Share

Istri Pengganti Sang Miliarder
Istri Pengganti Sang Miliarder
Penulis: Miss Heaven

Bab 1 – Ayo Cerai

Penulis: Miss Heaven
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-01 20:00:13

“Apa lagi ini, Areta?!”

Aku tertegun menatap Arlan. Kami kini duduk berseberangan, dipisahkan meja makan. Suamiku yang berusia tiga puluh tahun ini hanya memandangi map plastik berwarna putih susu di depannya. Di dalamnya terdapat bukti gugatan dan daftar berkas yang harus disiapkan untuk perceraian kami. Dia tidak menyentuhnya, apalagi membacanya. Ekspresi wajahnya datar, seolah apa yang aku sampaikan hanyalah kabar tak penting. Bahkan saat membaca koran, wajahnya lebih 'hidup' daripada saat ini.

Aku mendorong sebuah map berwarna kuning ke arah Arlan hingga tepat berada di depannya. “Nih, dibaca baik-baik, jangan sampai enggak paham,” kataku.

Arlan memandangku sejenak, dan sorot matanya jelas menunjukkan rasa tidak terima. Ia tidak pernah menduga bahwa aku bersungguh-sungguh dengan ancaman untuk mengajukan gugatan cerai. Pernikahan kami memang diwarnai pertikaian tiada ujung. Ia bahkan sudah memiliki kekasih untuk menghibur hatinya. Tapi bercerai? Arlan selalu ruwet dan berkelit.

“Kamu kenapa, sih?” tanyanya. Arlan mengerjap, tampak bingung.

Tuh, lagi-lagi dia mencari cara untuk menghindar. Mungkin aku terlalu cantik untuk dia ceraikan. Wajahku oval, mataku lebar, hidungku runcing mancung, dan bibirku tipis. Kata orang, wanita yang memiliki bibir tipis itu judes dan bawel. Namun, selama tiga tahun pacaran denganku, Arlan tidak pernah merasakan kejudesan atau kebawelanku. Sikapku pada Arlan lebih ke manja-manja manis, bak kucing yang menempel pada tuannya. Arlan baru tahu bibir tipis ini bisa mengeluarkan kata-kata pedas setelah pernikahan kami menginjak tahun kedua.

“Aku lapar, Retaaaaaa,” cetus Arlan, tidak memedulikan kekesalanku.

“Arlan! Kita baru membahas perceraian. Jangan mengalihkan pembicaraan!” seruku.

“Ya tapi aku mana bisa bisa mikir kalau lapar!” Suaranya ikut meninggi. Ia pulang dari kantor, berharap untuk memanjakan perutnya yang kosong, tetapi bukan santapan yang terhidang di meja, melainkan gugatan cerai.

“Aku enggak masak. Mulai sekarang, kita makan sendiri-sendiri dan tinggal terpisah!” kataku tegas.

“Loh, kita kan udah pisahan. Mau pisah gimana lagi?” Arlan menjawab dengan santai.

Aku menatap tajam. “Maksudku pisah rumah, bukan pisah kamar!”

“Loh, terus aku tinggal di mana, dong?” tanyanya, tampak bingung.

“Terserah!” balasku, merasa frustrasi.

Arlan melengos, menghembuskan napas kasar. “Kenapa enggak ke rumah Anya aja? Sekalian nikahan di sana?” tantangku, merasakan amarahku memuncak.

“Aku nggak mau serumah sama Anya.”

Aku mengerutkan kening. “Kamu udah pernah kumpul sama dia, kan? Kenapa nggak mau serumah?”

“Enggak!”

“Apa bedanya?” tanyaku.

“Nggak asyik. Nanti cepat bosan. Enakan di sini, kalau kangen atau kepingin ... ehm ... baru ke tempat Anya.”

“Arlaaaaaaaaaan! Kamu mau aku mati muda, hah? Teganya ngomong gitu!” Aku memekik dengan emosi memuncak, sementara yang diteriaki hanya meringis tanpa merasa dosa.

