Mag-log inTerbangun di tubuh Lady Evelyne—antagonis manja yang dibencinya—Aruna memilih membuang obsesinya pada pangeran demi membuka toko kue modern di Kerajaan Asteria. Alih-alih hidup malas, ia justru mengikat apron dan membuat seluruh istana gempar dengan kelezatan cheesecake dan cookies buatannya. Namun, saat ia hanya ingin hidup mandiri, aroma manis kuenya justru memancing rasa penasaran pangeran dingin, duke misterius, dan mantan tunangan yang kini menyesal telah membuangnya. "Berhenti mengejarku, Pangeran!"
view more"Lady Evelyne... Duchess Marianne memerintahkan Anda segera bersiap."Suara itu lembut. Terlalu lembut. Seperti kapas yang diusapkan ke telinga.
Aruna membuka mata. Dan dunia yang ia kenal lenyap. Bukan lampu neon kantor. Bukan meja kerja dengan tumpukan berkas. Bukan kursi ergonomis yang sudah bunyi kalau digerakkan.Langit-langit penuh ukiran emas. Lilin-lilin menyala di sudut ruangan—api beneran, bukan lampu hias. Tempat tidur besar berkanopi dengan tiang-tiang berukir sulur mawar. Meja rias antik, cermin besar berbingkai vintage, dan aroma bunga segar yang tidak pernah ia hirup di dunia lama. Aruna duduk perlahan. Tubuhnya terasa ringan—terlalu ringan. Ini mimpi.Ia mencubit lengannya. Kuat. Sakit. Ini bukan mimpi.
"Lady?" Seorang pelayan berdiri di samping tempat tidur, membungkuk dalam-dalam. Wajahnya muda, penuh kekhawatiran. "Anda tidak apa-apa?"
Aruna menatapnya. Kemudian menunjuk dirinya sendiri dengan jari gemetar."Lady...? Aku?"
Pelayan itu mengangkat wajah, bingung. "Tentu Anda Lady Evelyne. Putri dari Duchess Marianne. Bangsawan tinggi Kerajaan Asteria."
Nama itu. Evelyne. Aruna merasakan sesuatu berdenyut di kepalanya. Bukan sakit—tapi seperti pintu terbuka. Dan ingatan itu tumpah.
*****
Tiga jam sebelumnya...
"Gaji kamu dipotong!" Kalimat itu menamparnya lebih keras dari apa pun. Aruna baru saja melangkah masuk ke ruangan direkturnya. Belum sempat menarik kursi. Belum sempat mengucap salam. Dan langsung dihajar dengan potongan gaji.
"Karena apa, Pak?" Suaranya keluar lebih kecil dari yang ia inginkan.
Direkturnya—pria berjas rapi dengan ekspresi datar—melemparkan sebuah berkas ke meja. "VIP komplain. Menu tidak sesuai revisi. Dessert rusak. Target bulanan gagal. Dan kamu manajer operasional."
Aruna menatap berkas itu. Ia tahu isinya tanpa perlu membaca. Revisi menu datang mendadak satu jam sebelum produksi. Tim dapur sudah terlanjur siapin bahan versi lama. Ia sudah order ulang, tapi bahan yang datang kualitasnya jelek. Dessert rusak karena mobil pendingin tim logistik bermasalah. Target jebol karena dua hal di luar kendalinya.
Semua fakta itu ada di kepalanya. Siap dilontarkan.
Tapi direkturnya mendahului. "Kamu yang bertanggung jawab."
Dan kata-kata itu menggunting habis keberaniannya. Karena benar. Ia manajer operasional. Empat adik yang masih sekolah. Orang tua sakit-sakitan. Dan posisi ini—dengan segala tekanannya—adalah satu-satunya cara ia bisa memastikan mereka semua tetap hidup.
"Bonus dibatalkan. Potongan lima persen. Malam ini kamu periksa ulang semua laporan distribusi dan supplier."
Aruna mengangguk. Blazer lamanya yang sudah pudar di siku terasa sesak di bahu. "Baik, Pak."
Di luar ruangan, ia berhenti sejenak di lorong. Menarik napas. Lalu melanjutkan langkah. Menangis tidak akan mengembalikan lima persen gajinya.
Malam itu, Aruna lembur sendirian. Kantor sudah sepi. Hanya suara kipas komputer dan derik lampu neon yang menemani. Layar monitor menyala dengan puluhan file berjejer—laporan distribusi, data supplier, angka-angka yang sudah ia periksa berkali-kali. Kepalanya berat. Mata perih. Tangan mulai gemetar di atas keyboard pukul setengah satu dini hari. Ia meraih gelas di sampingnya. Amerikano enam shot. Pahit. Tapi tidak cukup menahan kantuk yang merangsek dari segala arah. Matanya jatuh ke tas di lantai. Dari dalam, ia mengeluarkan buku bersampulkan ilustrasi gadis bergaun dansa. Istana Elarion: Takhta dan Dusta. Novel murahan tentang kerajaan dan intrik bangsawan. Satu-satunya hiburan murah yang ia mampu.
