FAZER LOGINKetika Yin Anzhu telah kembali ke halamannya di Kediaman Yin, dua orang pelayan senior masuk dari luar, masing-masing dengan nampan di tangan.
Mereka berkata, “Nona Kedua, beberapa hari lagi Anda akan masuk ke Kediaman Deng. Kami akan membantu Anda merawat diri beberapa hari ini.”
Yin Anzhu menatap mereka tanpa minat. Kemudian memalingkan wajahnya tidak senang. “Apa aku bisa menolak?”
Barusan menemui ayahnya di depan, ia tidak lagi punya semangat melakukan apapun. Kali ini, orang tua itu berhasil melontarkan ancaman baru yang benar-benar tak sanggup ia abaikan.
“Kau tahu, 17 belas tahun yang lalu kakekmu mengambilmu dari perkebunan tanpa sepengetahuanku. Jika aku melaporkan ini sebagai kejahatan memisahkan seorang anak dari keluarga kandungnya, kau bisa yakin kedua orang tua itu akan dimasukkan ke penjara!”
Yin Anzhu membantah. “Kau yang menelantarkanku, bukan salah mereka karena mengambil dan membesarkanku!”
Namun ayah liciknya hanya mendengus tajam dan membalas, “Kau punya bukti aku mengabaikanmu? Aku bahkan tidak tahu saat ibu selirmu sedang mengandungmu.”
“Bohong! Kau jelas tahu!”
Ini didengarnya dari kakek neneknya sebelumnya. Mereka mengatakan bahwa ibunya yang dibuang ke perkebunan sempat mengirim surat ke ibu kota. Ia mengabarkan kepada Tuan Besar itu bahwa dirinya sedang mengandung. Akan tetapi setelah itu tidak ada balasan apa-apa.
Ayahnya kembali berkata dengan sebelah alis terangkat, “Apa kau bisa membuktikannya?”
“Ini—”
Yin Anzhu ingin menjawab, sayangnya ia memang tidak memiliki bukti apa-apa selain kesaksian kakek neneknya.
Akhirnya ia hanya menggertakkan gigi dan memalingkan wajahnya tajam. Ia begitu muak melihat wajah ayahnya. Amarah dan kebenciannya makin dalam tiap waktu. Sayangnya ia tidak bisa melakukan apapun sekarang, terutama dengan ancaman barusan.
Setelah itu, ia tidak lagi punya tenaga untuk memikirkan cara melarikan diri. Bagaimana jika ayahnya mewujudkan ancamannya?
Ia tidak sanggup membayangkan kakek neneknya, di usia tua mereka harus berurusan dengan tuduhan kejahatan salah seperti itu.
Saat dua orang pelayan senior mengoleskan sesuatu ke wajahnya, ia diam saja.
Tiba-tiba, terbesit selintas bayangan di masa depan, di mana ia akan terbangun dari tidurnya dan langsung berhadapan dengan wajah tua pejabat gempal itu—
Yin Anzhu yang tadinya bersandar di kursi malas sekejap tegak kembali. Sekujur tubuhnya tiba-tiba merinding.
Ia menggeleng keras.
Perasaan itu benar-benar tak tertahankan!
Yin Anzhu mendesah berat entah untuk yang keberapa kalinya di hari itu. Ia lalu berbaring kembali, membiarkan mereka merawat wajahnya.
…
Tiga hari setelah itu, Tuan Besar Yin mulai terlihat gelisah.
Bagaimana tidak, terakhir kali Tuan Deng sudah setuju menerima Yin Anzhu sebagai selir, alih-alih seorang simpanan. Akan tetapi, hingga kini belum ada kabar lagi darinya.
Ia mengira, keesokan harinya para utusan dari Kediaman Deng akan datang mengantarkan hadiah sesuai adat. Akan tetapi, hingga hari ketiga tidak ada yang datang ke depan pintu mereka. Sedangkan dua hari lagi ia akan mengirim Yin Anzhu ke sana.
Ia bertanya-tanya, apakah orang itu berubah pikiran? Apakah dia tidak ingin kesepakatan ini lagi?