“Itu gunanya istri muda, Sayangku. Istri tua untuk keamanan dan kestabilan hidup. Istri muda untuk bersenang-senang.”

Aku sudah beberapa kali mendengar alasan itu. Tetap saja, saat mendengarnya kembali, dadaku terasa sesak. Sudah setahun pernikahan kami menjadi neraka. Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai hari-hari kami, disebabkan oleh Arlan yang jatuh ke pelukan wanita lain. Padahal, selama ini akulah yang banyak berjuang. Sebagai agen di perusahaan sekuritas, aku menghandle klien-klien bermodal tebal, berharap mendapatkan tip yang lumayan.

Lumayan untuk apa? Bukan hanya untuk membeli baju, tas, atau alat rias, tetapi cukup untuk membeli sepetak tanah dan membangun rumah kecil di daerah eksklusif di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan. Gaji Arlan yang seorang ASN di Kota Tangerang tidak bisa menandingi penghasilanku. Mungkin itulah alasan utama Arlan mencari perempuan lain yang inferior. Di depanku, keluhan yang selalu dia ungkapkan adalah aku tidak menghargai dan mencintainya lagi. Tapi aku tidak terima dituduh begitu. Yang namanya selingkuh, tetaplah selingkuh.

Bukankah kami sudah berjanji untuk tidak menduakan pasangan? Mengapa sekarang Arlan ingin menikah lagi? Oh, aku nggak rela. Biar bumi berputar terbalik, aku nggak sudi dimadu!

“Kamu seharusnya senang aku bilang jujur apa adanya, nggak berbelit-belit kayak orang lain. Coba kayak si Anto itu, uh, pusing sendiri berbohong sana sini. Aku kan simpel. Mau begini, ya, aku bilang begini. Mau begitu, aku akan bilang seperti itu,” lanjut Arlan.

“Arlan! Cukup udah kamu menyiksaku dengan perselingkuhan, sekarang malah ngomong seperti itu tanpa merasa bersalah! Dasar lelaki hidung belang! Jamet!” Aku melanjutkan dengan menyebut segala binatang yang melata di muka bumi.

“Heh! Dengar, ya. Aku nggak salah kalau punya istri lagi. Justru kamu yang salah kalau menghalangi!”

Aku terhenyak ke sandaran kursi dengan lemas. Rasanya sudah putus asa untuk menagih janji lelaki itu sebelum menikah. Lelaki, tetaplah lelaki. Tampan dan sehat, hasrat Arlan seolah tak terpuaskan. Dan aku? Perempuan yang sebentar lagi melewati masa keemasan. Apa yang bisa aku berikan pada sang suami? Kami bahkan belum dikaruniai anak. Tanpa kusadari, air mata menggenang di pelupuk mataku, siap untuk meluncur ke pipi.

Arlan menatapku iba. Ia masih menyukaiku meskipun mulutku lebih pedas dari tamparan sandal. Selain wajahku yang cantik, tubuhku juga memiliki proporsi yang pas, sehingga sangat menggemaskan bila menggeliat di ranjang. Sayang sekali, kami belum mendapat anak meski sudah mencoba berbagai jamu dan obat medis, bahkan berulang kali mendatangi 'orang pintar'. Barangkali rahimku memang kering. Namun, Arlan tidak mau melepaskanku.

“Nggak usah nangis. Kamu kebanyakan tuntutan, sih, makanya sakit sendiri. Coba terima saja Anya sebagai madu. Masalah selesai, kan?”

Aku menghapus air mata dengan kedua telapak tangan. Cukup sudah, aku tak mau mendengar kalimat menyakitkan itu lagi.

“Jangan ngajak berantem! Nih, simpan daftarnya lalu disiapkan. Minggu depan harus kamu kasih aku!” Aku menegaskan sekali lagi permintaanku.

Aku sudah mendatangi Pengadilan Agama dan melakukan gugatan cerai. Bukti gugatan itu sudah kusertakan dalam map yang tergeletak di hadapan Arlan.

