Share

Tiga Tahun Kemudian

Author: LeneRina
last update Last Updated: 2024-01-12 19:20:36

Tiga tahun kemudian, Dona yang telah berusaha menata kembali hatinya kini tampil menjadi seorang Dona yang baru. Penuh semangat dan dendam.

Pukul delapan pagi, Dona berdiri tepat di dekat jendela apartemennya. Kedua netranya menatap sebuah foto yang yang ada di genggaman tangannya. Wajahnya menatap nanar, tak lama kemudian tatapan itu berubah menajam.

“Sayangnya aku tidak bisa membalaskan semua sakit hati ini padamu, Mas!” ucap Dona menggeram. Tangannya yang lain tampak mengepal kuat, jelas menggambarkan betapa hebatnya rasa sakit yang membendung di dalam hatinya.

“Seharusnya kamu merasakan pedih yang aku rasakan atas semua perbuatan bejatmu sebelum mati! Kamu memang sama sekali tidak pernah berubah, begitu egois dan tamak! Aku sudah menemanimu sejak kamu belum memiliki apapun hingga memiliki segalanya namun setelah kamu sukses, dengan mudahnya kamu menghadirkan Jihan di dalam pernikahan kita!”

Tatapan tajam itu kembali berubah menjadi sebuah seringai.

“Aku akan terus menyimpan foto ini sampai aku bisa membalaskan semua dendamku pada kau dan Jihan! Lihatlah wanita gundikmu itu. Wajah cantiknya tidak sepadan dengan kualitas otaknya. Aku hanya merubah sedikit wajahku tapi dia sama sekali tidak menyadari kehadiranku di sekitarnya. Bahkan aku masih memakai namaku sendiri.”

“Akan aku ambil hal apapun yang kamubanggakan di dalam hidupmu, Jihan. Karirmu sebagai model telah tergeser dengan kehadiranku. Dan aku juga akan mengambil orang kesayanganmu sama seperti dulu kamu mengambil Mas Jeremy!”

Tiba-tiba suara bel terdengar. Dona sedikit tersentak terkejut karena suara bel itu.

“Siapa yang datang pagi-pagi begini?” gerutu Dona sambil meletakkan foto yang ada di tangannya ke atas meja.

Dilangkahkannya kakinya menuju ke arah pintu kemudian membukanya. Sesosok wanita putih dengan rambut hiutam sebahu tampak berdiri sambil menenteng tas di tangannya.

“Loh kok kamu belum bersiap-siap sih, Don? Syutingnya kan dua jam lagi,” ucap Gina-Manager Dona sambil berjalan masuk ke dalam begitu Dona membukakan pintu untuknya.

Dona menghelakan napasnya. “Lokasi syutingnya kan dekat juga dari sini. Kenapa harus bersiap-siap lebih cepat?”

“Setidaknya kita harus menunjukkan profesionalitas kita dengan datang tepat waktu, Dona. Popularitas kamu sedang menanjak pesat. Apapun yang kamu lakukan sangat disorot.”

“Oke.. oke. Aku siap-siap dulu. Aku hanya tinggal pakai baju saja. Tidak akan lama.”

Dona mulai memilih pakaian yang akan dipakainya. Setelah memakai setelan dengan logo merk ternama asal Paris, Dona dengan lihat memoleskan make up tipis di wajah cantiknya yang akan selalu terlihat cantik meskipun tanpa polesan make up.           

“Ayo kita pergi sekarang, Gin,” ajak Dona pada managernyaitu begitu selesai mengoreksi penampilannya.

“Ini  foto siapa, Don?” tanya Gina sambil memperlihatkan sebuah foto yang didapatnya dari atas meja.

Dona terkejut melihat foto masa lalunya ada di tangan Gina. Dia terlalu teledor meletakkan foto yang merupakan rahasia terbesarnya itu di sembarangan tempat.

“Foto sepupuku,” jawab Dona sambil mengambil foto itu dari tangan Gina.

“Pantas saja wajahnya sedikit mirip denganmu, Don.”

“Mirip? Apakah sangat terlihat kemiripannya?” Dona menatap serius Gina.

“Sedikit. Jika tidak dilihat secara cermat juga tidak akan ada yang menyadarinya. Tapi karena aku selalu melihat wajahmu setiap hari, jadi aku bisa menyadarinya.”

Dona terdiam kemudian menganggukkan kepalanya dengan pelan. “Aku mengambil tasku dulu.”

Dengan cepat Dona menyimpan foto rahasianya di tempat yang sangat tersembunyi. Setelah itu, Dona membawa mobilnya menuju ke lokasi syuting bersama dengan Managernya.

Baru sepuluh menit mengendarai mobilnya, tiba-tiba sebuah mobil tanpa sengaja menabrak mobilnya dari belakang. Dona yang tadi sempat terkejut langsung menghentikan mobilnya dan segera keluar dari dalam mobilnya. Gina dengan cepat mengikutinya dari arah belakang, takut terjadi sesuatu dengan artisnya itu.

“Punya mata nggak sih?” teriak Dona dengan emosi begitu si empunya mobil yang menabraknya keluar dari dalam mobil.

“Maaf, Saya tadi sedang bertelponan dan tidak sengaja menabrak mobilmu yang berjalan lambat di depanku.”

“Don, jangan marah-marah begitu dong. Aku jadi ikutan takut, Don. Kalau kamu mau, kita bisa laporkan saja ke polisi,” bisik Gina yang takut masalahnya semakin rumit dan mengerikan karena melihat amarah Dona yang meledak-ledak.

Dona menghelakan napas sambil melihat ke arah bagian mobilnya yang tadi ditabrak.

“Apa ada yang rusak? Saya akan mengganti berapapun kerugiannya. Atau mau Saya belikan mobil sejenis yang baru?”

Dona spontan menatap ke arah si penabrak mobilnya.

“Siapa nama kamu?”

“Oh iya, perkenalkan nama Saya Aaron. Siapa nama kamu?” tanya Aaron sambil mengulurkan tangannya ke arah Dona.

“Jangan merasa bisa membeli apapun di dunia ini dengan uang, Mas Aaron yang kaya raya. Saya tidak peduli seberapa kayanya kamu, dengan mengemudi sambil menggunakan ponsel, kamu sudah sangat membahayakan keselamatan orang lain!”

Dona membelalakan kedua matanya ke arah Aaron dan mengabaikan uluran tangan Aaron yang sejak tadi menggantung di hadapannya. Dengan kesal dilangkahkannya kakinya kembali masuk ke dalam mobilnya bersama dengan Gina dan melaju pergi meninggalkan Aaron yang masih mematung menatap mobil Dona hingga menghilang.

“Kayaknya aku pernah melihat wajah laki-laki itu deh, Don. Tapi dimana ya? Wajahnya familiar banget pokoknya,” ucap Gina saat mereka sedang di perjalanan.

“Muka ganteng kayak gitu memang pasaran, Gin. Aku udah ketemu ratusan wajah kayak gitu.

“Dia memang ganteng sih, tapi bukan masalah gantengnya, Don. Aku kayak sering melihat wajahnya akhir-akhir ini.”

“Jangan-jangan dia pernah menggoda kamu di sosial media ya? kelihatan sih dari wajahnya rada aroma nakal. Jangan percaya cowok di dunia maya, Gina. Ntar ketipu buaya berbulu kadal!”

“Kadal nggak ada bulu, Dona. Bukan itu. Bentar aku inget-inget dulu.”

Gina tampak berpikir keras beberapa saat. Namun tak lama kemudian tiba-tiba dia menjentikkan jarinya.

“Aku ingat sekarang! Dia pewaris PT Rajawali Sindo! Perusahaan multimedia raksasa di Indonesia. Beritanya sedang heboh di semua media. Gila, tadi kamu habis bentak bos pemilik media hiburan sekaligus production house ternama! Kerja sama dengan mereka impian semua artis, Dona!”

“Perusahaannya yang akan rugi jika tidak mendapuk artis yang sedang naik daun seperti aku.”