Memikirkan kelakuan putri selir itu sebelumnya, membuat amarahnya kembali berkobar. Jangan-jangan, dia tidak lagi menginginkannya setelah melihat bahwa gadis itu bukan gadis yang patuh?
Tidak tahan, Tuan Besar Yin akhirnya mengirim orang kepercayaannya untuk pergi dan mencari tahu apa yang terjadi.
Di malam hari, pelayan laki-laki itu kembali dan membawa berita.
Alisnya yang tebal sedikit berkerut ketika ia menyampaikan, “Tuan, hamba telah mengawasi kediaman itu hingga sore, dan berhasil mendapatkan informasi.”
“Katakan cepat,” desak sang majikan tidak sabar.
“Mereka bilang, Pejabat Deng dua hari yang lalu telah diamankan oleh orang-orang dari Lembaga Pengawas Kekaisaran. Pelayan di sana mengatakan sesuatu tentang kasus suap yang terbongkar di kementerian.”
Betapa terkejutnya Tuan Besar Yin ketika mendengar mengenai kabar ini. Untuk waktu yang lama ia merasakan jantungnya tidak lagi berada di tempat.
Kasus suap yang terbongkar??
Mengapa dia tidak mendengar kabar mengenai hal ini sebelumnya? Apakah mereka bertindak diam-diam?
Ia hampir memberikan putri selirnya kepada pejabat itu. Jika ini ketahuan, apakah dia juga akan terseret sebagai pemberi suap?
Meski ini mungkin bisa disangkal karena tidak melibatkan harta benda secara langsung, namun jika setelah menjadikan putrinya salah seorang selir miliknya, lalu tidak lama kemudian dirinya menduduki jabatan sebagai kepala divisi, bukankah ini sudah membuktikan penyalahgunaan jabatan yang terjadi?
Yin Yansong tidak bisa tidak berkeringat dingin. Ia mengusap wajahnya, merasakan darah di kepalanya surut seketika.
Tidak bisa. Ia tidak bisa lagi menempuh jalan ini. Kalau tidak, ia akan berakhir kehilangan segalanya.
Setelah itu, ia cepat menyuruh seorang pelayan wanita yang berjaga untuk memanggil nyonya besar agar segera datang ke ruang kerjanya.
Nyonya Besar dengan cepat tiba begitu mendengar sedikit mengenai apa yang terjadi dari pelayan.
Ia mendengar suaminya berkata, "Karena urusan ini belum pernah diresmikan, dan kita juga belum menerima hadiah dari Kediaman Deng, hal ini tidak perlu lagi diteruskan."
Nyonya Besar yang gugup cepat mengangguk setuju. Kemudian terpikirkan sesuatu, ia berkata lagi, “Tapi Tuan, seperti yang dikatakan Anzhu sebelumnya, kejadian di jembatan tempo hari disaksikan oleh orang-orang yang melintas di sana. Jika ini terdengar oleh lembaga pengawas, bukankah ini bisa membuktikan niat kita yang hendak menyuap Tuan Deng?”
Diingatkan ini, Yin Yansong kembali mengutuk putri selirnya atas kekacauan yang dibuatnya.
Ia berpikir keras, lalu akhirnya membuat keputusan. “Kita akan katakan bahwa itu hanyalah kesalahpahaman. Agar ini meyakinkan, sekarang kau urus pernikahan Anzhu. Nikahkan cepat agar orang-orang percaya sejak awal kita tidak berniat memberikannya kepada Tuan Deng.”
Hanya segelintir orang yang tahu kegemaran pejabat hidung belang itu terhadap para gadis muda. Menyangkal niat itu hanya dengan kata-kata, orang-orang tentu tidak akan percaya.
Nyonya besar mengerjap bingung. “Begitu mendadak? Dinikahkan dengan siapa?”
Sepertinya sang suami tidak ingin lagi berlarut dalam situasi ini, jadi dia hanya melambaikan tangan dengan tidak sabar dan berkata, “Siapa saja. Kau uruslah cepat. Jika tidak ada yang bersedia, cari penjaga toko yang bersedia mengambilnya sebagai istri!”
