. Nanti bekas hidungmu nempel di sana." canda Bumi"Ya habisnya keren banget, Mas!" cengir Ragil langsung mundur, menganggapnya serius.Pintu lift terbuka pelan, menyambut mereka dengan hamparan karpet tebal yang meredam setiap derap langkah. Begitu masuk ke dalam ruang kerjanya yang megah, luas, dan berdesain interior modern minimalis, mulut Ragil makin menganga lebar. Matanya meneli
Suasana di dalam ruang meeting utama lantai lima belas kantor pusat Arkatama Group terasa begitu dingin dan tegang. Pencahayaan dari lampu gantung modern berpadu dengan siluet gedung-gedung pencakar langit di balik dinding kaca besar. Di ujung meja oval berstruktur kayu jati mahal, Bumi duduk tegap memimpin jalannya meeting direksi tahunan.Sebagai Direktur Utama salah satu konglomerasi properti terbesar, pembawaan Bumi begitu dominan. Kemeja putih terpasang sempurna di tubuh tegapnya. Kacamata minusnya memantulkan grafik pada layar proyektor raksasa."Penurunan pendapatan sebesar empat koma dua persen di kuartal ketiga pada divisi perumahan kelas menengah bukan angka yang bisa ditoleransi begitu saja," ujar Bumi dengan suara baritonnya yang tenang, datar, namun sarat penekanan yang membuat para jajaran direksi menahan napas."B-bahwa hal ini dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga acuan dan penundaan proyek tahap dua, Pak..." sahut Manajer Keuangan dengan nada sedikit gemetar, mengusap
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan







