MasukDi sisi lain Alex benar-benar merasa ada yang tidak nyaman di dalam dirinya setelah bertemu dengan Fras dan Alia."Kenapa Bapak melakukan itu?" Tanya pembantunya itu tiba-tiba membuat kaget lalu ia mengerutkan keningnya."Apa maksud kamu?""Saya tidak bermaksud ikut campur ya pak, tapi rasanya setelah saya perhatikan dari bulan ke bulan seolah-olah perempuan itu sangat beruntung mendapatkan anak bapak--"Emang iya, perempuan itu tuh gadaian dari orang tuanya karena nggak bisa bayar hutang, kurang beruntung apa dia mendapatkan anak saya," ujarnya membuat mbok terdiam."Tapi kalau saya perhatikan wajahnya Dia perempuan yang tulus Pak, sekalipun anak bapak menikah dengan wanita lain Saya tidak percaya dia mendapatkan wanita setulus itu,""Diam kamu, kamu tidak tahu apa-apa soal itu semua," ucapnya lalu berbalik memunggungi pembantunya itu membuatnya menarik nafas dalam dalam.'orang kaya kalau Udah diujung maut juga masih aja tetap merasa tinggi, dari mana lagi kejadian yang bisa menyada
Fras hanya diam tidak berkata apa-apa lagi setelah mendapatkan jawaban itu. Ia mencoba memposisikan dirinya di posisi Alia.'Lu mau marah? Sadar bro ... Sebelum ketemu sama cewek ini hidup lu seberantakan itu, lu manusia paling gak jelas di dunia.Setelah ketemu dia lu banyak berubah dan bahkan mau menurut sama perempuan ini, and now?Dia mengetahui sisi gelap lu yang sebenarnya dan dia kecewa apa itu salah? Tidak, itu tidak salah karena dari awal lu nggak pernah jujur sama dia,' ucap Fras dalam hati.Alia menatap kosong ke arah luar jendela bus, ntah apa yang dipikiran perempuan itu. "Eugh ..." Tiba-tiba bayi digendongannya itu melenguh membuat Alia menunduk lalu mengusap kepala putranya."Sini aku gendong," ucap Fras lalu mengambil alih bayi itu dari Alia.Tidak banyak respon, Alia kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela bus.Sore hari mereka baru sampai di kampung, seperti biasa nenek menunggu mereka di teras karena ia sudah pulang dari ladang. "Eh baru pulang ... Giman
Keesokan harinya Fras datang ke rumah sakit bersama dengan Alia membuat Alex yang melihat itu langsung senang."Kamu datang nak,""Kami Pa, ada anak Papa, menantu papa dan ada cucu papa," ucap Fras membuat Alia menunduk sekilas."Iya itu maksud Papa,""Bagaimana keadaan Papa sekarang?" "Ya beginilah nak, seperti yang kamu lihat. papa sendirian hanya ditemani sama Mbok siang dan malam," ujarnya membuat Fras mengangguk."Istri papa?""Dia sibuk dengan dunianya, kalau dilarang dia marah," jawab Alex membuat Fras mengngguk."Apa yang Papa rasakan?""Nggak ada, Papa hanya kangen sama almarhum mama kamu," ucapnya membuat Fras tiba-tiba menegang. "What do you mean?""Ya begitu, Papa hanya kadang kangen sama ibu kamu," lanjutnya membuat Fras mendongak ke atas sekilas sampai air matanya tiba-tiba tidak bisa dibendung. "Kenapa baru sekarang Pa?""Hah?""Papa Oh my God ... Butuh waktu yang lama ternyata baru Papa menyadari akan berartinya ibu?" ujar Fras tidak percaya. "Kenapa kamu begitu em
Setelah Rendy dan Mawar selesai melakukan pengecekan. Rendy tiba-tiba teringat dengan Lidya, ia bingung apa yang dilakukan perempuan itu di rumah sakit ini. "Kok dia ada di rumah sakit sih?" "Siapa Mas?""Itu loh cewe aneh tadi, apa jangan-jangan suaminya masuk rumah sakit ya," gumam Rendy."Dokter ... Saya ke bawah dulu ya, kalau mau pemeriksaan langsung aja ke ruangannya Pak Alex," ucap mbok membuat Rendy menoleh."Eh ... Bu sebentar," panggil Rendy sambil mengejar mbok membuat mbok berhenti lalu menoleh."Iya mas,""Pak Alex? Kalau boleh tahu ruangannya di mana ya?" tanya Rendy membuat mbok diam sejenak."Bapak belum bisa dijenguk oleh sembarang orang Mas, penyakitnya lagi kambuh dan bapak benar-benar nggak bisa." Ucapnya membuat Rendy mengangguk."Iya saya tahu, saya muridnya pak Fras," ujar Rendy membuat mbok kaget."O iya, kalau gitu ayo kita ke ruangan dulu mas ... Soalnya bapak dari tadi ngomongin tentang anaknya terus," ujarnya Tanpa membuang waktu mereka bertiga langsung
