LOGINPagi-pagi buta, ketika langit masih abu-abu dan semua orang di rumah belum semuanya bangun, Estella sudah dijemput. Sebuah mobil gelap berhenti di depan pagar.
Lauren berdiri di ambang pintu dengan wajah datar, seolah ingin segera menyingkirkan gadis itu dari pandangannya. Kedua tangannya terlipat di dada. Wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun turun dari mobil. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya masih menyimpan sisa kecantikan masa muda, matanya tajam dan terbiasa menilai. Ia adalah teman lama Lauren. Bertahun-tahun lalu, ketika usianya masih muda, ia pernah bekerja di tempat yang sama dengan tujuan Estella sekarang. Lauren melangkah mendekati Estella yang berdiri dengan kepala tertunduk. Ia memperhatikan penampilan Estella dari ujung kepala sampai kaki. Rambutnya yang biasanya berantakan ia rapikan. Wajahnya dibersihkan dan diberi sedikit riasan. Bahkan pakaian sederhana yang biasa dikenakan gadis itu diganti dengan pakaian yang jauh lebih pantas. Estella sempat menatap dirinya sendiri dengan bingung. Untuk apa semua ini? Selama bertahun-tahun tinggal di rumah tersebut, Lauren tidak pernah sekalipun peduli dengan penampilannya. “Bagaimana?” Lauren bertanya kepada wanita yang berdiri di samping mobil. Wanita itu memperhatikan Estella beberapa saat. “Lumayan cantik, kan?” Lauren melanjutkan dengan senyum tipis. “Noir pasti akan menerimanya?” satu alisnya terangkat. “Cantik.” Wanita itu mengangguk. “Tapi kurus sekali.” Lauren mendengus kecil. “Tapi tidak masalah. Dia akan dilatih di sana.” Wanita itu menambahkan. Estella yang berdiri tak jauh dari mereka mengerutkan kening. Noir? Dilihat dari cara mereka membicarakannya, tempat itu terdengar seperti sesuatu yang berbeda dari pekerjaan biasa. Namun, sebelum Estella sempat bertanya, Lauren sudah mengulurkan tangannya pada wanita itu. “Bayarannya?” Wanita itu terdiam sesaat, lalu membuka tas yang dibawanya. Segepok uang dalam map coklat ia serahkan kepada Lauren. Lauren langsung menerimanya dan melirik sekilas sebelum menyunggingkan senyum tipis, merasa puas. Estella melihat semua itu. Tatapannya berpindah dari uang di tangan Lauren, kemudian kepada wanita yang akan membawanya pergi. Ia belum bekerja, bahkan belum sampai di tempat yang bernama Noir. Tetapi bibinya sudah menerima uang. Estella tidak mengerti. Bukankah seharusnya seseorang mendapatkan bayaran setelah menyelesaikan pekerjaannya? Lalu kenapa Lauren justru dibayar sekarang? Untuk sesaat, Estella mulai merasa bahwa Noir mungkin adalah tempat yang aneh. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Mungkin memang begitulah aturan pekerjaan di sana. Bagaimanapun juga, ia tidak punya pilihan lain. Selama bisa meninggalkan rumah itu, Estella bersedia mencoba apa pun. “Sudah,” kata Lauren setelah memasukkan uang tersebut ke dalam tas. “Bawa dia pergi.” Wanita itu mengangguk. “Aku akan mengurusnya sisanya.” Estella kembali menatap Lauren. Tidak ada rasa kehilangan di wajah bibinya. Tidak ada pula pesan untuk berhati-hati atau ucapan agar dirinya menjaga diri. Hanya tatapan datar sebelum Lauren berbalik meninggalkannya. Estella menunduk. Mungkin memang begini rasanya meninggalkan rumah yang tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai keluarga. Wanita itu menoleh pada Estella. “Ayo.” Estella menelan ludah, menggenggam erat tas jinjing usang, lalu mengikuti wanita itu menuju mobil. Sebelum masuk, wanita itu mengeluarkan sebuah botol air mineral. “Minum dulu.” Estella segera menerima botol air itu tanpa ragu. Selama berhari-hari dikurung di dalam Gudang sampai dia akhirnya dikeluarkan, Lauren bahkan tidak memberinya setetes air pun. “Terima kasih banyak, Bi.” Ia langsung meneguknya sampai habis. Air sebanyak 600 mililiter itu tandas dalam waktu singkat, tetapi tenggorokannya masih terasa kering. Rasa hausnya belum benar-benar hilang. Estella