“Beneran aku enggak dikasih makan?” tanyanya.

“Enggak ada makanan! Aku capek!”

“Ya udah. Aku mau beli sate kambing. Kamu mau enggak?”

“Enggak!”

Arlan bangkit dari duduk lalu meraih kunci mobil, dompet, dan ponselnya dari atas meja. Ia berbalik begitu saja.

“Hei! Berkasnya dibawa, dong!”

“Nanti aja.” Lelaki itu terus melangkah tanpa menoleh.

“Enggak ada nanti! Bawa sekarang, sekalian baju-baju dan barang-barangmu!”

Mau tak mau, Arlan membalikkan badan. Keningnya berkerut. “Aku diusir, nih, ceritanya?”

“Harusnya aku nggak perlu ngomong, kamu udah tahu sendiri. Kalau udah digugat cerai itu, ya, harus keluar dari rumah ini!”

Arlan termangu sejenak, lalu mengangguk. Buat apa juga tinggal di sini kalau sudah tidak disiapkan makanan dan tidak bisa menikmati ranjang? Mungkin itu yang dia pikirkan. Ada baiknya dia pulang ke rumah orang tuanya di daerah Karawaci.

“Nggak perlu diusir, aku bisa pergi sendiri,” ujarnya, dengan nada yang dulu membuatku jatuh hati. Sekarang, sepasang bibir kemerahan itu justru membuatku mual. Aku melihat dengan mata kepala sendiri benda kenyal itu mendarat di bibir perempuan lain.

Cuih! Cuih! Jijik! Aku selalu ingin meludah bila mengingat adegan tak senonoh itu.

“Habis ini kamu mau ke mana?” Arlan balik bertanya.

Aku berkedip dengan keheranan. “Maksudmu?”

“Rumah ini, kan, harta gono-gini. Kalau aku keluar, kamu juga nggak berhak tinggal di sini.”

Kontan mataku memicing. “Kamu lupa uang siapa yang dipakai untuk membeli rumah ini? Bukan uangmu, kan? Mana andilmu, coba?”

“Aku, kan, bagian mengepulkan asap dapur. Kamu udah aku kasih jatah bulanan. Apa masih kurang? Biarpun uang kamu yang dipakai, tetap aja, harta yang dibeli saat pernikahan itu adalah harta gono-gini, nggak peduli siapa yang membeli.”

Aku membelalakkan mata. “Aturan dari mana itu? Aku nggak percaya!”

“Ya udah. Tanya saja sama pengacara kalau nggak percaya,” jawab Arlan santai. Sebenarnya ia hanya menggertak saja. Aturannya seperti apa, ia tidak memahami. Melihat Areta kebingungan, ia senang sekali.

“Kamu! Enak bener! Aku yang banting tulang buat membangun rumah ini, lantas mau dibagi dua! Mau kamu ke manakan uang bagianmu? Buat perempuan itu, hah? Sembarangan! Dia nggak merasakan perjuangan, tahu- tahu mau menikmati enaknya, gitu? Enggak bakalan! Ingat ya, sertifikatnya atas namaku!”

“Terserah. Tunggu aja apa kata pengacara.” Arlan mengangkat bahu sambil mencibir.

“Kamu! Kamu!” Aku benar-benar kehabisan kosa kata karena terlalu marah.

Arlan malah berjalan ke lemari pendingin dan memeriksa isinya. Ia mengambil piring berisi potongan buah mangga, lalu kembali duduk di kursi makan dengan santai sambil menyuap potongan buah. Segera kuambil piringnya.

“Ini manggaku! Ini bukan gono-gini!”

Arlan menghela napas panjang. Matanya berkilat marah. “Ya udah. Aku pergi sekarang! Mangga doang diributkan!”

“Silakan! Siapa juga yang melarang?” sergahku.

“Siapkan bajuku, masukin yang rapi ke dalam koper!”

