Beranda / Romansa / Istri Pilihan Untuk Aryan / Bab 6 Rahasia Terbesar

Share

Bab 6 Rahasia Terbesar

Penulis: Iinyoursoul28
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-11 13:19:29

Aghnia baru saja menginjakkan kakinya tepat di lobi perusahaan Pandawa Group. Tempat di mana papa kandungnya bekerja sebagai pemilik serta CEO perusahaan tersebut.

Sebelumnya wanita itu sudah berusaha mencari tahu tentang informasi terkait pria yang bernama Pandu Pandawa di jejaring internet. Tapi tidak banyak hal yang Aghnia dapatkan sepertinya pria itu memang sangat menjaga privasinya.

Namun satu hal yang wanita itu tahu kalau Pandu Pandawa adalah orang terkaya nomor satu di negara mereka jadi wajar saja tidak banyak informasi yang diketahuinya, bahkan foto wajahnya saja dengan sengaja disembunyikan.

“Permisi Mbak, apakah Pak Pandu Pandawa masih bekerja di perusahaan ini?” tanya Aghnia pada resepsionis yang ada di sana.

Sungguh saat ini wanita itu hanya ingin tahu bagaimana rupa sang papa dan berharap bisa melihatnya secara langsung, ya syukur-syukur bisa sekaligus mengobrol.

“Maaf untuk Pak Pandu Pandawa yang dimaksud bekerja di bagian apa ya, Bu?”

Resepsionis tersebut berusaha untuk mencari detail informasi mengenai orang yang dimaksud oleh Aghnia yang mungkin saja ada di bagian lain.

“Kalau tidak salah beliau bekerja sebagai CEO di kantor ini,” jawab Aghnia sambil tersenyum tipis.

Wanita itu hanya takut jika dirinya diusir karena berusaha untuk menemui pria itu, apalagi Aghnia sadar kalau pria yang dicarinya bukanlah orang sembarangan.

“Pak Pandu sejak dua tahun terakhir hanya bekerja dari rumah dan jarang ke kantor tapi kalau saya boleh tahu apa Ibu sudah membuat janji temu dengan beliau?”

Aghnia menggelengkan kepalanya pelan dengan raut wajahnya yang terlihat lesu. Rasanya akan semakin sulit jika wanita itu harus sampai datang ke rumah papa kandungnya tersebut.

“Belum tapi terima kasih untuk informasinya.”

Aghnia memilih untuk segera meninggalkan meja resepsionis karena tidak ingin dipandang aneh apalagi setelah wanita itu menyebutkan nama sang papa.

Tapi ketika wanita itu hendak keluar dari tempat itu, tiba-tiba saja beberapa orang sudah ada di depannya yang menggunakan pakaian serba hitam menghalangi jalannya.

Seorang pria muda yang mungkin umurnya setara dengannya baru saja muncul dengan beberapa orang yang mengikuti di belakangnya. Aghnia bisa menebak kalau pria itu adalah orang penting sehingga dijaga ketat oleh beberapa orang yang ada di depannya.

“Pak Satya semakin lama terlihat semakin tampan ya?” bisik seorang karyawan wanita ketika pria itu serta kumpulan orang berpakaian serba hitam sudah melangkah pergi.

“Tentu apalagi sebentar lagi Pak Satya akan diangkat jadi CEO menggantikan Pak Pandu jadi aura miliardernya semakin kuat sampai bau uangnya semakin tercium,” balas teman karyawan wanita tersebut.

“Apakah pria tadi itu adalah anak papa dari hasil pernikahannya?”

Seketika wanita itu merasa minder saat menyadari statusnya yang hanya berasal dari hasil di luar nikah. Aghnia memilih untuk melangkahkan kakinya menuju toilet karena tidak bisa menahan bendungan air mata yang memang sejak tadi sudah ingin tumpah.

“Bodoh, kenapa aku sampai berani datang ke tempat ini hanya untuk tahu tentang papa kandungku sendiri? Seharusnya aku sadar dan menahan diri untuk tidak datang ke tempat ini.”