Ia buka di halaman tengah. Bab di mana Lady Evelyne Ardent—antagonis pemalas yang menyebalkan—akhirnya dihukum. Adegan favoritnya. Setiap baca bagian ini, ia merasa ada keadilan di dunia. Tapi malam ini matanya terlalu berat. Buku itu jatuh menutupi wajahnya. Atau ia yang jatuh tertidur. Aruna tidak tahu.
*****
Dan sekarang...
Aruna berdiri. Melangkah ke cermin. Setiap langkah terasa seperti menapak di atas awan. Cermin itu menangkap bayangan yang bukan dirinya. Rambut pirang panjang tergerai sepinggang. Bukan rambut hitam lurus yang biasa ia ikat asal-asalan. Kulit seputih salju—tanpa lingkaran hitam di bawah mata. Mata biru muda dengan bulu mata lentik yang tidak pernah ia punya. Bibir semerah ceri yang tidak pernah ia punya waktu untuk mewarnai.Aruna mengangkat tangan. Wanita di cermin melakukan hal sama. Ia menyentuh pipinya—mulus. Halus. Seperti tidak pernah begadang sekalipun.
"Ini... aku?" Suaranya berbeda. Lebih lembut. Lebih merdu.
Di belakangnya, pelayan itu berkata, "Pesta Musim Semi akan digelar di Istana Elarion malam ini, Lady. Putra Mahkota Kael Draven akan hadir."
Putra Mahkota Kael. Nama itu menyalakan lampu lain di kepalanya. Istana Elarion. Kael Draven. Lady Evelyne Ardent. Novel itu. Ia sedang berada di dalam novel itu. Aruna mencoba mengingat sinopsisnya. Lady Evelyne—antagonis cantik, manja, pemalas. Terobsesi pada pangeran. Di akhir cerita, ia dipermalukan di depan seluruh istana dan kehilangan segalanya.
Astaga.
Ia menatap bayangannya lagi. Gaun tidur sutra yang ia kenakan harganya mungkin lebih dari sebulan gajinya di dunia lama. Meja rias penuh perhiasan. Pelayan pribadi yang menunggu perintah. Tapi semua ini... punya harga. Di dunia lama, ia kehilangan lima persen gaji. Di dunia baru, ia bisa kehilangan segalanya. Aruna menarik napas panjang
"Katakan padaku," ucapnya pelan. "Apa yang biasa kulakukan di pesta seperti ini?"
Pelayan itu mengerjap. "Anda... lupa, Lady? Biasanya Anda mendekati Pangeran Kael. Berdansa dengannya. Melakukan segala cara untuk menarik perhatiannya."
Aruna mengangguk pelan. Evelyne versi asli gila pangeran. Tapi aku... aku Aruna Wijaya. Manajer operasional yang baru dipotong gaji. Aku tidak punya waktu untuk urusan pangeran-pangeranan. Ia menatap tajam bayangannya sendiri di cermin.
"Tidak. Malam ini... aku akan berbeda."
Pelayan itu membelalak. "Berbeda? Maksud Lady?"
Aruna tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah dimiliki Lady Evelyne. "Aku tidak akan mengejar pangeran. Aku hanya akan... menikmati pesta."
Di luar jendela, matahari kerajaan mulai naik di ufuk timur. Hari pertama Aruna Wijaya di dunia baru telah dimulai. Dan ia sudah punya satu resolusi. Hidup ini promosi, bukan bencana. Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya.