Setelah kurang lebih 1 jam dalam penanganan dokter, Alex kembali normal membuat mbok lega."Huh terima kasih dokter,""Jangan biarkan Bapak ini bertemu dengan orang yang membuatnya marah ya, karena emosinya sangat tidak stabil dan itu mempengaruhi semuanya," ucap dokter itu lagi.Setelah dirasa aman, Mbok kembali keluar dari ruangan untuk menghampiri Lidya yang terlihat senyum-senyum sendiri pada ponselnya di ujung sana. "Bu,""Hum,""Bapak sudah selesai ditangani oleh dokter," "O iya, ya sudah kalau gitu Saya mau ketemu dulu pengen tunjukin ke mukanya sehebat apa sih dia, baru diomongin sedikit aja udah jatuh sakit," ujarnya membuat mbok menghela nafas panjang."Bu, jangan dulu ya. Dokter tadi bilang kalau emosi bapak sedang tidak stabil dan bapak tidak diizinkan untuk bertemu sama orang-orang yang membuat dia emosi," ucapnya membuat Lidya mengerutkan keningnya."Terus maksud kamu saya gitu yang bikin dia emosi? Emang saya ngomong apa tadi?" "Bukan gitu Bu, masalahnya kan Ibu dan
Hari menunjukkan pukul 06.00 sore Lidya Baru saja sampai di rumah. "Kok gelap semua sih," gumamnya sambil menyalakan lampu.Ia melihat kiri kanan tidak ada orang membuat dia langsung tersenyum kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa. "Wah ... Adem banget ini rumah nggak ada siapa-siapa," gumamnya sambil senyum-senyum sendiri mengingat perjalanannya bersama teman-temannya hari ini sangat menyenangkan. Disisi lain, Alex sudah sadarkan diri di rumah sakit. Ia melihat hanya pembantunya yang setia di sana duduk menemaninya. "Bapak butuh sesuatu?" tanya perempuan paruh baya itu membuat mata tiba-tiba berkaca-kaca."Bapak mau minum?""Kemana Lidya?" tanya Alex membuat pembantunya itu kebingungan. "Um ... Saya tidak tahu Pak, waktu ditelepon juga tadi bu Lidya nggak ngasih tahu dia pergi ke mana," jawabnya membuat Alex menarik nafas dalam-dalam."Hufftt ..."'Apa ini yang dinamakan karma ya? Dulu waktu istriku sakit, aku malah meninggalkannya selama berbulan-bulan,' ucap Alex dalam hati.
"Alia ..." panggil seseorang membuat langkah Alia berhenti, lalu ia menoleh ke belakang."Rendi ..." gumamnya"Lu ngapain disini? Diajak ke rumah gue tadi nggak mau, sekarang lu jalan sendiri di sini," ucap Rendi membuat Alia terkekeh."Hehe gak apa-apa," ucapnya"Mau kemana? Ayo gua anterin mumpun
"Pa--kk ..."Jantung Alia berdegup lebih kencang dari biasanya, ia juga sedikit gemetar saat tangannya menyentuh pipi yang menurutnya sangat menyeramkan itu. "Obati," suruh Fras lalu ia menyandarkan kepalanya di sisi sofa, kemudian memejamkan matanya membuat Alia langsung menghalang nafas pelan-pe
Keesokan harinya, Rendi dengan semangatnya berangkat ke kampus, karena ia ingin memberitahu tentang kabar Alia pada teman-temannya."Hah? Demi apa lu? Terus sekarang Alia hilang gitu?""Iya ... Mama gue lagi nyari-nyari keberadaan Alia, wah ... Nggak nyangka gue ternyata dia di zona bahaya," gumam
Lama Alia melihat ke arah kamar Fras, berharap laki-laki itu keluar karena ia ingin memperjelas ucapan laki-laki tadi."Duh ... Kok nggak keluar-keluar ya, apa jangan-jangan lagi istirahat?" gumam Alia lalu ia kembali ke belakang.Tidak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka, membuat Alia kemba







