Beranda / Rumah Tangga / Istri Tawanan Abdi Negara / Bab 34 - Ancaman Berkepanjangan

Share

Bab 34 - Ancaman Berkepanjangan

Penulis: ekaphrp
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-19 21:08:31
Suara derap kaki menggema di penjuru ruangan. Dari lantai atas, Tavisha tampak tergesa menuruni anak tangga. Yudha yang tengah berjibaku di dapur, mendongak heran. Tak biasanya Tavisha tergesa-gesa seperti itu.

“Hati-hati, Tavisha.”

“Aku buru-buru, Mas.”

Tavisha dengan nafas terengah sampai di lantai dasar. Yudha mematikan kompor untuk menghampiri sang perempuan yang sepertinya sudah rapi dengan kostum ala anak kuliahan. Celana jeans, kemeja putih berlapis sweater berwarna sky blue, serta sepatu kets putih andalannya. Rambutnya masih tergerai. Karena itulah, Tavisha terlihat sibuk mencepolnya ke atas.

“Memangnya mau kemana?”

Yudha yang sudah berada di dekatnya lantas menahan siku perempuan itu agar berhenti.

“Hari ini ada seminar nasional tentang militerisasi. Aku harus ikut.”

Diam-diam Yudha menelan ludah. Sepertinya perempuan ini tidak main-main dengan ucapannya. Tavisha benar-benar akan mengulik dari beberapa sumber yang bisa memberinya pencerahan. Jika Tavisha tidak dapatk
ekaphrp

Ada yang gemes sama tingkahnya Tavisha? Cung? Wakaka Saran gue mah, ya, Mas Yudha. Hamilin aja nggak sih, biar dia morning sickness sampe lupa tuh skripsi. Wakakak Setuju? Coba komen, kasih gem, rating ulasan, dan viralkan #eaaak. Makasih gaesss

| 8
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (20)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
sejuta sama othor terlalu menantang bahaya nih tavisha, hamilin aja mas yudha biar ngga banyak pikiran ke sana lagi tavisha hamilin.....hamilin.....hamilin
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
siapa ya kira2 yg ngirim pesan, kayaknya orang2 yg terlibat dlm operasi langit merah deh, bisa aja kan itu dirgantara who knows
goodnovel comment avatar
Imas Patimah
benar apa kata Samuel lebih baik kamu nggak lulus tavisha dari pada nyawa melayang, Krn yg kmu hadapi itu tidaklah mudah dan sangat berbahaya,apa lagi mereka secara terang-terangan berani mengancam kamu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 48 - Tamu Tak Diundang

    “Yudha, Tavisha … kalian di rumah, Nak?”Suara itu menggema. Beruntung jendela kaca seluruh rumahnya hanya bisa dilihat satu arah. Tavisha menelan ludah susah payah. Ia tahu sekali suara itu. Ya, Dahlia—ibu mertuanya. Ada apa siang-siang seperti ini datang ke rumah? “Mas, ada Ibu diluar ….”Tavisha langsung berpindah posisi. Ia mengambil baju dan hotpants yang sempat berserakan lalu memakainya sepersekian detik. “Tumben Ibu datang,” gumam Yudha, masih dengan wajah tenang. Tidak seperti Tavisha yang gedebak-gedebuk karena takut ketahuan baru saja bercinta di siang bolong. Bahkan, badannya terasa sangat lengket. Aroma percintaan pun masih menguar, tidak sedap. “Ibu tahu password rumah kamu, Mas?” Yudha sedikit menimang. “Sepertinya tahu.”Secepat itu pula, Tavisha menresleting hotpansnya. Sementara di ambang pintu mulai terdengar suara pin yang ditekan. “Kamu ke kamar dulu, bersih-bersih.”Tavisha menatap pintu dan sang suami secara bergantian. Sungguh lucu sekali. Suasana yang

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 47 - Flirting …

    “Atau Mas maunya aku bikin suasana lebih … panas?” “Apa maksud kamu?” Tavisha semakin berani. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, sampai kedua kakinya berada diatas pangkuan pria itu. Tangannya terulur, memainkan dada bidang sang suami dengan godaan-godaan nakalnya. “Mas tahu nggak, aku paling suka kalau kamu udah diem kayak gini. Soalnya, tingkat ketampanan kamu tuh jadi bertambah dan pastinya kamu nggak bisa marah, ‘kan?” goda Tavisha. Jari-jarinya semakin lihai menggelitik dada bidang sang suami, seolah memancing raksi. Yudha hanya menoleh pelan, tapi jelas ada kilatan buas di matanya. Seperti hewan yang tengah memangsa. “Tavisha,” ucap Yudha rendah, seolah memberi peringatan. “Ya, Mas?” tanya Tavisha, mendayu-dayu, raut wajahnya dibuat sepolos mungkin sembari menatap sang suami dari samping. “Ada apa?” “Jangan macam-macam.” “Lho, aku cuma pegang dada Mas aja, bukan yang lain.” Tavisha terkekeh pelan, lalu semakin menjelajahi ke bawah, tepat di atas pusar pria itu. “N