"Yang Mulia..."Varian akhirnya mengembuskan napas panjang.Sudah hampir tiga jam ia dan Kael berdebat di ruang kerja, tetapi belum juga menemukan jalan keluar yang jelas.Kasus warga yang menghilang terus bertambah.Di sisi lain, rumor di kalangan rakyat Elarion semakin liar. Banyak yang menganggap semua itu adalah kutukan sejak kedatangan Duke dari Utara ke pameran lukisan beberapa waktu lalu.Varian memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing."Yang Mulia, kita tidak bisa membiarkan desas-desus ini terus berkembang."Kael menyandarkan tubuhnya ke kursi."Aku tahu.""Tetapi kita juga belum memiliki bukti."Varian mengangguk."Itulah sebabnya..."Ia menatap Kael dengan serius."...Anda seharusnya bekerja sama dengan Duke Utara."Kael langsung mengernyit."Duke Rowan?""Ya.""Bagaimanapun juga, beliau adalah penguasa Wilayah Nochtaryn.""Beliau pasti mengetahui lebih banyak mengenai monster dibandingkan kita."Kael terdiam.Varian melanjutkan,"Kalau tujuan kita sama, tidak ada salahn
"Anu, Russle...""Hm?""Kau lupa melepaskan penyamaranmu."Russle berkedip beberapa kali."Oh."Ia tersenyum kikuk."Benar juga."Perlahan, ia melepaskan sihir penyamarannya.Wajah Kapten Eddy memudar sedikit demi sedikit, berganti menjadi wajah aslinya.Setelah itu, Russle mengangkat telunjuknya.Dengan satu gerakan kecil, seluruh jendela di kamar Rowan menutup sendiri. Tirai-tirai tebal ikut tertutup, memastikan tidak ada seorang pun yang dapat mengintip dari luar.Ruangan menjadi sunyi.Russle kemudian menggandeng lengan Rowan menuju cermin besar yang berdiri di sudut kamar."Rowan.""Apa?""Lihat."Keduanya berdiri berdampingan di depan cermin.Dua sosok yang wajahnya nyaris identik menatap balik dari pantulan itu."Rowan," ujar Russle pelan."Apakah aku mirip denganmu?"Rowan memperhatikan pantulan mereka beberapa saat.Ia lalu menggeleng sambil terkekeh kecil."Tidak."Russle mengangkat sebelah alis."Tidak?""Gaya bicaramu berbeda.""Cara berjalanmu juga.""Selera pakaianmu, ke
"Rowan kembali ke kamarnya setelah memberikan seluruh perintah kepada Harry dan Hayes.Malam itu, ia tidak langsung beristirahat.Ia justru berdiri di dekat jendela, memandangi langit malam yang gelap.Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang janggal.Terlalu banyak kebetulan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.Di tengah lamunannya, suara yang sangat dikenalnya terdengar di dalam benaknya."Rowan."Ia langsung menyadari itu adalah telepati Russle."Ada apa?"Suara Russle terdengar santai, bahkan sedikit mengejek."Kau payah sekali, ya."Rowan mengangkat sebelah alisnya."Apa maksudmu?""Aku hanya butuh dua jam untuk memusnahkan seluruh Ravener di sana.""Padahal kau sudah bertarung lebih dari sehari."Rowan menghela napas kecil."Aku tidak memakai sihir sepertimu.""Dan aku harus memastikan seluruh pasukan tetap hidup."Terdengar tawa pelan dari Russle."Baiklah, itu juga benar."Rowan hendak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di garis depan."Lalu setelah itu—"Tok.Tok.To
"Apa yang kalian temukan di sana?" tanya Rowan dengan nada yang semakin serius.Harry tidak langsung menjawab.Ia merogoh saku bagian dalam mantelnya, lalu mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus kain gelap.Perlahan, ia membukanya dan meletakkannya di atas meja.Rowan menatap benda itu tajam.Seketika raut wajahnya berubah."Itu..."Di atas meja tergeletak sehelai bulu berwarna hitam keunguan yang berkilau samar. Ukurannya jauh lebih besar daripada bulu burung biasa, dan masih memancarkan aura mana yang pekat.Rowan mengangkatnya dengan hati-hati."Tidak mungkin..."Suaranya nyaris tak terdengar.Hayes mengangguk pelan."Kami menemukannya di dekat jurang."Rowan menggenggam bulu itu semakin erat."Itu bulu Mordrath."Ruangan mendadak hening.Harry dan Hayes saling berpandangan."Apakah Anda yakin, Tuan Duke?""Sangat yakin."Tatapan Rowan semakin tajam."Mordrath adalah monster tingkat tertinggi.""Ia tidak pernah meninggalkan wilayahnya tanpa alasan.""Terlebih lagi..."Ia kembali
“Lady?”Mira memanggil Aruna ketika melihatnya sibuk menulis di atas setumpuk kertas dengan pena bulu.“Apakah Anda benar-benar ingin menambahkan menu dari sayuran seperti cookies tadi?”Aruna mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari catatan resep.“Tentu saja.”Mira tampak ragu.“Anda yakin,
Aruna segera menggandeng lengan Cedric begitu mereka meninggalkan aula.Dari kejauhan, siapa pun yang melihat mereka akan mengira sepasang tunangan itu hanya ingin berbicara berdua.Dan memang itulah yang Aruna harapkan.Sayangnya, seseorang tampaknya tidak berniat membiarkan mereka pergi begitu sa
Aruna masih berada di dapur istana, tidak langsung kembali ke kamar seperti yang diperintahkan sebelumnya.Alih-alih beristirahat, ia justru berdiri di tengah area kerja para koki dengan pandangan tajam.Meja panjang di depannya dipenuhi bahan makanan yang akan disiapkan untuk istana, sebagian suda
Beberapa pelayan segera menghampiri Aruna begitu percakapannya dengan Kael berakhir.“Lady, kami akan mengantar Anda ke kamar tamu istimewa,” ujar salah satu pelayan sambil membungkuk hormat. “Anda bisa beristirahat siang setelah ini.”Aruna terdiam beberapa detik. Ia sebenarnya ingin menolak lagi.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu