تسجيل الدخولSore harinya, halaman kompleks perumahan tempat tinggal Bumi dan Maura yang luas dan lengang jadi arena latihan dadakan. Pak Yanto duduk di kursi penumpang dengan tenang, sementara Ragil memegang kemudi dengan wajah yang tegang setengah mati. Pelipisnya bahkan sudah dibasahi keringat dingin.Di teras rumah, Maura duduk santai di kursi rotan empuk yang dialasi bantal lembut. Kakinya yang sedikit bengkak di usia kehamilan tujuh bulan disangga kursi kecil, sementara tangannya sibuk memegang mangkuk berisi potongan buah naga dingin yang tampak menyegarkan."Pak! Ini beneran di lepas remnya?!" teriak Ragil, matanya melotot lurus ke depan seolah sedang menghadapi ujian hidup dan mati."Ya lepas pelan-pelan, Mas. Jangan langsung diinjak gasnya kalau Mas Ragil nggak mau nyungsep ke kolam ikan Pak RT!" balas Pak Yanto. "Tenang, Mas Ragil. Kaki kanan di atas pedal rem dulu, lepas pelan-pelan... nah, cakep. Mobilnya jalan kan?""Anjir, jalan, Pak! Jalan sendiri!" seru Ragil heboh bagai baru saj
Sore harinya, halaman kompleks perumahan tempat tinggal Bumi dan Maura yang luas dan lengang jadi arena latihan dadakan. Pak Yanto duduk di kursi penumpang dengan tenang, sementara Ragil memegang kemudi dengan wajah yang tegang setengah mati. Pelipisnya bahkan sudah dibasahi keringat dingin.Di teras rumah, Maura duduk santai di kursi rotan empuk yang dialasi bantal lembut. Kakinya yang sedikit bengkak di usia kehamilan tujuh bulan disangga kursi kecil, sementara tangannya sibuk memegang mangkuk berisi potongan buah naga dingin yang tampak menyegarkan."Pak! Ini beneran di lepas remnya?!" teriak Ragil, matanya melotot lurus ke depan seolah sedang menghadapi ujian hidup dan mati."Ya lepas pelan-pelan, Mas. Jangan langsung diinjak gasnya kalau Mas Ragil nggak mau nyungsep ke kolam ikan Pak RT!" balas Pak Yanto. "Tenang, Mas Ragil. Kaki kanan di atas pedal rem dulu, lepas pelan-pelan... nah, cakep. Mobilnya jalan kan?""Anjir, jalan, Pak! Jalan sendiri!" seru Ragil heboh bagai baru saj
Pagi itu, garasi rumah Bumi Arkatama dihiasi satu unit mobil warna putih mutiara yang tampak masih kinclong. Mobil baru yang dibelikan Bumi dua minggu lalu, hadiah manis menyambut usia kehamilan Maura yang kini menginjak hampir tujuh bulan, terparkir manis di samping mobil hitam suaminya. Tidak hanya mobil, Bumi yang super protektif juga langsung mempekerjakan seorang sopir pribadi bernama Pak Yanto untuk memastikan istri dan adik iparnya aman saat berkeliling kota."Mbak, beneran mobil ini dipake buat kita nyari kampus?" tanya Ragil cemas sambil mengelus kap mobil yang mengilap bersih. Remaja jangkung itu mengenakan kemeja kotak-kotak rapi dan celana kain, membawa tas berisi berkas-berkas kelulusannya."Ya iyalah! Masa mau kita pamerin ke kolam ikan doang!" sahut Maura dari teras. Wanita hamil itu berjalan pelan dengan dress hamil pastel dilapisi kardigan rajut manis. Perutnya yang kini membuncit sempurna di usia tujuh bulan membuatnya melangkah agak lambat. "Ayo masuk. Pak Yanto uda
"Ada satu lokasi yang Mas minat, tapi nggak tahu kamu suka atau enggak," tutur Bumi tenang. "Ada empat kamar. Yang satu khusus buat Ragil, rencanaku.""Aku?" Ragil menunjuk dadanya sendiri dengan sendok, matanya melotot kaget sampai suapan nasinya tertunda di udara."Iya, siapa lagi," kata Bumi lempeng, menatap adik iparnya itu tanpa kedipan. "Tapi syaratnya kuliah yang bener.""Aku mau ngekos aja kalau udah kerja, Mas. Mana bisa aku ngerusuh terus di rumah Mas Bumi," kata Ragil sungkan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Bumi menaruh sendoknya perlahan. "Kamu bantuin Mbakmu. Mbakmu sebentar lagi mau lahiran, dan dia enggak mau nyari ART yang menetap, cuma mau cari baby sitter. Kamu bisa bantuin Mbakmu masak atau ngapain gitu di rumah. Nggak kasihan kamu sama Mbakmu?" kata Bumi panjang lebar, suaranya tenang namun sarat penekanan yang tak bisa dibantah."Tapi..." Ragil linglung, menoleh menatap Maura dan Bumi bergantian dengan raut serba salah.Maura yang dari tadi asyik mengunyah
Suara denting piring beradu dengan kompor yang menyala di area dapur menjadi musik latar malam itu. Di meja makan berlantai marmer, Bumi dan Ragil duduk bersisian, meghadao ke dapur, ke arah Maura. Ragil melipat kedua tangannya di atas meja dengan posisi duduk super tegap dan pandangan lurus ke depan, dan Bumi santai menyandarkan punggungnya.Keduanya sama-sama bungkam, sibuk mendengarkan omelan Maura yang tak kunjung surut sejak sepuluh menit lalu."Kamu tuh bener-bener ya, Gil! Gimana bisa dari sana sampe sini sendirian, kalau kenapa-kenapa dijalan gimana mbak ngomong ke ibu!" cerocos Maura sembari membolak-balik emping mlonjo di atas wajan. Ya, oleh-oleh itu langsung dia goreng sedikit, karena penasaran rasanya. "Udah untung nggak tipu orang!""Kan sampai ke kantor Mas Bumi dengan selamat, Mbak..." cicit Ragil pelan, matanya melirik takut-takut."Diem! Mbak belum selesai ngomong!" potong Maura menunjuk adiknya dengan sodet kayu.Ia lalu berbalik, menatap suaminya dengan mata mendel
Deretan kendaraan bermotor berdesakan memenuhi jalanan ibu kota yang mulai dipadati arus pulang kerja. Cahaya jingga senja memantul indah di kaca depan sedan hitam milik Bumi, rencanapulang di canangkan siang tadi molor satu setengah jam. Dengung halus AC dan alunan musik instrumental lembut menjadi latar belakang perjalanan mereka menuju rumah.Bumi mengemudi dengan satu tangan di lingkar kemudi, mata tegapnya sesekali melirik Ragil yang duduk di kursi penumpang sampingnya. Remaja jangkung itu masih sibuk memandangi jajaran gedung tinggi dan hiruk-pikuk kota dari balik kaca mobil dengan binar mata takjub."Kamu ke sini cuma bawa tas itu?" tanya Bumi memecah keheningan, mengode tas ransel kusam yang tergeletak di bawah kaki Ragil."Iya, Mas," jawab Ragil polos menoleh cepat. "Di dalamnya cuma ada baju dua potong. Selebihnya bingkisan yang dibuat Ibu untuk Mbak Maura.""Apa?" tanya Bumi menaikkan sebelah alisnya penasaran."Sambel pecel, ada sambel gado-gado, ada krecek rambak, ada e
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta







