LOGINKeesokan harinya Fras datang ke rumah sakit bersama dengan Alia membuat Alex yang melihat itu langsung senang."Kamu datang nak,""Kami Pa, ada anak Papa, menantu papa dan ada cucu papa," ucap Fras membuat Alia menunduk sekilas."Iya itu maksud Papa,""Bagaimana keadaan Papa sekarang?" "Ya beginilah nak, seperti yang kamu lihat. papa sendirian hanya ditemani sama Mbok siang dan malam," ujarnya membuat Fras mengangguk."Istri papa?""Dia sibuk dengan dunianya, kalau dilarang dia marah," jawab Alex membuat Fras mengngguk."Apa yang Papa rasakan?""Nggak ada, Papa hanya kangen sama almarhum mama kamu," ucapnya membuat Fras tiba-tiba menegang. "What do you mean?""Ya begitu, Papa hanya kadang kangen sama ibu kamu," lanjutnya membuat Fras mendongak ke atas sekilas sampai air matanya tiba-tiba tidak bisa dibendung. "Kenapa baru sekarang Pa?""Hah?""Papa Oh my God ... Butuh waktu yang lama ternyata baru Papa menyadari akan berartinya ibu?" ujar Fras tidak percaya. "Kenapa kamu begitu em
Setelah Rendy dan Mawar selesai melakukan pengecekan. Rendy tiba-tiba teringat dengan Lidya, ia bingung apa yang dilakukan perempuan itu di rumah sakit ini. "Kok dia ada di rumah sakit sih?" "Siapa Mas?""Itu loh cewe aneh tadi, apa jangan-jangan suaminya masuk rumah sakit ya," gumam Rendy."Dokter ... Saya ke bawah dulu ya, kalau mau pemeriksaan langsung aja ke ruangannya Pak Alex," ucap mbok membuat Rendy menoleh."Eh ... Bu sebentar," panggil Rendy sambil mengejar mbok membuat mbok berhenti lalu menoleh."Iya mas,""Pak Alex? Kalau boleh tahu ruangannya di mana ya?" tanya Rendy membuat mbok diam sejenak."Bapak belum bisa dijenguk oleh sembarang orang Mas, penyakitnya lagi kambuh dan bapak benar-benar nggak bisa." Ucapnya membuat Rendy mengangguk."Iya saya tahu, saya muridnya pak Fras," ujar Rendy membuat mbok kaget."O iya, kalau gitu ayo kita ke ruangan dulu mas ... Soalnya bapak dari tadi ngomongin tentang anaknya terus," ujarnya Tanpa membuang waktu mereka bertiga langsung
Setelah kurang lebih 1 jam dalam penanganan dokter, Alex kembali normal membuat mbok lega."Huh terima kasih dokter,""Jangan biarkan Bapak ini bertemu dengan orang yang membuatnya marah ya, karena emosinya sangat tidak stabil dan itu mempengaruhi semuanya," ucap dokter itu lagi.Setelah dirasa aman, Mbok kembali keluar dari ruangan untuk menghampiri Lidya yang terlihat senyum-senyum sendiri pada ponselnya di ujung sana. "Bu,""Hum,""Bapak sudah selesai ditangani oleh dokter," "O iya, ya sudah kalau gitu Saya mau ketemu dulu pengen tunjukin ke mukanya sehebat apa sih dia, baru diomongin sedikit aja udah jatuh sakit," ujarnya membuat mbok menghela nafas panjang."Bu, jangan dulu ya. Dokter tadi bilang kalau emosi bapak sedang tidak stabil dan bapak tidak diizinkan untuk bertemu sama orang-orang yang membuat dia emosi," ucapnya membuat Lidya mengerutkan keningnya."Terus maksud kamu saya gitu yang bikin dia emosi? Emang saya ngomong apa tadi?" "Bukan gitu Bu, masalahnya kan Ibu dan
Hari menunjukkan pukul 06.00 sore Lidya Baru saja sampai di rumah. "Kok gelap semua sih," gumamnya sambil menyalakan lampu.Ia melihat kiri kanan tidak ada orang membuat dia langsung tersenyum kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa. "Wah ... Adem banget ini rumah nggak ada siapa-siapa," gumamnya sambil senyum-senyum sendiri mengingat perjalanannya bersama teman-temannya hari ini sangat menyenangkan. Disisi lain, Alex sudah sadarkan diri di rumah sakit. Ia melihat hanya pembantunya yang setia di sana duduk menemaninya. "Bapak butuh sesuatu?" tanya perempuan paruh baya itu membuat mata tiba-tiba berkaca-kaca."Bapak mau minum?""Kemana Lidya?" tanya Alex membuat pembantunya itu kebingungan. "Um ... Saya tidak tahu Pak, waktu ditelepon juga tadi bu Lidya nggak ngasih tahu dia pergi ke mana," jawabnya membuat Alex menarik nafas dalam-dalam."Hufftt ..."'Apa ini yang dinamakan karma ya? Dulu waktu istriku sakit, aku malah meninggalkannya selama berbulan-bulan,' ucap Alex dalam hati.
