Share

Bab 33 - Menekan Ego

Penulis: ekaphrp
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-18 20:41:55
Usai malam yang dipenuhi kegamangan, hari-hari menjadi sangat berat bagi Tavisha. Setiap kali ia membuka laptop, bayangan tegas sang suami serta ancaman samar kembali mengiang. Ia tidak bisa melupakan intonasi bicara yang terlampau dingin terhadapnya. Meski begitu, ia tetap menggerakkan jemarinya, membuka puluhan tab pencarian serta mencatat yang dirasa perlu ke dalam bukunya.

Sementara itu, Yudha di tempat lain tengah memandang layar komputernya dengan konsentrasi penuh. Di sebuah ruangan khusus yang hanya bisa diakses oleh perwira aktif, ia membuka arsip lama. Tumpukan data operasi militer di layar komputer itu tersusun rapi dalam folder-folder. Namun, sebagian besar dikunci. Jemarinya menggerakan kursor ke kolom pencarian, mencari dengan kata kunci “langit”, “merah”, atau “langit merah”. Tapi, tidak ada satupun folder yang mengacu kesana. Ia kembali mengetik ulang dengan acak, menelusuri nama-nama unit, kode operasi, atau tanggal tertentu. Namun—hasilnya tetap nihil.

Yudha bersan
ekaphrp

Yuk, tebak-tebakan. Edric ini kira-kira antagonis atau protagonis? Wakakaka. Momen manis tipis-tpis, ya. Pokoknya ini bakalan gong sih di ending. Kayaknya. Atau udah ada yang bisa nebak endingnya? Ga seru dong. Kasih aku support, komen, gem, dan ulasan rating yang bagus. Makasih.

| 8
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (21)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
aku aja meleleh sama perhatian mas yudha, dingin2 ternyata hangat di dalam
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
aku rasa edric ini antagonis deh, dia ada maksud tertentu sama tavisha
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
nah gitu dong mas yudha, klo tavisha ngga bisa dilarang secara frontal kasih dia perhatian yg bisa bikin dia tersentuh dan akhirnya patuh bahkan luluh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 48 - Tamu Tak Diundang

    “Yudha, Tavisha … kalian di rumah, Nak?”Suara itu menggema. Beruntung jendela kaca seluruh rumahnya hanya bisa dilihat satu arah. Tavisha menelan ludah susah payah. Ia tahu sekali suara itu. Ya, Dahlia—ibu mertuanya. Ada apa siang-siang seperti ini datang ke rumah? “Mas, ada Ibu diluar ….”Tavisha langsung berpindah posisi. Ia mengambil baju dan hotpants yang sempat berserakan lalu memakainya sepersekian detik. “Tumben Ibu datang,” gumam Yudha, masih dengan wajah tenang. Tidak seperti Tavisha yang gedebak-gedebuk karena takut ketahuan baru saja bercinta di siang bolong. Bahkan, badannya terasa sangat lengket. Aroma percintaan pun masih menguar, tidak sedap. “Ibu tahu password rumah kamu, Mas?” Yudha sedikit menimang. “Sepertinya tahu.”Secepat itu pula, Tavisha menresleting hotpansnya. Sementara di ambang pintu mulai terdengar suara pin yang ditekan. “Kamu ke kamar dulu, bersih-bersih.”Tavisha menatap pintu dan sang suami secara bergantian. Sungguh lucu sekali. Suasana yang

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 47 - Flirting …

    “Atau Mas maunya aku bikin suasana lebih … panas?” “Apa maksud kamu?” Tavisha semakin berani. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, sampai kedua kakinya berada diatas pangkuan pria itu. Tangannya terulur, memainkan dada bidang sang suami dengan godaan-godaan nakalnya. “Mas tahu nggak, aku paling suka kalau kamu udah diem kayak gini. Soalnya, tingkat ketampanan kamu tuh jadi bertambah dan pastinya kamu nggak bisa marah, ‘kan?” goda Tavisha. Jari-jarinya semakin lihai menggelitik dada bidang sang suami, seolah memancing raksi. Yudha hanya menoleh pelan, tapi jelas ada kilatan buas di matanya. Seperti hewan yang tengah memangsa. “Tavisha,” ucap Yudha rendah, seolah memberi peringatan. “Ya, Mas?” tanya Tavisha, mendayu-dayu, raut wajahnya dibuat sepolos mungkin sembari menatap sang suami dari samping. “Ada apa?” “Jangan macam-macam.” “Lho, aku cuma pegang dada Mas aja, bukan yang lain.” Tavisha terkekeh pelan, lalu semakin menjelajahi ke bawah, tepat di atas pusar pria itu. “N