Mataku langsung melebar. “Apa?”

“Siapkan bajuku, masukkan ke dalam koper merah yang ditaruh di atas lemari itu lho.” Arlan mengulang perintah dengan lebih pelan agar dimengerti oleh istrinya.

“Kamu waras, Arlan? Hah? Mana ada orang mau pindah ke rumah selingkuhan minta disiapin baju dalam koper?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 39 – Extra Part 3

    Lima tahun kemudian….“Nes kamu mulai racik saos barbeque-nya deh.”“Iya, Ta, aku kelarin dulu potong paprika nih, kurang satu doang.” Sambil menusukkan paprika, jamur, sosis, dan udang ke tusukan sate untuk barbeque, aku mencuri pandang ke arah anak-anak yang sedang asyik bermain masak-masakan.Putra bungsuku, Eja, dengan percaya diri memainkan peran sebagai chef. Bocah kecil itu benar-benar lucu dalam keseriusannya, lengkap dengan celemek dan topi koki mainan. Di seberangnya, Valery, putri Vanessa dan Bang Azka menjadi teman bermainnya. Valery mencicipi hasil ‘masakan’ Eja sambil memberikan pujian yang membuat pipi Eja merona.“Aduh, sweet banget ya anak-anak kita,” Vanessa tersenyum sambil mulai membuat racikan saus andalannya. Matanya berbinar, menatap Eja dan Valery yang tampak harmonis.Aku tertawa kecil, merasa gemas melihat betapa polos dan manisnya mereka. “Iya, lihat tuh, Valery kelihatan betul-betul menikmati masakan chef Eja.”Namun, momen manis itu tiba-tiba dipecahkan ol

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 38 – Ekstra Part 2

    “Nes, kamu sama Bang Azka kenapa mesti banget nunggu setahun baru akhirnya menikah? Bukannya kalian udah lama ya pacaran?”Aku duduk di sudut kamar hotel, mengamati Vanessa yang tengah dirias. Kamar ini dipenuhi cahaya hangat, dan tangan terampil MUA bergerak di wajah Vanessa, menciptakan kecantikan yang semakin menawan. Malam ini Vanessa akan menjadi pengantin wanita, dengan Azka sebagai pria yang mendampinginya untuk selamanya.Vanessa terdiam sejenak, tatapannya terpaku pada bayangannya sendiri di cermin. Dengan suara yang lembut dan sedikit berat, dia akhirnya menjawab, “Areta … sebenarnya, aku tahu, Bang Azka dulu lebih naksir ke kamu.” Ia menunduk, seolah mempertimbangkan kata-katanya. “Setahun ini aku harus meyakinkan diri sendiri, juga meyakinkan Bang Azka, apakah kami benar-benar bisa menumbuhkan cinta di antara kami. Beuh, jadi puitis gini dah bahasaku.”“Ih mana ada lah. Bang Azka tuh naksir ke kita berdua, buktinya dia membuka diri ke kamu juga kan?”Tapi Vanessa tersenyum

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 37 -  Ekstra Part 1

    “Ututuuuuuu, Sayang, udah kenyang ya Princess Mama.”Satu tahun berlalu sejak semua keajaiban itu terjadi, dan kini aku sedang mengendong Arinda, bayi cantikku yang montok. Dia terus saja menggeliat dengan mata terpejam. Sesekali aku mengusap punggung mungilnya dengan lembut, berharap dia cepat terlelap, memberi kami sedikit waktu untuk beristirahat. Tapi yang membuatku tak henti tersenyum adalah kehadiran Arlan yang sejak tadi berdiri di pintu, menatap kami dengan mata penuh harap.Akhirnya, begitu Arinda tertidur pulas, aku membaringkannya di ranjang bayi di sudut kamar dan menoleh ke arah Arlan, yang tampaknya sudah tak sabar. Dia mendekat, melingkarkan lengannya di pinggangku, memberikan sentuhan-sentuhan halus di pundakku, seolah meminta waktu malam ini agar menjadi milik kami berdua.“Arin udah pulas kan, Ma?”Aku tersenyum lelah, tapi tak tega menolak. “Kayaknya sih udah, Pa.”Entah kenapa, meski tubuh ini penat, hatiku terasa hangat dengan cara Arlan menunjukkan cintanya. Kami

