Share

Bab 126. Racun Putih?

Author: Miss Caya 88
last update publish date: 2026-09-25 11:12:27

"Lady akan ikut?" Cassian tertegun mendengar permintaan itu. Dia baru saja masuk kembali ke dalam tenda setelah berpatroli.

Semua sorot mata memandang ke arah Alara. Tatapan terkejut sekaligus meragukan. Meski sudah diterima sebagai tabib bahkan dewi penyembuh tapi tetap saja dia seorang wanita. Wanita yang dianggap lemah ketika berada di medan perang.

"Lady, apa maksud ucapan Anda?" Mireya memegang kedua bahu Alara. Kedua alisnya mengernyit. Alis itu menyatu di bagian tengah.

'Bahkan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 163. Pertarungan Terakhir

    "Aku takut," ujar Alara. Dia merapikan rambut Varek. Malam itu udara dingin mulai menusuk. Tanaman benar-benar sudah meranggas. Di luar jendela terlihat salju sudah mulai turun. Varek tersenyum dan membelai lembut dahi Alara. Satu kecupan hangat juga diberikan. "Kita harus menghadapi semua ini. Sama seperti saat berhadapan dengan Raja Andros dahulu." Tangan Varek digenggam erat oleh Alara. Tangan itu kasar namun terasa hangat. "Ini malam tahun baru pertama kita. Aku takit jika suatu hal buruk terjadi...." celetuk Alara. Varek meletakkan jari telunjuk tangan kanannya tepat di bibir mungil Alara. Seolah berkata untuk berhenti. "Aku akan nelimdungimu, Istriku. Semua akan baik-baik saja," Varek mengambil mantel putih dari dalam lemari. Mantel itu dipakaikan di tubuh Alara. "Aku tahu kau takut, tapi kita tidak boleh kalah dengan ketakutan." Alara menggangguk. Varek menggandeng Alara keluar dari dalam Kastil Valcon. Keduanya berjalan menuju ke arah jalanqn utama kota Frostly

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 162. Rencana Baru

    "Bagaimana jika kita menyusup ke Valthera, ibu kota Mercion?" ujar Cassian. Semua mata yang ada di ruangan pertemuan itu mendadak menatap ke arahnya. Alara, Varek, Mireya dan para petinggi pasukan tengah berbincang di ruang pertemuan markas pasukan Crimson Drakaina yang ada di Frostlyen. Varek meneguk cangkir teh yang ada di hadapannya. Udara dingin dari luar ruangan berusaha dihilangkan sehenak. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. "Dengan bantuan ayahku, kota berhasil menyusupkan mata-mata ke pihak Elin. Dia juga sudah berhasil dilacak. Setiap pergerakannya berhasil diawasi." Tak ada yang berani menyela Varek saat berbicara. Semua orang mendengarkan dengan seksama. "Semua kekacauan itu, Elin yang melakukannya. Dia anak kandung Raja Abdros, pembuat Guntur Maut dan pembunuh Diller...." ujar Varek. Tangan kanannya terkepal. Alara terdiam sejenak. Itu laporan dan fakta yang tidak jauh dari dugaannya. 'Sudah kuduga, Elin pasti memiliki hubungan dengan Raja Andros

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 162. Runtuhnya Harapan

    "Tenangkan dirimu, aku yakin dewan bangsawan tahu yang terbaik," ujar Tuan Vetlor. Dia menepuk-nepuk bahu Elin. Kepala dewan bangsawan sedang memimpin rapat di sebuah ruangan tertutup. Ruangan itu berada di sisi utara ruangan pertemuan itu. Elin menggangguk pelan. Sedari tadi dia mengcengkeram kain di gaunnya. Kakinya benar-benar terasa kebas. Tak satu pun di ruangan itu yang menawari kursi untuk dirinya duduk. "Silakan, Putri," Raven datang membawa dua buah lursi. Kursi itu digunakan duduk oleh Elin dan Tuan Vetlor. Elin menghela napas panjang. Kakinya bisa beristirahat sejenak sekarang. Ketenangan itu tak bertahan lama. Aula mencekam langsung terasa, Elin langsung melirik ke arah seseorang. Max datang menghampiri Elin. Dua bersedekap. Elin dipandanginya, dengan tatapan aneh. "Aku tak tahu apa yang ada di kepalamu," Max menunjuk tepat ke arah Elin. "Tapi soal takhta aku takkan berbelas kasih! Ingat itu!" Tuan Vetlor langsung berdiri, dia berdiri tepat di hadapan Ma

