Beranda / Romansa / Istri Pilihan Untuk Aryan / Bab 5 Seperti Bunglon

Share

Bab 5 Seperti Bunglon

Penulis: Iinyoursoul28
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-02 13:55:27

“Berhenti di situ atau aku akan berteriak, Aryan!”

Ancaman wanita itu terdengar lucu di telinga Aryan hingga pria itu sempat terkekeh sebentar. Sementara Aghnia yang belum sadar hanya bisa mengerutkan dahinya.

“Apa kamu pikir dengan berteriak orang-orang akan datang lalu menyeretku keluar dari kamar ini?”

Seketika Aghnia mulai paham maksud ucapan Aryan hingga merutuki dirinya yang sangat bodoh. “Astaga Aghnia, bagaimana mungkin kamu dengan berani memberikan ancaman seperti itu kepada suamimu sendiri?”

“Tentu saja bisa setelah aku mengatakan kalau kamu baru saja melakukan tindak kdrt kepadaku,” jawab Aghnia asal.

“Oh, ya? Kalau begitu lakukan saja sekarang atau kau ingin melakukannya setelah aku melakukan hal buruk kepadamu?”

Aryan menantang wanita itu seolah tidak mau kalah hingga Aghnia merasa sangat kesal dengan sikapnya. Sungguh rasanya Aghnia sangat rindu dengan sikap Aryan yang dulu walau penuh dengan kepura-puraan.

“Sudahlah, jangan bahas hal ini lagi tapi aku benar-benar ingin tahu ke depannya kamu ingin pernikahan kita seperti apa nantinya? Jujur saja, aku bingung dengan sikapmu yang mudah berubah seperti bunglon.”

“Beraninya dia menyamakan aku dengan bunglon.”

Aryan seakan tidak terima dengan wanita itu yang menyamakannya dengan hewan, hal itu terlihat jelas dari kepalan tangannya.

Namun wajar saja Aghnia menilainya seperti itu karena memang yang terjadi sikap Aryan gampang berubah-ubah dalam sekejap. Sampai detik ini saja Aryan belum punya rencana yang jelas selain mengikuti ide gila Doni.

“Aku hanya ingin kau tetap berada di sisiku sebagai istriku dan berpura-pura mencintaiku sama seperti yang aku lakukan selama ini.”

Aryan sengaja menghindari kontak mata dengan Aghnia karena merasa sangat bersalah sudah melibatkan wanita itu masuk ke dalam urusan pribadinya.

Benar sampai saat ini pria itu belum bisa melupakan masa lalunya yang tiba-tiba saja menghilang serta meninggalkannya begitu saja. Dan apa yang dilakukan Aryan apalagi sampai meniduri beberapa wanita adalah bentuk pelampiasan rasa sakit hatinya.

Awalnya Aryan akan menjalin hubungan dengan wanita itu selama tiga hari atau paling lama seminggu, jika sudah bosan tanpa ragu pria itu akan mencari wanita lain.

“Seenaknya saja dia mempermainkan perasaanku, andai aku tahu sejak awal dia tidak benar-benar mencintaiku maka aku akan melindungi hatiku untuk tidak jatuh cinta dengannya.”

Aghnia mengepalkan tangannya hingga memutih, rasanya wanita itu ingin sekali meninju wajah Aryan. Hatinya saja sampai saat ini masih merasa sakit akibat ulahnya.

Bukankah seharusnya Aryan meminta maaf terlebih dulu kepada Aghnia tentang hal ini ya?

“Sampai kapan kita harus memainkan peran palsu itu?” tanya Aghnia yang berhasil membuat pria itu mengangkat kepalanya serta menoleh ke arahnya.

“Soal itu...” Jujur sampai saat ini Aryan tidak tahu sampai kapan ingin melakukan hal tersebut. “Aku belum tahu sampai kapan tapi jika kau tidak mau kita bisa segera bercerai.”

Aryan benar-benar tidak ingin membawa wanita itu terlalu jauh masuk ke dalam pusaran masalahnya tapi semua tergantung pada Aghnia nanti.

Ponsel Aghnia berdering dengan menampilkan kontak nama sang mama di sana sehingga wanita itu segera menjawab panggilan tersebut dengan menjauhkan diri dari Aryan. Bahkan sampai keluar dari kamarnya.

“Halo Ma, ada apa?”

“Tidak apa-apa tapi sejak semalam Mama kepikiran soal kamu tapi mungkin saja karena untuk pertama kalinya kamu jauh dari Mama dan Papa.”

“Apakah mungkin naluri seorang Ibu sangat kuat seperti ini hingga beliau sampai mengkhawatirkanku walau kami terpisah jauh?”

