LOGIN
“Kenapa ponsel Mas Jeremy tidak aktif sejak kemarin? Ada apa dengan dia?”
Dona berjalan mondar-mandir sambil terus mencoba menghubungi suaminya itu. Sepengetahuan Dona, suaminya itu sedang berada di luar kota untuk mengurusi cabang bisnisnya. Namun tiba-tiba saja suaminya itu sama sekali tidak bisa dihubungi.
Dona sudah mencoba mengubungi beberapa orang kepercayaan suaminya yang ada di kantor, namun jawaban mereka seakan sudah terdikte dengan baik. Mereka sama-sama mengatakan tidak mengetahui kemana suaminya itu.
“Ada apa, Nduk? Ibu lihat kamu dari tadi gelisah terus,” tanya Desi, ibunda Dona yang berjalan begitu pelan dari arah dalam rumahnya.
Sudah setahun ini kesehatan ibunda Dona semakin menurun. Atas persetujuan Jeremy, Dona meminta ibunya agar tinggal bersama dengan mereka. Dia ingin merawat orangtua satu-satunya itu. sayangnya, disaat Dona sedang fokus pada kesehatan jantung ibunya yang mulai melemah, sikap Jeremy malah mulai berubah. Padahal meskipun Dona sibuk mengurus ibunya, dia sama sekali tidak pernah mengabaikan kebutuhan suaminya.
“Nggak ada, Bu. Dona sedang menghubungi Mas Jeremy tapi ponselnya tidak aktif. Mungkin Mas Jeremy terlalu sibuk sampai lupa mengisi daya ponselnya, Bu,” jawab Dona berusaha menenangkan hati ibunya, sekaligus dirinya sendiri.
“Kamu sedang hamil muda, Nduk. Jangan banyak pikiran berat. Itu sangat berpengaruh dengan janin kamu. Doakan saja suamimu selalu sehat di sana.”
“Iya, Bu.” Dona menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah ibunya itu.
Apa yang dikatakan oleh ibunya memang benar, namun hal itu sama sekali tidak bisa menghentikan kekhawatiran di dalam hati Dona. Entah kenapa kali ini kegelisahannya terasa begitu kuat. Firasatnya begitu buruk, entah apa yang sedang terjadi pada suaminya disaat mereka sedang terpisah jauh seperti saat ini.
“Ayo kita masuk, Bu” ucap Dona sambil menggandeng lembut tangan ibunya dan menuntunnya pelan.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan halaman rumahnya. Dona dan Desi serentak menghentikan langkah mereka dan melihat ke arah mobil yang datang itu.
“Itu sepertinya Nak Jeremy. Sama siapa dia datang, Nduk?” tanya Desi pada putrinya saat melihat menantunya keluar dari dalam mobil mewah itu bersama dengan seorang wanita cantik dan seksi bak seorang model.
Dona terdiam mematung. Melihat wanita cantik itu berjalan bersama dengan suaminya membuatnya merasa begitu cemburu. Tentu saja, tak lama kemudian tangan lentik nan gemulai itu tanpa canggung sama sekali menggelayut manja di lengan suaminya.
“Bu,” ucap Jeremy sedikit membungkuk meraih tangan ibu mertuanya kemudian mencium punggung tangan mertuanya itu.
Desi menatap nanar menantunya itu. kehadiran wanita canti dengan bahasa tubuh yang tidak wajar padamenantunya itu membuat dia bisa merasakan keresahan dan sakit di dalam hati putrinya.
“Bukannya kamu sedang ada di luar kota? Sejak tadi Dona menelponmu tapi nomor ponsel kamu tidak aktif,” ucap Desi pada menantunya itu.
“Kami datang ke sini memang ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting,” jawab Jeremy dengan wajah yang tenang.
“Ka-kami?” tanya Dona sambil mengernyitkan keningnya.
“Don, perkenalkan. Ini Jihan, calon istriku. Dia akan menjadi adik madumu. Besok kami akan melangsungkan pernikahan di Hotel Horizon. Kamu dan Ibu silahkan hadir jika kalian ingin ikut merasakan kebahagiaan kami.”
Bagaikan sebuah petir yang menyambar di siang bolong. Tanpa hujan, tanpa angin. Nada bicara Jeremy begitu tenang namun terasa riuh menusuk perasaan Dona.
“M-Mas mau menikah lagi?” tanya Dona ulang.
“Iya. Ini undangannya. Datanglah, ajak ibu.”
Tanpa rasa bersalah Jeremy memberikan selembar undangan dengan foto prewedding dirinya dan Jihan yang entah kapan mereka lakukan dibelakang Dona.
