แชร์

Bab 2 – Pindah Rumah

ผู้เขียน: Miss Heaven
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2024-10-01 20:01:12

“Kalau kamu kan yang nyuruh aku keluar dari rumah ini, ya kamu dong yang harus siapkan bajuku. Kalau enggak, ya, aku malas nyiapin sendiri. Yang kepingin aku pergi itu kan kamu, Ret?”

“Orang gilaaaaa!” teriakku, suaraku melengking menggema di seluruh rumah.

Mengurus perceraian ASN itu tidak semudah membalikkan tangan. Begitu aku mengajukan gugatan cerai, prosesnya tidak langsung berjalan. Arlan harus mendapatkan izin dari atasannya, yang berarti dia harus membuat surat permohonan dan mengurus berkas-berkas lain, termasuk berita acara pemeriksaan oleh unit kerjanya.

“Arlan, mana surat rekomendasi dan berita acara pemeriksaan dari atasanmu?” tanyaku di ruang tengah saat dia pulang kerja.

Kediaman kami dipenuhi dengan ketegangan. Arlan yang ngotot tidak mau pindah dari rumah ini sebelum barang-barangnya beres. Dengan enggan, aku menahan gengsi dan tidak mau melaksanakan perintah suamiku. Rasanya aneh harus terlibat pertengkaran tanpa alasan yang jelas. Sekali-sekali, aku berpikir untuk melempar semua barang miliknya ke jalan, tapi aku urungkan niat itu. Jelas bukan diriku jika bertindak seperti ibu-ibu dalam sinetron.

“Aneh! Kamu minta berita acara pemeriksaan dari atasanku? Emangnya kapan kamu datang ke kantor untuk diperiksa?” Arlan membalas dengan nada sinis.

Mata ini hanya bisa berkedip dalam kebingungan. “Apa nggak bisa cuma lewat telepon?”

“Enggak bisa, Areta Sayang. Namanya aja berita acara, ya, pasti harus ada acaranya. Kalau enggak, sebutannya menjadi berita khayalan.”

“Ya udah, kapan mau ketemu bos kamu?”

“Hmm, sebulan lagi. Beliau masih cuti panjang untuk umroh.” Dia tersenyum, seakan puas melihat reaksiku yang terkejut.

“Jangan bohong!” sergahku.

“Terserah. Mau percaya silakan, enggak juga nggak ngaruh.” Arlan menyeringai, senyumnya tampak begitu menyebalkan.

“Aku nggak mau nyerah begitu aja. Besok kita ketemu wakilnya. Bosmu punya wakil, kan?” Aku mencecar tak mau kalah. 

Arlan melengos. “Oke.”

“Besok, ya! Jam delapan! Jangan kabur dan banyak alasan. Aku nggak mau tahu, pokoknya waktu aku sampai di sana, kamu harus siap di tempat!”

“Siap!”

“Ya, udah. Kenapa diem?” tanyaku, mencurigai ada yang tidak beres.

“Enggak ada apa-apa,” jawabnya sambil pergi ke kamarnya di lantai dua.

Aku menatap punggungnya menjauh, hatiku penuh tanda tanya. Rasanya ada yang salah dengan sikapnya. Sejak aku mencium tanda-tanda bahwa dia mencintai perempuan lain, aku telah merasa ada yang tidak beres. Kali ini pun, firasatku mengarah ke sesuatu yang lebih buruk.

Benar saja, keesokan harinya, ketika kami tiba di kantor Arlan, suasana menjadi tegang. Dia langsung diajak ke bagian administrasi kepegawaian. Seorang wanita paruh baya menyambut kami.

“Ah, Pak Arlan, ini calon istri barunya? Cantik sekali. Pantas yang kemarin kalah bersaing,” kata wanita itu, memanggil.

Sebuah pedang menyayat hatiku mendengar kata-kata itu.

“Saya istri yang sah, bukan calon istri!” jelasku dengan penuh ketegasan.

Wanita itu terkejut. “Wah, cantik-cantik begini, kenapa ditinggal buat perempuan yang … maaf, jauh di bawahnya?”

“Dia selingkuh!” Arlan langsung memotong.

Jantungku berdegup kencang. “Siapa selingkuh? Jangan menuduh orang lain! Dasar!”

“Eeeh, jangan berkelahi di sini!” seru wanita itu, panik.

“Saya mau minta surat rekomendasi untuk cerai. Apa sudah jadi suratnya?” tanyaku, berusaha menahan amarah.

“Oh, itu. Belum ada, Bu. Pak Arlan harus membuat surat permohonan dulu. Apa sudah ada suratnya?”