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 46 - Overprotective

    Perut Tavisha sudah terisi, tapi ada yang lebih menyenangkan dari sekadar perut yang kenyang. Ialah kebersamaan yang tercipta bersama sang terkasih. Sisa senyum masih melekat di wajah perempuan itu ketika meletakkan garpu di pinggir piring. Yudha sudah mengangkat piring kosongnya, beranjak, lalu melangkah ke dapur.“Biar aku aja yang cuci, Mas,” ujar Tavisha refleks.Yudha menoleh sekilas, sorot matanya biasa saja, tapi ada sedikit nada perintah dalam jawabannya.“Sudah, kamu duduk saja. Nanti kalau tumbang lagi, malah repot.”“Cuma cuci piring nggak bakal buat tumbang, kok, Mas …,” gumam Tavisha setengah protes.Yudha tidak menjawab, hanya menggeleng kecil. “Tidak boleg.”Selepas itu, Yudha langsung menyelesaikan tugasnya mencuci piring. Tangannya bergerakcekatan di wastafel dibersamai air mengalir dan bunyi piring yang beradu pelan. Tavisha terdiam, menatap punggung sang suami yang kembali serius. Ada rasa aneh menggelitik jiwanya, yaitu senang sekaligus canggung. Setelah pria itu

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 45 - Mengikis Jarak

    “Mulai malam ini, kamu tidur di bawah.” “Ya?” Tavisha terperanjat. Pergelangan tangannya masih dalam genggaman Yudha, membuat langkah kaki itu seketika terhenti. Ia menatap dalam manik kelam sang suami yang tak memancarkan ekspresi apapun. Sungguhan, sulit sekali pria itu ditebak—pikirnya. “Mulai malam ini, kamu tidur di bawah,” ulang Yudha, nada suaranya datar tapi tak ada keraguan.Mata Tavisha membola. “Ma-maksud Mas … satu kamar?”Yudha mengangguk pelan. Tidak ada senyuman atau senda gurau, hanya tatapan yang benar-benar sulit diterka. Namun, genggaman itu tidak mengendur sama sekali. “Bukannya dari awal Mas—”“Itu saat saya pikir kamu belum siap. Nyatanya, kita sudah pernah tidur satu kamar, bahkan lebih dari itu, ‘kan?”Glek.Pernyataan macam apa itu? Tavisha sampai berkedip beberapa kali, memastikan bahwa yang bicara seperti itu adalah suaminya sendiri. Pria yang sangat sulit ditebak dan jarang berekspresi. “Tapi, Mas ….”Tavisha masih berusaha denial, mau tahu seberapa gig

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 44 - Layaknya Suami Biasa

    “Mas…,” gumam Tavisha ketika matanya kembali terbuka. Hari sudah menjelang siang. Tanpa sadar ia terlalu lama terlelap. Kala matanya terbuka, ia masih melihat kehadiran Yudha di ruangan tersebut. Tepatnya, sang suami tengah berbaring di sofa. Kelopak mata pria itu bergerak pelan, sebelum terbuka sepenuhnya. Yudha menoleh ke arah Tavisha. Sejenak, hanya keheningan yang terjalin diantara mereka. Yudha lantas berdiri, menghampiri ranjang. Jemarinya ia selinapkan di antara ceruk leher sang istri seraya mengusap pipi lembut itu. “Kamu sudah bangun? Apa ada yang sakit?” tanya Yudha, nadanya rendah tapi penuh kekhawatiran. Tavisha menggeleng pelan. “Nggak, Mas. Cuma … capek aja, tidur terus.” Yudha duduk di tepi ranjang. Ia tersenyum, meski tampak kaku. “Dokter bilang kalau kondisi kamu sudah stabil. Mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang.” “Pulang?” Tavisha terdiam. Ada rasa lega sekaligus cemas. Kalau pulang, itu artinya mereka akan kembali ke rutinitas yang ada. Yudha akan sibu

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 43 - Luka Lama, Mengaga Lagi.

    “Aku mau percaya, Mas … tapi tolong, jangan buat aku ngerasa sendirian lagi, ya?” Yudha mengusap puncak kepala Tavisha seraya tersenyum. Sebelum pintu kamar itu kembali terbuka. Suara ketukan pintu seakan tidak terdengar, sebab sosok yang baru saja masuk tidak menunggu jawaban mereka. Seorang pria berusia lebih dari setengah abad, berjalan tegap dengan setelan resmi. Wajahnya berwibawa dan serius. Setiap langkah tampak berat dan mantap. Di belakangnya beberapa ajudan membersamai. Bisik-bisik dari lorong sebelumnya masih terdengar. Sosok yang begitu berpengaruh dalam dunia militer kini berada disana. Menteri Pertahanan, Manggala Trianto Tandjung, ayah Tavisha datang tanpa pemberitahuan. Suasana mendadak berubah. Seolah pasokan udara di dalam kamar langsung berkurang, menyisakan sesak yang begitu nyata. Terlebih bagi Tavisha yang masih ada dalam pelukan Yudha. Tubuhnya, kontan menegang. Ia langsung melepaskan diri, beringsut dari tempatnya lalu duduk dengan tegap. Sebisa mungkin, ia m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status