LOGINEstella masih duduk seorang diri di salah satu bangku gereja. Gaun putih yang dikenakannya sejak tadi belum berganti. Buket bunga di tangannya juga masih berada di pangkuan, sementara gereja yang beberapa saat lalu dipenuhi suara pendeta kini kembali sunyi. Ia memilih tetap tinggal. Bukan karena menunggu Benev kembali dan datang menjemputnya, gadis itu hanya ingin berdoa. Sudah bertahun-tahun Estella tidak lagi datang ke gereja sejak kedua orang tuanya meninggal. Dulu, tempat seperti ini begitu akrab baginya. Ia sering datang bersama ayah dan ibunya, duduk di antara mereka, lalu menggenggam tangan keduanya ketika mereka berdoa. Namun, hari ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Estella kembali berada di tempat ini. Sebagai seorang istri. Estella menundukkan kepala. Kedua tangannya terkatup di depan wajah, kemudian matanya terpejam. “Ayah, Ibu …,” suaranya lirih. “Semoga kalian baik-baik saja di surga.” Bibirnya membentuk senyum tipis, meski matanya mulai berkaca-kaca. “Di
“Ngomong-ngomong, di mana Nona Estella?” Pengacara itu melirik ke sekeliling ruangan. Tatapannya sempat berhenti pada tangga menuju lantai dua, seolah berharap gadis yang dicarinya akan muncul dari sana. Lauren menelan ludah. Wajahnya yang semula tenang perlahan berubah sendu. “Estella … dia tidak ada di rumah ini.” Magnus sontak menoleh kepada istrinya. Angel yang sejak tadi berdiri di dekat sofa juga ikut memandang Lauren dengan ekspresi heran. Pengacara itu mengerutkan kening. “Tidak ada di rumah ini maksudnya bagaimana? Nona Estella tidak tinggal di sini, atau kebetulan sedang berada di luar?” Lauren menghela napas panjang. Bahunya turun, seolah pertanyaan sederhana itu saja sudah cukup untuk mengorek luka yang selama ini ia pendam. “Estella tidak tinggal di sini lagi. Dia pergi dari rumah sekitar satu bulan yang lalu.” “Satu bulan yang lalu?” Pengacara itu tampak semakin bingung. “Ke mana perginya Nona Estella?” Magnus segera meraih tangan Lauren. Jemarinya menggenggam tan
“Apa itu?” Angel yang sedang bersantai di balkon langsung bangkit ketika melihat sebuah mobil besar berhenti di depan rumah. Di belakangnya, tampak sebuah mobil sport berwarna merah muda yang masih terlihat baru. Mata Angel langsung berbinar. “Wah ... apa itu untukku?” tanpa pikir panjang, Angel berlari meninggalkan balkon. “Ibu!” Teriakannya terdengar sampai ke lantai bawah. Lauren dan Magnus yang sedang menikmati camilan di ruang tengah sontak menoleh ke arah tangga. “Ada apa, Angel?” tegur Lauren. “Kenapa berteriak seperti itu?” Angel langsung menghampiri ibunya dan memeluknya erat. “Terima kasih, Ibu! Ibu benar-benar mengabulkan permintaanku!” Lauren mengernyit. “Mengabulkan apa?” ia tidak merasa sedang menyiapkan sesuatu untuk putrinya. Angel melepaskan pelukannya dengan wajah penuh kegembiraan. “Mobil pink yang aku minta sebulan lalu!” Lauren semakin bingung. “Mobil?” “Iya! Yang di depan rumah itu!” Lauren dan Magnus saling berpandangan. Belum sempat Lauren meminta pen
Setelah mengambil barang-barang pribadinya dari asrama, Estella meninggalkan tempat itu dengan sebuah tas jinjing usang di tangan. Langkahnya membawa gadis itu kembali menuju kediaman Benev. Begitu sampai, Estella baru hendak membuka pintu utama ketika langkahnya terhenti. Benev berdiri di ambang pintu. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara tatapan datarnya langsung tertuju pada Estella. “Tu-Tuan?” Sudah beberapa hari sejak malam itu, malam ketika Jessica mengamuk setelah mengetahui rencana pernikahan mereka. Sejak saat itu pula, Benev tidak pernah lagi menemui Estella. Namun, hari ini pria itu tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya. Tatapannya kemudian turun pada tas yang dibawa Estella. “Barang penting apa sampai kamu membawanya sebanyak itu?” Estella tersentak dari lamunannya. “Hah?” ia buru-buru melihat tas di tangannya. “Ini ...,” Estella mengangkat tas tersebut sedikit. “Awalnya aku hanya ingin mengambil barang peninggalan Ayah dan Ibu. Tapi ...,” Ia ragu seje
Sudah satu minggu Estella tinggal di Noir, lebih tepatnya di kediaman pribadi Benev. Selama itu pula, dua orang pelayan selalu siap melayaninya. Mulai dari menyiapkan makanan, mengingatkan obat, sampai memastikan Estella cukup beristirahat. Hasilnya terlihat jelas. Tubuhnya jauh lebih segar dibandingkan saat pertama kali tiba di Noir. Wajahnya tak lagi sepucat sebelumnya, dan tenaganya perlahan kembali. Semua itu tidak lepas dari perhatian Benev yang secara khusus meminta agar kondisi Estella dijaga dengan baik. Pagi itu, Dokter Rowan datang untuk memeriksa keadaannya. Estella berbaring di atas ranjang selama pemeriksaan berlangsung. Namun, beberapa kali matanya melirik ke arah pintu. Seolah sedang menunggu seseorang. Dokter Rowan yang menyadari hal itu hanya diam-diam memperhatikannya. Setelah selesai memeriksa, pria paruh baya itu melepaskan stetoskop dari telinganya dan menggantungkannya di leher. “Kondisimu jauh lebih baik dibandingkan saat terakhir kali aku memeriksamu.” E
"Persiapkan pernikahan untuk satu bulan lagi, Damien." Ucap Benev pada asistennya tanpa menatap pria itu. “Mempersiapkan pernikahan?” Damien mengernyitkan dahi. “Pernikahan siapa, Tuan?” Benev tidak langsung menjawab. Pria itu masih duduk santai di kursi bar, menikmati wiski di tangannya. Setelah meneguknya, ia meletakkan gelas ke atas meja dengan gerakan tenang. “Untukku.” Damien terdiam, bola matanya membulat sempurna. “Untuk Anda?” ulangnya, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. “Anda akan menikah?” Benev hanya meliriknya sekilas. “Dengan siapa?” Damien menelan ludah. “Apa dengan Je—” “Estella.” Jawaban singkat itu langsung memutus kalimat Damien. “Nona Estella?” Damien dibuat kehilangan kata-kata. Namun, Benev sama sekali tidak berniat memberikan penjelasan lebih jauh. Ia turun dari kursi bar, meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi, lalu mengenakannya sambil berjalan meninggalkan ruangan. Damien segera mengejar. “Jadi benar, Tuan? And







