Share

Janji Memasak

Author: Aldra_12
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-11 19:12:30

Mobil berhenti di pelataran rumah Pradipta saat langit mulai berubah warna.

Keano turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Freya. Gerakannya biasa saja, tapi Freya masih belum terbiasa diperlakukan begitu.

Di sepanjang jalan tadi dia belum bicara lagi. Wajah Keano yang melembut sesaat setelah membaca pesan itu masih mengganggu pikirannya. Dia sudah memutuskan untuk mengabaikannya, tapi keputusan itu tidak sepenuhnya berhasil.

"Keano," panggil Freya begitu mereka berdiri di depan pintu utama
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Margaretha Indrayani
jangan ada pelakor ya thor, kasihan freya kok menderita terus
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Ragu Pada Diri Sendiri

    Keesokan harinya.Freya ada di dalam kamar mandi. Dia tidak ke mall, Keano sudah membuatkan izin untuknya agar tak masuk hari ini.Freya melangkah keluar dari kamar mandi begitu selesai. Dia berjalan sambil mengusap rambutnya yang basah, dan langkahnya terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu. “Freya, ini Mama.” Suara Nadine terdengar dari pintu luar.“Ya, Ma.” Freya membalas. Dia berjalan ke arah pintu, lalu membuka.Freya kaget melihat Nadine datang tak sendirian.Nadine masuk bersama dua pelayan yang mendorong rak gantungan berisi gaun-gaun malam."Keano sudah meminta izin ke supervisor tokomu, kan?" kata Nadine sambil menunjuk koleksi itu. "Jadi, ayo pilih gaun yang harus kamu pakai buat acara nanti."Freya canggung, dia tatap Nadine yang tampak begitu antusias. "Ma, tidak usah repot-repot—""Mama tidak repot." Nadine menarik satu gaun dari gantungan. "Mama senang."Freya tidak tahu bagaimana menolak orang yang berkata ‘senang’ dengan wajah sebahagia itu. Dia pasrah. Beberap

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Mungkin Tidak Bisa

    Makan malam tiba. Sup buatan Freya sudah disajikan di atas meja. Uapnya mengepul dengan aroma rempah yang begitu kuat.Jordan duduk di kursinya, menatap menu di atas meja, menunggu makan malam siap.Nadine duduk berhadapan dengan Keano yang bersebelahan dengan Freya. Freya menunduk sambil memutar sendok di mangkuknya sendiri. Dia terlalu gugup untuk menatap Keano.Keano menyendok kuahnya, meniup pelan, lalu menyesap.Tidak ada yang bicara.Keano menyendok lagi. Sekali, dua kali, tiga kali. Tanpa berkata apa pun, dia mengambil sepotong iga, memisahkan dagingnya dengan sendok, dan memakannya dengan tenang. Mangkuk pertama habis. Dia menambah satu mangkuk lagi tanpa menoleh pada siapa pun.Jordan menurunkan sendoknya perlahan. Dia menatap heran pada putranya yang makan begitu lahap."Sudah lama Papa gak lihat kamu makan sebanyak ini." Jordan tak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Keano.Nadine juga menatap pada putranya, nafsu makan Keano mendadak berubah begitu besar."Supnya en

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Janji Memasak

    Mobil berhenti di pelataran rumah Pradipta saat langit mulai berubah warna. Keano turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Freya. Gerakannya biasa saja, tapi Freya masih belum terbiasa diperlakukan begitu.Di sepanjang jalan tadi dia belum bicara lagi. Wajah Keano yang melembut sesaat setelah membaca pesan itu masih mengganggu pikirannya. Dia sudah memutuskan untuk mengabaikannya, tapi keputusan itu tidak sepenuhnya berhasil."Keano," panggil Freya begitu mereka berdiri di depan pintu utama."Hm?" Keano menoleh, menatap Freya yang seperti mau mengatakan sesuatu."Aku mau ke dapur sebentar." Telunjuk Freya terangkat sejenak ke dalam rumah.Kedua sudut alis Keano tertarik ke atas. "Lapar?""Bukan." Freya menggigit bibir bawahnya. "Aku pernah janji akan memasakkan sup iga untukmu. Kamu ingat?"Mata Keano menatap Freya lekat, seolah tidak percaya dia mengingat percakapan sederhana di mobil malam itu. Setelah beberapa saat, sudut bibir Keano bergerak tipis."Ingat," kata Keano. "Kamu

