Mag-log inMaura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.
Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai.
"Gimana? Ada?" suara Papa bergetar.
Bumi menggeleng pelan. "Nggak ada, Om. Kayaknya Dira udah merencanakan jauh-jauh hari dengan sangat rapi."
"Astaga..." Pak Bagas memejamkan mata rapat-rapat, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat menyakitkan.
Beliau terdiam cukup lama, sebelum akhirnya menoleh ke arah Bumi lagi.
"Nak, om tahu ini salah," Papa menjeda, suaranya parau. "Tapi persiapan sudah matang. Undangan sudah di tangan orang-orang penting. Harga diri keluarga Arkatama taruhannya. Kamu tau sendiri kan, gimana bisnis papamu."
Melihat itu Maura seketika mual. Please, jangan ngomong itu lagi, Pa.
"Nanti kalau dalam tiga hari Dira beneran nggak ketemu. Kamu nggak apa-apa kalau sama Maura, Nak?"
Maura yang baru saja mau menghempaskan pantatnya ke kursi, langsung melonjak berdiri lagi "PA! CUKUP! Ini bukan katering yang kalau menu ayamnya habis bisa diganti tempe!"
"Maura, dengerin Papa dulu-"
"Nggak mau! Aku nggak mau denger!" Maura menunjuk dirinya sendiri dengan heboh. "Aku ini masih kuliah, Pa! Aku masih pengen jajan cilok depan kampus, bukan jajan sayur mayur buat diulek di dapur! Lagian Pak Bumi juga nggak mau, kan?"
Maura melotot ke arah Bumi, memberikan kode keras agar pria itu segera mengeluarkan jurus Interogasi Dosennya, untuk membungkam keinginan Papa.
Tapi Bumi hanya diam. Dia duduk mematung. Tidak ada penolakan pedas, tidak ada wajah jijik. Dia hanya diam, sedingin es batu di dalam freezer.
"Nak Bumi?" pancing Papa lagi, memohon jawaban.
"Bahas aja terus! Bahas sampai Maura jadi kerupuk!" teriak Maura frustrasi karena merasa diabaikan. "Maura mau mandi! Jangan ada yang berani manggil Maura ke bawah kalau cuma mau bahas tukar tambah pengantin!"
Diame nyambar Hp-nya dan berlari menaiki tangga dengan suara langkah yang sengaja dihentak-hentakkan. Begitu sampai di kamar mandi lantai atas, dia membanting pintu.
"Sialan! Sialan! Sialan!" Maura mengumpat sambil menggosok wajahnya kasar dengan sabun cuci muka sampai busanya masuk ke lubang hidung. "Mbak Dira kampret! Kenapa harus kabur sekarang sih? Mana bawa ijazah segala, emang mau daftar jadi admin slot di luar negeri apa gimana?!"
Dia menyiram kepalanya dengan air dingin, berharap otak panasnya tidak meledak.
"Terus itu lagi, si Dosen Kulkas! Harusnya dia bilang 'Maaf Om, saya nggak level sama bocah ingusan ini'. Harusnya gitu dong!"
Maura mengambil gayung dan menyiram lantai dengan penuh emosi.
"GUE NGGAK MAU NIKAH MUDA..!" pekiknya menggema di ruangan sempit itu.
"Hih! Amit-amit jabang bayi! Mbak Dira, lo harus balik! Kalau nggak, gue santet lo jadi seblak becek!"
Di ruang tamu, papanya hanya bisa memijat keningnya. "Maafkan Maura, Nak Bumi. Dia memang, masih kekanak-kanakan," ujar Pak Bagas.
Bumi akhirnya mengalihkan pandangan dari lantai ke arah Papa Bagas. Dia merapikan letak kacamata yang sebenarnya tidak bergeser sedikit pun. "Nggak apa-apa, Om. Saya bisa ngerti kalau dia merasa keberatan."
"Tapi bagaimana dengan kamu? Apa kamu keberatan?" tanya Pak Bagas lagi, benar-benar menagih kepastian.
"Prioritas saya sekarang adalah menemukan Dira dulu Om. Selebihnya... saya serahkan pada keputusan keluarga nanti."
Jawaban diplomatis itu setidaknya memberi napas tambahan bagi Papa Bagas, meski bagi Maura, itu adalah jawaban paling menyebalkan sedunia.
**
Tiga hari itu berlalu seperti kepungan kabut yang mencekik. Waktu bukan lagi deretan angka di jam tangan mahal Bumi, melainkan hitung mundur menuju sebuah jurang yang tidak ingin dia masuki.
Dia mengorbankan tiga hari cuti tahunannya, hanya untuk memacu mobil sedannya membelah kemacetan Surabaya yang membakar kulit.
Dari satu kantor biro perjalanan ke biro lain, dari pelacakan transaksi kartu kredit yang mendadak beku, hingga mendatangi apartemen teman-teman lama Dira yang hanya memberikan gelengan kepala simetris.
Malam-malamnya dihabiskan di depan layar laptop, memelototi rekaman CCTV yang berhasil dia dapatkan dari beberapa akses koneksinya, berharap menemukan siluet wanita dengan koper yang sangat dia kenali.
