LOGINAzalea (Lea), botanist yang hidup di London zaman modern, tiba-tiba terlempar ke masa lalu, mendarat di Yamu, kota di zaman Mesir kuno, di belantara padang pasir. Lea panik dan bingung, terbangun dalam lingkungan yang sama sekali tidak dikenal, dan semakin panik, saat menyadari jiwanya berada dalam tubuh asing. Jiwa Lea masuk ke dalam tubuh gadis bernama Nae, Putri dari bangsawan rendah di Yamu. Agar kesalahan menggelapkan pajak kota dimaafkan, Ayah Nae memberikannya sebagai persembahan untuk menjadi istri Pangeran Ketiga, Rasui, yang dikabarkan buruk rupa dan temperamental. Tak punya pilihan lain, Lea harus menjalani peran sebagai istri Pangeran, seraya mencari jalan untuk kembali. Keadaan semakin rumit karena Rasui, ternyata tidak seperti yang Lea bayangkan, dia tidak seperti manusia normal pada umumnya. Identitas itu, akhirnya ikut menyeret Lea masuk dalam pertikaian perebutan tahta.
View MoreLea terbangun dengan sentakan.
"Ukht Nae! Aietaqadat 'anak mayit" (Kak Nae.. Aku kira kau sudah meninggal!)
Belum sempat Lea mengambil nafas, seseorang menubruk dan memeluk tubuhnya. Lalu mulai menghamburkan kata-kata dalam tangisan, yang bagi Lea terdengar seperti gumaman omong kosong, karena tidak tahu artinya apa.
Lea meremas kedua pelipis dengan tangan.
Rasa sakit menusuk-nusuk hampir di seluruh bagian kepalanya. Lea lalu memukul kedua sisi kepalanya, berusaha meredakan rasa sakit itu.
"Kak Nae... kau bangun.. Aku kira kau mati... Jangan begitu lagi!"
Rasa sakit itu reda, dan akhirnya Lea mulai bisa mendengar dengan jelas.
Lea menurunkan pandangan, dan melihat kalau yang memeluk dirinya sambil menangis, ternyata bocah laki-laki, mungkin berumur sekitar sepuluh atau mungkin lebih.
Sosok asing dengan rambut panjang bergelombang, terkuncir di belakang kepala. Dia memakai ikat kepala berwarna keemasan.
"Maaf.. Tapi siapa kau?" Lea menarik lepas tangan yang mengitari perutnya. Merasa aneh dengan perhatian berlebihan ini.
"Kak Nae?" Bocah itu memandang Lea. Matanya yang terbuka lebar terkejut, masih menampakkan bekas air mata.
"Kak Nae? Kau tidak apa-apa?"
"Kau memanggilku apa?" Lea mulai sadar jika Nae yang disebutnya sedari tadi adalah nama.
"Kau seharusnya tidak mau minum racun itu! Kau jadi aneh. Huu..Huu..!" Anak itu mulai menangis lagi, meninggalkan Lea larut dalam kebingungan.
"Aku minum racun?" Ini bahkan terdengar lebih mengada-ada.
“Itu mustahil!” batin Lea.
Lea sangat mencintai kehidupannya yang dipertahankan setelah melewati banyak hal mengerikan, jadi tidak mungkin dia ingin membunuh dirinya sendiri.
Lea mengulurkan tangan mengelus kepala bocah itu, ingin menghibur."Kau pasti...." Lea batal melanjutkan kalimat, terpaku pada apa yang ada di tangannya.
Pergelangan tangannya, berhiaskan gelang tebal mewah, bertabur berbagai permata hijau dengan ukuran beraneka ragam.
Tidak hanya itu, pada punggung tangannya, terdapat semacam rantai emas yang terjalin menjadi semacam hiasan tangan yang unik, dan permata yang bertebaran di situ tidak kalah banyak.
Lea tidak miskin, tapi tidak juga mampu membeli barang semacam itu. Keberadaan semua benda mewah itu di tangannya, sudah jelas menandakan sesuatu hal yang janggal.
Lea mengangkat kedua tangan. Melihat kalau tangan kirinya juga dalam keadaan sama. Penuh dengan perhiasan indah yang tertata rapi.
