MasukSetelah dipikirkan kembali akhirnya Aghnia memilih untuk menjalani pernikahannya bersama Aryan sesuai saran yang diberikan oleh Doni pagi ini. Tentu dengan harapan kalau cintanya yang tulus dan juga penuh gairah dapat membuat pria itu berubah hingga jatuh cinta kepadanya.
Walau hatinya sempat sakit ketika menerima kenyataan kalau Aryan menikahinya dengan alasan lain tapi wanita itu sudah benar-benar jatuh cinta dengan segala perlakuan manis serta rasa perhatian yang diberikan pria itu sebelum Aghnia tahu kebenarannya.
“Jadi, apakah kamu sudah memikirkannya? Maksudku, apakah kamu ingin bercerai atau tetap menjalani pernikahan ini?”
Suara Aryan mampu mengagetkan Aghnia yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya. Pria itu memang langsung masuk ke kamarnya ketika melihat Aghnia yang keluar dari mobil melalui jendela yang ada di ruang kerjanya.
“Apakah kau tidak bisa menunggu sebentar? Setidaknya jangan muncul tiba-tiba seperti ini karena kau hampir membuat jantungku copot,” omel Aghnia.
Aryan tersenyum seolah tidak menyadari kesalahannya apalagi setelah mendapatkan tatapan tajam dari wanita itu. Jujur saja saat ini Aryan merasa senang ketika berhasil membuat Aghnia kesal.
Rasanya seperti ada kepuasaan tersendiri yang dirasakan oleh pria itu, tapi apakah hal itu bisa dibilang dengan munculnya benih cinta yang tidak disadari oleh Aryan?
“Maaf karena sudah membuatmu terkejut tapi hal ini sangat penting bagiku jadi aku harus tahu keputusan apa yang akan kau ambil.”
Aghnia mengeryitkan dahinya dengan kedua manik matanya yang masih menatap Aryan. Tapi tiba-tiba saja Aghnia ingin tahu bagaimana reaksi pria itu jika ia menggodanya.
“Tunggu, kenapa kau bilang hal ini sangat penting bagimu? Apakah kau takut jika aku meninggalkanmu? Atau kau takut jika terus bersamaku, kau akan jatuh cinta kepadaku, Aryan?”
Pertanyaan macam apa itu? Kenapa rasanya terdengar tidak menguntungkan untuk Aryan. Apakah mungkin Aghnia ingin tahu tentang isi hari pria itu?
“Aku mohon jawab pertanyaanku dengan jujur, aku masih berharap kalau kau juga merasakan cinta yang sama denganku walau rasa itu hanya sedikit, Aryan.”
Jujur saja ketika melemparkan beberapa pertanyaan tersebut kepada Aryan, wanita itu merasa gugup serta takut jika jawaban tidak sesuai dengan harapannya hingga sakit hatinya akan semakin dalam.
“Mungkin jawaban yang lebih tepat adalah aku takut jika kau meninggalkanku,” jawab Aryan sambil memalingkan wajahnya.
“Tapi lebih tepatnya aku takut jika kau memilih untuk bercerai dan kakek akan terus memaksaku untuk kembali menikah dengan wanita pilihannya yang lain jadi....”
Ingatan Aryan kembali berputar tentang obrolannya bersama Doni di telepon setelah wanita itu benar-benar pergi meninggalkan paviliun.
“Ha—halo Mas Aryan,” sapa Doni dengan suaranya yang terdengar sedikit bergetar. Sepertinya pria itu takut dimarahi oleh Aryan karena sudah menceritakan tentang masa bosnya.
“Kenapa lama sekali kau menjawab teleponku?” omel Aryan karena sudah beberapa kali panggilan teleponnya tidak dijawab oleh asisten pribadinya tersebut.
“Ma—maaf Mas tapi tadi saya....”
“Sudahlah aku tidak mau mendengarkan alasanmu tapi kau harus membantuku sekarang karena Agnhia sudah tahu kalau aku menikahinya karena paksaan dari kakek.”
“Apa? Kenapa Mas Aryan membiarkan Mbak Aghnia tahu tentang hal itu?”