Aghnia merutuki dirinya sambil menutupi mulutnya dengan tisu agar suara tangisnya tidak terdengar sampai keluar bilik toilet. Wanita itu menyesal karena sudah menginjakkan kakinya di tempat yang seharusnya tidak Aghnia datangi.

Setelah merasa sudah tenang wanita itu buru-buru keluar dari toilet dan pergi dari perusahaan itu. Tapi saking buru-burunya Aghnia tidak menyadari kalau di depannya ada orang hingga mereka sama-sama terjatuh setelah bertabrakan.

“Maafkan, sa—“

“Pak Pandu, apakah anda tidak apa-apa?”

Mendengar hal itu membuat Aghnia segera mengalihkan pandangannya ke arah pria yang tidak sengaja ditabraknya tadi. Pria paruh baya yang memiliki paras tampan tak kalah tampan dengan putranya yang sebelumnya sudah Aghnia lihat saat di lobi.

“Apakah pria itu benar-benar papa kandungku?”

Pria lain yang sempat menanyakan keadaan beliau sudah membantu Pandu untuk berdiri. Setelah merapihkan pakaiannya Pandu menatap Aghnia yang masih bergeming di tempatnya tanpa berniat bangkit dari sana.

“Ayo bangun biar saya bantu,” tawar Pandu sambil mengulurkan tangannya ke arah Aghnia.

Dengan tangannya yang bergetar serta keringat dingin yang sudah membasahi peluhnya, Aghnia meraih tangan pria yang menurutnya adalah papanya karena di sekelilingnya mulai berdatangan beberapa pria dengan pakaian serba hitam.

“Terima kasih dan saya minta maaf karena sudah menabrak Bapak tadi,” kata Aghnia sambil menundukkan kepalanya.

Entah ini beruntung atau tidak yang jelas rasanya sangat melegakan bagi wanita itu karena satu harapan untuk bertemu dengan sang papa terkabul.

“Tidak apa-apa, tadi juga saya yang salah karena tidak memperhatikan jalan tapi kalau saya boleh tahu apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

Mendengar hal itu membuat Aghnia mengangkat kepalanya dan menatap Pandu dengan dahinya yang berkerut. Wanita itu terkejut kenapa bisa sang papa sampai menanyakan hal itu kepadanya?

“Saya rasa ini pertama kalinya kita bertemu,” jawab Aghnia sambil tersenyum.

“Mungkinkah Papa mengenaliku? Atau memang ikatan di antara kami terasa sangat kuat sehingga Papa bertanya seperti itu?”

“Pa—papa.”

Pria yang sempat Aghnia lihat di lobi tadi kini terlihat sedang setengah berlari ke arah mereka.

Tapi wanita itu memutuskan untuk segera pergi karena tidak ada lagi hal yang Aghnia inginkan apalagi sampai mengganggu kehidupan sang papa seperti pesan mamanya.

“Maaf tapi saya harus pergi sekarang.”

Aghnia segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari perusahaan tersebut. Walau hati wanita itu masih ingin terus berada di sisi sang papa tapi dengan bertemu serta mengobrol sebentar rasanya sudah sangat cukup.

“Ayo Pak, kita pulang sekarang,” titah Aghnia kepada sang sopir ketika wanita itu sudah masuk ke dalam mobil.

Mata wanita itu memang sembab tapi senyum lebar terpampang jelas di wajahnya saat ini.

Andai Aghnia tidak menahan dirinya mungkin wanita itu sempat memeluk tubuh sang papa serta membongkar tentang identitas aslinya.

Tapi ingat tentang sang mama yang sudah bahagia dengan papa tirinya membuat Aghnia tidak ingin melakukan hal itu. Lagi pula kalau diingat kembali keberadaannya adalah aib yang akan membuat siapa pun yang mengetahui akan merasa malu bahkan tertimpa musibah.

Mungkin saja hal ini akan berdampak kepada Aryan dan juga keluarganya jika saja rahasia terbesar di hidupnya sampai bocor. Maka dari itu mungkin memang sebaiknya rahasia itu terus disimpan rapat-rapat agar tidak menyakiti siapa pun.