Di sisi lain Alex mulai semakin parah, sedangkan Lidya pura-pura tidak mengetahui dan tetap bersikap seperti biasa saja di rumah. Hari demi hari Alex malah semakin diam, tidak banyak berbicara namun sebenarnya ia merasa kesepian dan sedang tidak baik-baik saja. "Mas ..." Panggil Lidya yang sedang berdandan di hadapannya membuat Alex menoleh."Aku mau hangout dulu ya sama temen-temen, udah lama banget Aku nggak keluar janji deh pulangnya nggak malam. Sore ntar aku pulang habis shopping, mau dibeliin apa?" tanya Lidya membuat Alex diam sejenak."Harus banget hari ini?""Iyalah, teman-temanku tuh bisanya hari ini kamu jangan larang-larang ya. Kamu tuh lagi sakit, jangan banyak berpikir atau mengatur apapun itu ya ... Makanan kamu udah disiapin tuh sama Mbok," ucapnya membuat Alex bingung "Mbok?""Iya, aku udah nyewa pembantu buat ngurusin kamu Mas. Ya gimana sih, aku nggak bisa ngurusin kamu kayak belum level lu kayak gitu loh. Aku kan masih muda masa yang harus ngurusin laki-laki tu
Setelah semuanya selesai, para pekerja yang disewa oleh nenek juga pulang sedangkan nenek masih terlihat bingung karena hasil panennya belum terjual sama sekali. "Mas ... Kok nggak jadi jual?""Hufftt ... Orang yang mau beli itu kurang profesional menurutku ya, harganya benar-benar jauh dari harga pasar jangan khawatir sebentar lagi juga bakal ada yang datang," lanjut Fras yang dibalas anggukan oleh Alia."Ayolah kita pulang kalau gitu ... Jam segini juga sebentar lagi magrib, di rumah belum ada yang masak juga," ucap nenek membuat Fras mengangguk."Kamu pulang sama nenek nggak apa-apa ya? Biar aku yang nungguin di sini," suruh Fras."Iya mas,"Tanpa membuang waktu Alia dan nenek pulang berdua ke rumah."Kenapa suami kamu nggak ikut?""Nggak apa-apa, Dia lagi nunggu orang yang mau beli hasil panen kita itu," jawab Alia."Emang siapa yang datang jam segini? Kalau mau ngejualin tuh bilangnya harus dari jauh-jauh hari biasanya kayak gitu," ujar nenek."Heheh ... Kayaknya udah dibilangin
Seminggu telah berlalu, Alex semakin frustasi karena ia ingin kembali ke rumahnya, namun dia tidak mau berurusan dengan wartawan apalagi polisi. "Huh sampai sekarang belum ada nih kabar dari Fras?" tanya Alex pada anak buahnya itu yang dibalas anggukan oleh mereka."Belum ada Pak, kami mencoba mel
Heri demi hari, jadi dia tidak bisa mendapatkan kabar Alia sedikitpun membuatnya semakin frustasi."Dek ... Liat ini hp mama kenapa?" ucap Mama Lidya buru-buru mendekatinya sambil menunjukkan ponselnya membuat Lidya menghela nafas panjang."Itu nggak ada apa-apa mah, mama mau nggak ngikutin saran a
Lidya tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang karena langkahnya sudah dibatasi oleh keluarganya, sedangkan ia harus mencari keberadaan Alia."Huh ... Kenapa jadi berantakan semua sial! Pak Alex, bisa-bisanya dia nyebarin foto itu padahal aku juga lagi berusaha nyari," kesal Lidya lalu ia mengota
Sesampainya di bandara, Alia melihat Rendi sedang berjalan sendirian di sana membuatnya langsung berhenti."Mbok sebentar sepertinya itu Rendy," ucapnya membuat mbok menoleh."Ah perasaanmu aja itu mah Neng, kita lanjut aja ya soalnya mas Fras suruh mbok buat nganterin kamu ke tempatnya langsung,"