Kedua mata Dona nanar menatap undangan yang masih menggantung dalam genggaman tangan suaminya itu. Belum sempat tangannya meraih undangan itu, tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang terjatuh di dekatnya.
“Ibu!” teriak Dona begitu melihat tubuh ibunya telha terbaring tak sadarkan diri di lantai.
Beberapa asisten rumah tangga yang melihat kejadian itupun dengan sigap membantu mengangkat tubuh Desi dari lantai.
“Bawa masuk ke mobil saya. Bik Arum ikut saya ya. Kita bawa ibu ke rumah sakit,” ucap Dona dengan panik.
Seorang asisten rumah tangga tampak berlari membawa sebuah kunci mobil dan membuka pintunya agar tubuh Desi bisa segera masuk ke dalam.
Dona bergegas mengambil kunci itu dan masuk ke dalam bagian kemudi. Dia sama sekali tidak mempedulikan Jeremy dan gundiknya yang sama sekali tidak bergeming membantu ibunya yang sedang pingsan di depan mereka.
Dona berusaha mempercepat laju mobilnya. Wajah ibunya terlihat semakin pucat dan masih tak sadarkan diri. Begitu tiba di ruang gawat darurat rumah sakit, Desi langsung diperiksa intensif oleh dokter. Dilihat dari gerakan mereka yang begitu cepat dengan wajah yang begitu serius, jelas Ibunda Dona dalam keadaan mengkhawatirkan.
Sekitar lima belas menit kemudian, dokter yang menangani Desi datang menemui Dona yang terlihat gelisah.
“Bagaimana keadaan ibu saya, Dokter?” tanya Dona dengan panik.
“Maaf, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Nyawa pasien tidak bisa tertolong. Pasien mengalami serangan jantung yang membuat jantungnya mendadak berhenti berfungsi.”
Tubuh Dona bergetar hebat. Belum ada satu jam sejak kabar buruk yang diterimanya dari suaminya, kini dia juga harus menelan pil pahit kehilangan ibu yang sangat dicintainya. Kepala Dona tiba-tiba terasa begitu pusing. Perutnya terasa begitu nyeri. Ada sesuatu yang mengalir diantara kedua kakinya.
“Ibu sedang hamil?” tanya dokter begitu melihat darah segar mengalir diantara kaki Dona.
Dona menganggukkan kepalanya pelan sembari menahan rasa sakit di perutnya. Tak lama kemudian seluruh dunia terlihat gelap. Dona tidak tahu apa lagi yang terjadi
Begitu tersadar, Dona merasakan sakit dibagian perutnya. Kepalanya juga masih terasa begitu sakit.
“Berbaringlah. Kamu baru saja dikuret karena keguguran,” ucap seorang wanita yang berdiri di samping Dona sambil tersenyum sinis.
“Keguguran? Anakku tidak ada?” balas Dona tergagap sambil memegangi perutnya.
“Kalian benar-benar merepotkan. Aku dan Mas Jeremy akan menikah besok tapi hari ini kami masih harus sibuk mengurus kamu dan pemakaman ibu kamu. Memang benar kata Mas Jeremy, kamu itu istri yang tidak berguna, Dona!”
Hati Dona terasa teriris. Suaminya akan menikah lagi, ibunya meninggal dunia dan sekarang dia masih harus kehilangan janin yang sedang di kandungnya. Dia masih juga harus mendengar ucapan tajam dari perempuan perebut suaminya.
“Jaga mulutmu, Jihan! Jika bukan karena kamu, ini semua tidak akan terjadi!” kedua tangan Dona mengepal kuat. Suaranya terdengar bergetar. Buliran bening itu membendung di sudut matanya.
“Aku yakin setelah ini Mas Jeremy akan segera menceraikan kamu. Untuk apa dia mempertahankan wanita malang seperti kamu! Aku yang akan menjadi Nyonya di dalam hidup Mas Jeremy. Istri dari seorang pengusaha terkenal dan ternama.”
“Tidak akan ada kebahagiaan yang akan kalian rasakan setelah dzolim yang kalian perbuat kepadaku!”
Jihan terkekeh sambil berdecih. “Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan tertawa bahagia diakhir cerita ini, Dona. Sudahlah, aku harus istirahat sekarang. Besok aku harus tampil cantik di hari pernikahan aku dan Mas Jeremy.”
Dona menatap tajam punggung Jihan yang perlahan menghilang dari pandangannya. Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah. Air matanya menganak sungai di kedua pipinya.
