Film perdana Naya rilis hari ini, untuk pertama kalinya di Bioskop seluruh Indonesia. Jujur, perempuan itu sedikit gugup. Meski sebelumnya punya kepercayaan diri yang cukup, sekarang nyali perempuan itu sedikit ciut.Dia takut aktingnya buruk dan 'merusak' keseluruhan alur serta feel dari film-nya. Terlebih, judul dari film itu adalah 'Love Talk'. Sudah jelas dari judulnya saja, penonton pasti berekpektasi tinggi tentang nuansa romantis dan scene manis lainnya.Sedangkan bagian Naya, jelas saja lebih banyak bernuansa 'gelap'. Syukurnya, setelah sehari penayangan, beberapa review dan postingan kesan penonton mulai bermunculan. Naya memantau setiap pendapat mereka tentang film dan aktingnya tentu saja.Namun, tidak seperti yang ia pikirkan, sebagian besar justru memuji peran perdananya itu. Hal yang lebih membuat Naya terkejut, followers instagram dan subscribe youtube-nya pun meningkat pesat."Leticia! Kau sudah akan berangkat?" Panggilan Bagas yang sudah berdiri di ambang pintu kamar
"KAU GILA, LETICIA?!" Teriakan penuh amarah lelaki tua dalam rumah besar dan megah itu menggema.Bukannya takut, Naya malah tersenyum sambil menelengkan kepala. Persis seperti senyum psycopath gila yang siap membunuh mangsanya."Kau baru sadar, ya?" tanya perempuan itu sambil tertawa jenaka.Lelaki tua itu melotot terkejut. Tubuhnya mulai gemetar ketakutan, sedangkan Naya berjalan mundur sambil mengangkat sesuatu yang sedari tadi digenggamnya.Sebuah korek api."Mungkin Tuhan bisa memaafkanmu, Tuan Geovano. Tapi aku tidak. Ini hadiah spesial dariku karena kau sudah membantai seluruh keluargaku; satu-satunya hal yang dulu kupunya."Berikutnya, Naya menyalakan korek itu dan melemparnya ke lantai yang sudah ia beri bensin sebelumnya. Dalam sekejap, api menjalar dan seolah berlari mengejar Geovano.Naya berjalan keluar dengan santai kemudian mengunci pintu besar itu. Tepat setelah itu, suara ledakan besar terdengar. DUARRR!Naya tersenyum manis ke arah kamera. Dengan latar belakang rumah
"Kau ada jadwal di pelatnas juga besok?" Neo bertanya guna memecah hening di antara mereka.Namun, Naya tidak menggubris sama sekali. Perempuan itu hanya fokus menatap ke luar jendela mobil dengan cebikan sebal. Neo menghela napas berat."Aku bertanya untuk menyesuaikan jadwalmu, agar kau tidak pulang selarut ini besok." Neo menyahut lagi yang tetap tidak ditanggapi Naya.Neo yang geram sendiri akhirnya tidak berbicara lagi. Sepertinya Naya memang sedang tidak mood untuk berbicara dengannya. Dia maklumkan saja, yang penting perempuan itu tidak pulang sendiri selarut ini."Aku mau telur gulung." Setelah beberapa lama terdiam, perempuan itu bersuara.Hal yang sejenak membuat Neo berpikir bahwa dia salah dengar. "Hah?" tanya pria sipit itu memastikan."Aku tiba-tiba ingin makan telur gulung. Di mana aku bisa mendapatkannya sekarang?" tanya perempuan itu di luar dugaan.Neo mengerjap sejenak, tampak takjub. "Mana ada yang menjual itu jam segini, Nay." Naya mengangguk menyetujui. "Benar j
"Syuting hari ini sudah selesai, kalian sudah bisa pulang!" Seruan dari seorang crew membuat Naya menghela napas lega.Akhirnya, kegiatan melelahkan ini selesai juga. Rasanya bahkan lebih melegakan daripada latihan tambahan yang sering dilakukannya mendekati hari pertandingan saat masih menjadi atlet dulu."Kau sudah makan?" Sergio, salah satu pemeran utama sekaligus orang yang dicintainya (dalam drama) bertanya.Naya menoleh kemudian menggeleng. "Rencananya aku akan makan di rumah saja," jawab perempuan itu sambil meregangkan beberapa bagian tubuhnya yang terasa pegal."Mau makan bersama?" tanya pria itu tiba-tiba.Naya mengerjap terkejut. Tidak menyangka aktor senior yang dikenal menjaga jarak dari perempuan di luar lokasi syuting ini mengajaknya makan bersama."Di mana?" tanya Naya balik."Aku tahu restaurant makanan korea yang enak di dekat sini. Kau mau? Kau juga kan tidak membawa kendaraan, nanti biar sekalian kuantar pulang!" ajak pria dengan lesung pipit itu semangat.Naya bar
"Neo sudah tidur?" tanya Abia begitu melihat Naya turun dan berjalan menuju dapur.Naya menoleh kemudian mengangguk pelan. Tanpa bersuara lagi, perempuan itu masuk ke dapur dengan wajah linglung. Melihat keanehan dalam raut wajah Naya, Abia mengernyit bingung."Sepertinya mereka bertengkar lagi," gumam Abia sambil menghela napas lesu."Sepertinya lebih buruk dari bertengkar," koreksi Arya begitu melihat Naya berjalan keluar dapur nyaris menabrak kusen pintu. Perempuan itu benar-benar terlihat tidak fokus."Bunda ... Ayah ... aku pamit pulang dulu, takutnya Nara mencariku. Tadi kan dia menitip obat," pamit Naya begitu sampai di depan Abia dan Arya.Abia sudah akan mencegah kalau saja Arya tidak memberi kode untuk diam. "Kalau begitu, biar Ayah mengantarmu!" putus pria tua itu cepat sambil bangkit berdiri.Baru saja akan menolak, Arya langsung memotong. "Tidak ada penolakan." Membuat Naya hanya bisa pasrah.Abia segera memeluk Naya erat sambil memberikan beberapa pesan seperti 'jangan l
"Lihat siapa yang datang!" ucap Abia heboh begitu dia dan Naya memasuki rumah.Naya meringis sambil tersenyum kikuk pada dua pria yang duduk di ruang tengah dengan wajah terperangah. Setelah dibujuk mati-matian oleh Abia, Naya akhirnya berakhir di sini.Rumah Neo, rumah Arya dan Abia yang dulu juga sempat menjadi rumahnya. Rasanya masih saja sama, meski Naya sudah meninggalkan tempat ini sekian lama."Daddy, apa aku terlalu memikirkannya sehingga sekarang aku seolah melihat Naya berdiri di depanku?" bisik Neo dengan bodohnya pada Arya.Ketimbang meladeni pertanyaan bodoh putranya, Arya malah berdiri dan segera memeluk Naya. Hal yang sejenak membuat perempuan itu terperanjat kaget dengan perlakuan tiba-tiba mantan ayah mertua sekaligus sahabat ayahnya."Aku tidak percaya kau mau datang menemui Ayah," ucap Arya lirih yang membuat Naya sedikit merasa bersalah.Padahal, dulu saat memutuskan berpisah dengan Neo, Arya dan Abia berpesan agar Naya tetap menemui mereka sesekali. Tapi, malah Na