Dia lalu memandang tubuhnya dan nyaris mengumpat, karena dia ternyata memakai semacam gaun yang seumur hidup tidak mungkin mau dipakainya.
Gaun itu terlalu terbuka. Dadanya tertutup, namun belahan bagian depan gaun itu mencapai perut, sebelum akhirnya diikat oleh sabuk, yang kemewahannya kurang lebih sama dengan gelang tadi.
Gaun tanpa lengan itu, terbuat dari kain berwarna putih yang sangat halus, menempel dan jatuh ketat di tubuhnya.
Lalu perlahan Lea mulai menyadari keanehan lain, saat memandang tubuhnya lebih lama. Kulitnya tidak lagi pucat, tapi berwarna kecoklatan exotic, seperti hasil tanning di salon mahal, atau mungkin berjemur saat musim panas di pantai.
“Apa...” Lea tersedak ludahnya sendiri, saat melihat hal lain yang luar biasa tidak mungkin.
Ukuran dadanya sangat jauh berbeda. Dia seperti baru saja menjalani proses operasi implan untuk membesarkan dada. Ukurannya membengkak dari cup B menjadi D.
Sebelumnya dia memerlukan push-up bra untuk bisa terlihat semontok itu. Dan saat ini, sangat jelas jika dia tidak memakai bra atau apapun di balik gaun yang sedang dipakainya. Jadi dada membusung itu alami. Gaun itu tipis, membungkus dada itu dengan ketat, dan terlihat terlalu mengundang.
"Apa ini semua?"
Lea lalu mengedarkan pandangan ke sekitar dan menyadari keanehan lain. Dia berada di tempat asing, yang belum pernah dilihatnya seumur hidup.
Dia berada di bangunan terbuka, dengan banyak kain tipis bergantung dari langit-langit. Menjuntai beberapa senti dari lantai.
Tempat Lea berbaring adalah tumpukan kain tebal seperti karpet, dengan bantal berbagai bentuk. Lea menyibak salah satu tirai yang menutupi, dan kembali ingin mengumpat. Pemandangan asing lain yang tidak ada habisnya.
Ada taman di balik tirai itu. Taman yang tertata rapi dan indah. Lea menyukai pohon dan bunga, tapi saat ini jelas bukan saat yang tepat menikmati taman.
“Dimana dan apa?” batin Lea.
Lea memejamkan mata, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ini semua.
"Akh!"
Lea mengeluh, karena kepalanya kembali berdenyut sakit. Rasa sakit yang amat sangat, seperti saat dia baru saja terbangun tadi. Seolah ada seseorang yang menusuk pelipisnya dengan pisau tajam.
"Ok... Ok... Nanti.. Aku akan mencari tahu nanti," gumam Lea. Dengan cepat menyerah untuk mengingat.
Setidaknya ada satu orang tersisa yang bisa memberitahunya. Dia menoleh pada bocah yang masih memandangnya, antara bingung, lega dan takut.
"Kita ada dimana?" tanya Lea.
"Kau lupa? Kita ada di istana Pangeran Ketiga. Hari ini kau menikah dengannya."
Lea kembali bersusah payah menahan umpatan. Bocah itu tidak lelah juga memberikan kejutan.
"Aku? Menikah? Dengan... Pangeran Ketiga?" Lea mengulang hal absurd itu dengan nada geli. Karena terlalu konyol.
"Apa ini? Apa ini semacam prank?" Lea mulai mencoba menebak pilihan yang paling masuk akal, dan menoleh ke sekitar, mencari kamera yang merekam.
Namun sekaligus dia menolak pendapat itu dalam hati. Tidak mungkin ada orang yang mau membuat prank atas dirinya dengan skala sebesar ini. Dia bukan siapa-siapa. Prank yang dilakukan adiknya, hanya sekelas meletakkan kunyahan permen karet ke dalam sepatunya.
“Apa itu prank?”
Lea memandang bocah itu, melihat jika mata besar itu menyorot jujur. Dia tidak tahu apa itu prank.
"Kau serius mengatakan aku akan menikah?"