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 36 – Tempat Terindah

    “Sayang minum dulu,” kata Arlan sambil membukakan tutup botol air mineral yang kemudian disodorkan padaku.Kami duduk di kursi tunggu klinik sambil menggenggam tangan Arlan erat. Tak ada yang bisa menenangkan hati selain sentuhan hangatnya yang menyalurkan perasaan tak sabar, bahagia, serta sedikit cemas yang meluap-luap.Hari ini adalah hari yang begitu berarti bagi kami berdua—hari pertama kami melihat bayi kecil yang hadir di antara segala badai yang pernah kami lewati.Tak lama kemudian, suster memanggil namaku, dan kami pun masuk ke ruang dokter Aida. Arlan menggenggam tanganku lebih erat, seolah tak ingin melepas. Dokter Aida menyambut kami dengan senyum hangat, lalu meminta aku untuk berbaring di tempat tidur periksa. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan ketegangan di dada.“Baik, Bu Areta, kita mulai, ya?” katanya sambil menyapukan alat USG. Layar monitor di samping tempat tidur mulai menampilkan gambar abu-abu yang bergerak.Dokter Aida mengarahkan alat USG d

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 35 – Garis Dua

    Setelah melewati hari yang penuh emosi, aku akhirnya bisa tidur dengan pulas. Bukan hanya karena lelah menangis, tapi karena Arlan yang menemaniku dan memeluk erat sepanjang malam. Rasanya hangat, aman, dan damai.Saat terbangun, aku menggeliat pelan. Ada beban di perutku. Ternyata tangan Arlan masih menindihku dengan posisi terlentang, napasnya teratur sambil mendengkur halus, mulutnya sedikit terbuka. Aku hati-hati memindahkan tangannya, lalu memiringkan tubuh, memandang wajahnya lekat-lekat. Sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan ini, momen saat bangun kesiangan dan menemukan suami masih di sisiku.Suami ... pikiranku berbisik, dan tanpa sadar aku tersenyumYa, suamiku tersayang, satu-satunya....Aku merapat ke tubuhnya, membelai dadanya perlahan. Perasaan sayang ini, begitu tulus, bukan karena keinginan semata, tapi rasa rindu yang lama terpendam. Aku mengecup bahunya, menghirup aroma tubuhnya, merasa begitu lengkap dalam pelukannya. Arlan menggeliat, lalu membuka mata pe

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 34 – Bimbang

    “Kalau beneran kamu udah putus dari Anya, kamu juga harus tegas dong ke anaknya.”“Iya, Ta, tapi kasihan Elsa, dia masih terlalu kecil untuk memahami ini semua.”Belum sempat aku merespons lebih jauh, tiba-tiba perawat datang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar. “Permisi, Ibu. Boleh minta waktu sebentar? Kami butuh wali pasien untuk melengkapi dokumen di bagian kasir.”Aku mengerutkan dahi, sedikit heran. “Kenapa tiba-tiba?” tanyaku, setengah membentak.Arlan menjawab lebih dulu, wajahnya masih terlihat tegang. “Tadi pagi, dokter yang memeriksa bilang kalau aku sudah boleh pulang hari ini. Cuma mungkin belum dibereskan administrasinya,” katanya dengan suara pelan.Perawat mengangguk, melengkapi penjelasan Arlan. “Maaf, Ibu, memang baru diproses sore ini karena kami menunggu seluruh hasil pemeriksaan keluar dan persetujuan dokter. Dokter juga sudah memberikan surat kontrol balik. Jadi, semua berkasnya baru turun sore ini dari dokter yang bertanggung jawab atas Pak Arlan.”Rasanya a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status