sempat melirik botol kosong di tangannya. Ia ingin meminta lagi. Namun, rasa sungkan membuatnya mengurungkan niat. Setidaknya, tubuhnya sudah mendapatkan sedikit cairan setelah berhari-hari hanya menahan haus. Wanita yang duduk di kursi pengemudi hanya meliriknya sekilas. Wajahnya tetap datar, tetapi sudut bibirnya terangkat tipis. Tanpa mengatakan apa-apa, ia menyalakan mesin mobil. Mobil pun mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Tidak lama setelah mobil melaju, kelopak matanya terasa berat. Dunia di sekelilingnya perlahan mengabur, hingga akhirnya ia tertidur pulas di kursi penumpang. Ketika Estella membuka mata lagi, mobil sudah berhenti. Kepalanya masih sedikit pusing. Ia mengedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan cahaya matahari pagi yang menyelinap masuk lewat kaca. “Kita sudah dekat,” ujar wanita di sampingnya. “Kamu cantik. Noir tidak akan menolak gadis sepertimu.” Jemari Estella di atas pangkuan saling meremas pelan. Ia masih belum sepenuhnya sadar di mana mereka berada. “Dan aku yakin, kamu akan sukses di sana.” Wanita itu melanjutkan dengan percaya diri. “Setelah sukses, jangan lupa dengan bibimu.” Estella menelan ludah. Suaranya pelan, penuh rasa ingin tahu yang naif. “Di sana nanti aku bekerja sebagai apa, Bi?” Wanita itu hanya melirik sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian pada jalan. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Kamu akan tahu sendiri nanti.” Jawaban itu membuat rasa penasaran Estella semakin besar. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela. Pepohonan tinggi di kiri kanan jalan membuatnya merasa semakin jauh dari dunia yang ia kenal. “Kita sudah sampai. Turun.” Estella menahan napas saat membuka pintu. Di hadapannya berdiri sebuah bangunan besar yang tersembunyi jauh di tengah hutan. Dindingnya menjulang tinggi dengan arsitektur gelap dan elegan, menyatu dengan bayang-bayang pepohonan. Namun yang paling menarik perhatiannya adalah patung gagak hitam raksasa di puncak bangunan itu. Sayapnya terbentang lebar, matanya dari batu hitam yang menangkap cahaya samar. Ia menatapnya dengan mata membulat, campur takut dan kagum. Tempat ini terasa asing. Bukan seperti rumah, bukan seperti toko, bukan seperti apa pun yang pernah ia bayangkan. “Ayo, masuk. Kita harus berjalan kaki dari sini,” kata wanita paruh baya itu sambil turun lebih dulu. Estella mengangguk pelan dan menurut. Jarak menuju gedung sekitar satu kilometer. Ia mengikuti di belakang, langkahnya masih sedikit goyah karena sisa kantuk. Sesampainya di depan bangunan utama, Estella menoleh ke sekeliling. Begitu masuk ke dalam, suasana berubah total. Cahaya redup. Aroma rokok dan alkohol langsung menyambut indranya. Beberapa wanita berpenampilan menarik dan seksi terlihat duduk di sofa panjang. Ada yang menghisap rokok dengan santai, ada pula yang memegang gelas berisi minuman keras. Tawa dan gemerincing es sesekali terdengar. Estella berjalan di belakang teman bibinya dengan mata yang terus bergerak. Segalanya terasa aneh dan baru. Wanita-wanita itu bersikap terlalu bebas, terlalu berani. Pakaian mereka terbuka di beberapa bagian. Ia merasa asing, tapi di saat yang sama juga penasaran. Wanita paruh baya itu tidak memberi waktu banyak untuk mengamati. Ia menuntun Estella menyusuri koridor hingga berhenti di depan sebuah pintu. Setelah mengetuk singkat, pintu itu didorong terbuka. Di dalam ruangan, seorang perempuan muda duduk di belakang meja kerja. Usianya sekitar dua puluh delapan tahun, penampilannya rapi namun tegas. Rambutnya diikat rapi, tatapannya tajam saat mengalihkan perhatian dari dokumen di hadapannya. Wanita yang mengantar memberi kode singkat, lalu keluar meninggalkan mereka berdua. Perempuan di belakang meja itu berdiri. Matanya menyapu tubuh Estella dari ujung rambut hingga ujung kaki, menilai tanpa basa-basi. “Aku sudah tahu