FAZER LOGINEstella menggeleng cepat. “Bibi, bukan begitu ... aku tidak melakukan apa-apa.”
PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Estella. Kepala Estella terlempar ke samping, panas menyengat di pipinya. Ia terdiam, tak mampu berkata-kata. “Dasar jalang!” umpat Lauren. “Bibi, aku tidak melakukan apa-apa ….” “Masih berani berbohong?” bentak Lauren. “Dasar perempuan tidak tahu malu! Anak tidak tahu diuntung!” Lauren terus menyalahkannya, tak memberi kesempatan untuk Estella membuka suara. Magnus berdiri di belakang istrinya sambil memperbaiki pakaiannya sendiri. Pukulan datang tanpa ampun, Lauren tidak memberi ruang pembelaan. Rambut Estella dijambak, tubuhnya diseret, lalu ditampar berulang kali hingga pipinya panas dan perih. Magnus langsung maju dan menarik istrinya sambil mencoba menenangkannya, seolah kejadian ini bukan kesalahannya. “Kami sudah membesarkanmu selama delapan tahun,” ucap Lauren dengan suara penuh emosi. “Menampungmu setelah orang tuamu tidak ada. Memberimu tempat tinggal, makan, pakaian. Ini caramu membalas kami? Menggoda suami bibi sendiri?” Estella menangis tanpa suara. Kepala dan tubuhnya sakit akibat pukulan bertubi bibinya. Ia sampai tak bisa menghadapi bibinya. “Kamu sama murahannya seperti ibumu, Estella!” bentak Lauran lagi. “Memang tidak seharusnya aku menampungmu di sini!” Mendengar nama ibunya disebut, air mata Estella mengalir lebih deras. Rambut Estella kembali dijambak lebih kuat dan kasar dari sebelumnya. Gadis itu meringis, tangannya berusaha menahan lengan bibinya. “Bi, tolong … sakit!” tangisnya. Lauran tak peduli. Ia menyeret Estella dengan kasar melewati lorong hingga ke gudang kecil di belakang rumah. Pintu ditendang dengan kasar hingga terbuka, lalu Estella didorong masuk. Tubuhnya terhuyung dan tergeletak di lantai semen yang dingin. “Kamu harus dihukum di ruangan ini,” ucap Lauren tajam. “Sampai kamu merenungkan kesalahanmu, kamu tidak diperbolehkan meninggalkan tempat ini.” Pintu kemudian ditutup dan dikunci dari luar. “Bibi! Buka pintunya!” teriak Estella langsung dari dalam, tangannya memukul-mukul pintu hingga bergetar. “Tolong … jangan kunci aku di sini! Aku mohon, Bi!” Suaranya pecah. Ia terus mengetuk dan mencoba menarik pintu berharap bisa terbuka, air mata sudah membanjiri wajahnya. “Aku takut gelap, tolong buka! Aku tidak akan buat ulah lagi, demi Tuhan Bibi … tolong buka pintunya! Aku akan jadi anak yang penurut mulai hari ini, Bibi. Aku mohon ….” Tidak ada jawaban. Hanya suara langkah Lauren yang menjauh, lalu disusul dengan keheningan total, hanya terdengar suara isaknya sendiri. Estella masih berdiri di balik pintu, napasnya kacau, sebelum akhirnya tubuhnya lunglai dan ia terjatuh terduduk. Ia menangis tersedu-sedu, bahunya bergetar hebat, terus memanggil pelan dan memohon meski tahu tidak ada yang akan membuka. “Aku mohon … buka pintunya,” lirih Estella. Kedua tangannya yang bergetar mencengkeram rok yang dikenakannya. “Ayah, Ibu … tolong bantu aku, aku takut di sini sendirian.” Air mata mengalir semakin deras. “Andai Ayah dan Ibu masih hidup, aku tidak akan pernah mengalami ini. Aku ingin bersama kalian, tolong bawa aku keluar dari sini.” Kegelapan menyelimuti gudang sempit itu. Bau debu dan kayu lapuk semakin terasa. Estella memeluk lututnya, masih sesekali mengetuk pintu dengan sisa tenaga, suaranya semakin serak. Estella dikurung sampai empat hari. Tidak ada yang membuka pintu. Tidak ada suara kaki mendekat. Tidak ada piring atau gelas yang diselipkan. Gadis itu hanya bisa meringkuk sambil menahan lapar. Ia masih belum mengerti sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi malam itu hingga hari ini. Ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang Magnus coba perbuat malam itu. Sampai umurnya sepuluh tahun, Estella hanya tahu kehidupan yang nyaman. Setelah itu, ia bahkan tidak melanjutkan pendidikan. Ia tidak mengerti kenapa bibinya begitu marah, dan kenapa ia sampai disebut tidak bermoral. Estella tidak mau mati di usia muda, mati sia-sia di tempat pengap ini. Harus ada cara untuk keluar. Tiba-tiba, suara kunci diputar dari luar membuat matanya membelalak. Jantungnya berdegup kencang, harapan kecil mulai tumbuh. Pintu akhirnya terbuka. Cahaya lampu lorong dari luar langsung menyilaukan matanya yang sudah terbiasa gelap selama beberapa hari terakhir. Lauren berdiri di ambang, wajahnya datar. Tanpa banyak bicara, bibinya melempar sebuah tas jinjing ke dalam gudang. Tas itu jatuh di dekat kaki Estella. “Kemas barangmu,” perintah Lauren singkat. Estella terdiam sejenak, masih belum percaya pintu itu benar-benar terbuka. Lalu panik langsung menyerbu menyadari jika bibinya mengusirnya. Ia merangkak mendekat, suaranya serak dan putus-putus. “Bibi … tolong. Aku minta ampun. Jangan usir aku. Aku tidak akan ulangi kesalahan apa pun. Aku mohon ….” Lauren menatapnya dingin. “Kami sudah tidak bisa lagi menampung perempuan jalang seperti kamu di rumah ini.” Estella memegang kaki bibinya, berlutut di depannya. “Aku mohon Bibi, maafkan aku … tolong jangan usir aku, Bi. Aku tidak punya siapa-siapa selain Bibi.” Wanita itu mendesis jijik, langsung mengibaskan kakinya untuk melepaskan tangan keponakannya. “Ada kenalanku yang akan datang menjemputmu, jadi cepat bersiap-siap. Dia akan memberimu pekerjaan. Anggap saja itu hukumanmu.” Estella mengangkat wajah, masih berlutut. “Pekerjaan?” “Ya. Kamu akan ikut dengannya ke Noir. Mulai hari ini, kamu tidak tinggal di sini lagi.” Di sisi lain lorong, diam-diam Angel berdiri di balik dinding dekat gudang, menguping. Ia mendengar hampir seluruh percakapan itu. Matanya sedikit membelalak, lalu ia berbalik kembali masuk ke rumah dan cepat-cepat menemui saudara laki-lakinya. Fablo sedang duduk di ruang keluarga ketika adiknya datang dengan langkah terburu-buru. “Kak,” bisik Angel, suaranya agak tegang. “Estella tidak akan tinggal di sini lagi.” Fablo menoleh menatap sang adik. “Apa maksudmu?” “Ibu bilang, Estella akan ikut seseorang temannya, terus kerja di Noir.” Angel menyipitkan mata, masih bingung sendiri. “Ibu bilang itu hukuman untuk dia.” Fablo langsung mengernyit. “Hukuman apa? Jangan sembarangan bicara, memangnya Estella salah apa sampai harus dihukum? Lagipula mana mungkin Estella yang masih muda dikirim ke tempat itu.” Angel mengedip beberapa kali, semakin penasaran. “Emang Noir itu tempat apa, Kak?” “Tempat perempuan jual diri,” jawab Fablo dengan datar. Ia lalu mengalihkan wajahnya dari adiknya lagi. “Sudah, jangan banyak tanya. Noir bukan tempat yang seharusnya diketahui perempuan seperti kamu dan Estella.”"Persiapkan pernikahan untuk satu bulan lagi, Damien." Ucap Benev pada asistennya tanpa menatap pria itu. “Mempersiapkan pernikahan?” Damien mengernyitkan dahi. “Pernikahan siapa, Tuan?” Benev tidak langsung menjawab. Pria itu masih duduk santai di kursi bar, menikmati wiski di tangannya. Setelah meneguknya, ia meletakkan gelas ke atas meja dengan gerakan tenang. “Untukku.” Damien terdiam, bola matanya membulat sempurna. “Untuk Anda?” ulangnya, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. “Anda akan menikah?” Benev hanya meliriknya sekilas. “Dengan siapa?” Damien menelan ludah. “Apa dengan Je—” “Estella.” Jawaban singkat itu langsung memutus kalimat Damien. “Nona Estella?” Damien dibuat kehilangan kata-kata. Namun, Benev sama sekali tidak berniat memberikan penjelasan lebih jauh. Ia turun dari kursi bar, meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi, lalu mengenakannya sambil berjalan meninggalkan ruangan. Damien segera mengejar. “Jadi benar, Tuan? And
Langit telah sepenuhnya gelap ketika Jessica masih berdiri di depan pintu masuk asrama. Sejak tadi ia mondar-mandir tanpa tujuan, sesekali menggigit kuku ibu jarinya sambil melirik gerbang yang tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda kepulangan Estella. “Kenapa gadis itu belum kembali juga?” gumamnya frustrasi. Jessica kembali menatap gerbang. Kosong, tidak ada Estella. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang justru membuatnya semakin gelisah. “Jangan-jangan Benev membiarkan gadis itu tinggal di rumahnya?” Mata Jessica langsung membelalak. “Dan ... apa benar mereka akan menikah?” Ia buru-buru menggeleng, seolah ingin mengusir pikirannya sendiri. “Tidak mungkin. Pasti bukan mereka.” Jessica mendengus. “Benev baru bertemu gadis itu tadi pagi. Mustahil dia langsung berpikir untuk menikah.” Namun, semakin ia mencoba menyangkal, semakin jelas wajah Estella terbayang dalam ingatannya. Gadis itu terlalu kurus. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, bahkan pendidikannya pun n
“Ben, jawab aku. Pernikahan siapa yang gadis itu maksud?” Jessica langsung mendesak Benev. “Kamu dan gadis itu, iya?” tangannya bahkan menarik lengan Benev agar pria itu menoleh kepadanya. “Jawab aku, Ben!” Benev menghela napas panjang. “Pelankan suaramu, Jes. Ada orang sakit di sini.” “Tidak peduli!” Jessica masih belum mau menyerah. “Aku ingin tahu pernikahan siapa yang dia maksud. Kamu harus menjawabnya.” Estella hanya bisa menatap keduanya secara bergantian. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tetapi melihat cara Jessica bereaksi, pikirannya mulai dipenuhi dugaan. Pasti ada sesuatu diantara mereka berdua. Hubungan yang spesial, mungkin. Benev memejamkan mata sesaat, seolah sedang mengumpulkan kesabaran. Ketika matanya kembali terbuka, tatapannya sudah berubah dingin. “Keluar.” Ucapnya singkat, namun tajam. Jessica terdiam. “Apa?” “Tinggalkan kami berdua.” “Tidak.” Jessica menggeleng tegas. “Aku tidak akan keluar sebelum mendapatkan jawaban.” Benev menatapnya l
“Bagaimana kondisinya?” Benev berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tak lepas dari Estella yang masih terbaring lemah. Dokter Rowan, dokter pribadi Noir yang sudah bertahun-tahun menangani orang-orang di dalamnya, melepas stetoskop dari telinga dan mengalungkannya di leher. “Kondisinya cukup memprihatinkan.” Mata Benev menyipit. “Akibat syok?” “Syok memperburuk kondisinya, tapi bukan satu-satunya penyebab.” Rowan memeriksa beberapa catatan pemeriksaan sebelum kembali menatap Benev. “Dia mengalami demam tifoid. Tubuhnya juga menunjukkan tanda-tanda kekurangan cairan dan asupan makanan.” Rahang Benev mengeras. “Seberapa parah?” “Cukup parah. Saya menduga dia sudah beberapa hari tidak mendapatkan makanan dan cairan yang cukup. Tubuhnya kekurangan tenaga, ditambah tekanan fisik dan emosional yang mungkin dia alami sebelum sampai ke sini.” Rowan menghela napas pelan. “Gadis ini masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, sedikit tekanan saja bi
Estella membulatkan mata. “Me-menikah?” tanyanya terbata, seolah ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak keliru. “Ya.” Jawab Benev singkat, membuat Estella semakin bingung. “Aku datang ke sini untuk bekerja. Kenapa tiba-tiba menikah?” tanya Estella. Benev mengembuskan napas panjang. “Tempat ini bukan untuk orang sepertimu.” Kening Estella langsung berkerut. “Lalu di mana tempatku sebenarnya?” ia maju selangkah. “Aku datang ke sini untuk bekerja, kan? Aku sudah diterima Madam Jessica. Hari ini juga aku seharusnya mulai latihan. Tapi sekarang Tuan bilang kita akan menikah.” Kedua tangannya meremas sisi gaun yang dikenakannya. “Tolong jelaskan padaku. Sebenarnya apa yang terjadi?” Tatapan Estella mulai dipenuhi kebingungan. “Bibiku mengirimku ke sini untuk bekerja. Katanya aku harus membayar semua biaya yang sudah dia keluarkan untukku selama ini. Aku juga sudah diterima di sini. Jadi kenapa sekarang Tuan bilang tempat ini bukan untuk orang sepertiku?” Benev menatapnya b
Untuk beberapa saat, Estella hanya terpaku pada pria yang berjalan mendekatinya. Benev. Pria itu berhenti tepat di hadapannya dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana. Tubuhnya yang tinggi menjulang dibalut setelan hitam yang rapi, sementara langkahnya yang tenang justru membuat kehadirannya terasa semakin menekan. Aura dominannya memenuhi ruangan. Tanpa perlu meninggikan suara, semua orang yang bicara dengannya pasti menurut tanpa berani membantah. Tatapan mereka bertemu. Benev tidak berkedip sedikit pun. Tatapannya lurus dan sulit dibaca, membuat Estella tanpa sadar membuka bibir. Namun, tak ada satu kata pun yang keluar. Ia justru menelan ludah dengan susah payah. “Ini bukan tugasmu, Ben.” Jessica segera angkat bicara. “Bagaimana mungkin kamu yang melatih anak baru ini?” Benev tidak menjawab. Tatapannya perlahan turun, menelusuri Estella dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukan dengan tatapan yang membuat gadis itu nyaman, melainkan seperti seseorang yang sedang me







