LOGINMobil Rolls-Royce Phantom bernuansa hitam legam itu meluncur mulus membelah jalanan ibu kota. Di dalam kabin belakang yang kedap suara, suasana begitu hening hingga suara helaan napas Kiara terdengar jelas.
Kiara duduk sangat menyudut di dekat pintu kanan, berusaha memberi jarak sejauh mungkin dari sosok Arvino yang duduk tegap di sampingnya. Jemari mulus Kiara meremas ujung kemeja yang tadi Arvino berikan. Mata bulatnya berkedip pelan, menatap takjub pada interior mobil yang sedang ditumpanginya. ‘Waah, mobilnya bagus banget. Atap mobilnya bisa dibuka gitu lagi,’ batin Kiara kagum luar biasa. ‘Jok juga, empuk banget.’ Ia menggoyangkan bokongnya tanpa sadar. ‘Bahkan mobilnya wangi banget kayak toko parfum. Pria di sebelahku ini benar-benar orang kaya.’ Kiara terus bergumam dan mengagumi setiap sudut mobil dalam hatinya dengan wajah polos yang tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Arvino yang sejak tadi menyilangkan kaki sambil bermain ponselnya hanya meliriknya sesekali. Pria itu menghela napas panjang melihat gelagat Kiara yang mirip anak kecil baru pertama kali masuk ke taman hiburan. Rasa jengkel, heran, dan geli berbaur tipis di dada Arvino. Bagaimana bisa wanita yang baru saja melewati drama pelarian menegangkan, kini malah terkagum-kagum hanya karena lampu plafon mobil? “Bola matamu bisa keluar kalau terus melotot seperti itu,” tegur Arvino datar tanpa menoleh, memecah keheningan. Sayang, Kiara sama sekali tak menggubrisnya. Dia sibuk mengamati jalanan seperti bocah. “Wow...” Kiara kembali menempelkan wajahnya ke jendela. Matanya berbinar melihat deretan gedung tinggi yang mereka lewati. “Bangunan itu tinggi banget.” Beberapa detik kemudian, kekaguman lain kembali terlontar. “Eh, itu hotel, ya?” Arvino yang sejak tadi sibuk memperhatikan layar ponselnya akhirnya menghela napas panjang. “Uhm?” “Sejak tadi kamu sudah bilang 'wow' entah berapa kali.” Kiara langsung menoleh. Arvino mengangkat pandangan dari ponselnya. Tatapannya datar, tetapi jelas menunjukkan sedikit kejengkelan. “Kamu ini benar-benar kampungan ya?” Kiara mengerjapkan mata. “Tapi semuanya bagus, Tuan,” gumamnya polos. “Dan iya, saya memang dari kampung.” Arvino agak terkejut saat mendengar pengakuan itu. Sampai-sampai dia lupa mau berkata apa. Sedangkan Kiara terdiam beberapa saat. Ia menatap keluar jendela lagi, tetapi kali ini berusaha menahan diri. Namun, beberapa detik kemudian, matanya kembali membesar ketika melihat sebuah bangunan mewah di pinggir jalan. Bibirnya spontan terbuka. “Wah—” “Kiara.” Suara Arvino langsung memotong. Kiara tersentak kaku. Pipinya seketika memerah menahan malu. Gadis itu buru-buru menundukkan kepala dalam-dalam, menatap jemarinya sendiri tanpa berani bersuara lagi. Arvino kembali menggeleng pelan. Ia menghela napas sebelum mematikan layar ponselnya saat mobil mulai melambat. “Kita sudah sampai,” ucap Arvino dingin. Pintu mobil dibukakan oleh sopir dari luar. Kiara melangkah keluar dengan ragu, dan seketika itu pula langkah kakinya membeku total. Pandangannya menengadah, menatap pilar-pilar putih menjulang tinggi di depan matanya. Bangunan megah bergaya klasik Eropa dengan halaman rumput seluas lapangan sepak bola berdiri megah di hadapannya. ‘Ini... ini bukan rumah. Ini istana,’ bisik Kiara di dalam hatinya. Tempat ini puluhan kali