LOGIN"Aku hamil, Bara!" Elena menatap Bara yang masih berdiri di depan pintu. Begitu ia dapati dua garis di testpacknya, Elena segera memacu mobilnya siang itu juga ke kost Bara. "Masuklah dulu. Kita bicara di dalam!" Bara menatap sekitar. Untung saja, penghuni kost yang lain masih belum pulang. Elena mengekor, mengikuti Bara yang telah duduk lebih dulu di sofa. "Bara... aku hamil!" Elena kembali mengulangi kata-katanya. Mendengar pengakuan Elena, Bara tak lagi merasa kaget. Ia menoleh. Memandang Elena yang tampak panik di sampingnya. Tentu saja Elena akan hamil, ia telah menghitung masa subur Elena dengan mudah. "Bara!" tangannya menyentuh paha Bara sambil menggoyangnya pelan. "Kamu dengar kan, aku ngomong apa?" Elena mendecak sebal. Bara selalu memanjakannya, tapi akhir-akhir ini, laki-laki itu terkesan cuek. "Aku dengar!" Bara akhirnya menjawab. "Jadi, kapan kamu nikahin aku?" Elena mendekat. Tersenyum penuh harap. "Nikah?" Ulang Bara. Elena mengangguk cepat. M
Dewantara datang bersama Ardi menuju hotel Santika. Bukan hotel besar tapi memang itulah tujuannya. Tak ingin banyak orang yang tahu. Langkahnya mantap. Tak sedikitpun tampak keraguan. "Atas nama Bapak Ardi ya?" petugas lobby membuka catatan. Ardi mengangguk. Ia menahan senyum sambil melirik Dewantara yang kali ini berpakaian lebih santai. "Silakan, Pak!" Seorang petugas dari arah lain datang setelah petugas lobby memberinya isyarat tangan. Dewantara dan Ardi segera melangkahkan kaki menuju ruangan yang dimaksud. Ruangan itu tidak terlalu besar tapi cukup elegan. Dengan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya lembut ke seluruh sisi menciptakan suasana yang tenang. Setelah Ardi menutup pintu, Dewantara segera duduk di hadapan seorang lali-laki. Ia duduk dengan tenang di kursinya. Sorot matanya tajam, namun wajahnya tampak serius seperti biasa. Ardi duduk tak jauh dari Dewantara. Pria itu memegang tablet kecil di tangannya, namun sesekali melirik ke arah orang yang dud
"Kenapa kita harus ke hotel? Aku lebih puas kita di rumah!" Pertanyaan Rendra menunjukkan ketidakpuasan. Ia beringsut dan bersandar di bahu ranjang sambil menyalakan sebatang rokok. Tak mempedulikan tubuhnya yang masih telanjang di depan Desi. "Ada Wiryawan di rumah!" Jawab Desi sambil menjauh. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Gaun marunnya sudah kembali menutupi tubuhnya dengan rapi, seolah beberapa menit lalu tidak terjadi apa-apa di antara mereka. "Cepat berpakaian!" Desi melemparkan kemeja Rendra yang masih tercecer di sebelahnya. Dengan mendengus, Rendra menerima kemeja itu lalu memakainya. Pria itu menutup kancing bajunya satu per satu dengan santai, karena hubungan terlarang mereka memang sudah menjadi hal yang biasa. Desi berdiri lalu berjalan ke meja dan menuangkan dua gelas minuman dari botol whiskey yang telah tersedia. “Minum dulu,” katanya ringan sambil menyerahkan satu gelas pada Rendra. Ia tahu, ia tak bisa m
Sejak pertemuannya dengan Elena di ballroom Hotel Grand Mahardika itu, sesuatu berubah dalam kehidupan Dewantara. Hampir setiap hari ia mengirim kurir untuk datang ke rumah keluarga Wiryawan. Kadang sebuah buket bunga mawar putih yang mahal, kadang kotak perhiasan, atau tas dan pakaian edisi terbatas yang bahkan belum dirilis di Indonesia. Sesekali, ia juga mengirimkan makanan dari restoran bintang lima. "Dari Dewantara lagi, Ma?" Elena melirik ibunya dengan tatapan mata malas. Berbeda dengan Elena, Desi justru sangat senang, anaknya mendapatkan perhatian Dewantara. "Lihat ini!" Suaranya begitu keras. Seperti ingin menunjukkan pada semua orang. Termasuk Sandra yang baru melangkahkan kakinya masuk. Gadis itu hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan langkahnya ke kamar. Ia tak pernah tertarik dengan urusan seperti itu. "Hadiah khusus untukmu, dari Dewantara Jayadi Rukmana!" Mata Desi berkilat bangga menatap kartu-kartu kecil yang selalu bertuliskan nama yang sama."Aneh. Aku gak
Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom Hotel Grand Mahardika, salah satu hotel paling bergengsi di Jakarta. Malam itu, hotel penuh dengan para tamu penting yang sebagian adalah pengusaha, pejabat, serta keluarga-keluarga yang dianggap terpandang. Sebuah acara tahunan yang biasa diadakan keluarga Rukmana, ayah kandung dari Helen Rukmana. Bersama Bagaskara suaminya. Helen menyalami tamu. undangan yang mulai berdatangan untuk mengucapkan selamat atas perayaan ulang tahun ke-40 perusahaan besar keluarga. "Kau lihat kan, Elena. Di sini banyak pengusaha muda yang datang. Mereka semuanya orang kaya, Sayang!" Desi terus saja berbisik lirih di telinga Elena, sejak mereka turun dari mobil. "Ayolah, Ma. Sekarang gak jaman perjodohan!" Elena memutar bola matanya. Baginya tak ada laki-lski lain kecuali satu pria, sayangnya ia bukan penguasaha. Itu sebabnya, sang ibu menolak mentah-mentah hubungan mereka. "Jangan pernah mendekati laki-lami miskin, Elena. Atau kau akan m
Malam semakin datang ketika mobil hitam milik Dewantara berhenti di depan villa. Seketika, wajahnya berubah. Tak lagi dan menyimpan kemarahan tapi hangat dan penuh kerinduan. Ia bergerak turun, sambil seekali mengangkat wajahnya menatap langit. Menikmati angin malam yang bergesek lewat dedaunan. Dewantara melangkah pasti, melewati jalan setapak yang menuju pintu utama. Ia berjalan dengan tenang, meski tubuhnya masih terasa sedikit lemah setelah seharian menahan pusing dan mual di kantor. Namun begitu mengingat siapa yang ada di dalam villa itu, rasa lelahnya seperti menguap begitu saja. Sandra. Hanya satu nama itu yang mampu membuat hatinya kembali tenang. Ia membuka pintu villa dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Rumah itu sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar dari ruang tengah. Langkah Dewantara terarah menuju kamar. Saat pintu kamar terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang terbaring di atas tempat tidur. Tampak Sandra yang ter