“Tidak akan aku biarkan kalian hidup bahagia setelah semua kehilangan ini. Sisa hidupku akan aku habiskan untuk membalaskan semua kesakitan ini. Bagaimanapun caranya!”
***
Keesokan harinya, dengan langkah yang begitu pelan, Dona memaksakan dirinya yang masih belum begitu pulih untuk datang ke makan ibu dan anaknya.
Tangisnya pecah begitu melihat dua gundukan tanah yang masing-masing tertancap batu nisan. Kini dirinya benar-benar sebatang kara. Tidak ada lagi penyemangat yang membuatnya tersenyum.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki yang merupakan salah satu orang kepercayaan suaminya di perusahaan datang menemui Dona.
“Bu Dona, Pak Jeremy mengalami kecelakaan hebat saat akan menuju ke hotel dimana acara pernikahannya digelar. Namun saat Pak Jeremy dibawa ke rumah sakit, nyawanya sudah tidak bisa tertolong.”
Tatapan Dona masih terus terpaku dengan deretan gundukan tanah dimana kedua orang tersayangnya telah terbaring di dalamnya.
“Secepat itu?” gumam Dona sambil berdecih.
“Aku harus pulang untuk menguburkan jasad suamiku.” Dona membalikkan tubuhnya.
“Tapi Bu Jihan sudah terlebih dulu meminta agar jasad Pak Jeremy dibawa ke rumahnya.”
“Aku adalah satu-satunya istri sah Mas Jeremy. Tidak ada perempuan lain yang berhak atas Mas Jeremy dan semua yang dimilikinya selain aku sendiri. Bawa jasad Mas Jeremy ke rumah kami dan larang perempuan itu datang!”
“Baik, Bu.”
Dona melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya.
“Aku tidak menyangka secepat ini kamu menuai semua kepahitan yang kamu tabur, Mas. Bahkan kamu belum sempat menikahi gundikmu itu. Aku sangat lega mendengarnya, setidaknya tugas dendamku telah berkurang. Aku hanya tinggal membalaskan kepedihan ini pada gundikmu yang tidak tahu diri itu!”
Sepuluh tahun kemudian.Waktu memiliki cara kerja yang aneh di Pulau Nusakambangan. Bagi dunia luar, satu dekade adalah waktu yang cukup untuk mengubah peta politik, melahirkan teknologi baru, dan menumbuhkan generasi yang berbeda. Namun, di balik tembok beton Penjara Batu yang lembap dan berlumut, waktu hanyalah tetesan air keran yang bocor: lambat, monoton, dan menyiksa.Di bangsal isolasi rumah sakit penjara, Doni Pratama terbaring lemah. Tubuhnya yang dulu dipuja jutaan wanita kini tak lebih dari rangka tulang yang dibungkus kulit pucat kekuningan. Penyakit paru-paru kronis, ditambah dengan gangguan jiwa yang tak pernah pulih, telah menggerogoti sisa-sisa nyawanya.Napasnya berbunyi ngik yang menyakitkan, beradu dengan suara hujan deras di luar sana. Badai sedang menghantam pulau itu lagi, seolah alam semesta ingin mengulangi latar belakang tragedi hidupnya."Suster..." panggil Doni dengan suara serak, nyaris tak terdengar. Matanya yang cekung menatap langit-langit yang retak.Seo
Deburan ombak di bawah tebing Bali pagi itu terdengar lebih tenang, seolah laut telah kenyang menelan satu nyawa yang penuh dosa. Polisi dan tim forensik telah meninggalkan villa mewah tempat Aaron dan Dona menginap. Garis polisi berwarna kuning yang sempat terpasang di balkon kini sudah dilepas.Laporan resmi telah dibuat: Seorang pasien gangguan jiwa yang melarikan diri dari RSJ Grogol, menyusup ke area hotel, dan tewas terjatuh dari tebing karena kecelakaan saat hendak menyerang tamu.Tidak ada yang tahu bahwa wanita itu adalah Jihan, mantan supermodel dan mantan istri Doni Pratama. Wajahnya hancur terbentur karang, dan sidik jarinya sudah rusak karena terlalu lama menggelandang. Dia dimakamkan di pemakaman umum tak bernama di desa terdekat, tanpa nisan, tanpa pelayat, kecuali Dona yang mengirimkan seikat bunga mawar putih tanpa kartu ucapan.“Sudah selesai,” ucap Aaron, meletakkan ponselnya di meja sarapan. Dia baru saja memastikan semua berita di media massa terkendali. Tidak ada