“Tuhan, terima kasih karena kau sudah mempertemukanku dengan papa, hal yang sudah aku anggap sulit tapi dengan mudah kau kabulkan harapanku.”

Sekarang yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana menjalani pernikahan tanpa cinta Aryan untuk ke depannya. Haruskah Aghnia tetap menjalani pernikahan ini?

Atau mungkin membuat Aryan jatuh cinta kepadanya saja karena yang wanita itu tahu dari awal mengenal pria itu perlakuannya kepada Aghnia selalu terlihat tulus di matanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 32 Penuh Tekanan Dan Emosi

    Haris akhirnya sampai di paviliun timur—tepat di mana putri sulung serta cucunya tinggal. Saat itu Arion dan Dewi sedang sarapan sambil mengobrol ringan.“Ternyata dia benar-benar sudah kembali,” monolog Haris, sudut bibirnya tertarik hingga menampakkan sebuah senyuman dengan matanya yang berkaca-kaca.Ingin rasanya Haris melangkah agar lebih dekat, memeluk erat tubuh putrinya tapi kenangan buruk di masa lalu mereka berhasil membuat kakinya membeku.“Pa, aku tahu kalau Papa kangen sama Mbak Dewi jadi sebaiknya kita langsung temui dia ya,” ajak Haikal yang entah sejak kapan ada di dekat tubuh renta itu.Haris menatap wajah putranya, menggelengkan kepalanya, berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu.“Pa, sampai kapan kita harus terus begini?” tanya Haikal.Langkah kaki pria paruh baya itu terhenti, di hadapannya sudah ada Dewi, Aryan, dan Aghnia yang sedang memperhatikannya.“Pa… untuk kali ini aja turunkan sedikit ego Papa ya, pasti Mbak Dewi juga kangen banget sama Papa,” kata Ayu

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 31 Putri Kesayangan Haris Kembali

    “Tapi Ma, ak—”“Kamu tunggu aja di sana ya karena kali ini Mama yang bakalan datang ke sana buat kamu jadi kamu tunggu aja ya di paviliun timur, kan?” potong Dewi.Seketika sebuah senyum muncul di wajah tampan Arion, ingin pura-pura tidak mendengar dan memastikannya kembali tapi ia jika sang mama berubah pikiran.“Iya Mak, aku di paviliun timur,” jawab Arion yang tanpa sadar menganggukkan kepalanya, suaranya terdengar sangat bersemangat.Siapa yang tidak akan semangat jika orang yang disayanginya akan datang untuk menemuinya.***“Aryan…”“Hmmm…”Pria itu melirik sebentar ke arah istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan kembali menatap layar ponselnya.“Terima kasih untuk makan malam hari ini,” kata Aghnia.“Sama-sama, aku pikir seharusnya kita lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga agar bisa saling mengenal dan lebih dekat seperti yang kata kamu waktu itu.”Sudut bibir wanita itu tertarik lebar, ia tidak menyangka kalau Aryan akan mengikuti apa yang dia katakan.

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 30 Rasa Penasaran

    Pandu menggelengkan kepala, tersenyum tipis, sebisa mungkin pria paruh baya itu berusaha menutupi rasa gugupnya agar putranya tidak curiga.“Dia itu putranya Pak Tomi.”“Pak Tomi yang dulu jadi asisten pribadi Papa, kan?”Pandu menganggukkan kepala. “Iya… tadi itu dia ke sini rencananya mau pinjam duit karena Pak Tomi sedang sakit, terus ya Papa kasih aja, hitung-hitung sebagai cara Papa bantu dia.”“Ooo… aku pikir siapa gitu. Tapi minggu depan Papa jadi kan medical check up ke Singapura?”“Minggu depan ya?”“Iya minggu depan, jangan bilang Papa ada janji sama orang lain terus lupa deh.”Pandu terkekeh. “Enggak kok.”“Bagus deh jadi minggu depan aku bisa sekalian temani Papa ke Singapura.” Satya tersenyum.“Kamu sebenarnya enggak harus kok temani Papa, kamu itu seharusnya pergi berlibur cari jodoh, Satya.”“Yah… jodoh lagi yang dibahas deh,” kata Satya sambil membuang napas kesal.“Ya iya dong, kan Papa juga mau punya cucu dari kamu.”Pria paruh baya itu tersenyum puas ketika melihat