"Botol itu tidak berisi racun. Itu pasti sesuatu yang lain. Kenapa kau menjadi lupa semuanya?" Bocah itu menangis lagi, masih dengan menggelontorkan fakta yang sama sekali tidak menjelaskan keadaannya.
Lea akhirnya menyadari jika bukan hanya dirinya yang bingung. Bocah itu juga sama.
"Sebentar, tenang dulu." Lea menepuk kepala bocah itu pelan, tak tega melihatnya menangis lagi.
"Katakan saja aku sedang bingung. Bisa tolong ceritakan ada apa ini?" Lea menarik nafas panjang.
Dia harus tenang, atau kegilaan ini tidak akan pernah terjawab. Sumber jawaban saat ini hanya bocah itu. Paling tidak dia tahu lebih banyak dari dirinya.
Bocah itu sepertinya terbujuk, dia berusaha mengatur nafas.
"Pertama-tama, jawab dulu siapa aku?" Lea harus memastikan dia tidak gila, dan masih mengingat namanya dengan benar, yaitu Azalea Caldwell.
"Naemah." Nama yang keluar dari mulut bocah itu, sangat jauh dari Azalea.
"Aku Naemah?" Lea menunjuk dirinya, sementara jantungnya mulai berdebar tidak menentu.
Keanehan ini tidak lagi lucu. Bocah itu tidak mungkin berbohong dengan air mata yang masih mengucur di pipinya.
Lea kembali memandang tubuhnya yang terlihat terlalu elok itu. “Ini bukan tubuhku!” Lea berseru panik dalam hati.
Perlahan, tangan Lea gemetar, mulai ketakutan. Namun dia meremas kedua tangannya, untuk menguatkan diri. Dia tidak boleh ketakutan sekarang. Lea menarik nafas, memilih untuk menghadapi ketakutannya saat ini juga."Apa kau punya cermin?" tanya Lea
Bocah itu heran, tapi dia beranjak, membongkar buntalan yang teronggok tidak jauh darinya. Dia mengeluarkan banyak barang, mulai dari perhiasan, sampai pisau kecil, dan kemudian menemukan apa yang dicari.
Dia kembali membawa sebuah cermin yang sepantasnya mengisi museum barang antik, karena terlalu indah untuk dipakai. Gagangnya emas murni, Lea yakin saat menggenggam cermin itu dan merasakan beratnya.
Dengan jantung berdebar, Lea mengangkat cermin oval itu sejajar dengan wajah.
"Ahh!" Lea melepaskan cermin itu karena terlalu terkejut.
Sosok yang melihatnya dari bayangan, bukan dirinya. Bukan Azalea Caldwell. Dengan tangan gemetar, Lea kembali meraih cermin itu. Menolak untuk percaya.
Dan tangan kirinya terkulai lemas saat melihat jika cermin itu tidak berbohong. Sosok asing, sangat berbeda dari wajahnya yang biasa, memandang balik dari dalam cermin. Wajah yang jauh lebih cantik dari Lea yang biasanya.
Matanya lebar dengan iris mata berwarna hijau gelap, dan alis tegas berwarna hitam. Bibir merah ranum menggoda, hidungnya mancung tegas.
Wajah itu juga berpulas make up. Hanya sederhana, garis hitam di ekor mata, dan juga warna merah tersapu tipis di bibirnya.
Lea melakukan usaha terakhir, mencoba bangun dari mimpi. Dia mencubit pahanya dengan sangat kencang. Meskipun matanya yang terbelalak sampai berair menahan sakit, dia tidak juga terbangun. Semua masih sama.
"Kak Nae?" Bocah itu heran melihatnya mencubit paha sampai meninggalkan bekas.
"Bisa tolong ceritakan lagi apa yang terjadi."
Lea menahan air mata frustrasi yang sudah mengumpul di sudut mata, dan menenangkan diri.
Dia ingin tahu lebih banyak lagi. Saat ini, pengetahuan sebanyak-banyaknya adalah kunci dari ketenangannya.
"Kau menikah hari ini dengan Pangeran Rasui, tapi kakak tidak mau, karena itu kau meminumnya tadi."
Bocah itu menunjuk sebuah botol, yang ukurannya hampir mirip dengan botol parfum ukuran paling mini.
