Share

08. Ah! Sempit Banget

Author: Nytheria_Blue
last update publish date: 2026-10-21 16:23:07

“Astaga... aku benar-benar sial.”

Kiara menghembuskan napas panjang. Setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan.

Dengan wajah masih merah membara menahan malu, Kiara memutar kunci pintu kamar mandi, lalu membukanya sedikit. Gadis itu mengintip ke luar dengan ragu.

Tepat di luar sana seseorang memang masih berdiri. Dan orang itu adalah Arvino. “T-Tuan...” panggil Kiara dengan suara yang sangat pelan.

Arvino yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil menoleh galak. “Apa lagi?!”

“A-anu,” cicit Kiara lirih, menyembunyikan wajahnya di balik celah pintu. “Bisa tolong bantu buka ini?”

“Buka apa?” tanya Arvino sambil mengerutkan keningnya.

“Resleting gaunnya tiba-tiba macet. S- saya sudah mencoba untuk membukanya tapi nggak bisa,” terang Kiara.

“Tck.” Arvino mendesis kasar, mencoba mempertahankan aura galaknya. Ia melangkah menghampiri kamar mandi dan mendorong pintunya.

Kiara refleks membelakangi Arvino, menutupi bagian depan dadanya dengan tangan, memperlihatkan punggung mulusnya yang putih bak pualam.

Arvino mendadak bungkam. Pandangannya terpaku pada lekuk punggung indah dan leher mulus Kiara. Tapi bukan itu saja yang mengusik Arvino, melainkan juga beberapa memar dan bekas luka di area itu.

‘Sebenarnya, apa yang gadis ini lakukan sebelum datang ke altar?’ Arvino memegang kepala resleting logam tersebut. Jemari hangatnya tak sengaja menyapu kulit punggung Kiara.

Srettt.

Kiara tersentak kaku, bulu kuduknya meremang hebat. Sementara Arvino yang menarik resleting itu ke bawah tak sengaja melirik pantulan cermin besar di depan mereka.

Melalui cermin, Arvino melihat dengan jelas bagaimana tubuh kecil itu dipenuhi luka yang cukup banyak. Dan anehnya, gadis ini lebih panik melihat dirinya daripada memikirkan kondisi tubuhnya.

“Sudah! Bersihkan dirimu cepat!” gertak Arvino cepat. Ia memutar badan dan melangkah pergi demi menyelamatkan gengsi dan akal sehatnya.

“Iya Tuan... Makasih...” cicit Kiara malu-malu.

Pintu kamar mandi kembali tertutup.

Arvino berhenti beberapa langkah dari sana. Ia menghembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya.

Sementara itu, Kiara kembali ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi kembali terbuka. Kiara melangkah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kemeja putih milik Arvino yang jatuh sebatas pertengahan paha.

Namun, karena kemeja itu milik pria bertubuh tegap, bagian kancing dadanya tertarik sangat ketat akibat tertahan oleh dadanya yang busung—menciptakan celah di antara kancing yang memperlihatkan rona kulit mulusnya secara tidak sengaja. Rambut hitamnya yang basah meneteskan sisa air di sekitar tulang selangkanya.

Arvino yang baru saja menuangkan air minum ke dalam gelas membalikkan badan. Pria itu bahkan tidak repot-repot melihat ke arah pintu kamar mandi ketika berkata, “Lama sekali kamu—”

Sayang, ucapannya terhenti. Manik coklatnya, langsung jatuh pada Kiara yang berdiri kikuk di ambang pintu.

Gadis itu tampak jauh lebih segar dibandingkan sebelumnya. Rambutnya masih sedikit basah, beberapa helai menempel di sisi pipi. Kedua tangannya sibuk menarik ujung kemeja agar menutupi tubuhnya serapat mungkin.

Pipi Kiara memerah. Ia bahkan tidak berani mengangkat wajah. “T-Tuan…”

Arvino terdiam selama beberapa detik. Tatapannya sempat menyapu penampilan Kiara sekilas sebelum ia segera mengalihkan pandangan ke arah lain.