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 29 Masuk Tanpa Permisi

    “Jujur aku senang sekali karena akhirnya kamu mau ikut andil mengurus perusahaan Kakek, Rion.” Aryan melirik ke arah sepupunya yang tersenyum sambil menyedot kopi miliknya.“Aku juga sangat senang tapi apa kamu tidak khawatir kalau pertemuan kita ini malah membuatmu kehilangan banyak hal?”“Maksudmu?” Aryan mengeryitkan dahinya.Arion meletakkan gelas kopi miliknya di atas meja, menatap ke arah lurus, menikmati angin segar yang berhembus di sekitar area rooftop.“Ya sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sini sebagai cucu keluarga ini beberapa orang di sini mengira kalau aku mulai mengincar posisi pewaris yang sudah melekat padamu.”Pria itu menoleh ke arah sepupunya yang malah kelihatan santai, tidak ada perasaan takut apalagi merasa tersaingi. Malah Aryan sendiri sempat terkekeh ketika mendengar penjelasannya.“Kalau boleh jujur aku sama sekali tidak peduli dengan siapa yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan Kakek, malah kalau aku akan sangat senang jika kamu mau menerimanya

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 28 Ide Bagus

    “Aghnia, apa sejak menikah kamu langsung tinggal di kediamaan Athaya?”Pria itu membuka obrolan di antara mereka ketika pesanan makanan dan minuman sudah lengkap tersaji di hadapan mereka.“Ya sejak aku resmi menjadi istri Aryan, aku langsung di bawa untuk tinggal di paviliun.”“Jadi…” Aghnia melirik ke arah pria itu yang santai mengiris steik yang ada di hadapannya, ada raut khawatir yang terpancar di wajah ayunya karena tadi ia hampir keceplosan tentang kisah hidup Aryan di masa lalu.“Kamu mungkin sudah tahu kan mengenai ceritaku dan keluargaku terutama mendiang papaku?” lanjut Arion sambil melemparkan pandangannya ke arah wanita di hadapannya yang ternyata juga sedang memperhatikannya.Tuh kan bener!Buru-buru Aghnia memutar bola matanya menatap makanan miliknya dan juga perlahan menelan salivanya. Ia benar-benar bingung harus berkata jujur atau berbohong saja kali ini.“Aku berharap kamu bisa jujur, Aghnia,” tambah Arion.“Emm…” wanita itu mengangkat kepalanya. “Ya aku pernah men

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 27 Mencari Tahu

    “Mbak Aghnia…”Suara Doni berhasil mengalihkan fokus Aghnia yang memang sedang menunggunya di ruang tunggu, ada di lobi tidak jauh dari resepsionis. Wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum ke arahnya.“Mbak Aghnia, ada apa ke kantor? Cari Mas Aryan ya?”“E—““Tapi sayang Mbak, Mas Aryan lagi di luar,” sela Doni.“Oh lagi di luar, meeting ya?”Doni menggelengkan kepalanya, menampilkan senyumnya yang sengaja dipaksa. “Enggak Mbak tadi Mas Aryan bilang mau ketemu sekaligus makan siang sama teman lamanya.”“Oh, gitu… tapi boleh enggak kalau kita ngobrol sebentar? Kamu sibuk enggak, Don?”“Ngobrol soal apa ya, Mbak?”Mendadak Doni merasa khawatir karena takut dicecar berbagai macam pertanyaan tentang sang bos yang tidak ada di tempatnya. Apalagi sebelumnya Aryan sudah berpesan untuk tidak sembarangan bicara dengan Aghnia agar wanita itu tidak curiga.“Sini duduk dulu ya.” Tanpa sadar Aghnia meraih tangan pria itu agar bisa duduk bersamanya. “Aku cuma mau tanya apa kamu ada fo

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status