Ketika kabar ini sampai ke telinga Yin Anzhu, perasaannya amat rumit. Akan tetapi satu hal yang pasti, perasaan muaknya terhadap ayahnya hampir mencapai batas.
Ia senang karena akhirnya tidak perlu menjadi selir pejabat tua itu. Namun teramat kecewa karena dirinya diperlakukan tidak berbeda dari sebuah barang. Jika seseorang tidak menginginkannya, dia bisa dioper kepada orang lain tanpa banyak berpikir.
Entah beruntung, atau entah dia benar-benar sial, keesokan harinya, sebuah kabar yang sangat menggemparkan tiba di awal pagi hari.
Nyonya Tua Du muncul dari balik pintu gerbang yang belum lama ini diganti. Sebuah keranjang anyaman penuh dengan sayuran liar tergantung di punggung bungkuknya. Pada musim itu, di gunung belakang rumah mereka, sayuran liar tumbuh bagaikan rumput liar. Orang-orang desa memanfaatkan ini untuk keluar lebih awal, memetik banyak untuk dibawa dan dijual ke pasar kabupaten. Melihat neneknya kembali, Yin Anzhu berdiri dari bangku dan menyambutnya ke pintu. “Nenek sudah bekerja keras,” ujarnya. Ia melepaskan keranjang dari punggung Nyonya Tua Du dan membawa keranjang yang cukup berat itu ke ruang dapur. Tak lama kemudian, ia keluar lagi dengan cangkir di tangan. Ia menyerahkan air hangat kepada neneknya yang sudah duduk dengan kaki diluruskan. Nyonya Tua Du menatap cucu kesayangannya, bertanya sambil lalu, “Anzhu, kau tidak ingin mengunjungi ayahmu di Kabupaten Jing?” Yin Anzhu mengernyit. Ia menghempaskan diri pada bangku di samping. “Kenapa? Nenek ingin dia memanfaatkanku lagi untuk
Awalnya, saat Yin Anzhu mencari tahu masalah Aula Ruyi, ia pergi ke toko-toko lain yang menjual barang yang sama, termasuk beberapa toko milik keluarga Shangguan di Pasar Timur.Ia menemukan bahwa toko mereka bahkan menjual dengan harga yang lebih tinggi dari harga normal. Penasaran, ia berdiskusi dengan ibu mertuanya dan meminjam buku pembelian dari pengurus.Dia kemudian mendapati keuntungan toko keluarga yang seharusnya lebih tinggi, namun tercatat lebih rendah. Dengan jeli ia juga menemukan bahwa cukup banyak ketidaksesuaian pada pencatatan buku pembelian dan penjualan.Karena hal inilah mereka akhirnya mencurigai adanya kecurangan yang terjadi. Setelah diam-diam diselidiki, akhirnya terkuak bahwa salah seorang pengelola toko yang merupakan orang Selir Meng-lah yang melakukan penggelapan.Dengan ancaman dari Nyonya Su, melalui Song Mama, pengelola itu akhirnya mengaku bahwa ia diperintah oleh Selir Meng untuk melakukan itu, juga tahu bahwa hasil penggelapan selama ini dikirim ke se
Seminggu kemudian, seorang mak comblang tiba di kediaman.Ketika Nyonya Tua mengumpulkan orang-orang, ia memberitahu bahwa Tuan Kedua Jiang akan secara resmi bertunangan dengan Shangguan Zhiyi.Ini sedikit mengejutkan, karena sebelumnya mereka sempat mendengar bahwa Shangguan Zhiyi ingin mengakhiri perjodohan.Tidak disangka, orang yang akan bertunangan kini tidak berkata apa-apa. Hanya bersikap seperti biasa, seolah-olah perkataan sebelumnya tidak pernah terucap darinya.Sementara orang-orang menganggukkan kepala, turut senang mendengar kabar ini, Selir Meng menundukkan wajahnya, mengangkat sapu tangan dan menutupi mulutnya. Kilatan dingin yang tak terlihat oleh orang-orang melintas di matanya.Pasangan yang begitu baik, yang coba ia usahakan untuk putrinya, pada akhirnya gagal didapatkan. Seharusnya ia memastikan rencana itu berjalan lancar hingga akhir!Sementara ia menyembunyikan ekspresinya, Nyonya Tua beralih padanya sekilas. Setelah beberapa saat, ia berkata kepada semua orang,