Doni terkejut karena sekarang wanita itu sudah tahu banyak bahkan tentang Aryan yang selama ini pura-pura menyukainya. Tentu saja pria itu semakin bersalah kepada Aghnia yang dianggapnya adalah wanita yang sangat baik tersebut.
“Malam itu aku merasa muak karena harus terus berpura-pura jadi tanpa sadar aku mengatakannya tapi sekarang aku harus bagaimana?” tanya Aryan dengan nada suaranya yang perlahan terdengar melemah.
Bingung, mungkin kata itu yang tepat menggambarkan keadaannya saat ini. Aryan memang tidak pandai hidup dengan penuh kebohongan sehingga malam itu tanpa sengaja mengungkapkan isi hatinya begitu saja kepada Aghnia.
Memang terdengar menyakitkan tapi itulah Aryan yang selalu bersikap ceplas-ceplos. Tapi ada baiknya juga karena Aghnia sudah tahu sebelum mereka membuat kenangan terlalu banyak.
Doni terdengar membuang napas berat karena sang bos yang selalu saja berulah. Kalau sudah begini pria itu yang juga akan ikutan repot karena harus mencari solusi atas masalahnya.
“Kalau begitu lebih baik Mas Aryan berdoa saja kalau Mbak Aghnia masih ingin mempertahankan pernikahan kalian karena kalau saya jadi beliau juga saya ogah lama-lama hidup sama Mas Aryan yang....”
“Jadi kau sudah bosan bekerja denganku? Begitu ‘kan maksudmu?” potong Aryan dengan nada bicaranya yang terdengar sedikit meninggi akibat merasa kesal mendengar jawab dari asisten pribadinya.
“Ih Mas bukan begitu loh maksud aku.”
“Kali ini aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak bisa memberikan solusi untukku, jadi lebih baik cepat pikirkan cara terbaik yang harus aku lakukan untuk membuat Aghnia mempertahankan pernikahan kami,” ancam Aryan.
“Tunggu sebentar Mas biar aku pikirkan.”
Obrolan mereka pun hening hingga beberapa detik sampai akhirnya Doni kembali membuka suaranya.
“Mas saat ini saran yang aku punya hanyalah berusaha bersikap baiklah kepada Mbak Aghnia atau mulai saja dengan membuka hatimu kepadanya agar pernikahan kalian bisa bertahan lama.”
Membuka hati rasanya terdengar sulit bagi Aryan apalagi di hatinya masih ada nama yang sejak beberapa tahun ini bersemayam di hatinya yaitu “Bella”.
Wanita itu adalah cinta pertama sekaligus orang yang mengenalkan Aryan rasa manis dan juga pahitnya tentang sebuah arti cinta. Tapi Aryan tidak pernah menyalahkan wanita itu atas kepergiannya walau sampai saat ini pria itu masih merasakan sakit kehilangan tersebut.
Aryan mengerti kalau Bella mungkin tidak tahan jika terus hidup bersamanya yang selalu sibuk mempersiapkan diri untuk menjadi pewaris Athaya Group.
“Mungkin aku akan memilih opsi pertama yaitu berusaha berbuat baik kepadanya tapi untuk membuka hati rasanya itu mustahil.”
Jadi wajar saja jika Aryan memberikan jawabanya yang mampu membuat hati wanita itu terasa berbunga-bunga. Hanya ini cara yang pria itu punya agar Aghnia masih mau mempertahankan pernikahan mereka.
“Baiklah, aku setuju untuk mempertahankan pernikahan kita.” Jawaban Aghnia berhasil membuat sudut bibir pria itu tertarik dengan lebar hingga pria itu menoleh.
“Tapi sampai kapan kita akan seperti ini?” tanya Aghnia.
“Entahlah aku belum memikirkannya tapi mu—“
“Kalau begitu, bolehkah aku saja yang menentukannya kali ini?” potong Aghnia dengan nada memohon yang langsung dijawab anggukan oleh pria itu.
“Jadi aku berniat mengakhiri pernikahan kita jika dalam tiga kali pernyataan cintaku ditolak olehmu,” lanjut Aghnia yang kali ini menghindari kontak mata dengan Aryan dengan menatap ke arah lain.