Bumi benar-benar kehilangan jejak, Dira seolah-olah telah menguap menjadi udara, meninggalkannya dalam sebuah janji tiga hari yang perlahan-lahan menguap jadi sia-sia.
Di sisi lain kota, Maura menjalani tiga hari itu dengan tak kalah pening. Pulang kuliah, bukannya bersantai di kosan teman atau berburu seblak, dia justru menjelma menjadi detektif amatir yang malang. Dengan motor matic-nya, dia menyisir setiap sudut jalanan, mendatangi kafe-kafe tempat Dira biasa menghabiskan waktu.
Maura terduduk di sudut kafe sampai lampu-lampu mulai dipadamkan, matanya tidak lepas dari pintu masuk, berharap keajaiban muncul dalam wujud kakaknya yang melangkah masuk sambil meminta maaf.
Dia bahkan nekat menunggu di terminal bus hingga larut malam, mengamati setiap wajah penumpang yang turun dengan teliti sampai matanya perih terkena asap knalpot.
Tapi, hingga matahari di hari ketiga mulai condong ke ufuk barat, hasil yang mereka dapatkan tetaplah angka nol besar.
Kesunyian dari pihak Dira adalah jawaban paling mutlak, menandakan bahwa waktu sudah habis dan skenario horor di pelaminan kini tinggal menunggu hitungan jam untuk menjadi nyata.
**
Ruang tamu itu kini terasa jauh lebih sempit, padahal hanya diisi oleh orang-orang yang sama.
Pak Bagas menyandarkan punggungnya yang tampak semakin ringkih ke sofa. Wajahnya yang pucat pasi menjadi senjata paling ampuh yang membuat Maura hanya bisa duduk diam, di antara dua keluarga itu.
“Tiga hari sudah lewat,” suara Pak Arlan memecah keheningan. “Dan seperti janji kita di awal, tidak ada lagi pencarian. Tidak ada lagi penundaan.”
Bumi duduk di sofa tunggal. Dia tidak menoleh ke arah Maura, hanya menatap lurus ke arah meja marmer di depannya dengan pandangan kosong.
Maura merasakan tenggorokannya tercekat. Dia ingin sekali berteriak, mengulang semua argumen tentang kuliahnya, tapi begitu melirik Papa yang napasnya tampak berat, kata-kata itu tertelan lagi.
"Maura setuju," mamanya yang bersuara, bukan tenggorokannya sendiri.
“Bagus,” ucap Pak Arlan tegas. Dia lalu menoleh ke arah putra sulungnya. “Bumi, bagaimana denganmu? Tidak ada lagi alasan untuk menolak, kan?”
Bumi mengangkat wajahnya perlahan. Ada hening sepersekian detik, sebelum suara itu keluar.
“Sesuai kesepakatan, Pa,” jawab Bumi dengan suara datar tanpa emosi. “Bumi akan menikahi Maura.”
Pagi itu, garasi rumah Bumi Arkatama dihiasi satu unit mobil warna putih mutiara yang tampak masih kinclong. Mobil baru yang dibelikan Bumi dua minggu lalu, hadiah manis menyambut usia kehamilan Maura yang kini menginjak hampir tujuh bulan, terparkir manis di samping mobil hitam suaminya. Tidak hanya mobil, Bumi yang super protektif juga langsung mempekerjakan seorang sopir pribadi bernama Pak Yanto untuk memastikan istri dan adik iparnya aman saat berkeliling kota."Mbak, beneran mobil ini dipake buat kita nyari kampus?" tanya Ragil cemas sambil mengelus kap mobil yang mengilap bersih. Remaja jangkung itu mengenakan kemeja kotak-kotak rapi dan celana kain, membawa tas berisi berkas-berkas kelulusannya."Ya iyalah! Masa mau kita pamerin ke kolam ikan doang!" sahut Maura dari teras. Wanita hamil itu berjalan pelan dengan dress hamil pastel dilapisi kardigan rajut manis. Perutnya yang kini membuncit sempurna di usia tujuh bulan membuatnya melangkah agak lambat. "Ayo masuk. Pak Yanto uda
"Ada satu lokasi yang Mas minat, tapi nggak tahu kamu suka atau enggak," tutur Bumi tenang. "Ada empat kamar. Yang satu khusus buat Ragil, rencanaku.""Aku?" Ragil menunjuk dadanya sendiri dengan sendok, matanya melotot kaget sampai suapan nasinya tertunda di udara."Iya, siapa lagi," kata Bumi lempeng, menatap adik iparnya itu tanpa kedipan. "Tapi syaratnya kuliah yang bener.""Aku mau ngekos aja kalau udah kerja, Mas. Mana bisa aku ngerusuh terus di rumah Mas Bumi," kata Ragil sungkan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Bumi menaruh sendoknya perlahan. "Kamu bantuin Mbakmu. Mbakmu sebentar lagi mau lahiran, dan dia enggak mau nyari ART yang menetap, cuma mau cari baby sitter. Kamu bisa bantuin Mbakmu masak atau ngapain gitu di rumah. Nggak kasihan kamu sama Mbakmu?" kata Bumi panjang lebar, suaranya tenang namun sarat penekanan yang tak bisa dibantah."Tapi..." Ragil linglung, menoleh menatap Maura dan Bumi bergantian dengan raut serba salah.Maura yang dari tadi asyik mengunyah
