Mag-log inBrian melangkah ragu menuju pintu, matanya mengintip sebentar lewat lubang pengintip sebelum akhirnya membuka pintu itu perlahan.Belum sempat dia bertanya siapa yang datang, dua orang berseragam polisi sudah berdiri di depannya, salah satunya langsung menunjukkan surat tugas.“Brian Mahendra?” tanya salah satu petugas, suaranya tegas tanpa basa-basi.“I-iya, saya sendiri,” jawab Brian gugup, jantungnya mulai berdegup kencang.“Anda ditangkap atas tuduhan pencemaran nama baik dan penyebaran fitnah yang dilaporkan oleh Saudara Keano Pradipta,” kata petugas itu, langsung mengeluarkan borgol dari pinggangnya.“Tu-tunggu, ini pasti ada kesalahan—” Brian mencoba membela diri, tapi tangannya sudah lebih dulu ditarik, diborgol dengan cepat oleh petugas lainnya.“Jelaskan saja di kantor polisi,” balas petugas itu tegas, tidak memberi ruang untuk protes lebih jauh.Seorang petugas lain segera menggeledah isi saku Brian, menyita ponselnya sebagai barang bukti sebelum akhirnya menyeretnya keluar
Keano tidak menjelaskan lebih jauh. Alih-alih menjawab pertanyaan Freya, dia malah melangkah menjauh, kembali ke balik meja kerjanya dengan ekspresi yang kembali datar seperti biasa.“Kembalilah bekerja,” kata Keano singkat. Dia mengangkat pandanganya ke Freya, lalu bicara lagi. “Kalau ada masalah seperti ini lagi, bicara padaku.”Freya terkejut Keano mengalihkan pembicaraan begitu saja.Dia ingin bertanya lebih jauh, rasa penasaran begitu besar menggelayuti pikirannya tentang ucapan Keano sebelumnya. Namun, melihat sikap pria itu yang sudah kembali menutup diri, Freya tidak berani memaksa. Dia hanya mengangguk pelan, menelan kembali pertanyaan yang sudah berada di ujung lidahnya.“Kalau begitu, saya permisi, Pak.” Freya pamit, berbalik lalu melangkah keluar dari ruang kerja itu dengan hati yang masih dipenuhi tanda tanya.Begitu pintu kembali tertutup, Keano meraih ponselnya, menekan satu nama kontak, memanggil Nanda untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.Pintu kembali terbuka, Nanda
Pernyataan itu meluncur begitu tegas, langsung membungkam Gerald yang tidak lagi punya kata-kata untuk membela diri. Seluruh orang yang berkumpul di sana terdiam, beberapa menoleh ke arah Freya dengan tatapan yang kini berubah, dari penuh curiga menjadi penuh rasa bersalah karena sempat ikut mempercayai rumor yang begitu tidak masuk akal itu.Keano menatap Gerald lekat-lekat, memastikan setiap kata yang baru saja dia ucapkan benar-benar meresap. “Kamu akan menghadapi proses evaluasi dari bagian HRD terkait tindakan pencemaran nama baik ini. Dan untuk sementara, kamu diskors sampai proses itu selesai.”Gerald tersentak mendengar keputusan itu, wajahnya semakin pucat. “Pa-Pak, saya mohon maaf. Saya tidak bermaksud—”“Keputusanku final,” potong Keano cepat, tidak memberi ruang untuk negosiasi apa pun. Matanya berkilat tajam pada Gerald yang tampak lemas.Gerald langsung berlutut di depan Keano, menghalau pria itu yang hendak pergi.“Saya benar-benar tidak tahu, Pak. Mohon maafkan kesala
Gerald menggeram, pipinya begitu panas menerima tamparan dari Freya. Dia tak terima, tangannya terangkat hendak membalas tamparan itu. “Beraninya kamu—”Namun, sebelum tangan itu sempat mendarat di pipi Freya, Rachel sudah lebih dulu maju, lalu menahan pergelangan tangan Gerald. “Jangan coba-coba!”Rachel menatap Gerald dengan mata berkilat marah. Melepas pergelangan tangan Gerald dengan kasar. “Kamu ini kelewatan, Gerald! Ikut campur urusan orang padahal kamu sendiri nggak tahu apa-apa!” “Aku cuma bicara fakta!” balas Gerald, masih menahan pipi yang nyeri akibat tamparan Freya yang begitu keras. “Coba cek sendiri, ayah Freya memang punya banyak utang karena judi! Itu bukan rahasia lagi!”Suara keributan itu menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan melintas di area toko. Namun, sebelum situasi semakin memanas, langkah kaki yang tegas dan berwibawa terdengar mendekat dari ujung koridor.Keano melangkah masuk bersama Nanda dan beberapa jajaran direksi yang kebetulan sedang melak
Mengabaikan rasa tak nyaman dan tatapan aneh ke arahnya, Freya segera mengetik balasan untuk Rachel, jarinya masih sedikit gemetar di atas layar ponsel.[Aku udah di mall, Chel. Jadwal shift aku diganti jadi siang.]Tidak lama, balasan Rachel muncul di layar.[Jangan ke mana-mana dulu. Aku ke sana sekarang.]Freya menyimpan ponselnya, lalu mengangkat pandangannya. Beberapa karyawan yang sejak tadi berada di ruang ganti mulai bergerak satu per satu, melewatinya dengan tatapan yang begitu jijik, beberapa bahkan sengaja menjauh seolah keberadaannya adalah sesuatu yang kotor. Tidak ada satu pun yang menyapa seperti biasanya.Freya menunduk, menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan di depan mereka, meski dadanya terasa begitu perih menahan tatapan-tatapan menghakimi itu.Tidak lama kemudian.Rachel datang dengan napas terengah, langsung menghampiri Freya yang masih duduk diam di sudut ruangan.“Frey, aku nggak nyangka bakal ada gosip separah ini,” kata Rachel, duduk di samping Freya d
“Maksudnya peduli yang seperti apa, Pak?” tanya Freya, kening berkerut dalam. “Apa soal … trauma Bapak?” Freya memastikan.Dia menatap serius pada Keano, menunggu jawaban dengan napas sedikit tertahan. Namun, pria itu hanya diam, tidak langsung menjawab.Melihat keheningan yang terlalu lama itu, Freya akhirnya melanjutkan dengan nada lebih tenang, seolah mencoba menjawab pertanyaannya sendiri. “Mungkin karena saya peduli karena Bapak ‘kan sudah banyak membantu saya, jadi wajar kalau saya ingin membalasnya sedikit.”Keano menatap Freya sejenak, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum masam yang nyaris tak terlihat.“Istirahatlah,” kata Keano akhirnya, memilih untuk tidak melanjutkan topik itu lebih jauh. Dia bangkit, merapikan kotak obat yang tadi dia gunakan, lalu melangkah menjauh dari ranjang.Freya menatap punggung Keano yang berjalan menuju kamar mandi, rasa penasarannya masih menggantung tanpa jawaban yang jelas. Namun, melihat Keano yang jelas enggan membahasnya lebih jauh, F