“Tapi dia terkenal nakal banget. Semua wanita bertekuk lutut padanya. Setiap malam selalu keluar masuk klub malam elite bersama wanita seksi dan berakhir di sebuah hoter bintang enam.”

“Benar tebakanku. Aku sangat paham wajah-wajah buaya seperti itu.” Dona menyunggingkan senyum tipisnya.

Sementara Aaron yang masih berada di tempat kejadian tabrakan tadi langsung menghubungi orang kepercayaannya.

“Cari tahu pemilik mobil dengan nomor polisi yang sudah saya kirim tadi. Berikan informasi lengkapnya kepadaku secepatnya.”

Aaron segera menutup panggilan teleponnya.

“Wanita itu sangat berani. Belum pernah ada satu wanita pun yang mengabaikanku seperti dia,” gumam Aaron sambil tersenyum.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Tirai Terakhir

    Sepuluh tahun kemudian.Waktu memiliki cara kerja yang aneh di Pulau Nusakambangan. Bagi dunia luar, satu dekade adalah waktu yang cukup untuk mengubah peta politik, melahirkan teknologi baru, dan menumbuhkan generasi yang berbeda. Namun, di balik tembok beton Penjara Batu yang lembap dan berlumut, waktu hanyalah tetesan air keran yang bocor: lambat, monoton, dan menyiksa.Di bangsal isolasi rumah sakit penjara, Doni Pratama terbaring lemah. Tubuhnya yang dulu dipuja jutaan wanita kini tak lebih dari rangka tulang yang dibungkus kulit pucat kekuningan. Penyakit paru-paru kronis, ditambah dengan gangguan jiwa yang tak pernah pulih, telah menggerogoti sisa-sisa nyawanya.Napasnya berbunyi ngik yang menyakitkan, beradu dengan suara hujan deras di luar sana. Badai sedang menghantam pulau itu lagi, seolah alam semesta ingin mengulangi latar belakang tragedi hidupnya."Suster..." panggil Doni dengan suara serak, nyaris tak terdengar. Matanya yang cekung menatap langit-langit yang retak.Seo

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Harga Sebuah Masa Depan

    Deburan ombak di bawah tebing Bali pagi itu terdengar lebih tenang, seolah laut telah kenyang menelan satu nyawa yang penuh dosa. Polisi dan tim forensik telah meninggalkan villa mewah tempat Aaron dan Dona menginap. Garis polisi berwarna kuning yang sempat terpasang di balkon kini sudah dilepas.Laporan resmi telah dibuat: Seorang pasien gangguan jiwa yang melarikan diri dari RSJ Grogol, menyusup ke area hotel, dan tewas terjatuh dari tebing karena kecelakaan saat hendak menyerang tamu.Tidak ada yang tahu bahwa wanita itu adalah Jihan, mantan supermodel dan mantan istri Doni Pratama. Wajahnya hancur terbentur karang, dan sidik jarinya sudah rusak karena terlalu lama menggelandang. Dia dimakamkan di pemakaman umum tak bernama di desa terdekat, tanpa nisan, tanpa pelayat, kecuali Dona yang mengirimkan seikat bunga mawar putih tanpa kartu ucapan.“Sudah selesai,” ucap Aaron, meletakkan ponselnya di meja sarapan. Dia baru saja memastikan semua berita di media massa terkendali. Tidak ada

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Tamu Tak Diundang Dari Masa Lalu

    Hari pernikahan Dona dan Aaron tiba. Sebuah hotel bintang lima di tepi tebing Bali dipilih sebagai lokasi. Ombak memecah karang di bawah sana, langit biru bersih tanpa awan, dan dekorasi bunga Lily of the Valley—bunga yang melambangkan kebahagiaan yang kembali—memenuhi setiap sudut venue.Namun, di balik keindahan itu, Aaron Dwirangga tidak bisa tersenyum.Dia berdiri di balkon suite pengantin pria, memegang ponselnya erat-erat. Kemeja putihnya sudah rapi, tapi keringat dingin membasahi punggungnya.“Bagaimana bisa kalian kehilangan jejaknya?!” desis Aaron pada kepala keamanannya di telepon.“Maaf, Pak. Dia cerdik sekali. Dia mencuri pakaian perawat dan menumpang truk sayur yang keluar dari area RSJ. Sinyal terakhir terdeteksi di pelabuhan Gilimanuk pagi ini.”“Gilimanuk? Itu di Bali! Dia sudah menyeberang!” Aaron memijat pelipisnya. Jihan ada di pulau yang sama. Jihan datang untuk merusak hari ini.“Perketat keamanan. Siapapun yang tidak punya undangan barcode, jangan biarkan mendeka