Aghnia benar-benar merasa terharu dengan ikatan batin yang tercipta antara dirinya dan juga dengan sang mama.

Tapi wanita itu memilih untuk tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi karena tidak ingin membuat beliau dan juga keluarganya yang lain merasa khawatir.

“Tapi, apakah Mama mengganggu dengan menghubungimu pagi-pagi begini?” tambah Citra yang tidak ingin menggangu putrinya tepat di hari pertama Aghnia berada di rumah suaminya.

“Tidak kok Ma, sebenarnya kami baru saja selesai sarapan dan sekarang aku sedang bingung harus melakukan apa.”

Aghnia menggaruk dahinya yang tidak gatal sambil tersenyum tipis. Memang tidak ada rencana apa pun bahkan untuk sekedar bulan madu sampai saat ini dan Aryan tidak mengatakan hal apa pun.

Lebih tepatnya mungkin hal itu juga tidak akan terjadi mengingat pria itu bukan suami nyata alias suami palsu atau hanya sebatas title saja.

“Memangnya kalian tidak membahas tentang bulan madu?”

“Eh—“

“Belum Ma tapi mungkin nanti aku dan Aryan akan membahasnya setelah ini,” dusta Aghnia dengan keringat dingin yang tiba-tiba saja muncul.

“Ya sudah tapi di mana pun kamu berada jangan lupa untuk jaga kesehatanmu dan juga usahakan untuk memenuhi tanggung jawabmu sebagai seorang istri, Aghnia,” pesan Citra.

Mendengar hal itu tentu membuat batin Aghnia semakin tersiksa mengingat apa yang sebenarnya terjadi jauh lebih menyakitkan. Namun rasanya akan lebih menyakinkan lagi jika seluruh keluarga Aghnia terutama sang mama tahu tentang semua ini.

“Maafkan aku ya Ma karena sudah berbohong dengan mengatakan semuanya baik-baik saja.”

“Iya, Ma.” Kedua manik mata Aghnia terlihat berkaca-kaca karena wanita itu tidak mampu menyembunyikan kesedihannya.

“Oh ya Ma, bolehkah aku menagih janji Mama waktu itu mengenai identitas asli papa?” tanya Aghni untuk mengalihkan pembicaraan mereka agar tidak lagi terjebak semakin jauh dengan rasa sakit yang sedang dialaminya.

Lebih tepatnya Aghnia tidak ingin jika dinding pertahanannya runtuh sehingga wanita itu kelepasan menangis dari balik telepon. Atau mungkin semakin banyak kebohongan yang diberikannya kepada sang mama.

“Mama kira kamu sudah lupa tentang hal itu karena sekarang sudah ada Aryan yang menemani hidupmu,” gurau Citra.

“Mana mungkin aku bisa lupa tentang hal itu karena....” Aghnia menghentikan ucapannya setelah menyadari kalau dirinya hampir saja kelepasan dengan mengatakan tujuannya menikah untuk hal tersebut.

“Ya sudah tapi jika Mama sudah mengatakannya kamu hanya boleh sekedar tahu saja ya, maksud Mama adalah biarkan dia menjalani hidupnya dengan keluarganya tanpa adanya bayang-bayang tentang kita.”

“Mama hanya tidak ingin kalau nantinya kamu terluka setelah mengetahui sifat asli papamu atau mungkin keluarganya yang tidak bisa menerima keberadaanmu,” lanjut Citra.

“I—iya, Ma.”

“Ya sudah kalau begitu nanti Mama kirimkan lewat pesan saja karena Mama tidak enak jika kamu terlalu lama bicara lewat telepon dengan Mama.”

Obrolan mereka pun terputus lalu tidak lama Aghnia menerima sebuah pesan dari sang mama hingga membuat rasa penasaran tumbuh di dalam dirinya.

Wanita itu bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya lalu mengambil tas kecil miliknya.

Sementara Aryan sempat terkejut melihat istrinya yang terlihat buru-buru ingin pergi padahal pria itu sedang menunggunya untuk kembali mengobrol.

“Kau mau ke mana? Apakah terjadi sesuatu?” tanya Aryan.

Aghnia menghentikan langkahnya dan menatap pria yang tengah bersandar di kepala tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Wanita itu seketika ingat kalau sebelumnya mereka sedang mengobrol.

“Aku ingin keluar sebentar karena ada urusan penting jadi mungkin kita akan mengobrol lagi nanti.”

“Apa mau aku antar?” tawar Aryan.

Lagi-lagi Aghnia menilai kalau suaminya seakan sedang memberikan perhatian serta mengkhawatirkan dirinya hingga membuat wanita itu ingin menangis detik itu juga.