lebih besar dan mewah daripada bangunan Club Rouge jahanam itu. “Tuan ini Pangeran ya?” “Hah?” Arvino langsung mengernyit. “Rumah ini seperti istana. Besar dan megah,” puji gadis itu dengan mata berbinar. “Jangan meracau! Ayo cepat masuk!” Kiara tak menggubris ucapan Arvino. Dia masih memandangi rumah mewah di depannya dengan halaman yang cukup luas seperti lapangan bola. “Astaga...” Karena Kiara hanya berdiri bengong seperti patung di tengah jalan, Arvino mendesis tidak sabar. Pria setinggi 188cm itu mengikis jarak, meraih pergelangan tangan Kiara yang mungil, lalu menyeret gadis itu masuk tanpa ampun. “T-Tuan... pelan-pelan!” rengek Kiara sambil meringis, dia terpaksa melangkah cepat menyeimbangi langkah kaki panjang Arvino. Saat pintu jati berukir berlapis emas di depan dibuka lebar oleh pelayan, aroma keharuman mahal langsung menyeruak. Di ruang tamu megah bernuansa krem dan emas, dua sosok paruh baya berpenampilan sangat berkelas sudah berdiri menanti dengan raut wajah mengeras. “Arvino! Kamu benar-benar membawa perempuan itu ke rumah ini?!” bentak ibu Arvino—Nyonya Maya—dengan suara melengking. Ayah Arvino—Tuan Hendra—berdiri dengan tangan bersedekap di dada, menyapu pandangan tajam penuh intimidasi dari ujung rambut hingga ujung kaki Kiara. Kiara yang merasa tatapan orang tua Arvino bagai menghujam jantungnya langsung gemetar hebat. Tanpa disadari, Kiara melangkah bersembunyi tepat di belakang punggung kokoh Arvino. Jemari tangannya mencengkeram erat bagian belakang jas hitam suaminya, menjadikan tubuh tinggi pria itu sebagai perisai dari tatapan yang mengintimidasi. Arvino merasakan cengkraman halus di jas belakangnya. Pria itu sempat melirik tipis ke belakang, melihat bagaimana tubuh mungil Kiara bersembunyi ketakutan di balik bayangannya. Reaksi lugu Kiara yang menjadikannya pelindung tanpa sadar mendatangkan sensasi asing di dada Arvino, namun ia segera menepisnya. “Aku sudah katakan di hotel,” ujar Arvino dingin, membalas tatapan kedua orang tuanya tanpa gentar sedikit pun. “Menikahi gadis ini di depan media adalah satu-satunya cara menyelamatkan saham perusahaan dan nama besar keluarga Alister.” “Tapi kita bahkan tidak tahu asal-usulnya, Arvino!” bentak ibunya murka, menunjuk Kiara yang makin menyembunyikan wajahnya di balik punggung Arvino. “Dia cuma gadis antah berantah! Bagaimana kalau dia mata-mata atau wanita murahan, atau LC dari klub malam sekitar situ?!” Kiara tersentak kaget. Kepalanya makin menunduk karena merasa rendah. “Dia istriku secara sah di mata hukum sekarang, Ma,” potong Arvino tegas dan mutlak, membuat Nyonya Maya bungkam dengan napas menegang. “Soal siapa dia, itu urusanku. Yang penting reputasi keluarga kita tidak hancur di mata publik.” “Tapi bagaimana kalau media–” Arvino memutar tubuhnya perlahan, memutus pembicaraan berat itu secara sepihak. “Aku lelah. Aku mau ke atas untuk istirahat.” Kiara yang tidak mau ditinggal sendirian di tengah ruangan menakutkan itu langsung berniat menyusul Arvino. Namun, sebelum langkah Kiara sempat mengekor lebih jauh, suara derap langkah kaki berhak tinggi berbunyi cepat dari arah tangga, disusul seruan tajam Nyonya Maya. “Berhenti di situ!” Seorang gadis muda dengan pakaian modis berbahan sutra turun dari tangga dengan wajah sinis. Dia adalah Arletta, adik perempuan Arvino. “Kak Arvino bisa istirahat,” ucap Arletta dingin sambil mencengkram lengan Kiara dan menariknya kasar hingga pegangan Kiara di jas Arvino terlepas. “Tapi cewek ini enggak boleh ke mana-mana dulu. Kami mau ngobrol sama dia.” Kiara tersentak panik. Matanya membelalak lebar, memandang Arvino dengan tatapan memohon, berharap pria itu tidak meninggalkannya. Sayangnya...Mobil Rolls-Royce Phantom bernuansa hitam legam itu meluncur mulus membelah jalanan ibu kota. Di dalam kabin belakang yang kedap suara, suasana begitu hening hingga suara helaan napas Kiara terdengar jelas. Kiara duduk sangat menyudut di dekat pintu kanan, berusaha memberi jarak sejauh mungkin dari sosok Arvino yang duduk tegap di sampingnya. Jemari mulus Kiara meremas ujung kemeja yang tadi Arvino berikan. Mata bulatnya berkedip pelan, menatap takjub pada interior mobil yang sedang ditumpanginya. ‘Waah, mobilnya bagus banget. Atap mobilnya bisa dibuka gitu lagi,’ batin Kiara kagum luar biasa. ‘Jok juga, empuk banget.’ Ia menggoyangkan bokongnya tanpa sadar. ‘Bahkan mobilnya wangi banget kayak toko parfum. Pria di sebelahku ini benar-benar orang kaya.’ Kiara terus bergumam dan mengagumi setiap sudut mobil dalam hatinya dengan wajah polos yang tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Arvino yang sejak tadi menyilangkan kaki sambil bermain ponselnya hanya meliriknya sesekali. Pr
“Astaga... aku benar-benar sial.” Kiara menghembuskan napas panjang. Setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan. Dengan wajah masih merah membara menahan malu, Kiara memutar kunci pintu kamar mandi, lalu membukanya sedikit. Gadis itu mengintip ke luar dengan ragu. Tepat di luar sana seseorang memang masih berdiri. Dan orang itu adalah Arvino. “T-Tuan...” panggil Kiara dengan suara yang sangat pelan. Arvino yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil menoleh galak. “Apa lagi?!” “A-anu,” cicit Kiara lirih, menyembunyikan wajahnya di balik celah pintu. “Bisa tolong bantu buka ini?” “Buka apa?” tanya Arvino sambil mengerutkan keningnya. “Resleting gaunnya tiba-tiba macet. S- saya sudah mencoba untuk membukanya tapi nggak bisa,” terang Kiara. “Tck.” Arvino mendesis kasar, mencoba mempertahankan aura galaknya. Ia melangkah menghampiri kamar mandi dan mendorong pintunya. Kiara refleks membelakangi Arvino, menutupi bagian depan dad
“T-Tuan... tolong lepaskan saya. Saya janji bakal ganti rugi pakai apa pun yang Tuan minta, saya bersumpah, tapi tolong biarkan saya pergi!” pinta Kiara dengan suara bergetar hebat. Air mata kembali menumpuk di pelupuk mata bulatnya. Arvino terkekeh dingin. Sorot mata cokelat gelapnya menatap Kiara dengan tatapan menyindir yang tajam. “Ganti rugi?” desis Arvino rendah, mengikis jarak hingga napas hangatnya menerpa ceruk leher Kiara. “Kamu ganti rugi pakai apa? Uang? Aku sudah punya banyak.” Kiara membisu, bibir bawahnya bergetar pasrah. “Tuan–” “Ikut saja apa yang aku katakan! Jangan banyak membantah! Kamu cukup jadi istri pura-puraku untuk beberapa waktu.” Kiara makin pening. Gadis itu merasa takdir baik tidak berpihak padanya. Bagaimana mungkin niatnya kabur dari klub malam justru membuatnya terperangkap jadi istri pria yang bahkan namanya saja tidak dia tahu. “Tapi kita nggak saling kenal,” beo Kiara lirih. Dia tidak tau harus pakai cara apa supaya bisa kabur dari sini.