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 46 - Overprotective

    Perut Tavisha sudah terisi, tapi ada yang lebih menyenangkan dari sekadar perut yang kenyang. Ialah kebersamaan yang tercipta bersama sang terkasih. Sisa senyum masih melekat di wajah perempuan itu ketika meletakkan garpu di pinggir piring. Yudha sudah mengangkat piring kosongnya, beranjak, lalu melangkah ke dapur.“Biar aku aja yang cuci, Mas,” ujar Tavisha refleks.Yudha menoleh sekilas, sorot matanya biasa saja, tapi ada sedikit nada perintah dalam jawabannya.“Sudah, kamu duduk saja. Nanti kalau tumbang lagi, malah repot.”“Cuma cuci piring nggak bakal buat tumbang, kok, Mas …,” gumam Tavisha setengah protes.Yudha tidak menjawab, hanya menggeleng kecil. “Tidak boleg.”Selepas itu, Yudha langsung menyelesaikan tugasnya mencuci piring. Tangannya bergerakcekatan di wastafel dibersamai air mengalir dan bunyi piring yang beradu pelan. Tavisha terdiam, menatap punggung sang suami yang kembali serius. Ada rasa aneh menggelitik jiwanya, yaitu senang sekaligus canggung. Setelah pria itu

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 45 - Mengikis Jarak

    “Mulai malam ini, kamu tidur di bawah.” “Ya?” Tavisha terperanjat. Pergelangan tangannya masih dalam genggaman Yudha, membuat langkah kaki itu seketika terhenti. Ia menatap dalam manik kelam sang suami yang tak memancarkan ekspresi apapun. Sungguhan, sulit sekali pria itu ditebak—pikirnya. “Mulai malam ini, kamu tidur di bawah,” ulang Yudha, nada suaranya datar tapi tak ada keraguan.Mata Tavisha membola. “Ma-maksud Mas … satu kamar?”Yudha mengangguk pelan. Tidak ada senyuman atau senda gurau, hanya tatapan yang benar-benar sulit diterka. Namun, genggaman itu tidak mengendur sama sekali. “Bukannya dari awal Mas—”“Itu saat saya pikir kamu belum siap. Nyatanya, kita sudah pernah tidur satu kamar, bahkan lebih dari itu, ‘kan?”Glek.Pernyataan macam apa itu? Tavisha sampai berkedip beberapa kali, memastikan bahwa yang bicara seperti itu adalah suaminya sendiri. Pria yang sangat sulit ditebak dan jarang berekspresi. “Tapi, Mas ….”Tavisha masih berusaha denial, mau tahu seberapa gig

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 44 - Layaknya Suami Biasa

    “Mas…,” gumam Tavisha ketika matanya kembali terbuka. Hari sudah menjelang siang. Tanpa sadar ia terlalu lama terlelap. Kala matanya terbuka, ia masih melihat kehadiran Yudha di ruangan tersebut. Tepatnya, sang suami tengah berbaring di sofa. Kelopak mata pria itu bergerak pelan, sebelum terbuka sepenuhnya. Yudha menoleh ke arah Tavisha. Sejenak, hanya keheningan yang terjalin diantara mereka. Yudha lantas berdiri, menghampiri ranjang. Jemarinya ia selinapkan di antara ceruk leher sang istri seraya mengusap pipi lembut itu. “Kamu sudah bangun? Apa ada yang sakit?” tanya Yudha, nadanya rendah tapi penuh kekhawatiran. Tavisha menggeleng pelan. “Nggak, Mas. Cuma … capek aja, tidur terus.” Yudha duduk di tepi ranjang. Ia tersenyum, meski tampak kaku. “Dokter bilang kalau kondisi kamu sudah stabil. Mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang.” “Pulang?” Tavisha terdiam. Ada rasa lega sekaligus cemas. Kalau pulang, itu artinya mereka akan kembali ke rutinitas yang ada. Yudha akan sibu

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 43 - Luka Lama, Mengaga Lagi.

    “Aku mau percaya, Mas … tapi tolong, jangan buat aku ngerasa sendirian lagi, ya?” Yudha mengusap puncak kepala Tavisha seraya tersenyum. Sebelum pintu kamar itu kembali terbuka. Suara ketukan pintu seakan tidak terdengar, sebab sosok yang baru saja masuk tidak menunggu jawaban mereka. Seorang pria berusia lebih dari setengah abad, berjalan tegap dengan setelan resmi. Wajahnya berwibawa dan serius. Setiap langkah tampak berat dan mantap. Di belakangnya beberapa ajudan membersamai. Bisik-bisik dari lorong sebelumnya masih terdengar. Sosok yang begitu berpengaruh dalam dunia militer kini berada disana. Menteri Pertahanan, Manggala Trianto Tandjung, ayah Tavisha datang tanpa pemberitahuan. Suasana mendadak berubah. Seolah pasokan udara di dalam kamar langsung berkurang, menyisakan sesak yang begitu nyata. Terlebih bagi Tavisha yang masih ada dalam pelukan Yudha. Tubuhnya, kontan menegang. Ia langsung melepaskan diri, beringsut dari tempatnya lalu duduk dengan tegap. Sebisa mungkin, ia m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status