Pria itu berdehem pelan. “Kenapa berdiri di situ?”

Kiara menggigit bibir. “Saya malu.”

“Kenapa?”

Kiara menunduk semakin dalam. Ia berusaha menutupi area dadanya yang terlalu ketat. “Bajunya…”

Arvino melirik kemeja yang dikenakan Kiara. “Kalau tidak suka, pakai saja gaun yang tadi.”

Kiara langsung menggeleng cepat. “E-enggak kok,” sahutnya cepat.

“Kalau begitu, apa masalahnya?”

Kiara terdiam. Ia sebenarnya ingin mengatakan bahwa kemeja putih itu terlalu ketat di bagian dada, membuatnya merasa sangat canggung berada di depan Arvino. Namun, melihat tatapan galak pemuda itu, keberaniannya langsung hilang.

Kiara berjalan dengan kepala tertunduk, kedua tangannya masih sibuk merapikan ujung kemeja.

Arvino yang sedang meminum air kembali meliriknya. Entah kenapa, gerakan tangannya mendadak berhenti.

Pria setinggi 188 cm itu menelan air minumnya perlahan, lalu meletakkan gelas di atas meja. Wajahnya tetap tenang. Hanya saja, tenggorokannya bergerak sedikit lebih keras saat ia berdehem.

“Dengar! Sore nanti kita harus kembali ke rumah utama keluarga Alister.”

Kiara mendadak menghentikan langkahnya. Mata bulatnya membelalak panik. “R-rumah utama? Maksud Tuan... saya ikut Tuan pulang?”

“Tentu saja,” sahut Arvino datar sambil menaruh gelasnya di meja. “Kamu pikir setelah publik tahu kita ini suami istri, aku akan membiarkanmu berkeliaran seenaknya? Lagipula, orang tuaku dan media menunggu kita di rumah utama.”

“Saya nggak bisa, Tuan!” Kiara menggeleng kuat, air mata panik kembali menggenang di pelupuk matanya. Suaranya bergetar penuh penolakan. “Saya nggak kenal sama Tuan! Kita bahkan belum tahu nama masing-masing. Saya mau pulang saja, saya tidak mau ikut ke rumah Tuan!”

Arvino menyipitkan matanya. Sorot mata cokelat gelapnya mendadak berubah dingin dan penuh intrik. Pria itu melangkah maju mengikis jarak, posturnya yang jangkung hingga bayangannya menutupi tubuh mungil Kiara.

“Ohh. Kamu tidak ingin ikut denganku?” desis Arvino rendah, menusuk langsung ke manik mata Kiara yang ketakutan. “Boleh saja. Pintu suite ini tidak dikunci, kok. Silakan keluar sekarang!”

Kiara tertegun, menatap Arvino dengan tatapan tidak percaya. “B-beneran?”

“Tapi ingat satu hal,” potong Arvino dengan senyum miring yang menakutkan. “Pria bertato dan para bodyguard itu masih menyisir area sekitar hotel ini. Begitu kamu melangkah keluar dari pintu ini, aku sendiri yang akan menyerahkanmu kembali ke tangan preman-preman itu. Kamu mau kembali melayani pria botak di room VVIP itu, hm?”

Napas Kiara tertahan seketika. Bayangan cengkeraman Johnny dan wajah mengerikan pria bertato itu langsung berputar liar di kepalanya, mendatangkan rasa horor yang mencekik tenggorokannya. Tubuh Kiara bergetar hebat.

“Bagaimana, Nona?” bisik Arvino tepat di depan wajahnya yang pucat. “Masih mau menolak ikut denganku ke rumah utama sore nanti?”

Kiara menelan ludah kasar, kepalanya menggeleng pelan. “Enggak! Saya enggak mau ketemu mereka lagi!” tolak Kiara mentah-mentah.

“Jadi kamu berubah pikiran?”

Kiara mengangguk. “I-iya. Saya mau ikut Tuan saja,” lirihnya pasrah.

“Good girl.”

Kiara memejamkan matanya pasrah saat menyadari bahwa ia baru saja keluar dari kandang macan dan masuk ke dalam sarang singa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Polos Kesayangan Tuan CEO   09. Tuan Pangeran

    Mobil Rolls-Royce Phantom bernuansa hitam legam itu meluncur mulus membelah jalanan ibu kota. Di dalam kabin belakang yang kedap suara, suasana begitu hening hingga suara helaan napas Kiara terdengar jelas. Kiara duduk sangat menyudut di dekat pintu kanan, berusaha memberi jarak sejauh mungkin dari sosok Arvino yang duduk tegap di sampingnya. Jemari mulus Kiara meremas ujung kemeja yang tadi Arvino berikan. Mata bulatnya berkedip pelan, menatap takjub pada interior mobil yang sedang ditumpanginya. ‘Waah, mobilnya bagus banget. Atap mobilnya bisa dibuka gitu lagi,’ batin Kiara kagum luar biasa. ‘Jok juga, empuk banget.’ Ia menggoyangkan bokongnya tanpa sadar. ‘Bahkan mobilnya wangi banget kayak toko parfum. Pria di sebelahku ini benar-benar orang kaya.’ Kiara terus bergumam dan mengagumi setiap sudut mobil dalam hatinya dengan wajah polos yang tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Arvino yang sejak tadi menyilangkan kaki sambil bermain ponselnya hanya meliriknya sesekali. Pr

  • Istri Polos Kesayangan Tuan CEO   08. Ah! Sempit Banget

    “Astaga... aku benar-benar sial.” Kiara menghembuskan napas panjang. Setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan. Dengan wajah masih merah membara menahan malu, Kiara memutar kunci pintu kamar mandi, lalu membukanya sedikit. Gadis itu mengintip ke luar dengan ragu. Tepat di luar sana seseorang memang masih berdiri. Dan orang itu adalah Arvino. “T-Tuan...” panggil Kiara dengan suara yang sangat pelan. Arvino yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil menoleh galak. “Apa lagi?!” “A-anu,” cicit Kiara lirih, menyembunyikan wajahnya di balik celah pintu. “Bisa tolong bantu buka ini?” “Buka apa?” tanya Arvino sambil mengerutkan keningnya. “Resleting gaunnya tiba-tiba macet. S- saya sudah mencoba untuk membukanya tapi nggak bisa,” terang Kiara. “Tck.” Arvino mendesis kasar, mencoba mempertahankan aura galaknya. Ia melangkah menghampiri kamar mandi dan mendorong pintunya. Kiara refleks membelakangi Arvino, menutupi bagian depan dad

  • Istri Polos Kesayangan Tuan CEO   07. Salah 'Pegang'

    “T-Tuan... tolong lepaskan saya. Saya janji bakal ganti rugi pakai apa pun yang Tuan minta, saya bersumpah, tapi tolong biarkan saya pergi!” pinta Kiara dengan suara bergetar hebat. Air mata kembali menumpuk di pelupuk mata bulatnya. Arvino terkekeh dingin. Sorot mata cokelat gelapnya menatap Kiara dengan tatapan menyindir yang tajam. “Ganti rugi?” desis Arvino rendah, mengikis jarak hingga napas hangatnya menerpa ceruk leher Kiara. “Kamu ganti rugi pakai apa? Uang? Aku sudah punya banyak.” Kiara membisu, bibir bawahnya bergetar pasrah. “Tuan–” “Ikut saja apa yang aku katakan! Jangan banyak membantah! Kamu cukup jadi istri pura-puraku untuk beberapa waktu.” Kiara makin pening. Gadis itu merasa takdir baik tidak berpihak padanya. Bagaimana mungkin niatnya kabur dari klub malam justru membuatnya terperangkap jadi istri pria yang bahkan namanya saja tidak dia tahu. “Tapi kita nggak saling kenal,” beo Kiara lirih. Dia tidak tau harus pakai cara apa supaya bisa kabur dari sini.

  • Istri Polos Kesayangan Tuan CEO   06. Aku Tidak Akan Melepaskanmu

    “Arvino! Apa kamu sudah gila?!” bentaknya. “Siapa perempuan ini?! Kenapa kamu tiba-tiba menjadikannya istri? Kita bahkan nggak tahu asal-usulnya!” “Mama, tenang dulu!” potong Arvino datar. Suaranya memang tidak meninggi, tetapi sorot matanya yang dingin tetap tertuju pada tubuh Kiara yang terbaring pasrah di atas ranjang. “Bagaimana Mama bisa tenang?!” bentak ibunya histeris. “Vivian kabur, dan kamu malah menikahi cewek antah berantah ini di depan ratusan tamu VIP dan media! Mau ditaruh di mana muka keluarga Alister?!” Ayah Arvino melangkah maju, menatap putranya tajam. “Jelaskan, Arvino! Kenapa kamu mengambil keputusan segila ini?” Arvino memutar tubuhnya, menghadap kedua orang tuanya dengan wajah keras tanpa penyesalan. “Aku tidak punya pilihan lain. Jika aku mengumumkan pembatalan pernikahan begitu saja, saham perusahaan akan anjlok besok pagi dan keluarga kita jadi bahan tertawaan orang-orang.” “Tapi kenapa harus dengan wanita nggak jelas ini?!” desis ibunya murka. “Urusan d

  • Istri Polos Kesayangan Tuan CEO   05. Ikuti Permainanku!

    “Ikuti ucapanku kalau mau selamat dari mereka,” bisik Arvino tegas dengan suara berat yang membuat bulu kuduk Kiara meremang. “Atau kamu mau aku serahkan kembali ke orang-orang itu sekarang juga?” Kiara menelan ludah. Hatinya mencelos. Ia menatap mata gelap Arvino yang tajam dan mengintimidasi, lalu beralih menatap para bodyguard yang masih memandangnya seperti mangsa. Dengan tubuh gemetar hebat dan dada yang bergemuruh ketakutan, Kiara akhirnya mengangguk pelan. Arvino kembali mengangkat kepalanya, menyapu pandangannya ke arah para pengejar dengan tatapan membunuh. “Kalian dengar! Siapapun yang berani menyentuh seujung rambut calon istriku ini, akan kupastikan kalian tidak akan bisa melihat matahari besok pagi.” Melihat ancaman nyata dari pria sekelas Arvino, kelima pria itu tidak punya pilihan lain. Mereka menunduk takut lalu mundur perlahan, menghilang di balik pintu besar yang tertutup kembali. Arvino tidak memberi ruang untuk kehebohan tamu atau protest histeris dari or

  • Istri Polos Kesayangan Tuan CEO   04: Dalam Dekapan Pria Asing

    Lima menit sebelumnya... Di dalam area salah satu kamar hotel yang mewah, Arvino berdiri di depan cermin tinggi, merapikan tuksedo hitam rapinya. Pria setinggi 188 cm itu tampak begitu luar biasa sempurna. Rahangnya tegas dan berstruktur tajam dengan pahatan wajah maskulin yang dingin. Rambut hitam peraknya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi lebar dan alis tebal yang menaungi sepasang mata tajam berwarna cokelat gelap—sepasang mata tajam yang mampu membuat siapa pun bergidik ketakutan. Tubuhnya atletis berotot padat, dibungkus sempurna dalam tuksedo mewah buatan desainer ternama. “Arvino! Bagaimana ini?! Vivian belum datang juga! Para tamu VIP dan media sudah berkumpul di ballroom,” bentak ibunya panik setengah mati sambil memegang dadanya. “Tenang dulu, Ma!” sahut Arvino datar. Suaranya berat dan dominan, meski rahang tegasnya mengetat keras. “Aku sedang mengerahkan orangku untuk mencari Vivian.” Bersamaan dengan itu, ponsel di saku jas Arvino bergetar. Sebuah pesan m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status