Share

Belum Terbuka

Author: Aldra_12
last update publish date: 2026-10-19 12:47:09

Acara usai menjelang tengah malam.

Freya sudah berada di dalam mobil bersama Keano.

Di dalam kabin, Freya bersandar pelan di jok. Senyum yang dia pertahankan sepanjang malam mulai terasa pegal di pipinya. Kakinya berdenyut karena hak sepatunya yang terlalu tinggi, dan jari-jarinya juga terasa dingin. Jas Keano masih tersemant di bahunya karena dia lupa mengembalikannya.

Keano tidak banyak bicara. Dia duduk dengan satu tangan di atas lutut dan pandangan tertuju ke jendela.

Sesekali Freya menan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Margaretha Indrayani
siapa yang kirim pesan sama freya ya? sebetulnya keano dan freya sudah saling cinta tapi masih disimpan rapi dihati merrka
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Belum Terbuka

    Acara usai menjelang tengah malam. Freya sudah berada di dalam mobil bersama Keano.Di dalam kabin, Freya bersandar pelan di jok. Senyum yang dia pertahankan sepanjang malam mulai terasa pegal di pipinya. Kakinya berdenyut karena hak sepatunya yang terlalu tinggi, dan jari-jarinya juga terasa dingin. Jas Keano masih tersemant di bahunya karena dia lupa mengembalikannya.Keano tidak banyak bicara. Dia duduk dengan satu tangan di atas lutut dan pandangan tertuju ke jendela. Sesekali Freya menangkap pantulan wajah Keano dari spion tengah, dan pria itu selalu berpaling saat menyadari tatapan Freya.Freya hanya diam, tak ada pembahasan sama sekali di dalam mobil.Hingga beberapa saat kemudian, mobil mereka tiba di kediaman Pradipta.Freya melangkah turun dari mobil, dia tatap Keano yang sudah berdiri di hadapannya.“Ayo.” Tangan Keano terulur pada Freya.Freya meraihnya, hangat menjalar di kulitnya. Dia melangkah mengikuti Keano yang berjalan menuntunnya masuk ke dalam rumah.Begitu pint

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Beban di Pesta

    Mobil berhenti di pelataran Hotel Prada tepat ketika lampu-lampu kristal di lobi menyala semua. Seorang petugas valet membuka pintu, dan udara malam yang dingin menyapu bahu Freya yang hanya tertutup kain tipis.Dia menggenggam clutch di pangkuannya dengan kedua tangan. Lalu, perlahan turun dari mobil saat Keano mengulurkan tangan ke arahnya.Freya berdiri dengan anggun, bahkan dia sampai tak mengenali kalau wanita berpakaian kelas atas ini adalah dirinya.Dari mobil di belakang, Jordan dan Nadine turun. Nadine melangkah mendekat bersama Jordan ke arah Freya dan Keano berdiri.Begitu ada di hadapan Freya, Nadine mengulurkan tangan, merapikan helai rambut Freya yang menjuntai di pelipis dengan gerakan ringan seperti ibu yang mengantar anaknya ke panggung."Cantik," bisik Nadine. "Tegakkan bahumu. Kamu tidak perlu takut pada siapa pun malam ini." Senyum Nadine begitu menghangatkan.Freya mengangguk. Dadanya berdegup begitu keras sampai dia khawatir suaranya terdengar.Keano menekuk le

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Ragu Pada Diri Sendiri

    Keesokan harinya.Freya ada di dalam kamar mandi. Dia tidak ke mall, Keano sudah membuatkan izin untuknya agar tak masuk hari ini.Freya melangkah keluar dari kamar mandi begitu selesai. Dia berjalan sambil mengusap rambutnya yang basah, dan langkahnya terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu. “Freya, ini Mama.” Suara Nadine terdengar dari pintu luar.“Ya, Ma.” Freya membalas. Dia berjalan ke arah pintu, lalu membuka.Freya kaget melihat Nadine datang tak sendirian.Nadine masuk bersama dua pelayan yang mendorong rak gantungan berisi gaun-gaun malam."Keano sudah meminta izin ke supervisor tokomu, kan?" kata Nadine sambil menunjuk koleksi itu. "Jadi, ayo pilih gaun yang harus kamu pakai buat acara nanti."Freya canggung, dia tatap Nadine yang tampak begitu antusias. "Ma, tidak usah repot-repot—""Mama tidak repot." Nadine menarik satu gaun dari gantungan. "Mama senang."Freya tidak tahu bagaimana menolak orang yang berkata ‘senang’ dengan wajah sebahagia itu. Dia pasrah. Beberap

