LOGINValeria masih memegang kartu nama itu saat mobilnya meninggalkan parkiran. Ia tidak langsung menghubungi siapa pun. Satu tangannya tetap di kemudi, sementara tangan lainnya memegang kartu tersebut di atas pahanya. Pikirannya terus mencoba menghubungkan nama di kartu itu dengan semua kejadian yang sudah terjadi. Nama itu milik seseorang yang ia percaya dan pengkhianatan dari orang yang dipercaya terasa lebih berat daripada ancaman dari musuh yang sudah dikenal.Setelah sampai di basement apartemen, Valeria tidak langsung masuk. Ia duduk di dalam mobil selama beberapa menit, lalu mengambil foto kartu nama tersebut. Setelah itu, ia mengirimkan fotonya kepada Ethan dengan satu kalimat.“Selidiki nama ini. Secepatnya.”Keesokan paginya, Valeria baru selesai membuat kopi ketika bel apartemennya berbunyi. Ia tidak menunggu tamu. Carissa sudah memberitahunya bahwa jadwal pertama di kampus baru dimulai pukul sebelas, sementara Ethan belum membalas pesannya sejak semalam. Saat melihat interkom,
Valeria menatap foto itu dua detik lebih lama sebelum mengembalikan ponsel itu ke tangan Alex.Ia tidak langsung bergerak untuk melihat ke arah jendela, tidak juga memperlihatkan reaksi yang berlebihan. Ia hanya menarik napas singkat dan meletakkan tangannya di atas meja dengan tenang."Dari nomor mana foto itu dikirim?" tanya Valeria dengan nada yang sudah sepenuhnya profesional."Aku juga tidak tahu," jawab Alex sambil memeriksa layarnya. "Baru pertama kali nomor ini menghubungiku."Valeria mengangguk pelan. "Artinya seseorang sengaja memberitahukan bahwa Celeste ada di luar. Bukan kebetulan."Alex menyimpan ponselnya dan menatap Valeria. "Aku ingin kita pindah meja. Lebih jauh dari jendela."
Valeria meletakkan surat itu di atas meja di antara mereka. Nama Selena disebut dua kali dalam bagian awal surat. Alex menulis bahwa Selena masih mencoba ikut campur dalam urusan yang seharusnya sudah selesai dan bahwa ia mendapat informasi tentang rencana Selena yang berkaitan dengan Valeria. Karena itu, Alex merasa perlu memperingatkannya sebelum semuanya terlambat.Namun, ada bagian lain dalam surat itu yang tidak membahas Selena."Aku tidak mengirim surat ini hanya karena Selena," kata Alex sebelum Valeria sempat mengajukan pertanyaan, suaranya pelan namun jelas mempersiapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar peringatan. "Ada hal lain yang ingin aku sampaikan yang tidak ada hubungannya dengan dia."Valeria menatapnya dengan ekspresi yang tidak memberikan jalan pintas. "Tentang apa."
Valeria masih menatap layar ponselnya setelah membaca pesan dari Alex. Jawaban itu memastikan bahwa bingkisan dan surat yang diterimanya memang berasal dari Alex. Namun, setelah apa yang dikatakan Adrian tentang kemungkinan Selena memanfaatkan informasi tersebut, Valeria tetap tidak ingin mengambil keputusan dengan terburu-buru. Ia membaca pesan Alex sekali lagi, lalu menarik napas pelan.Adrian yang berdiri tidak jauh darinya memperhatikan perubahan kecil pada wajah Valeria. Ia tahu perempuan itu sedang mempertimbangkan apakah akan menerima ajakan Alex atau tidak. Meskipun berusaha bersikap tenang, ada rasa tidak nyaman yang mulai muncul di dalam dirinya."Dia ingin bertemu denganmu?" tanya Adrian akhirnya, dengan nada yang terdengar tenang meski matanya menunjukkan sedikit kekhawatiran.Valeria mengangguk. Ia mema
Valeria menatap Adrian dengan ekspresi yang tidak bergerak namun jelas meminta jawaban.Ruangan itu sunyi selama beberapa detik. Natalia yang duduk di sudut memilih untuk tidak ikut bicara, hanya mengamati, sesuatu yang jarang ia lakukan namun tampaknya ia menilai ini bukan momen untuk ikut campur."Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Valeria sekali lagi, kali ini lebih langsung dan tidak memberikan ruang untuk jawaban yang berputar-putar.Adrian menarik napas singkat sebelum menjawab. Ia tidak duduk kembali, hanya berdiri di tempat yang sama, menatap Valeria dengan cara seseorang yang sudah mempertimbangkan apakah akan mengatakan sesuatu sejak lama dan baru sekarang memutuskan bahwa menyimpannya lebih lama bukan pilihan yang baik."Aku mengetahui beberapa hal tentang Selena," kata Adrian akhirnya, suaranya pelan namun jelas. "Bukan semuanya, dan bukan dengan bukti yang sudah lengkap. Tapi cukup untuk membuatku tidak nyaman dengan membiarkan kamu menghadapi situasi ini sendirian."Valer
Valeria terdiam setelah mendengar nama Alexander. Tatapannya berpindah dari Natalia ke bingkisan yang ada di tangannya. Ia tidak langsung mengambilnya. Ada sesuatu dalam kemunculan bingkisan itu yang membuat perasaannya tidak nyaman, terutama karena beberapa hari terakhir terlalu banyak hal aneh terjadi di sekitarnya.“Dari Alexander?” ulang Valeria dengan nada pelan, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.Natalia mengangguk sambil menyerahkan bingkisan itu kepadanya. “Iya. Salah satu stafnya datang dan menitipkannya untuk kamu,” jelasnya dengan nada hati-hati.Valeria menerima bingkisan tersebut. Bungkusnya sederhana, tanpa nama pengirim di bagian luar. Ia memperhatikan benda itu beberapa detik sebelum meletakkannya di atas meja.&l
Valeria tidak langsung menjawab."Ia diam sejenak, bukan karena ragu. Ia hanya memperhatikan suara Alex yang sudah dikenalnya selama dua tahun. Napas berat dan nada angkuh itu terdengar berbeda kali ini, seolah keangkuhannya mulai pudar." "Valeria?""Aku dengar kamu, Alex." Suaranya datar, bukan d
Pintu tertutup di belakang Valeria. Langkahnya tetap tenang saat menuruni teras rumah keluarga Pradiptama, tidak terburu-buru, tidak ragu, seolah yang baru saja terjadi hanyalah percakapan biasa, padahal ia baru saja mengakhiri pernikahannya. Udara malam terasa dingin, namun anehnya ia tidak lagi m
“Mama? Ada apa mama tiba-tiba telepon?” gumam Valeria.Tangannya sempat bergetar sebelum akhirnya menekan tombol hijau di layar ponselnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan suaranya. “Halo, Ma…” ucapnya, berusaha terdengar biasa.“Val, kamu di mana sekarang?” suara lembut Helena L
“Pasti Alex senang dengan kejutan aku. Hari ini ulang tahunnya dan aku ingin membuatkan acara spesial untuknya.” ujar Valeria sambil tersenyum.Kotak kue itu terasa lebih berat dari seharusnya. Valeria Laurent menatapnya sekilas sebelum kembali melangkah masuk ke dalam gedung megah milik keluarga P