Seharusnya Aryan tidak bersikap demikian karena hal tersebut akan membuat luka di hatinya yang akan semakin sulit sembuh.

“Tidak usah repot-repot tapi aku bisa pergi sendiri,” tolak Aghnia sambil memalingkan wajahnya dari pria itu.

“Kalau kau tidak ingin aku antar sebaiknya biar sopir yang mengantar.”

Tawaran Aryan kali ini membuat Aghnia benar-benar semakin kesal dengan pria itu.

Sebenarnya apa sih maunya? Karena selama ini sikapnya sungguh labil seperti pemuda yang sedang mencari jati dirinya.

“Tunggu, kamu jangan salah paham dulu tapi aku hanya tidak ingin jika kakek atau yang lainnya sampai menilai kalau aku tidak perhatian kepadamu,” jelas Aryan ketika mendapat tatapan sinis dari wanita itu.

Apa yang dikatakan Aryan memang benar walau Aghnia kesal dengan sikapnya yang selalu berubah-ubah tapi wanita itu berusaha untuk menerima penjelasan yang diberikannya.

“Baiklah, aku akan pergi dengan sopir tapi aku tidak ingin terlalu lama menunggu,” pesan Aghnia yang langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar.

Sekarang bukan hanya Aghnia yang merasa kesal dengan tingkah pria itu tapi Aryan juga merasakan yang sama kali ini. Apalagi dengan sikap Aghnia yang dianggapnya sangat tegas dan tidak suka bertele-tele.

Aryan segera menghubungi sopir pribadinya untuk segera bersiap karena mungkin sebentar lagi atau bahkan saat ini wanita itu sudah menunggu di pintu utama paviliun mereka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 32 Penuh Tekanan Dan Emosi

    Haris akhirnya sampai di paviliun timur—tepat di mana putri sulung serta cucunya tinggal. Saat itu Arion dan Dewi sedang sarapan sambil mengobrol ringan.“Ternyata dia benar-benar sudah kembali,” monolog Haris, sudut bibirnya tertarik hingga menampakkan sebuah senyuman dengan matanya yang berkaca-kaca.Ingin rasanya Haris melangkah agar lebih dekat, memeluk erat tubuh putrinya tapi kenangan buruk di masa lalu mereka berhasil membuat kakinya membeku.“Pa, aku tahu kalau Papa kangen sama Mbak Dewi jadi sebaiknya kita langsung temui dia ya,” ajak Haikal yang entah sejak kapan ada di dekat tubuh renta itu.Haris menatap wajah putranya, menggelengkan kepalanya, berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu.“Pa, sampai kapan kita harus terus begini?” tanya Haikal.Langkah kaki pria paruh baya itu terhenti, di hadapannya sudah ada Dewi, Aryan, dan Aghnia yang sedang memperhatikannya.“Pa… untuk kali ini aja turunkan sedikit ego Papa ya, pasti Mbak Dewi juga kangen banget sama Papa,” kata Ayu

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 31 Putri Kesayangan Haris Kembali

    “Tapi Ma, ak—”“Kamu tunggu aja di sana ya karena kali ini Mama yang bakalan datang ke sana buat kamu jadi kamu tunggu aja ya di paviliun timur, kan?” potong Dewi.Seketika sebuah senyum muncul di wajah tampan Arion, ingin pura-pura tidak mendengar dan memastikannya kembali tapi ia jika sang mama berubah pikiran.“Iya Mak, aku di paviliun timur,” jawab Arion yang tanpa sadar menganggukkan kepalanya, suaranya terdengar sangat bersemangat.Siapa yang tidak akan semangat jika orang yang disayanginya akan datang untuk menemuinya.***“Aryan…”“Hmmm…”Pria itu melirik sebentar ke arah istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan kembali menatap layar ponselnya.“Terima kasih untuk makan malam hari ini,” kata Aghnia.“Sama-sama, aku pikir seharusnya kita lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga agar bisa saling mengenal dan lebih dekat seperti yang kata kamu waktu itu.”Sudut bibir wanita itu tertarik lebar, ia tidak menyangka kalau Aryan akan mengikuti apa yang dia katakan.