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Mungkin Tidak Bisa

    Makan malam tiba. Sup buatan Freya sudah disajikan di atas meja. Uapnya mengepul dengan aroma rempah yang begitu kuat.Jordan duduk di kursinya, menatap menu di atas meja, menunggu makan malam siap.Nadine duduk berhadapan dengan Keano yang bersebelahan dengan Freya. Freya menunduk sambil memutar sendok di mangkuknya sendiri. Dia terlalu gugup untuk menatap Keano.Keano menyendok kuahnya, meniup pelan, lalu menyesap.Tidak ada yang bicara.Keano menyendok lagi. Sekali, dua kali, tiga kali. Tanpa berkata apa pun, dia mengambil sepotong iga, memisahkan dagingnya dengan sendok, dan memakannya dengan tenang. Mangkuk pertama habis. Dia menambah satu mangkuk lagi tanpa menoleh pada siapa pun.Jordan menurunkan sendoknya perlahan. Dia menatap heran pada putranya yang makan begitu lahap."Sudah lama Papa gak lihat kamu makan sebanyak ini." Jordan tak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Keano.Nadine juga menatap pada putranya, nafsu makan Keano mendadak berubah begitu besar."Supnya en

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Janji Memasak

    Mobil berhenti di pelataran rumah Pradipta saat langit mulai berubah warna. Keano turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Freya. Gerakannya biasa saja, tapi Freya masih belum terbiasa diperlakukan begitu.Di sepanjang jalan tadi dia belum bicara lagi. Wajah Keano yang melembut sesaat setelah membaca pesan itu masih mengganggu pikirannya. Dia sudah memutuskan untuk mengabaikannya, tapi keputusan itu tidak sepenuhnya berhasil."Keano," panggil Freya begitu mereka berdiri di depan pintu utama."Hm?" Keano menoleh, menatap Freya yang seperti mau mengatakan sesuatu."Aku mau ke dapur sebentar." Telunjuk Freya terangkat sejenak ke dalam rumah.Kedua sudut alis Keano tertarik ke atas. "Lapar?""Bukan." Freya menggigit bibir bawahnya. "Aku pernah janji akan memasakkan sup iga untukmu. Kamu ingat?"Mata Keano menatap Freya lekat, seolah tidak percaya dia mengingat percakapan sederhana di mobil malam itu. Setelah beberapa saat, sudut bibir Keano bergerak tipis."Ingat," kata Keano. "Kamu

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Jadi Beda

    Bel tanda toko dibuka berbunyi dari pengeras suara. Rachel menepuk lutut Freya sekali, lalu berdiri dan merapikan seragamnya."Ayo. Yang kamu ceritakan tadi aman di aku," bisik Rachel. "Tapi soal 'cuma balas budi' itu, aku belum setuju."Freya hanya tersenyum tipis dan mengikuti Rachel keluar dari ruang ganti tanpa berkata apa-apa lagi.Begitu mereka melangkah ke area toko, Freya langsung merasakannya. Percakapan di sudut-sudut ruangan berhenti sepersekian detik, lalu berlanjut dengan suara yang lebih rendah. Ada yang pura-pura sibuk merapikan rak, ada yang menatap terang-terangan, ada pula yang buru-buru tersenyum begitu matanya bertemu mata Freya."Freya," sapa seorang karyawan yang dulu tidak pernah menyapanya lebih dulu. Dia melangkah mendekat dengan kedua tangan terlipat di depan perut. "Maaf ya soal kemarin. Aku sama sekali tidak percaya gosip itu, sumpah.""Tidak apa-apa," jawab Freya pelan."Kalau butuh apa-apa, bilang saja ya, Bu Freya." Freya tersentak. "Bu?""Eh, maksudku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status