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Undangan Dari Neraka

    Satu tahun kemudian.Pulau Nusakambangan, Penjara Batu.Suara deburan ombak Samudra Hindia yang menghantam karang terdengar sayup-sayup dari balik tembok beton setinggi lima meter yang memisahkan dunia luar dengan neraka bagi para pendosa kelas kakap. Di sini, waktu seolah berhenti. Tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, tidak ada cahaya blitz. Hanya ada lembap, dingin, dan kesunyian yang bisa membunuh jiwa seseorang perlahan-lahan.Di Sel Nomor 109, Doni Pratama duduk bersila menghadap tembok.Penampilannya sudah tidak bisa dikenali lagi. Rambutnya memutih sebagian, meski usianya baru menginjak awal tiga puluhan. Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit, dengan tato nomor narapidana di lengan kirinya. Matanya, yang dulu memiliki sorot tajam nan memikat, kini keruh seperti kolam air yang sudah lama tidak dibersihkan."Dona bilang dia suka warna biru..." gumam Doni pada seekor cicak yang merayap di dinding. "Nanti resepsi kita pakai tema laut ya, Cak? Kamu setuju kan?"Cicak itu diam

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Puing-puing Ego

    Cahaya pagi yang lembut menerobos masuk melalui jendela kaca setinggi langit-langit di Penthouse Aaron, menyinari sebuah boks bayi berwarna putih gading yang dihiasi kelambu sutra. Di dalamnya, Bima—bayi yang baru berusia dua hari—tertidur pulas. Napasnya teratur, pipinya kemerahan, tampak begitu damai dan tidak sadar akan badai dosa yang melingkupi kelahirannya.Dona berdiri di sisi boks itu, tangannya memegang secangkir teh chamomile yang sudah dingin. Dia mengenakan gaun tidur satin berwarna champagne, rambutnya tergerai bebas. Dia menatap bayi itu bukan dengan tatapan seorang ibu yang penuh cinta tanpa syarat, melainkan dengan tatapan seorang pemahat yang sedang mengagumi karya seni terbarunya."Dia tidak mirip Jihan," gumam Dona pelan, jari telunjuknya menyentuh jemari mungil Bima. "Dia juga tidak mirip Doni. Syukurlah."Aaron muncul dari arah dapur, membawa botol susu formula hangat. Dia sudah rapi dengan setelan kerjanya, siap untuk kembali menguasai dunia bisnis Jakarta, seola

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Tangisan Di Tengah Badai

    Langit di atas kaki Gunung Salak seolah terbelah dua. Kilatan petir menyambar-nyambar dengan ganas, menerangi hutan pinus yang gelap gulita dalam sekejap mata, diikuti oleh dentuman guntur yang menggetarkan kaca-kaca jendela rumah tua itu. Hujan turun bukan lagi seperti air, melainkan seperti jarum-jarum es yang menghantam atap seng dengan suara bising yang memekakkan telinga. Namun, di dalam salah satu kamar yang lembap dan berbau apek di rumah isolasi itu, ada suara lain yang berusaha menandingi kegaduhan alam: jeritan seorang wanita yang sedang bertaruh nyawa.“AAAAARGHHH!!! SAKIIIT!!! MAS DONIII!!!”Jihan mencengkeram besi ranjang tua itu hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya, membuat daster lusuh yang dipakainya basah kuyup seolah dia baru saja diangkat dari kolam. Wajahnya yang dulu dipuja jutaan orang sebagai wajah bidadari, kini tak ubahnya topeng kematian. Tulang pipinya menonjol tajam, matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat, dan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status