Suara denting piring beradu dengan kompor yang menyala di area dapur menjadi musik latar malam itu. Di meja makan berlantai marmer, Bumi dan Ragil duduk bersisian, meghadao ke dapur, ke arah Maura. Ragil melipat kedua tangannya di atas meja dengan posisi duduk super tegap dan pandangan lurus ke depan, dan Bumi santai menyandarkan punggungnya.Keduanya sama-sama bungkam, sibuk mendengarkan omelan Maura yang tak kunjung surut sejak sepuluh menit lalu."Kamu tuh bener-bener ya, Gil! Gimana bisa dari sana sampe sini sendirian, kalau kenapa-kenapa dijalan gimana mbak ngomong ke ibu!" cerocos Maura sembari membolak-balik emping mlonjo di atas wajan. Ya, oleh-oleh itu langsung dia goreng sedikit, karena penasaran rasanya. "Udah untung nggak tipu orang!""Kan sampai ke kantor Mas Bumi dengan selamat, Mbak..." cicit Ragil pelan, matanya melirik takut-takut."Diem! Mbak belum selesai ngomong!" potong Maura menunjuk adiknya dengan sodet kayu.Ia lalu berbalik, menatap suaminya dengan mata mendel
Deretan kendaraan bermotor berdesakan memenuhi jalanan ibu kota yang mulai dipadati arus pulang kerja. Cahaya jingga senja memantul indah di kaca depan sedan hitam milik Bumi, rencanapulang di canangkan siang tadi molor satu setengah jam. Dengung halus AC dan alunan musik instrumental lembut menjadi latar belakang perjalanan mereka menuju rumah.Bumi mengemudi dengan satu tangan di lingkar kemudi, mata tegapnya sesekali melirik Ragil yang duduk di kursi penumpang sampingnya. Remaja jangkung itu masih sibuk memandangi jajaran gedung tinggi dan hiruk-pikuk kota dari balik kaca mobil dengan binar mata takjub."Kamu ke sini cuma bawa tas itu?" tanya Bumi memecah keheningan, mengode tas ransel kusam yang tergeletak di bawah kaki Ragil."Iya, Mas," jawab Ragil polos menoleh cepat. "Di dalamnya cuma ada baju dua potong. Selebihnya bingkisan yang dibuat Ibu untuk Mbak Maura.""Apa?" tanya Bumi menaikkan sebelah alisnya penasaran."Sambel pecel, ada sambel gado-gado, ada krecek rambak, ada e
Lift khusus eksekutif meluncur mulus tanpa getaran menuju lantai tertinggi gedung Arkatama Group. Di dalam ruangan berlapis kaca tebal itu, Ragil tak henti-hentinya menempelkan wajah ke kaca, memandangi panorama hamparan gedung pencakar langit Jakarta yang mendadak terlihat cilik di bawah sana."Ya Tuhan mas Bumi... Mas Bumi! Ini mah tinggi banget! Berasa lagi naik helikopter!" seru Ragil dengan mata membelalak lebar, penuh takjub."Emang kamu udah pernah naik helikopter," balas Bumi yang berdiri santai di sampingnya, masih menyelempangkan tas ransel lusuh Ragil di pundaknya. "Jangan terlalu dekat ke kaca. Nanti bekas hidungmu nempel di sana." canda Bumi"Ya habisnya keren banget, Mas!" cengir Ragil langsung mundur, menganggapnya serius.Pintu lift terbuka pelan, menyambut mereka dengan hamparan karpet tebal yang meredam setiap derap langkah. Begitu masuk ke dalam ruang kerjanya yang megah, luas, dan berdesain interior modern minimalis, mulut Ragil makin menganga lebar. Matanya meneli
Suasana di dalam ruang meeting utama lantai lima belas kantor pusat Arkatama Group terasa begitu dingin dan tegang. Pencahayaan dari lampu gantung modern berpadu dengan siluet gedung-gedung pencakar langit di balik dinding kaca besar. Di ujung meja oval berstruktur kayu jati mahal, Bumi duduk tegap memimpin jalannya meeting direksi tahunan.Sebagai Direktur Utama salah satu konglomerasi properti terbesar, pembawaan Bumi begitu dominan. Kemeja putih terpasang sempurna di tubuh tegapnya. Kacamata minusnya memantulkan grafik pada layar proyektor raksasa."Penurunan pendapatan sebesar empat koma dua persen di kuartal ketiga pada divisi perumahan kelas menengah bukan angka yang bisa ditoleransi begitu saja," ujar Bumi dengan suara baritonnya yang tenang, datar, namun sarat penekanan yang membuat para jajaran direksi menahan napas."B-bahwa hal ini dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga acuan dan penundaan proyek tahap dua, Pak..." sahut Manajer Keuangan dengan nada sedikit gemetar, mengusap
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang