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 30 Rasa Penasaran

    Pandu menggelengkan kepala, tersenyum tipis, sebisa mungkin pria paruh baya itu berusaha menutupi rasa gugupnya agar putranya tidak curiga.“Dia itu putranya Pak Tomi.”“Pak Tomi yang dulu jadi asisten pribadi Papa, kan?”Pandu menganggukkan kepala. “Iya… tadi itu dia ke sini rencananya mau pinjam duit karena Pak Tomi sedang sakit, terus ya Papa kasih aja, hitung-hitung sebagai cara Papa bantu dia.”“Ooo… aku pikir siapa gitu. Tapi minggu depan Papa jadi kan medical check up ke Singapura?”“Minggu depan ya?”“Iya minggu depan, jangan bilang Papa ada janji sama orang lain terus lupa deh.”Pandu terkekeh. “Enggak kok.”“Bagus deh jadi minggu depan aku bisa sekalian temani Papa ke Singapura.” Satya tersenyum.“Kamu sebenarnya enggak harus kok temani Papa, kamu itu seharusnya pergi berlibur cari jodoh, Satya.”“Yah… jodoh lagi yang dibahas deh,” kata Satya sambil membuang napas kesal.“Ya iya dong, kan Papa juga mau punya cucu dari kamu.”Pria paruh baya itu tersenyum puas ketika melihat

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 29 Masuk Tanpa Permisi

    “Jujur aku senang sekali karena akhirnya kamu mau ikut andil mengurus perusahaan Kakek, Rion.” Aryan melirik ke arah sepupunya yang tersenyum sambil menyedot kopi miliknya.“Aku juga sangat senang tapi apa kamu tidak khawatir kalau pertemuan kita ini malah membuatmu kehilangan banyak hal?”“Maksudmu?” Aryan mengeryitkan dahinya.Arion meletakkan gelas kopi miliknya di atas meja, menatap ke arah lurus, menikmati angin segar yang berhembus di sekitar area rooftop.“Ya sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sini sebagai cucu keluarga ini beberapa orang di sini mengira kalau aku mulai mengincar posisi pewaris yang sudah melekat padamu.”Pria itu menoleh ke arah sepupunya yang malah kelihatan santai, tidak ada perasaan takut apalagi merasa tersaingi. Malah Aryan sendiri sempat terkekeh ketika mendengar penjelasannya.“Kalau boleh jujur aku sama sekali tidak peduli dengan siapa yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan Kakek, malah kalau aku akan sangat senang jika kamu mau menerimanya

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 28 Ide Bagus

    “Aghnia, apa sejak menikah kamu langsung tinggal di kediamaan Athaya?”Pria itu membuka obrolan di antara mereka ketika pesanan makanan dan minuman sudah lengkap tersaji di hadapan mereka.“Ya sejak aku resmi menjadi istri Aryan, aku langsung di bawa untuk tinggal di paviliun.”“Jadi…” Aghnia melirik ke arah pria itu yang santai mengiris steik yang ada di hadapannya, ada raut khawatir yang terpancar di wajah ayunya karena tadi ia hampir keceplosan tentang kisah hidup Aryan di masa lalu.“Kamu mungkin sudah tahu kan mengenai ceritaku dan keluargaku terutama mendiang papaku?” lanjut Arion sambil melemparkan pandangannya ke arah wanita di hadapannya yang ternyata juga sedang memperhatikannya.Tuh kan bener!Buru-buru Aghnia memutar bola matanya menatap makanan miliknya dan juga perlahan menelan salivanya. Ia benar-benar bingung harus berkata jujur atau berbohong saja kali ini.“Aku berharap kamu bisa jujur, Aghnia,” tambah Arion.“Emm…” wanita itu mengangkat kepalanya. “Ya aku pernah men

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 27 Mencari Tahu

    “Mbak Aghnia…”Suara Doni berhasil mengalihkan fokus Aghnia yang memang sedang menunggunya di ruang tunggu, ada di lobi tidak jauh dari resepsionis. Wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum ke arahnya.“Mbak Aghnia, ada apa ke kantor? Cari Mas Aryan ya?”“E—““Tapi sayang Mbak, Mas Aryan lagi di luar,” sela Doni.“Oh lagi di luar, meeting ya?”Doni menggelengkan kepalanya, menampilkan senyumnya yang sengaja dipaksa. “Enggak Mbak tadi Mas Aryan bilang mau ketemu sekaligus makan siang sama teman lamanya.”“Oh, gitu… tapi boleh enggak kalau kita ngobrol sebentar? Kamu sibuk enggak, Don?”“Ngobrol soal apa ya, Mbak?”Mendadak Doni merasa khawatir karena takut dicecar berbagai macam pertanyaan tentang sang bos yang tidak ada di tempatnya. Apalagi sebelumnya Aryan sudah berpesan untuk tidak sembarangan bicara dengan Aghnia agar wanita itu tidak curiga.“Sini duduk dulu ya.” Tanpa sadar Aghnia meraih tangan pria itu agar bisa duduk bersamanya. “Aku cuma mau tanya apa kamu ada fo

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status