“Kenapa harus seperti itu? Apakah mungkin kau benar-benar sudah jatuh cinta kepadaku, Aghnia?” tanya Aryan dengan nada bicara yang terdengar sangat berhati-hati.
Biasanya mungkin Aryan akan mengabaikan wanita yang mengungkapkan isi hatinya kepadanya tapi kali ini jika Aghnia yang mengungkapkannya apa yang harus pria itu lakukan?
Rasanya Aryan benar-benar terjebak dengan permainannya sendiri sekarang. Pria itu tidak bisa membayangkan jika Aghnia nanti akan mengatakan isi hatinya lalu setelah itu mereka akan bercerai.
“Menurutmu, apakah aku tidak akan jatuh cinta setelah dalam waktu satu bulan kau memperlakukanku seperti layaknya ratu yang akan hidup di hatimu selamanya?”
Aghnia sengaja menjawab pertanyaan sang suami dengan pertanyaan juga. Selain itu, Aghnia tidak ragu menatap kedua mata pria itu seolah untuk menunjukkan kalau wanita itu memang sudah jatuh cinta kepada Aryan.
Haris akhirnya sampai di paviliun timur—tepat di mana putri sulung serta cucunya tinggal. Saat itu Arion dan Dewi sedang sarapan sambil mengobrol ringan.“Ternyata dia benar-benar sudah kembali,” monolog Haris, sudut bibirnya tertarik hingga menampakkan sebuah senyuman dengan matanya yang berkaca-kaca.Ingin rasanya Haris melangkah agar lebih dekat, memeluk erat tubuh putrinya tapi kenangan buruk di masa lalu mereka berhasil membuat kakinya membeku.“Pa, aku tahu kalau Papa kangen sama Mbak Dewi jadi sebaiknya kita langsung temui dia ya,” ajak Haikal yang entah sejak kapan ada di dekat tubuh renta itu.Haris menatap wajah putranya, menggelengkan kepalanya, berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu.“Pa, sampai kapan kita harus terus begini?” tanya Haikal.Langkah kaki pria paruh baya itu terhenti, di hadapannya sudah ada Dewi, Aryan, dan Aghnia yang sedang memperhatikannya.“Pa… untuk kali ini aja turunkan sedikit ego Papa ya, pasti Mbak Dewi juga kangen banget sama Papa,” kata Ayu
“Tapi Ma, ak—”“Kamu tunggu aja di sana ya karena kali ini Mama yang bakalan datang ke sana buat kamu jadi kamu tunggu aja ya di paviliun timur, kan?” potong Dewi.Seketika sebuah senyum muncul di wajah tampan Arion, ingin pura-pura tidak mendengar dan memastikannya kembali tapi ia jika sang mama berubah pikiran.“Iya Mak, aku di paviliun timur,” jawab Arion yang tanpa sadar menganggukkan kepalanya, suaranya terdengar sangat bersemangat.Siapa yang tidak akan semangat jika orang yang disayanginya akan datang untuk menemuinya.***“Aryan…”“Hmmm…”Pria itu melirik sebentar ke arah istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan kembali menatap layar ponselnya.“Terima kasih untuk makan malam hari ini,” kata Aghnia.“Sama-sama, aku pikir seharusnya kita lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga agar bisa saling mengenal dan lebih dekat seperti yang kata kamu waktu itu.”Sudut bibir wanita itu tertarik lebar, ia tidak menyangka kalau Aryan akan mengikuti apa yang dia katakan.