Mataku beralih ke suamiku. “Arlan! Kamu nggak bikin suratnya?”

Dia hanya menahan senyum, sangat menyebalkan. Dia memang sengaja tidak membuat surat itu agar perceraian kami terhambat.

“Loh, harus bikin surat permohonan? Tidak bisa secara lisan saja, Bu Dewi?”

Hatiku mulai bergetar. Arlan tidak bodoh, dia tidak mungkin tidak tahu menahu soal surat permohonan itu. Dasar licik, ini pasti akal-akalan dia supaya perceraian ini tidak segera terjadi.

“Kalau Pak Arlan tidak sempat membuat, saya bisa kok bantu,” ujar Bu Dewi.

“Jangan!” seru Arlan, seolah menolak bantuan.

“Bagus, Bu. Saya setuju! Mohon bantu buatkan ya, biar cepet,” kataku. Dengan cepat, aku menyelipkan selembar uang berwarna biru di antara map di atas meja Bu Dewi.

“Ah, jangan! Saya cuma membantu saja,” wanita itu terlihat canggung.

“Loh, tidak apa-apa, Bu. Saya ikhlas.” Aku menyelipkan uang itu lagi.

Dalam hatiku, aku masih merasa sangat kesal. Kenapa Arlan tidak mau membantu kelancaran proses ini?

“Kapan bisa jadi, Bu?” tanya Arlan kemudian

“Hari ini juga bisa. Pak Arlan tinggal tanda tangan saja.”

Begitu mendengar itu, perasaanku campur aduk. Jangan sampai surat ini jatuh ke tangan Arlan. Pasti dia akan menjegal lagi.

“Oh, bisakah dibuat sekarang, Bu?” desakku, mungkin saja Bu Dewi bisa mengusahakan.

“Enggak bisa, Bu Dewi sibuk!” Arlan cepat-cepat menyela.

“Enggak, kok, Pak. Tunggu sebentar, ya. Saya buatkan sekarang.”

Senyum kemenangan mulai terpancar di wajahku. Sekarang Arlan tidak bisa berkelit lagi.

“Aku mau kerja!” teriaknya sambil bergerak menuju pintu.

“Hei, jangan kabur! Awas aja kamu sampai kabur,” ancamku.

Dia hanya mengembuskan napas kasar sebelum pergi. Dengan cara ini, aku berhasil mendapatkan selembar surat sebagai syarat perceraian. Itu baru satu syarat. Masih banyak lagi dokumen yang harus disiapkan. Saat melangkah keluar dari kantor Pemkot, aku merasa lunglai. Rasanya seperti energiku tersedot habis.

Kata-kata Arlan terngiang di telingaku.

Lebih baik pasrah dimadu daripada menggugat cerai.

Seketika, rasa geram memenuhi dadaku.

Arlan! Aku punya teori yang lebih bagus! Lebih baik tidak menikah sama sekali daripada hidup bersama lelaki hidung belang seperti kamu! 

Hari itu juga, setelah meminta cuti satu hari, aku mengepak barang-barang di rumah kami dibantu asisten rumah tangga mamaku. Beberapa kardus telah diisi dan dipindahkan ke rumah mama di sebelah. 

Rumah kami dan rumah mama berdampingan, hanya dibatasi satu petak kosong milik kakakku, dan terletak di kompleks yang cukup nyaman di BSD. Semua akses masuk ke kompleks menggunakan kartu dan dijaga petugas keamanan. Rumah milik kami terletak di pinggir, langsung menghadap taman kota. Ada sebuah sungai memisahkan jalan kompleks dengan area terbuka hijau itu. Suasana yang terbentuk sangat tenang dan nyaman.

Dulu, aku dan Arlan mengontrak rumah di dekat kantor Pemkot. Karena hasil kerja kerasku cukup besar, uang yang aku miliki cukup untuk membeli tanah di samping milik orang tuaku dan membangun rumah mungil. Kami pindah ke rumah itu satu tahun yang lalu.

“Areta, kenapa kamu angkut barang-barangmu ke sini?” Mama keheranan. 

“Aku pulang, Ma,” jawabku. Jawaban itu terasa aneh, karena jarak rumah kami yang hanya dua puluh meter. “Rumahku mau dikontrakkan.”

“Heh? Lalu suamimu bagaimana?” Mamaku yang telah berusia lebih dari setengah abad itu semakin ternganga.

“Enggak tahu, Ma. Biar dia mikir sendiri.”

“Loh, ada apa ini? Kalian bertengkar? Arlan masih main-main dengan perempuan yang dulu itu?”

“Bukan bertengkar lagi, Areta mau cerai!”