mengenai kedatanganmu,” ujarnya akhirnya, suaranya tenang namun penuh otoritas. “Mulai hari ini kamu resmi menjadi bagian dari Noir.” Ia kemudian keluar dari meja, berdiri tepat di hadapan Estella dan menatap gadis itu dingin, “Jadi, kamu tidak diizinkan keluar dari sini dengan alasan apapun.” _____ Pukul sebelas malam. Di lantai tertinggi sebuah hunian pribadi yang menghadap langsung ke kawasan Noir, Benev Castello berdiri di depan jendela besar. Cahaya redup dari dalam ruangan membingkai siluetnya yang tinggi dan tegap. Ia tidak mengenakan baju. Di sepanjang punggungnya terpampang tato burung gagak hitam yang mengepakan sayap, sementara di lengan kirinya, tato ular melilit hingga pergelangan tangan. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi wiski dipegang longgar. Tatapannya tajam menembus kaca, mengawasi gedung Noir yang berdiri di kejauhan seperti makhluk yang tidak pernah tidur. Bagi pemilik Noir, pergantian siang menjadi malam tidak pernah berarti dunia berhenti. Justru saat malam tiba, berbagai urusan gelap mulai bergerak. Pintu di belakangnya terbuka pelan. “Hari ini ada gadis baru masuk,” laporan asistennya singkat. “Dibawa oleh mantan pekerja Noir.” Benev tidak berbalik. “Mantan pekerja?” “Ya, Tuan.” “Seharusnya tidak perlu diragukan. Lagipula bukan tugasku memastikan identitasnya. Selagi bukan kiriman musuh, berarti aman.” Asistennya menunduk hormat. “Benar. Tapi saya ingin Anda melihat dulu identitas gadis ini.” Benev hanya menghela napas pendek. Ia mengulurkan tangan ke belakang tanpa menoleh. Asistennya segera meletakkan sebuah iPad di telapak tangannya. Layar itu menyala. Foto dan data identitas gadis yang dimaksud muncul di depan matanya. Wajah Benev yang sejak tadi datar berubah seketika.Estella masih duduk seorang diri di salah satu bangku gereja. Gaun putih yang dikenakannya sejak tadi belum berganti. Buket bunga di tangannya juga masih berada di pangkuan, sementara gereja yang beberapa saat lalu dipenuhi suara pendeta kini kembali sunyi. Ia memilih tetap tinggal. Bukan karena menunggu Benev kembali dan datang menjemputnya, gadis itu hanya ingin berdoa. Sudah bertahun-tahun Estella tidak lagi datang ke gereja sejak kedua orang tuanya meninggal. Dulu, tempat seperti ini begitu akrab baginya. Ia sering datang bersama ayah dan ibunya, duduk di antara mereka, lalu menggenggam tangan keduanya ketika mereka berdoa. Namun, hari ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Estella kembali berada di tempat ini. Sebagai seorang istri. Estella menundukkan kepala. Kedua tangannya terkatup di depan wajah, kemudian matanya terpejam. “Ayah, Ibu …,” suaranya lirih. “Semoga kalian baik-baik saja di surga.” Bibirnya membentuk senyum tipis, meski matanya mulai berkaca-kaca. “Di
“Ngomong-ngomong, di mana Nona Estella?” Pengacara itu melirik ke sekeliling ruangan. Tatapannya sempat berhenti pada tangga menuju lantai dua, seolah berharap gadis yang dicarinya akan muncul dari sana. Lauren menelan ludah. Wajahnya yang semula tenang perlahan berubah sendu. “Estella … dia tidak ada di rumah ini.” Magnus sontak menoleh kepada istrinya. Angel yang sejak tadi berdiri di dekat sofa juga ikut memandang Lauren dengan ekspresi heran. Pengacara itu mengerutkan kening. “Tidak ada di rumah ini maksudnya bagaimana? Nona Estella tidak tinggal di sini, atau kebetulan sedang berada di luar?” Lauren menghela napas panjang. Bahunya turun, seolah pertanyaan sederhana itu saja sudah cukup untuk mengorek luka yang selama ini ia pendam. “Estella tidak tinggal di sini lagi. Dia pergi dari rumah sekitar satu bulan yang lalu.” “Satu bulan yang lalu?” Pengacara itu tampak semakin bingung. “Ke mana perginya Nona Estella?” Magnus segera meraih tangan Lauren. Jemarinya menggenggam tan
“Apa itu?” Angel yang sedang bersantai di balkon langsung bangkit ketika melihat sebuah mobil besar berhenti di depan rumah. Di belakangnya, tampak sebuah mobil sport berwarna merah muda yang masih terlihat baru. Mata Angel langsung berbinar. “Wah ... apa itu untukku?” tanpa pikir panjang, Angel berlari meninggalkan balkon. “Ibu!” Teriakannya terdengar sampai ke lantai bawah. Lauren dan Magnus yang sedang menikmati camilan di ruang tengah sontak menoleh ke arah tangga. “Ada apa, Angel?” tegur Lauren. “Kenapa berteriak seperti itu?” Angel langsung menghampiri ibunya dan memeluknya erat. “Terima kasih, Ibu! Ibu benar-benar mengabulkan permintaanku!” Lauren mengernyit. “Mengabulkan apa?” ia tidak merasa sedang menyiapkan sesuatu untuk putrinya. Angel melepaskan pelukannya dengan wajah penuh kegembiraan. “Mobil pink yang aku minta sebulan lalu!” Lauren semakin bingung. “Mobil?” “Iya! Yang di depan rumah itu!” Lauren dan Magnus saling berpandangan. Belum sempat Lauren meminta pen
Setelah mengambil barang-barang pribadinya dari asrama, Estella meninggalkan tempat itu dengan sebuah tas jinjing usang di tangan. Langkahnya membawa gadis itu kembali menuju kediaman Benev. Begitu sampai, Estella baru hendak membuka pintu utama ketika langkahnya terhenti. Benev berdiri di ambang pintu. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara tatapan datarnya langsung tertuju pada Estella. “Tu-Tuan?” Sudah beberapa hari sejak malam itu, malam ketika Jessica mengamuk setelah mengetahui rencana pernikahan mereka. Sejak saat itu pula, Benev tidak pernah lagi menemui Estella. Namun, hari ini pria itu tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya. Tatapannya kemudian turun pada tas yang dibawa Estella. “Barang penting apa sampai kamu membawanya sebanyak itu?” Estella tersentak dari lamunannya. “Hah?” ia buru-buru melihat tas di tangannya. “Ini ...,” Estella mengangkat tas tersebut sedikit. “Awalnya aku hanya ingin mengambil barang peninggalan Ayah dan Ibu. Tapi ...,” Ia ragu seje
Sudah satu minggu Estella tinggal di Noir, lebih tepatnya di kediaman pribadi Benev. Selama itu pula, dua orang pelayan selalu siap melayaninya. Mulai dari menyiapkan makanan, mengingatkan obat, sampai memastikan Estella cukup beristirahat. Hasilnya terlihat jelas. Tubuhnya jauh lebih segar dibandingkan saat pertama kali tiba di Noir. Wajahnya tak lagi sepucat sebelumnya, dan tenaganya perlahan kembali. Semua itu tidak lepas dari perhatian Benev yang secara khusus meminta agar kondisi Estella dijaga dengan baik. Pagi itu, Dokter Rowan datang untuk memeriksa keadaannya. Estella berbaring di atas ranjang selama pemeriksaan berlangsung. Namun, beberapa kali matanya melirik ke arah pintu. Seolah sedang menunggu seseorang. Dokter Rowan yang menyadari hal itu hanya diam-diam memperhatikannya. Setelah selesai memeriksa, pria paruh baya itu melepaskan stetoskop dari telinganya dan menggantungkannya di leher. “Kondisimu jauh lebih baik dibandingkan saat terakhir kali aku memeriksamu.” E
"Persiapkan pernikahan untuk satu bulan lagi, Damien." Ucap Benev pada asistennya tanpa menatap pria itu. “Mempersiapkan pernikahan?” Damien mengernyitkan dahi. “Pernikahan siapa, Tuan?” Benev tidak langsung menjawab. Pria itu masih duduk santai di kursi bar, menikmati wiski di tangannya. Setelah meneguknya, ia meletakkan gelas ke atas meja dengan gerakan tenang. “Untukku.” Damien terdiam, bola matanya membulat sempurna. “Untuk Anda?” ulangnya, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. “Anda akan menikah?” Benev hanya meliriknya sekilas. “Dengan siapa?” Damien menelan ludah. “Apa dengan Je—” “Estella.” Jawaban singkat itu langsung memutus kalimat Damien. “Nona Estella?” Damien dibuat kehilangan kata-kata. Namun, Benev sama sekali tidak berniat memberikan penjelasan lebih jauh. Ia turun dari kursi bar, meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi, lalu mengenakannya sambil berjalan meninggalkan ruangan. Damien segera mengejar. “Jadi benar, Tuan? And