Lea mengambil botol itu, lalu menghirup aromanya secara insting, dan langsung menjauhkan kepala. Ada aroma tidak menyenangkan menguar dari sana.
"Lalu?"
"Kau pingsan tidak bergerak . Tubuhmu kaku dan dingin. Aku benar-benar mengira kau mati. Aku takut sekali! Huaaa..."
Bocah itu kembali menangis kencang. Lea mengocok botol itu. Tidak terdengar lagi apapun. Botol itu kosong.Jadi benar Naemah yang disebut oleh bocah itu telah meminumnya, lalu mati.
"Lalu apa yang aku lakukan disini?" Lea bertanya retoris.
Dia mempertanyakan keberadaan dirinya di dalam tubuh orang lain. Dan bagaimana hal tidak masuk akal itu terjadi padanya.
"Kau sedang menunggu suamimu datang. Pangeran Rasui." Bocah itu menjawab pertanyaan Lea yang seharusnya tidak dijawab.
"Jika Naemah...." Lea memejamkan mata, karena melakukan kesalahan.
"Jika aku... akan menikah dengan pangeran, kenapa aku tidak mau?" Lea mengangkat botol di tangannya.
Racun dan bunuh diri adalah jalan keluar ekstrem. Lea akan bergembira ria jika ada pangeran yang meminangnya. Sayang, pangeran terakhir di negaranya -Pangeran Harry- sudah menikah dengan seorang aktris beberapa tahun lalu.
"Pangeran Rasui terkenal berwajah jelek, dan bertemperamen buruk. Kau juga lupa ini?!" Bocah itu sekarang mendesah putus asa.
Lea kesekian kali menggoyang botol itu sekali lagi, berharap ada sisa racun di sana. Siapa tahu jika terbangun lagi dia akan menjadi dirinya sendiri. Buruk rupa masih bisa ditoleransi, suami temperamental tidak mungkin lagi.
Dia tidak ingin mempunyai suami seperti ayahnya, meski sedang dalam keadaan seaneh ini.
"Kenapa aku harus menikah dengannya?" keluh Lea.
"Kau lupa juga?! Ayah terbukti bersalah menggelapkan pajak! Jadi Pangeran Rasui memintamu sebagai tebusan kesalahan." Bocah itu menjelaskan dengan teriakan, karena tidak habis pikir.
Lea mengumpat dengan kata sekasar mungkin dalam hati.
“Pria macam apa yang meminta tebusan seorang gadis untuk pengampunan kejahatan?” batinnya, kesal luar biasa.
Tanpa perlu penjelasan lebih panjang lagi, Lea bisa mengambil kesimpulan jika pria yang akan dinikahinya adalah brengsek.
"DIA DATANG!" Bocah itu bangkit terburu-buru, sambil memandang kejauhan.
"Kak Nae! Pasang lagi cadarmu!" Dia lalu memasang cadar putih tipis pada wajah Lea.
"Aku harus pergi! Aku tidak boleh terlihat oleh pangeran. Aku datang lagi besok!" ucapnya terburu-buru, lalu berlari keluar.
"Tunggu!"
Lea ingin memanggil lagi, tapi dia bisa mendengar langkah kaki mendekat.
Tanpa berpikir panjang, Lea meraih pisau kecil yang tadi keluar dari buntalan, mencengkeramnya kuat-kuat. Naemah mungkin memilih mati, tapi Lea tidak sudi. Dia akan menusuk pangeran itu jika berani berbuat kasar padanya
“LEA!”Michelle berteriak nyaring, saat melihat Lea sedang mengantri lift.Tanpa peduli pandangan orang disekitarnya, Michelle berlari menyambut Lea, sementara jas laboratorium berkelebat di sekitar tubuhnya. Dia memang punya kebiasaan memakai jas itu begitu turun dari mobil.Lea sendiri, menyimpan jasnya dengan rapi di tas, dan baru akan memakainya nanti setelah sampai di ruangannya.Michelle adalah teman akrab Lea, dan dia juga bekerja sebagai peneliti di laboratorium yang sama dengan Lea. Pelukan hangat adalah hadiah wajar setelah akhirnya melihat Lea kembali bekerja setelah sekian lama.Pelukan itu terlalu hangat malah, karena terlalu erat, dan selangkah lagi meremukkan tubuh Lea. Lea sudah mengambil jeda waktu tiga hari, dari hari kepulangannya dari rumah sakit, sebelum kembali bekerja, agar tubuhnya lebih kuat. Tapi tetap saja, tubuh Lea yang sedikit tipis kalah telak oleh pelukan Michelle yang tebal.Tubuh Michelle tidak kecil, dia sedikit gempal. Tapi tidak gemuk, Lea akan men
“Aku tidak akan pernah lelah memintamu meninggalkannya lagi, karena aku ingin kau meninggalkannya dengan berani. Aku ingin kau merasa menang darinya, Mom. Bukan melarikan diri.”Lea tidak bisa menyeret ibunya untuk keluar dari rumah itu begitu saja, karena keadaan mental Daisy yang tidak stabil.Lea pernah melakukan ini sekali, tapi dengan mudah ayahnya meminta ibunya kembali dan dia patuh karena takut. Perasaan inferior yang dimiliki Daisy, membuatnya sangat sulit melepaskan diri dari racun Mark. Lea menyadari ini, saat melihat bagaimana ibunya dengan gemetar memilih untuk kembali, padahal tahu hanya neraka yang menunggunya jika kembali bersama dengan Mark.Sayangnya Daisy sudah merasa terbiasa dengan neraka itu. Dia terbiasa oleh rasa panas dan api yang ada di rumah itu, karena sudah menjalaninya selama bertahun-tahun. Jadi meski saat dia terluka atau sakit, Daisy sudah terbiasa dan menganggapnya bagian dari hidup.Semenjak itu Lea tahu jika pekerjaan membujuk ibunya meninggalkan ay
Dan kini Ra telah membelokkan mobil ke arah jalan menuju apartemen Lea yang mana berarti ia tahu alamat Lea.“Hmm… pihak rumah sakit telah memberikan info alamat Anda kepada saya tadi.”Ra bisa merasakan rasa hangat mengaliri tangan dan kakinya, lega karena berhasil membuat alasan yang sangat baik.“Oh…” Lea mengangguk maklum, tentu saja percaya dengan alasan itu. Tidak ada alasan baginya untuk curiga.Dia memang sudah menghafal alamat Lea di luar kepala, dan bukan hanya alamat, tapi seluruh laporan yang diberikan oleh Marin tentang Lea.Ra sudah menghafal isinya, karena begitu sering membacanya selama setahun lebih menanti Lea membuka mata.“Apartemen paling ujung.” Lea menunjuk bangunan paling ujung di jalan itu.Semakin mendekati gedung apartemen Lea, kerutan di kening Ra semakin dalam. Dia mengernyit karena bangunan apartemen itu sangat tidak layak menurut Ra.Ra tahu dimana area apartemen Lea, tapi baru hari ini dia melihat bagunannya secara langsung. Dia tahu area tempat tinggal
“Kau yakin baik-baik saja?” tanya Daisy, melihat Lea mengangkat tas yang berisi barang-barang yang dibawanya pulang.Lea berjalan keluar lift sambil memutar bola mata. “Mom, tas ini hanya berisi tiga potong baju dan sikat gigi. Aku bisa membawanya sendiri.”Dia tinggal di rumah sakit, bukan sedang berlibur. Barang bawaannya tentu sangat minim, karena Daisy selalu membawa baju ganti secara rutin dan membawa pulang yang kotor.Daisy tersenyum. Dia tentu hafal sifat Lea yang selalu tak ingin menyusahkan. Saat sakit atau apapun, Daisy harus lebih sering bertanya tentang keadaannya, karena Lea pasti akan diam dan menyembunyikan keadaan itu dari dirinya.“Dan aku sebenarnya bisa pulang sendiri naik taksi. Tidak perlu mengantar. Seharusnya kau beristirahat saja saat liburan seperti ini.” Lea menggerutu, karena ibunya memakai jatah liburnya yang berharga untuk menemaninya pulang. Padahal Lea merasa tidak perlu ditemani, dia bisa pulang sendiri ke apartemennya.Daisy menggandeng lengan Lea saa


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore