Compartilhar

Istri Polos Sang Mafia
Istri Polos Sang Mafia
Autor: Langit Parama

BAB 01

last update Data de publicação: 2026-09-30 05:57:13

“Pel yang benar, Estella!”

BRAK!

Wanita itu menendang ember berisi air pel di hadapannya. Ember itu terguling, air keruh seketika tumpah dan mengalir membasahi lantai ruang tamu yang baru saja dibersihkan Estella.

Jemari Estella masih menggenggam erat gagang pel, sementara matanya terpaku pada air yang menggenang di lantai.

“Ada apa, Bibi?” Estella buru-buru mendekatinya. “Bagian ini sudah aku pel dengan baik.”

Tatapan Lauren terangkat. Dingin dan penuh kejengkelan. “Sudah dipel dengan baik? Lihat ini!”

Tangan Lauren mencengkeram rambut Estella dan menarik kepalanya ke bawah, memaksanya menatap genangan air di hadapan mereka.

“Lihat dengan mata kepalamu sendiri! Genangan air ini hampir membuatku terpeleset. Kamu mau aku jatuh dan patah tulang, huh? Iya?!”

Estella meringis. Tangannya refleks mencengkeram pergelangan tangan Lauren, berusaha melepaskan rambutnya yang ditarik kuat.

“Ah, sakit, Bi! Tolong lepas ….” rintihnya.

“Posisi kamu di sini bukan untuk memerintahku!” Tarikan itu justru semakin kuat hingga lutut Estella kehilangan tenaga. Tubuhnya jatuh bersimpuh di lantai yang basah. “Bersihkan genangan air itu menggunakan baju dan rokmu!”

Estella mendongak, matanya membulat. Sesaat, ia bahkan tidak yakin telah mendengar perintah itu dengan benar.

Sementara Lauren sama sekali tidak menunjukkan sedikit pun rasa iba. Ia melepaskan rambut Estella dengan kasar, kemudian mengambil beberapa lembar tisu untuk mengusap tangannya.

“Kenapa?” tatapan tajam kembali diarahkan kepada Estella. “Keberatan? Mau protes?”

Estella buru-buru menggeleng. “T-tidak, Bi.”

“Bagus.” Lauren membuang tisu kotor ke lantai, tepat di hadapan Estella. “Jangan lupa, kamu di rumah ini cuma numpang. Jadi lakukan tugasmu dengan benar kalau tidak mau diusir.”

Setelah mengatakan itu, Lauren melenggang pergi, meninggalkan Estella yang masih bersimpuh di tengah ruang tamu.

Beberapa detik gadis itu hanya diam. Lalu perlahan, ia menundukkan wajah. Tangannya bergerak meraih ujung roknya sendiri.

Tidak ada air mata. Bukan karena ia tidak sedih, Estella hanya sudah terlalu terbiasa diperlakukan seperti ini, dan hanya bisa menurut.

Sejak berusia sepuluh tahun, rumah ini adalah satu-satunya tempat yang ia kenal. Namun, delapan tahun terakhir tinggal di dalamnya, tidak pernah sekali pun Estella merasa benar-benar menjadi bagian dari keluarga itu.

Dulu, sebelum kecelakaan merenggut kedua orang tuanya, ia masih memiliki kehidupan yang layak. Ia pergi ke sekolah, bermain bersama teman-teman, pulang dan disambut ibunya, lalu menghabiskan malam di samping ayahnya.

Semuanya berakhir dalam satu hari. Kecelakaan itu tidak hanya mengambil kedua orang tuanya, tetapi juga merenggut masa kecil yang seharusnya masih panjang.

Setelahnya, Estella dirawat oleh Lauren, adik dari mendiang ibunya.

Awalnya, Estella berpikir ia akan mendapatkan keluarga baru. Ia salah. Hari demi hari, rumah itu perlahan mengubahnya dari seorang anak yatim menjadi seseorang yang terbiasa meminta maaf bahkan ketika dirinya tidak melakukan kesalahan.

Sekolahnya pun tidak berlangsung lama. Lauren menolak mengeluarkan biaya untuk pendidikan Estella dengan alasan tidak ingin menghamburkan uang untuk anak yang bukan darah dagingnya.

Estella akhirnya berhenti sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya. Dan sejak saat itu, kehidupan Estella hanya berputar di rumah ini.

Bangun sebelum semua orang. Memasak, mencuci, menyapu, mengepel, melayani kebutuhan Lauren, suami bibinya dan kedua sepupunya. Lalu tidur ketika semua pekerjaan selesai.

Ironisnya, meski tinggal di rumah yang sama selama delapan tahun, Estella tidak pernah diperlakukan seperti anak sendiri.

Kedua sepupunya tumbuh dengan pakaian bagus, pendidikan yang layak, dan kehidupan yang jauh lebih nyaman.

Sekarang, mereka sudah duduk di bangku SMA dan perguruan tinggi, sementara Estella bahkan tidak memiliki ijazah sekolah dasar.

Jika ada yang bertanya apa yang paling ia inginkan, Estella mungkin hanya akan menjawab satu hal. Kebebasan.

Namun, bagi gadis tujuh belas tahun yang tidak memiliki uang, pendidikan, keluarga, ataupun tempat untuk pergi, bahkan sekadar membayangkan hidup bebas terasa seperti kemewahan yang tidak mungkin ia miliki.

Estella mengusap cepat sudut matanya. Kemudian, tanpa membantah, ia tahu apa yang harus dilakukan, membersihkan semuanya.

Seperti biasa, di rumah ini, Estella tidak memiliki hak untuk mengeluh. Bahkan untuk menangis pun, ia harus melakukannya diam-diam.

Malam harinya, makan malam berlangsung seperti biasanya. Estella berdiri di belakang meja makan, menunggu sampai semua orang selesai sebelum membereskan piring-piring kotor.

Tidak ada yang memintanya duduk. Tidak ada yang menanyakan apakah ia sudah makan.

Paman dan bibinya menikmati makan malam bersama kedua anak mereka, Angel dan Fablo yang sama-sama terbiasa dengan kehadiran Estella seperti pelayan.

Lauren makan dengan tenang, seolah tidak ada siapa pun di ruang makan itu selain keluarganya sendiri.

Berbeda dengan istrinya, Magnus beberapa kali melirik ke arah Estella. Tatapan itu membuat Estella menundukkan wajah, meski ia tidak memahami alasan pria itu terus memperhatikannya, tapi ia takut dimarahi lagi.

Setelah meja kosong, pekerjaan baru dimulai kembali.

Ia membawa seluruh piring ke dapur, mencucinya, setelah itu mengelap meja, membersihkan lantai, lalu memastikan seluruh ruangan kembali rapi seperti sebelum makan malam dimulai.

Waktu terus berjalan, jarum jam hampir menyentuh tengah malam ketika Estella akhirnya selesai. Tangannya terasa pegal, punggungnya nyeri karena sejak pagi tidak berhenti bekerja.

Setelah memastikan dapur benar-benar bersih, Estella mematikan lampu dan berjalan menuju ruangan kecil yang selama bertahun-tahun menjadi tempat tidurnya, yaitu ruangan kecil di bagian belakang rumah.

Estella berjalan menyusuri lorong dengan langkah pelan. Tangannya baru saja hendak meraih gagang pintu Ketika seseorang tiba-tiba menarik tubuhnya dari belakang.

Estella menjerit ketika dua tangan itu menjeratnya erat hingga punggungnya menempel dengan tubuh pria itu. Saat Estella menoleh, ia mendapati Magnus di belakangnya.

“P-Paman?”

Magnus berbisik di telinganya. “Diam.”

Lalu, ia merasakan tangan pria itu mulai meremas tubuhnya. Ia tidak memahami apa yang terjadi, tapi ia tahu ini bukan hal yang benar. Ketakutan langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Paman, jangan! Lepaskan!” Estella berteriak, tetapi telapak tangan Magnus buru-buru membekap mulutnya. “Mmph!”

Air mata langsung memenuhi sudut mata Estella. Ia meronta, tetapi Magnus langsung memojokkannya ke dinding. Bruk! Rasa sakit bercampur rasa takut membuat tubuhnya gemetar.

Kemudian terdengar suara gesekan benda logam. Estella membeku. Matanya melebar ketika menyadari bunyi ikat pinggang yang hendak dilepaskan, disusul resleting celana yang diturunkan.

“APA-APAAN KALIAN?!”

Jeritan Lauren mengguncang lorong.

Magnus tersentak. Dalam satu gerakan cepat, ia mendorong Estella menjauh hingga gadis itu terjatuh ke lantai.

“Akh!” Estella meringis.

Ia belum sempat bangkit ketika Magnus mundur menjauh beberapa langkah darinya. Wajah pria itu berubah, menatap dengan sorot mata penuh amarah pada Estella.

“Dasar gadis tak bermoral!” suara Magnus terdengar marah padanya. “Kamu pikir aku akan diam saja kalau kamu terus menggodaku seperti itu?”

Estella kaget, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tepat saat itu, Lauren sudah datang dengan buru-buru mendengar tudingan suaminya.

Lauren menatap Estella dengan wajah penuh kemarahan. “Kamu?! Kamu melakukan apa, hah?!”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 10

    "Persiapkan pernikahan untuk satu bulan lagi, Damien." Ucap Benev pada asistennya tanpa menatap pria itu. “Mempersiapkan pernikahan?” Damien mengernyitkan dahi. “Pernikahan siapa, Tuan?” Benev tidak langsung menjawab. Pria itu masih duduk santai di kursi bar, menikmati wiski di tangannya. Setelah meneguknya, ia meletakkan gelas ke atas meja dengan gerakan tenang. “Untukku.” Damien terdiam, bola matanya membulat sempurna. “Untuk Anda?” ulangnya, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. “Anda akan menikah?” Benev hanya meliriknya sekilas. “Dengan siapa?” Damien menelan ludah. “Apa dengan Je—” “Estella.” Jawaban singkat itu langsung memutus kalimat Damien. “Nona Estella?” Damien dibuat kehilangan kata-kata. Namun, Benev sama sekali tidak berniat memberikan penjelasan lebih jauh. Ia turun dari kursi bar, meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi, lalu mengenakannya sambil berjalan meninggalkan ruangan. Damien segera mengejar. “Jadi benar, Tuan? And

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 09

    Langit telah sepenuhnya gelap ketika Jessica masih berdiri di depan pintu masuk asrama. Sejak tadi ia mondar-mandir tanpa tujuan, sesekali menggigit kuku ibu jarinya sambil melirik gerbang yang tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda kepulangan Estella. “Kenapa gadis itu belum kembali juga?” gumamnya frustrasi. Jessica kembali menatap gerbang. Kosong, tidak ada Estella. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang justru membuatnya semakin gelisah. “Jangan-jangan Benev membiarkan gadis itu tinggal di rumahnya?” Mata Jessica langsung membelalak. “Dan ... apa benar mereka akan menikah?” Ia buru-buru menggeleng, seolah ingin mengusir pikirannya sendiri. “Tidak mungkin. Pasti bukan mereka.” Jessica mendengus. “Benev baru bertemu gadis itu tadi pagi. Mustahil dia langsung berpikir untuk menikah.” Namun, semakin ia mencoba menyangkal, semakin jelas wajah Estella terbayang dalam ingatannya. Gadis itu terlalu kurus. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, bahkan pendidikannya pun n

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 08

    “Ben, jawab aku. Pernikahan siapa yang gadis itu maksud?” Jessica langsung mendesak Benev. “Kamu dan gadis itu, iya?” tangannya bahkan menarik lengan Benev agar pria itu menoleh kepadanya. “Jawab aku, Ben!” Benev menghela napas panjang. “Pelankan suaramu, Jes. Ada orang sakit di sini.” “Tidak peduli!” Jessica masih belum mau menyerah. “Aku ingin tahu pernikahan siapa yang dia maksud. Kamu harus menjawabnya.” Estella hanya bisa menatap keduanya secara bergantian. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tetapi melihat cara Jessica bereaksi, pikirannya mulai dipenuhi dugaan. Pasti ada sesuatu diantara mereka berdua. Hubungan yang spesial, mungkin. Benev memejamkan mata sesaat, seolah sedang mengumpulkan kesabaran. Ketika matanya kembali terbuka, tatapannya sudah berubah dingin. “Keluar.” Ucapnya singkat, namun tajam. Jessica terdiam. “Apa?” “Tinggalkan kami berdua.” “Tidak.” Jessica menggeleng tegas. “Aku tidak akan keluar sebelum mendapatkan jawaban.” Benev menatapnya l

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 07

    “Bagaimana kondisinya?” Benev berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tak lepas dari Estella yang masih terbaring lemah. Dokter Rowan, dokter pribadi Noir yang sudah bertahun-tahun menangani orang-orang di dalamnya, melepas stetoskop dari telinga dan mengalungkannya di leher. “Kondisinya cukup memprihatinkan.” Mata Benev menyipit. “Akibat syok?” “Syok memperburuk kondisinya, tapi bukan satu-satunya penyebab.” Rowan memeriksa beberapa catatan pemeriksaan sebelum kembali menatap Benev. “Dia mengalami demam tifoid. Tubuhnya juga menunjukkan tanda-tanda kekurangan cairan dan asupan makanan.” Rahang Benev mengeras. “Seberapa parah?” “Cukup parah. Saya menduga dia sudah beberapa hari tidak mendapatkan makanan dan cairan yang cukup. Tubuhnya kekurangan tenaga, ditambah tekanan fisik dan emosional yang mungkin dia alami sebelum sampai ke sini.” Rowan menghela napas pelan. “Gadis ini masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, sedikit tekanan saja bi

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 06

    Estella membulatkan mata. “Me-menikah?” tanyanya terbata, seolah ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak keliru. “Ya.” Jawab Benev singkat, membuat Estella semakin bingung. “Aku datang ke sini untuk bekerja. Kenapa tiba-tiba menikah?” tanya Estella. Benev mengembuskan napas panjang. “Tempat ini bukan untuk orang sepertimu.” Kening Estella langsung berkerut. “Lalu di mana tempatku sebenarnya?” ia maju selangkah. “Aku datang ke sini untuk bekerja, kan? Aku sudah diterima Madam Jessica. Hari ini juga aku seharusnya mulai latihan. Tapi sekarang Tuan bilang kita akan menikah.” Kedua tangannya meremas sisi gaun yang dikenakannya. “Tolong jelaskan padaku. Sebenarnya apa yang terjadi?” Tatapan Estella mulai dipenuhi kebingungan. “Bibiku mengirimku ke sini untuk bekerja. Katanya aku harus membayar semua biaya yang sudah dia keluarkan untukku selama ini. Aku juga sudah diterima di sini. Jadi kenapa sekarang Tuan bilang tempat ini bukan untuk orang sepertiku?” Benev menatapnya b

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 05

    Untuk beberapa saat, Estella hanya terpaku pada pria yang berjalan mendekatinya. Benev. Pria itu berhenti tepat di hadapannya dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana. Tubuhnya yang tinggi menjulang dibalut setelan hitam yang rapi, sementara langkahnya yang tenang justru membuat kehadirannya terasa semakin menekan. Aura dominannya memenuhi ruangan. Tanpa perlu meninggikan suara, semua orang yang bicara dengannya pasti menurut tanpa berani membantah. Tatapan mereka bertemu. Benev tidak berkedip sedikit pun. Tatapannya lurus dan sulit dibaca, membuat Estella tanpa sadar membuka bibir. Namun, tak ada satu kata pun yang keluar. Ia justru menelan ludah dengan susah payah. “Ini bukan tugasmu, Ben.” Jessica segera angkat bicara. “Bagaimana mungkin kamu yang melatih anak baru ini?” Benev tidak menjawab. Tatapannya perlahan turun, menelusuri Estella dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukan dengan tatapan yang membuat gadis itu nyaman, melainkan seperti seseorang yang sedang me

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status