Home / Rumah Tangga / Istri Tawanan Abdi Negara / Bab 35 - Si Keras Kepala Yang Rapuh

Share

Bab 35 - Si Keras Kepala Yang Rapuh

Author: ekaphrp
last update Last Updated: 2025-08-20 14:22:55
“Tavisha!” suara Yudha meninggi untuk pertama kalinya. Membuat perempuan itu bergeming. Ia menoleh, menatap mata sang suami yang kini dipenuhi rasa takut. Baru kali ini ia melihat Yudha begitu gelisah. Entah mengapa.

“Mas,” lirih Tavisha, suaranya sudah bergetar karena menahan tangis.

“Sejak Papa menyerahkan kamu ke saya, kamu itu tanggung jawab saya, Tavisha. Apa kamu tidak bisa mengerti itu?”

Kata-kata itu membuat Tavisha bungkam seribu bahasa. Dadanya bergemuruh. Yudha jarang sekali mengucapkan kalimat seterbuka itu. Ia menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh.

“Mas …,” gumamnya dengan suaranya serak.

Akan tetapi, Yudha buru-buru turun dari mobil. Ia butuh udara, sungguhan. Sementara Tavisha hanya bisa menatap punggung suaminya. Ia bingung dengan semua yang terjadi.

“Maafkan aku, Mas.”

Entah mengapa, Tavisha merasa jantungnya seperti diremas. Baru kali ini ia seperti kehilangan sesuatu yang belum sempat dimiliki seutuhnya. Apakah Yudha akan menjauh karena keegoisannya saat in
ekaphrp

Ada yang ke gep nih. Kira-kira Yudha ngomong apa, ya? Ada aja ujian... Semangat kan tapi yang baca? Coba kasih banyak2 aku komentar, gem, dan rating ulasan. Makasihhhh.

| 10
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (22)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
kok bisa aja dirgantara tau klo yudha lagi mengintai gudang itu rada2 yakin nih aku klo si bapak terlibat dan ngirim pesan buat mukul mundur tavisha dr penelitiannya
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
yudha lagi mumet2nya ehh ke gep lagi sama bening, cemburu ngga tuh istri kecilnya yg, ayo mas yudha mau jelasin apa sama tavisha
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
jangan2 bening ada rasa kali ya sama yudha, peka bgt sama yudha ini malah ke gep lagi kan....bikin tavisha anu aja
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 48 - Tamu Tak Diundang

    “Yudha, Tavisha … kalian di rumah, Nak?”Suara itu menggema. Beruntung jendela kaca seluruh rumahnya hanya bisa dilihat satu arah. Tavisha menelan ludah susah payah. Ia tahu sekali suara itu. Ya, Dahlia—ibu mertuanya. Ada apa siang-siang seperti ini datang ke rumah? “Mas, ada Ibu diluar ….”Tavisha langsung berpindah posisi. Ia mengambil baju dan hotpants yang sempat berserakan lalu memakainya sepersekian detik. “Tumben Ibu datang,” gumam Yudha, masih dengan wajah tenang. Tidak seperti Tavisha yang gedebak-gedebuk karena takut ketahuan baru saja bercinta di siang bolong. Bahkan, badannya terasa sangat lengket. Aroma percintaan pun masih menguar, tidak sedap. “Ibu tahu password rumah kamu, Mas?” Yudha sedikit menimang. “Sepertinya tahu.”Secepat itu pula, Tavisha menresleting hotpansnya. Sementara di ambang pintu mulai terdengar suara pin yang ditekan. “Kamu ke kamar dulu, bersih-bersih.”Tavisha menatap pintu dan sang suami secara bergantian. Sungguh lucu sekali. Suasana yang

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 47 - Flirting …

    “Atau Mas maunya aku bikin suasana lebih … panas?” “Apa maksud kamu?” Tavisha semakin berani. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, sampai kedua kakinya berada diatas pangkuan pria itu. Tangannya terulur, memainkan dada bidang sang suami dengan godaan-godaan nakalnya. “Mas tahu nggak, aku paling suka kalau kamu udah diem kayak gini. Soalnya, tingkat ketampanan kamu tuh jadi bertambah dan pastinya kamu nggak bisa marah, ‘kan?” goda Tavisha. Jari-jarinya semakin lihai menggelitik dada bidang sang suami, seolah memancing raksi. Yudha hanya menoleh pelan, tapi jelas ada kilatan buas di matanya. Seperti hewan yang tengah memangsa. “Tavisha,” ucap Yudha rendah, seolah memberi peringatan. “Ya, Mas?” tanya Tavisha, mendayu-dayu, raut wajahnya dibuat sepolos mungkin sembari menatap sang suami dari samping. “Ada apa?” “Jangan macam-macam.” “Lho, aku cuma pegang dada Mas aja, bukan yang lain.” Tavisha terkekeh pelan, lalu semakin menjelajahi ke bawah, tepat di atas pusar pria itu. “N

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 46 - Overprotective

    Perut Tavisha sudah terisi, tapi ada yang lebih menyenangkan dari sekadar perut yang kenyang. Ialah kebersamaan yang tercipta bersama sang terkasih. Sisa senyum masih melekat di wajah perempuan itu ketika meletakkan garpu di pinggir piring. Yudha sudah mengangkat piring kosongnya, beranjak, lalu melangkah ke dapur.“Biar aku aja yang cuci, Mas,” ujar Tavisha refleks.Yudha menoleh sekilas, sorot matanya biasa saja, tapi ada sedikit nada perintah dalam jawabannya.“Sudah, kamu duduk saja. Nanti kalau tumbang lagi, malah repot.”“Cuma cuci piring nggak bakal buat tumbang, kok, Mas …,” gumam Tavisha setengah protes.Yudha tidak menjawab, hanya menggeleng kecil. “Tidak boleg.”Selepas itu, Yudha langsung menyelesaikan tugasnya mencuci piring. Tangannya bergerakcekatan di wastafel dibersamai air mengalir dan bunyi piring yang beradu pelan. Tavisha terdiam, menatap punggung sang suami yang kembali serius. Ada rasa aneh menggelitik jiwanya, yaitu senang sekaligus canggung. Setelah pria itu

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 45 - Mengikis Jarak

    “Mulai malam ini, kamu tidur di bawah.” “Ya?” Tavisha terperanjat. Pergelangan tangannya masih dalam genggaman Yudha, membuat langkah kaki itu seketika terhenti. Ia menatap dalam manik kelam sang suami yang tak memancarkan ekspresi apapun. Sungguhan, sulit sekali pria itu ditebak—pikirnya. “Mulai malam ini, kamu tidur di bawah,” ulang Yudha, nada suaranya datar tapi tak ada keraguan.Mata Tavisha membola. “Ma-maksud Mas … satu kamar?”Yudha mengangguk pelan. Tidak ada senyuman atau senda gurau, hanya tatapan yang benar-benar sulit diterka. Namun, genggaman itu tidak mengendur sama sekali. “Bukannya dari awal Mas—”“Itu saat saya pikir kamu belum siap. Nyatanya, kita sudah pernah tidur satu kamar, bahkan lebih dari itu, ‘kan?”Glek.Pernyataan macam apa itu? Tavisha sampai berkedip beberapa kali, memastikan bahwa yang bicara seperti itu adalah suaminya sendiri. Pria yang sangat sulit ditebak dan jarang berekspresi. “Tapi, Mas ….”Tavisha masih berusaha denial, mau tahu seberapa gig

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 44 - Layaknya Suami Biasa

    “Mas…,” gumam Tavisha ketika matanya kembali terbuka. Hari sudah menjelang siang. Tanpa sadar ia terlalu lama terlelap. Kala matanya terbuka, ia masih melihat kehadiran Yudha di ruangan tersebut. Tepatnya, sang suami tengah berbaring di sofa. Kelopak mata pria itu bergerak pelan, sebelum terbuka sepenuhnya. Yudha menoleh ke arah Tavisha. Sejenak, hanya keheningan yang terjalin diantara mereka. Yudha lantas berdiri, menghampiri ranjang. Jemarinya ia selinapkan di antara ceruk leher sang istri seraya mengusap pipi lembut itu. “Kamu sudah bangun? Apa ada yang sakit?” tanya Yudha, nadanya rendah tapi penuh kekhawatiran. Tavisha menggeleng pelan. “Nggak, Mas. Cuma … capek aja, tidur terus.” Yudha duduk di tepi ranjang. Ia tersenyum, meski tampak kaku. “Dokter bilang kalau kondisi kamu sudah stabil. Mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang.” “Pulang?” Tavisha terdiam. Ada rasa lega sekaligus cemas. Kalau pulang, itu artinya mereka akan kembali ke rutinitas yang ada. Yudha akan sibu

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 43 - Luka Lama, Mengaga Lagi.

    “Aku mau percaya, Mas … tapi tolong, jangan buat aku ngerasa sendirian lagi, ya?” Yudha mengusap puncak kepala Tavisha seraya tersenyum. Sebelum pintu kamar itu kembali terbuka. Suara ketukan pintu seakan tidak terdengar, sebab sosok yang baru saja masuk tidak menunggu jawaban mereka. Seorang pria berusia lebih dari setengah abad, berjalan tegap dengan setelan resmi. Wajahnya berwibawa dan serius. Setiap langkah tampak berat dan mantap. Di belakangnya beberapa ajudan membersamai. Bisik-bisik dari lorong sebelumnya masih terdengar. Sosok yang begitu berpengaruh dalam dunia militer kini berada disana. Menteri Pertahanan, Manggala Trianto Tandjung, ayah Tavisha datang tanpa pemberitahuan. Suasana mendadak berubah. Seolah pasokan udara di dalam kamar langsung berkurang, menyisakan sesak yang begitu nyata. Terlebih bagi Tavisha yang masih ada dalam pelukan Yudha. Tubuhnya, kontan menegang. Ia langsung melepaskan diri, beringsut dari tempatnya lalu duduk dengan tegap. Sebisa mungkin, ia m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status