Shangguan Chen menggulung kembali lukisan kaligrafi di tangannya, meletakkannya ke atas meja.“Kau terlalu banyak berpikir,” ujarnya tanpa emosi.“Bukan?” Yin Anzhu penasaran. “Lantas?” Namun seperti biasa, pria itu tidak menanggapi. Ia mengabaikan Yin Anzhu, mengambil teh, dan menyeruputnya dengan sikap bersahaja.Yin Anzhu mengangguk-angguk, lalu bergumam sendiri. “Benar juga. Rasanya kau bukan orang seperti itu.”“Lalu, orang seperti apa aku?”Pria itu menurunkan cangkir, matanya menatapnya lurus.Yin Anzhu kembali menopang dagunya. Ia memikirkan pertanyaan barusan.“Hmmm… Kau pria licik yang tidak menyukai wanita…”Ia menatap Shangguan Chen dengan alis terangkat. “Aku benar?”Tidak ada jawaban. Namun, kali ini pria itu menatapnya dua detik lebih lama dari biasanya.Sementara itu, tampaknya perselisihan pasangan di depan telah mencapai puncak. Shangguan Zhiyi berseru, berkata tidak ingin melanjutkan pertunangan mereka lagi kepada Jiang Wenxiu. Setelah mengatakan itu dengan marah,
"Panggilkan Nyonya Muda kalian," perintah Shangguan Zhiyi begitu melangkah masuk melalui gerbang bulan di Halaman Bambu Hijau.Ia berdiri menunggu dengan tangan di pinggang. Sorot matanya menajam tidak senang.Rong Mama yang kebetulan sedang berjalan ke depan, berhenti dan membungkuk menyapanya, "Nona Kedua."Mendapati raut wajah Shangguan Zhiyi yang seperti akan pergi menemui seorang musuh bebuyutan, Rong Mama tidak langsung melakukan instruksi barusan. Alih-alih, ia bertanya, "Nona Kedua akan menemui Nyonya?"Kening Shangguan Zhiyi berkerut tidak sabar. Ia memandang berkeliling. Melihat Rong Mama masih berdiri di tempat, ia kembali bergerak, "Lupakan. Biar kutemui dia di kamar. Dia pasti ada di sana, kan?"Rong Mama buru-buru mencegah. "Nona Kedua, Anda tidak bisa..."Akan tetapi, gadis itu sudah berjalan cepat menyusuri jalan setapak taman menuju ke arah paviliun utama. Terbayang suasana hatinya yang tidak bersahabat, dan mengingat apa yang terjadi terakhir kali, Rong Mama takut
Di Halaman Plum, keributan kecil terjadi saat Xixi tiba.“Aku tidak akan pergi!” sahut Shangguan Zhiyi tegas.Tong’er melihat alis halus nona mudanya mengeras, ia menoleh pada Xixi, menggeleng, “Kembalilah dan katakan kepada Tuan Muda Sulung, Nona Kedua sedang tidak begitu sehat.”Xixi melirik ragu-ragu ke depan, kepada Shangguan Zhiyi yang terlihat akan mengamuk jika ia masih bersikeras memintanya datang. Ia segera menunduk patuh, berkata “Baik,” lalu beranjak dari sana.Tong’er mengambil wadah lampu minyak di atas meja. Ia melirik nona mudanya, berujar sambil lalu, “Tuan Kedua Jiang sudah lama tidak berkunjung kemari. Belakangan ini saya dengar beliau sering bertugas di luar kota.”Ia menuangkan minyak lampu ke dalam wadah poselen berhias pola sederhana. “Begitu sulit mendapatkan waktu senggang, tidakkah sayang jika Nona tidak pergi menemuinya barang sebentar?”Ia ingin menambahkan “bagaimanapun, dia adalah tunangan Anda,” namun ia memutuskan tidak mengungkitnya. Akhir-akhir ini, n







