Share

Istri Rahasia CEO Kejam
Istri Rahasia CEO Kejam
Penulis: Dedew Eirysta

Tunggu Aku di Syurga

Brak!

Sebuah suara koper yang terjatuh tiba-tiba mengejutkan semua orang. "Apa-apaan ini!" sentak seorang perempuan yang baru saja pulang dari dinas luar kota, bahkan belum sempat melangkahkan kakinya ke dalam rumah.

"Oh, kamu sudah pulang? Ucapkan selamat ke Satria dan Mella, karena mereka baru saja menikah tadi pagi!" seru seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu mertuanya.

Jeder!

Bagai tersambar petir, perempuan yang bernama Lunar tidak menyangka bahwa suami yang dia nikahi satu tahun lalu akan menikah dengan wanita yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Dia melihat pada om dan tantenya yang malah tersenyum mengejek, padahal perempuan tersebut sudah menganggap mereka pengganti orang tuanya.

"Kenapa ... kenapa kalian tega padaku?" sentak Lunar dengan air mata berderai di pipinya seraya menatap kedua orang paruh baya di depannya yang masih menatapnya dengan sinis. "Kenapa Om dan Tante mengijinkan Mella menikah dengan suamiku! Kurang baik apa aku pada kalian selama ini!"

"Cih, baik? Almarhum Papamu terlalu serakah dengan menguasai semua harta peninggalan keluarga kami! Jadi, jangan salahkan jika saat ini aku mengambilnya darimu! Lagipula, Satria dan Mella sudah lama saling mencintai dan dia tidak pernah mencintai kamu!" sahut pria paruh baya yang merupakan adik dari almarhum Papa Lunar.

Perempuan tersebut menggelengkan kepalanya, lalu menatap pada pria yang mengenakan jas ala pengantin.

"Kamu mencintaiku 'kan, Mas? Tidak mungkin jika selama setahun pernikahan kita, kamu tidak ada rasa sedikit pun untukku," lirih Lunar dengan penuh harap bahwa sang suami tidak seperti yang Om-nya katakan.

"Semua itu benar! Aku tidak pernah mencintai kamu, maka dari itu aku tidak pernah sudi menyentuh kamu!"

Duar!

Petir yang menyambar Lunar makin besar. Dia mundur beberapa langkah dengan air mata yang terus saja mengalir di pipinya.

"Aku menikah denganmu karena permintaan Mella dan demi mendapatkan apa yang seharusnya keluarga Mella dapatkan dari Papamu yang serakah!" kata Satria kembali dengan lebih menyakitkan.

Lunar menggelengkan kepalanya. "Tidak! Papaku bukan seperti itu! Om hanya anak angkat, jadi sudah sepantasnya mendapatkan warisan yang sudah Kakek bagi!"

"Diam kamu, jalang!" sentak wanita dengan pakaian pengantin berwarna putih. "Selama ini Papaku sudah banyak berkontribusi untuk pabrik yang ditinggalkan oleh Kakek, tetapi dia tidak memperhitungkannya!"

Tidak terima dengan hinaan dari istri baru suaminya, Lunar mendekat dan hendak melayangkan tangannya. Namun, tangan perempuan tersebut hanya bertahan di udara karena seseorang yang memegang dengan erat hingga membuat si empunya meringis kesakitan.

"Jangan berani-beraninya menyakiti istriku atau kamu akan menyesal!" sentak Satria sembari menyentak tangan Lunar hingga jatuh tersungkur di lantai.

"Aku ... juga istrimu, Mas! Aku istrimu!" teriak perempuan itu begitu rapuh.

Semua undangan yang ada di pesta resepsi itu hanya bisa melihat tanpa ada yang mau menolong sama sekali. Lunar melihat mereka satu per satu, dia mengenal beberapa dari mereka yang merupakan orang yang pernah dia bantu, tetapi tidak satu pun dari mereka yang mau mengulurkan tangannya untuk membantu.

"Kenapa Lunar? Heran ya karena semua orang yang dekat denganmu ada di sini? Mereka mendukung pernikahanku karena mereka sudah tahu bahwa semua harta milik kamu sudah jatuh ke tangan Satria. Kamu sekarang tidak punya apa-apa, jadi kamu tidak beguna lagi!" kata Mella dengan senyum penuh kemenangan.