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Jadi Beda

    Bel tanda toko dibuka berbunyi dari pengeras suara. Rachel menepuk lutut Freya sekali, lalu berdiri dan merapikan seragamnya."Ayo. Yang kamu ceritakan tadi aman di aku," bisik Rachel. "Tapi soal 'cuma balas budi' itu, aku belum setuju."Freya hanya tersenyum tipis dan mengikuti Rachel keluar dari ruang ganti tanpa berkata apa-apa lagi.Begitu mereka melangkah ke area toko, Freya langsung merasakannya. Percakapan di sudut-sudut ruangan berhenti sepersekian detik, lalu berlanjut dengan suara yang lebih rendah. Ada yang pura-pura sibuk merapikan rak, ada yang menatap terang-terangan, ada pula yang buru-buru tersenyum begitu matanya bertemu mata Freya."Freya," sapa seorang karyawan yang dulu tidak pernah menyapanya lebih dulu. Dia melangkah mendekat dengan kedua tangan terlipat di depan perut. "Maaf ya soal kemarin. Aku sama sekali tidak percaya gosip itu, sumpah.""Tidak apa-apa," jawab Freya pelan."Kalau butuh apa-apa, bilang saja ya, Bu Freya." Freya tersentak. "Bu?""Eh, maksudku

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Hanya Karena Hutang Budi

    Freya keluar dari walk in closet dengan kemeja kerja yang sudah rapi dan rambut yang dikuncir seadanya. Kamar sudah kosong. Ponsel Keano tidak lagi tergeletak di atas meja, dan jas hitam yang tadi tergantung di kapstok pun hilang. Hanya aroma hangat dari parfum pria itu yang masih tertinggal di udara.Dia berdiri sebentar di tengah kamar, menatap pintu yang tertutup rapat. Suara Keano di telepon tadi masih terngiang di telinganya, begitu pelan dan hati-hati, seperti seseorang yang bicara pada sesuatu yang mudah pecah.Siapa yang menelepon sampai dia bicara selembut itu?Freya menggeleng cepat, mengusir pikiran itu. Bukan urusannya. Dia meraih tas dan melangkah turun. Di teras, Pak Beni sudah menunggu di samping mobil, membukakan pintu belakang dengan senyum sopan."Silakan, Nona. Pak Keano sudah berpesan agar saya mengantar Nona sampai ke mall.""Terima kasih, Pak Beni."Sepanjang jalan, Freya menatap jalanan pagi yang mulai ramai. Kursi di sampingnya kosong, dan entah kenapa terasa

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Belum Tahu Banyak

    Freya mengerjap. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cara Keano menanyakannya, pelan dan hati-hati, membuatnya sedikit bingung. Kenapa Keano ingin tahu sedetail ini?"Punya," jawab Freya akhirnya. "Seorang adik laki-laki. Namanya Arvin. Dia masih kuliah.""Tinggal bersama ayahmu?" tanya Keano lagi. Karena saat datang ke rumah Freya, dia tak melihat seseorang selain ayah Freya.Freya menggeleng pelan. "Tidak, dia di asrama." Freya menunduk, napasnya berembus panjang. "Aku yang menyuruhnya tinggal di sana."Satu sudut alis Keano tertarik ke atas. "Kenapa?"Freya diam sejenak. Dia menimbang apakah perlu menjelaskan sampai sejauh itu, lalu memutuskan bahwa Keano sudah melihat sendiri seperti apa ayahnya, jadi lebih baik tidak ada yang dia tutupi."Aku tidak mau Arvin diperlakukan buruk kalau tinggal serumah dengan Ayah," ucapnya pelan. "Ayah mudah marah kalau sedang kalah judi atau mabuk. Biar aku saja yang menerima semua itu. Arvin harus kuliah dengan tenang."Keano tidak menjawab.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status