Hari pernikahan Dona dan Aaron tiba. Sebuah hotel bintang lima di tepi tebing Bali dipilih sebagai lokasi. Ombak memecah karang di bawah sana, langit biru bersih tanpa awan, dan dekorasi bunga Lily of the Valley—bunga yang melambangkan kebahagiaan yang kembali—memenuhi setiap sudut venue.Namun, di balik keindahan itu, Aaron Dwirangga tidak bisa tersenyum.Dia berdiri di balkon suite pengantin pria, memegang ponselnya erat-erat. Kemeja putihnya sudah rapi, tapi keringat dingin membasahi punggungnya.“Bagaimana bisa kalian kehilangan jejaknya?!” desis Aaron pada kepala keamanannya di telepon.“Maaf, Pak. Dia cerdik sekali. Dia mencuri pakaian perawat dan menumpang truk sayur yang keluar dari area RSJ. Sinyal terakhir terdeteksi di pelabuhan Gilimanuk pagi ini.”“Gilimanuk? Itu di Bali! Dia sudah menyeberang!” Aaron memijat pelipisnya. Jihan ada di pulau yang sama. Jihan datang untuk merusak hari ini.“Perketat keamanan. Siapapun yang tidak punya undangan barcode, jangan biarkan mendeka
Satu tahun kemudian.Pulau Nusakambangan, Penjara Batu.Suara deburan ombak Samudra Hindia yang menghantam karang terdengar sayup-sayup dari balik tembok beton setinggi lima meter yang memisahkan dunia luar dengan neraka bagi para pendosa kelas kakap. Di sini, waktu seolah berhenti. Tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, tidak ada cahaya blitz. Hanya ada lembap, dingin, dan kesunyian yang bisa membunuh jiwa seseorang perlahan-lahan.Di Sel Nomor 109, Doni Pratama duduk bersila menghadap tembok.Penampilannya sudah tidak bisa dikenali lagi. Rambutnya memutih sebagian, meski usianya baru menginjak awal tiga puluhan. Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit, dengan tato nomor narapidana di lengan kirinya. Matanya, yang dulu memiliki sorot tajam nan memikat, kini keruh seperti kolam air yang sudah lama tidak dibersihkan."Dona bilang dia suka warna biru..." gumam Doni pada seekor cicak yang merayap di dinding. "Nanti resepsi kita pakai tema laut ya, Cak? Kamu setuju kan?"Cicak itu diam
Cahaya pagi yang lembut menerobos masuk melalui jendela kaca setinggi langit-langit di Penthouse Aaron, menyinari sebuah boks bayi berwarna putih gading yang dihiasi kelambu sutra. Di dalamnya, Bima—bayi yang baru berusia dua hari—tertidur pulas. Napasnya teratur, pipinya kemerahan, tampak begitu damai dan tidak sadar akan badai dosa yang melingkupi kelahirannya.Dona berdiri di sisi boks itu, tangannya memegang secangkir teh chamomile yang sudah dingin. Dia mengenakan gaun tidur satin berwarna champagne, rambutnya tergerai bebas. Dia menatap bayi itu bukan dengan tatapan seorang ibu yang penuh cinta tanpa syarat, melainkan dengan tatapan seorang pemahat yang sedang mengagumi karya seni terbarunya."Dia tidak mirip Jihan," gumam Dona pelan, jari telunjuknya menyentuh jemari mungil Bima. "Dia juga tidak mirip Doni. Syukurlah."Aaron muncul dari arah dapur, membawa botol susu formula hangat. Dia sudah rapi dengan setelan kerjanya, siap untuk kembali menguasai dunia bisnis Jakarta, seola
Langit di atas kaki Gunung Salak seolah terbelah dua. Kilatan petir menyambar-nyambar dengan ganas, menerangi hutan pinus yang gelap gulita dalam sekejap mata, diikuti oleh dentuman guntur yang menggetarkan kaca-kaca jendela rumah tua itu. Hujan turun bukan lagi seperti air, melainkan seperti jarum-jarum es yang menghantam atap seng dengan suara bising yang memekakkan telinga. Namun, di dalam salah satu kamar yang lembap dan berbau apek di rumah isolasi itu, ada suara lain yang berusaha menandingi kegaduhan alam: jeritan seorang wanita yang sedang bertaruh nyawa.“AAAAARGHHH!!! SAKIIIT!!! MAS DONIII!!!”Jihan mencengkeram besi ranjang tua itu hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya, membuat daster lusuh yang dipakainya basah kuyup seolah dia baru saja diangkat dari kolam. Wajahnya yang dulu dipuja jutaan orang sebagai wajah bidadari, kini tak ubahnya topeng kematian. Tulang pipinya menonjol tajam, matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat, dan b