Lunar berdiri sambil menghapus air matanya. "Harta itu milikku dan kalian tidak bisa memilikinya!"

"Sudahlah Satria, bawa dia keluar dan sekalian kamu talak dia! Toh, kamu sudah ada Mella yang selama ini kamu cintai," seru Ibu Satria dengan sinis melirik pada perempuan yang selama ini sudah menampungnya.

Satria mengangguk dan mencengkeram lengan Lunar. "Hari ini aku talak kamu, Lunara Maheswari. Aku talak kamu dengan talak tiga!"

Tubuh Lunar terasa lemas mendengar talak dari suami yang dia sayangi. Belum lagi, lelaki itu menyeretnya hingga keluar dari rumah yang sudah dia tempati sedari kecil.

"Pergi dan jangan pernah datang lagi ke sini ataupun ke pabrik! Atau aku tidak akan segan untuk membuatmu menyesal!" ujar pria dengan tatapan nyalang.

"Nih, bawa kopermu yang ternyata tidak ada apa-apanya itu!"

Benda yang tadi Lunar bawa dilemparkan begitu saja di depannya. "Kalian sunggu tega melakukan semua ini! Ingatlah, karma itu berlaku dan apa yang kalian lakukan padaku, pasti akan kalian rasakan juga!"

"Ih, sudah jadi gembel malah belagu!" seru Ibu dari Mella seraya menghampiri Lunar dan mengambil paksa tas selempang yang perempuan tersebut bawa.

"Jangan ambil barangku!" ucap Lunar berusaha mengambil tasnya kembali.

Di sana ada uang dan kartu kredit miliknya. Jika tidak ada semua itu, maka dia akan benar-benar tidak punya apa-apa untuk bertahan hidup.

"Enak saja! Kamu tidak boleh bawa apa pun! Jeng, pegang Lunar!" kata Ibu Mella pada besannya.

Tubuh Lunar pun dipegang oleh mantan mertuanya sedangkan di depan ada tantenya yang masih mencari harta berharga miliknya.

"Sudah, Jeng!"

Ibu Satria mendorong tubuh Lunar ke samping hingga terjatuh. Setelah itu, mereka pun kembali masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan acaranya.

Tangis Lunar pecah. Perempuan itu terduduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa sakit di tubuhnya, tidak sebanding dengan rasa sakit hati yang dia rasakan. Orang-orang yang selama ini dia anggap keluarga, ternyata menusuknya dari berlakang. Belum lagi, orang-orang yang selama ini dia perlakukan dengan baik. Mereka malah berbalik arah karena semua hartanya sudah berpindah tangan pada mantan suaminya.

Dengan susah payah, Lunar berdiri dari duduknya. Dia memasukkan barang-barang yang tadi dikeluarkan dari tasnya, lalu pergi sambil menggeret koper keluar dari area rumah tersebut. Lunar melihat pada satpam yang menunduk saat dia lewat. Namun, perempuan itu memilih untuk acuh.

Dengan keadaan yang kacau Lunar terus melangkah tanpa tahu ke mana akan pergi. Ingin ke tempat sahabatnya, tetapi tadi dia melihatnya ada di acara Melly dan Satria, sahabat yang dia sayangi itu bahkan tidak melihatnya sama sekali bahkan untuk sekedar membantu.

"Kenapa hidupku begitu berat, Tuhan! Kenapa mereka jahat padaku setelah kebaikan yang aku berikan! Kenapa, Tuhan! Kenapa!" sentak Lunar saat melewati jalanan yang cukup panjang dan hanya ada kendaraan yang lewat tanpa peduli ucapan perempuan itu.

Lunar berhenti tepat di pembatas jembatan yang bagian bawahnya ada sungai yang cukup deras. Bisikan demi bisikan seolah menyuruhnya untuk lompat ke bawah sana.

"Tidak ada lagi yang peduli padaku, bahkan aku sudah tidak punya apa pun lagi. Jadi, untuk apa aku tetap di dunia ini? Sebaiknya aku mati saja!"

Lunar pun menaiki satu persatu pembatas di depannya sampai dia merentangkan tangan sambil menutup mata.

"Mama, Papa. Tunggu aku di surga, ya..."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status