“Arvino! Apa kamu sudah gila?!” bentaknya. “Siapa perempuan ini?! Kenapa kamu tiba-tiba menjadikannya istri? Kita bahkan nggak tahu asal-usulnya!” “Mama, tenang dulu!” potong Arvino datar. Suaranya memang tidak meninggi, tetapi sorot matanya yang dingin tetap tertuju pada tubuh Kiara yang terbaring pasrah di atas ranjang. “Bagaimana Mama bisa tenang?!” bentak ibunya histeris. “Vivian kabur, dan kamu malah menikahi cewek antah berantah ini di depan ratusan tamu VIP dan media! Mau ditaruh di mana muka keluarga Alister?!” Ayah Arvino melangkah maju, menatap putranya tajam. “Jelaskan, Arvino! Kenapa kamu mengambil keputusan segila ini?” Arvino memutar tubuhnya, menghadap kedua orang tuanya dengan wajah keras tanpa penyesalan. “Aku tidak punya pilihan lain. Jika aku mengumumkan pembatalan pernikahan begitu saja, saham perusahaan akan anjlok besok pagi dan keluarga kita jadi bahan tertawaan orang-orang.” “Tapi kenapa harus dengan wanita nggak jelas ini?!” desis ibunya murka. “Urusan d
“Ikuti ucapanku kalau mau selamat dari mereka,” bisik Arvino tegas dengan suara berat yang membuat bulu kuduk Kiara meremang. “Atau kamu mau aku serahkan kembali ke orang-orang itu sekarang juga?” Kiara menelan ludah. Hatinya mencelos. Ia menatap mata gelap Arvino yang tajam dan mengintimidasi, lalu beralih menatap para bodyguard yang masih memandangnya seperti mangsa. Dengan tubuh gemetar hebat dan dada yang bergemuruh ketakutan, Kiara akhirnya mengangguk pelan. Arvino kembali mengangkat kepalanya, menyapu pandangannya ke arah para pengejar dengan tatapan membunuh. “Kalian dengar! Siapapun yang berani menyentuh seujung rambut calon istriku ini, akan kupastikan kalian tidak akan bisa melihat matahari besok pagi.” Melihat ancaman nyata dari pria sekelas Arvino, kelima pria itu tidak punya pilihan lain. Mereka menunduk takut lalu mundur perlahan, menghilang di balik pintu besar yang tertutup kembali. Arvino tidak memberi ruang untuk kehebohan tamu atau protest histeris dari or
Lima menit sebelumnya... Di dalam area salah satu kamar hotel yang mewah, Arvino berdiri di depan cermin tinggi, merapikan tuksedo hitam rapinya. Pria setinggi 188 cm itu tampak begitu luar biasa sempurna. Rahangnya tegas dan berstruktur tajam dengan pahatan wajah maskulin yang dingin. Rambut hitam peraknya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi lebar dan alis tebal yang menaungi sepasang mata tajam berwarna cokelat gelap—sepasang mata tajam yang mampu membuat siapa pun bergidik ketakutan. Tubuhnya atletis berotot padat, dibungkus sempurna dalam tuksedo mewah buatan desainer ternama. “Arvino! Bagaimana ini?! Vivian belum datang juga! Para tamu VIP dan media sudah berkumpul di ballroom,” bentak ibunya panik setengah mati sambil memegang dadanya. “Tenang dulu, Ma!” sahut Arvino datar. Suaranya berat dan dominan, meski rahang tegasnya mengetat keras. “Aku sedang mengerahkan orangku untuk mencari Vivian.” Bersamaan dengan itu, ponsel di saku jas Arvino bergetar. Sebuah pesan m