Mama sejenak hanya bisa mengerjap. Tak lama kemudian, ia tersenyum senang. “Apa Mama bilang? Anak itu memang kelihatan banget kurang ajar. Mama nggak kaget kalau dia bisa mengkhianati kamu. Ya sudah, cari yang lain saja!”

“Mama nggak sedih anaknya jadi janda?”

“Sedih sih sedih. Tapi lebih baik begitu daripada makan hati terus seumur hidup.” Mama kemudian membantu aku memasukkan barang-barang.

Di tengah kesibukan itu, aku sempat termangu. Satu demi satu barang yang dikeluarkan itu membuat ingatanku melayang ke saat-saat ketika aku membelinya. Sebagian barang itu aku dapatkan saat menghabiskan waktu bersama Arlan. Lihatlah, ada blender berbentuk tabung panjang berwarna biru. Alat itu kubeli saat masih pengantin baru. Kami bergandengan tangan sepanjang toko swalayan, mencari kebutuhan rumah tangga untuk mengisi rumah kontrakan.

Ada pula bed cover berwarna pelangi yang cantik. Aku ingat betul alas an mengapa membelinya. Apa lagi kalau bukan untuk menikmati malam dengan saling menyatukan hasrat? 

Melihat bed cover itu, aku seperti melihat tayangan ulang adegan kami di ranjang ketika semuanya masih baik-baik saja. Arlan seorang yang ekspresif, begitu pula dalam hal bercinta. Pria itu tidak segan untuk mencoba hal-hal baru yang membuat malam-malam kami semakin panas. 

“Kenapa aku jadi tiba-tiba sedih? Benarkan aku sanggup pisah sama Arlan?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 39 – Extra Part 3

    Lima tahun kemudian….“Nes kamu mulai racik saos barbeque-nya deh.”“Iya, Ta, aku kelarin dulu potong paprika nih, kurang satu doang.” Sambil menusukkan paprika, jamur, sosis, dan udang ke tusukan sate untuk barbeque, aku mencuri pandang ke arah anak-anak yang sedang asyik bermain masak-masakan.Putra bungsuku, Eja, dengan percaya diri memainkan peran sebagai chef. Bocah kecil itu benar-benar lucu dalam keseriusannya, lengkap dengan celemek dan topi koki mainan. Di seberangnya, Valery, putri Vanessa dan Bang Azka menjadi teman bermainnya. Valery mencicipi hasil ‘masakan’ Eja sambil memberikan pujian yang membuat pipi Eja merona.“Aduh, sweet banget ya anak-anak kita,” Vanessa tersenyum sambil mulai membuat racikan saus andalannya. Matanya berbinar, menatap Eja dan Valery yang tampak harmonis.Aku tertawa kecil, merasa gemas melihat betapa polos dan manisnya mereka. “Iya, lihat tuh, Valery kelihatan betul-betul menikmati masakan chef Eja.”Namun, momen manis itu tiba-tiba dipecahkan ol

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 38 – Ekstra Part 2

    “Nes, kamu sama Bang Azka kenapa mesti banget nunggu setahun baru akhirnya menikah? Bukannya kalian udah lama ya pacaran?”Aku duduk di sudut kamar hotel, mengamati Vanessa yang tengah dirias. Kamar ini dipenuhi cahaya hangat, dan tangan terampil MUA bergerak di wajah Vanessa, menciptakan kecantikan yang semakin menawan. Malam ini Vanessa akan menjadi pengantin wanita, dengan Azka sebagai pria yang mendampinginya untuk selamanya.Vanessa terdiam sejenak, tatapannya terpaku pada bayangannya sendiri di cermin. Dengan suara yang lembut dan sedikit berat, dia akhirnya menjawab, “Areta … sebenarnya, aku tahu, Bang Azka dulu lebih naksir ke kamu.” Ia menunduk, seolah mempertimbangkan kata-katanya. “Setahun ini aku harus meyakinkan diri sendiri, juga meyakinkan Bang Azka, apakah kami benar-benar bisa menumbuhkan cinta di antara kami. Beuh, jadi puitis gini dah bahasaku.”“Ih mana ada lah. Bang Azka tuh naksir ke kita berdua, buktinya dia membuka diri ke kamu juga kan?”Tapi Vanessa tersenyum