Pandu menggelengkan kepala, tersenyum tipis, sebisa mungkin pria paruh baya itu berusaha menutupi rasa gugupnya agar putranya tidak curiga.“Dia itu putranya Pak Tomi.”“Pak Tomi yang dulu jadi asisten pribadi Papa, kan?”Pandu menganggukkan kepala. “Iya… tadi itu dia ke sini rencananya mau pinjam duit karena Pak Tomi sedang sakit, terus ya Papa kasih aja, hitung-hitung sebagai cara Papa bantu dia.”“Ooo… aku pikir siapa gitu. Tapi minggu depan Papa jadi kan medical check up ke Singapura?”“Minggu depan ya?”“Iya minggu depan, jangan bilang Papa ada janji sama orang lain terus lupa deh.”Pandu terkekeh. “Enggak kok.”“Bagus deh jadi minggu depan aku bisa sekalian temani Papa ke Singapura.” Satya tersenyum.“Kamu sebenarnya enggak harus kok temani Papa, kamu itu seharusnya pergi berlibur cari jodoh, Satya.”“Yah… jodoh lagi yang dibahas deh,” kata Satya sambil membuang napas kesal.“Ya iya dong, kan Papa juga mau punya cucu dari kamu.”Pria paruh baya itu tersenyum puas ketika melihat
“Jujur aku senang sekali karena akhirnya kamu mau ikut andil mengurus perusahaan Kakek, Rion.” Aryan melirik ke arah sepupunya yang tersenyum sambil menyedot kopi miliknya.“Aku juga sangat senang tapi apa kamu tidak khawatir kalau pertemuan kita ini malah membuatmu kehilangan banyak hal?”“Maksudmu?” Aryan mengeryitkan dahinya.Arion meletakkan gelas kopi miliknya di atas meja, menatap ke arah lurus, menikmati angin segar yang berhembus di sekitar area rooftop.“Ya sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sini sebagai cucu keluarga ini beberapa orang di sini mengira kalau aku mulai mengincar posisi pewaris yang sudah melekat padamu.”Pria itu menoleh ke arah sepupunya yang malah kelihatan santai, tidak ada perasaan takut apalagi merasa tersaingi. Malah Aryan sendiri sempat terkekeh ketika mendengar penjelasannya.“Kalau boleh jujur aku sama sekali tidak peduli dengan siapa yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan Kakek, malah kalau aku akan sangat senang jika kamu mau menerimanya
“Aghnia, apa sejak menikah kamu langsung tinggal di kediamaan Athaya?”Pria itu membuka obrolan di antara mereka ketika pesanan makanan dan minuman sudah lengkap tersaji di hadapan mereka.“Ya sejak aku resmi menjadi istri Aryan, aku langsung di bawa untuk tinggal di paviliun.”“Jadi…” Aghnia melirik ke arah pria itu yang santai mengiris steik yang ada di hadapannya, ada raut khawatir yang terpancar di wajah ayunya karena tadi ia hampir keceplosan tentang kisah hidup Aryan di masa lalu.“Kamu mungkin sudah tahu kan mengenai ceritaku dan keluargaku terutama mendiang papaku?” lanjut Arion sambil melemparkan pandangannya ke arah wanita di hadapannya yang ternyata juga sedang memperhatikannya.Tuh kan bener!Buru-buru Aghnia memutar bola matanya menatap makanan miliknya dan juga perlahan menelan salivanya. Ia benar-benar bingung harus berkata jujur atau berbohong saja kali ini.“Aku berharap kamu bisa jujur, Aghnia,” tambah Arion.“Emm…” wanita itu mengangkat kepalanya. “Ya aku pernah men
“Mbak Aghnia…”Suara Doni berhasil mengalihkan fokus Aghnia yang memang sedang menunggunya di ruang tunggu, ada di lobi tidak jauh dari resepsionis. Wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum ke arahnya.“Mbak Aghnia, ada apa ke kantor? Cari Mas Aryan ya?”“E—““Tapi sayang Mbak, Mas Aryan lagi di luar,” sela Doni.“Oh lagi di luar, meeting ya?”Doni menggelengkan kepalanya, menampilkan senyumnya yang sengaja dipaksa. “Enggak Mbak tadi Mas Aryan bilang mau ketemu sekaligus makan siang sama teman lamanya.”“Oh, gitu… tapi boleh enggak kalau kita ngobrol sebentar? Kamu sibuk enggak, Don?”“Ngobrol soal apa ya, Mbak?”Mendadak Doni merasa khawatir karena takut dicecar berbagai macam pertanyaan tentang sang bos yang tidak ada di tempatnya. Apalagi sebelumnya Aryan sudah berpesan untuk tidak sembarangan bicara dengan Aghnia agar wanita itu tidak curiga.“Sini duduk dulu ya.” Tanpa sadar Aghnia meraih tangan pria itu agar bisa duduk bersamanya. “Aku cuma mau tanya apa kamu ada fo