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 37 -  Ekstra Part 1

    “Ututuuuuuu, Sayang, udah kenyang ya Princess Mama.”Satu tahun berlalu sejak semua keajaiban itu terjadi, dan kini aku sedang mengendong Arinda, bayi cantikku yang montok. Dia terus saja menggeliat dengan mata terpejam. Sesekali aku mengusap punggung mungilnya dengan lembut, berharap dia cepat terlelap, memberi kami sedikit waktu untuk beristirahat. Tapi yang membuatku tak henti tersenyum adalah kehadiran Arlan yang sejak tadi berdiri di pintu, menatap kami dengan mata penuh harap.Akhirnya, begitu Arinda tertidur pulas, aku membaringkannya di ranjang bayi di sudut kamar dan menoleh ke arah Arlan, yang tampaknya sudah tak sabar. Dia mendekat, melingkarkan lengannya di pinggangku, memberikan sentuhan-sentuhan halus di pundakku, seolah meminta waktu malam ini agar menjadi milik kami berdua.“Arin udah pulas kan, Ma?”Aku tersenyum lelah, tapi tak tega menolak. “Kayaknya sih udah, Pa.”Entah kenapa, meski tubuh ini penat, hatiku terasa hangat dengan cara Arlan menunjukkan cintanya. Kami

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 36 – Tempat Terindah

    “Sayang minum dulu,” kata Arlan sambil membukakan tutup botol air mineral yang kemudian disodorkan padaku.Kami duduk di kursi tunggu klinik sambil menggenggam tangan Arlan erat. Tak ada yang bisa menenangkan hati selain sentuhan hangatnya yang menyalurkan perasaan tak sabar, bahagia, serta sedikit cemas yang meluap-luap.Hari ini adalah hari yang begitu berarti bagi kami berdua—hari pertama kami melihat bayi kecil yang hadir di antara segala badai yang pernah kami lewati.Tak lama kemudian, suster memanggil namaku, dan kami pun masuk ke ruang dokter Aida. Arlan menggenggam tanganku lebih erat, seolah tak ingin melepas. Dokter Aida menyambut kami dengan senyum hangat, lalu meminta aku untuk berbaring di tempat tidur periksa. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan ketegangan di dada.“Baik, Bu Areta, kita mulai, ya?” katanya sambil menyapukan alat USG. Layar monitor di samping tempat tidur mulai menampilkan gambar abu-abu yang bergerak.Dokter Aida mengarahkan alat USG d

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 35 – Garis Dua

    Setelah melewati hari yang penuh emosi, aku akhirnya bisa tidur dengan pulas. Bukan hanya karena lelah menangis, tapi karena Arlan yang menemaniku dan memeluk erat sepanjang malam. Rasanya hangat, aman, dan damai.Saat terbangun, aku menggeliat pelan. Ada beban di perutku. Ternyata tangan Arlan masih menindihku dengan posisi terlentang, napasnya teratur sambil mendengkur halus, mulutnya sedikit terbuka. Aku hati-hati memindahkan tangannya, lalu memiringkan tubuh, memandang wajahnya lekat-lekat. Sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan ini, momen saat bangun kesiangan dan menemukan suami masih di sisiku.Suami ... pikiranku berbisik, dan tanpa sadar aku tersenyumYa, suamiku tersayang, satu-satunya....Aku merapat ke tubuhnya, membelai dadanya perlahan. Perasaan sayang ini, begitu tulus, bukan karena keinginan semata, tapi rasa rindu yang lama terpendam. Aku mengecup bahunya, menghirup aroma tubuhnya, merasa begitu lengkap dalam pelukannya. Arlan menggeliat, lalu membuka mata pe

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 34 – Bimbang

    “Kalau beneran kamu udah putus dari Anya, kamu juga harus tegas dong ke anaknya.”“Iya, Ta, tapi kasihan Elsa, dia masih terlalu kecil untuk memahami ini semua.”Belum sempat aku merespons lebih jauh, tiba-tiba perawat datang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar. “Permisi, Ibu. Boleh minta waktu sebentar? Kami butuh wali pasien untuk melengkapi dokumen di bagian kasir.”Aku mengerutkan dahi, sedikit heran. “Kenapa tiba-tiba?” tanyaku, setengah membentak.Arlan menjawab lebih dulu, wajahnya masih terlihat tegang. “Tadi pagi, dokter yang memeriksa bilang kalau aku sudah boleh pulang hari ini. Cuma mungkin belum dibereskan administrasinya,” katanya dengan suara pelan.Perawat mengangguk, melengkapi penjelasan Arlan. “Maaf, Ibu, memang baru diproses sore ini karena kami menunggu seluruh hasil pemeriksaan keluar dan persetujuan dokter. Dokter juga sudah memberikan surat kontrol balik. Jadi, semua berkasnya baru turun sore ini dari dokter yang bertanggung jawab atas Pak Arlan.”Rasanya a

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status