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 161. Merebut Takhta

    "Kau memang terlahir cantik," puji Tuan Vetlor. Dia tersenyum saat para pelayan selesai memakaikan pakaian mewah dan perhiasan di tubuh Elin. Elin melihat dirinya di cermin itu. Tak ada lagi debu dan kotoran yang memenuhi wajahnya, Kulitnya putih berseri dan wangi seperti ketika masih menjadi kesayangan Diller. "Ayo, kereta kuda sudah menunggu di bawah," Vetlor menggendeng tangan Elin. Keduanya keluar dari dalam kamar dan menuruni tangga. Sebuah kereta kuda yang megah didispkann. Elin memasuki kereta kuda yang ditarik empat ekor kuda cokelat itu. Kereta kuda itu berjalan dengan kencang. "Ibumu Selir Eveline sudah meninggal saat kau masih bayi. Dia dulu kesayangan Raja Andros. Politik istana sangat kejam. Dia tewas karena perbuatan Ratu Ravelina, ibu Max Sentinel. Kau dibuang keluar istana dengan kedok agar saat Mercion berkuasa ada darah sakral Mercion,"Vetlor mengepalkan tangannya. Elin menunduk sambil mendengarkan semuanya. Memori asli Elin terus berputar di kepalanya

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 160. Kembalinya Sang Putri

    "Terima kasih atas bantuan dan tumpangannya, Tuan," Elin turun dari kereta barang itu. Kereta barang itu berhenti tepat di gerbang masuk ibukota Mercion, Valthera. Elin menatap sekeliling sejenak. Dia mengeluarkan kantong berisi perbekalannya. Beberapa koin emas dia keluarkan. "Ini untuk Anda, Tuan.Tetoa kasih dan selamat jalan," Elin memberikan koin emas itu kepada kusir kereta barang yang menolongnya. Perjalanan menuju ke Valthera ditempuh selama beberapa hari. Mulai dari berjalan kaki hinggga menumpang beberapa kereta barang Elin jalani. "Jika bukan karena perang dan ambisi raja bodoh itu pasti kita tidak akan sengsara!" terdengar celetuk seorang pedagang roti. Elin membuka tudung kepalanya. Jubah Diller yang awalnya berwarna putih menjadi abu-abu kecoklatan karena kotor. Perbekalan berupa air mentah yang dia selalu isi dari sungai diminumnya. Seteguk terakhir air dari kantong itu sudah terminum. Elon mendekat ke arah pedang roti itu. Aroma wangi roti yang baru saj

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 159. Nostalgia di Antara Badai

    "Lady, lihat!" celetuk Mireya pagi itu. Alara dengan susah payah membuka kedua bola matanya. "Gerbang kota Frostlyen sudah terlihat!" Mireya terus menunjuk ke arah luar jendela. Alara menatap ke arah pemandangan luar jendela. Terlihat gerbang kota dari batu yang familiar. Bendera pasukan Crimson Drakaina yang berukuran raksasa dan berada di barisan paling depan sudah terlihat berada di depan gerbang. "Kita kembali," Alara tersenyum. Berbagai memori berputar di kepalanya. Dia menjadi teringat saat pertama kali melewati gerbang. "Waktu masuk kemari aku berpapasan dengan Varek yang galak dan angkuh itu!" Bola mata Mireya membulat mendengar kisah itu,"Lady berarti itu takdir. Oh sungguh romantis...." Terdengar suara pintu kereta diketuk. Alara merapikan gaunnya. Mireya bersiap-siap membuka pintu. Terlihat Varek datang dengan kudanya Golden. Ada juga Cassian bersama kuda putihnya. Rombongan itu berhenti sejenak untuk menunggu gerbang kota yang besar itu terbuka. "Varek yang g

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 1. Jadi Norabel?

    “Lady Norabel, kumohon bangunlah!” Sebuah suara memohon terdengar sayup di telinga Alara. Berulang kali memanggil nama yang asing baginya.Satu tarikan napas yang terasa sungguh berat. Rasanya seperti tenggelam di dalam air tapi terpaksa menghirup oksigen. Hingga Alara mulai membuka mata perlahan

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 7. Sang Singa Medan Perang

    "Kenapa?!" gertak penjaga yang duduk tepat di sebelah Alara. Netra Alara mengamati dari pintu kereta. Terlihat seorang prajurit turun dari kuda warna putih. "Kau mau apa?" teriak penjaga berbadan tambun itu. Suara teriakannya yang serak namun nyaring membuat telinga Alara berasa sakit. "Mi

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 6. Lady Yang Terbuang

    "Sial sekali kita!" terdengar suara di telinga Alara. Sedikit demi sedikit matanya terbuka. Rupanya dia tanpa sadar tertidur. Kepalanya masih menyandar di dinding kayu kereta itu. "Harus ke daerah berbahaya seperti ini. Membawa tahanan buangan...." ujar penjaga lain di dalam kereta itu. Penjag

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 5. Tumbal Pertama

    “Gelap sekali,” gumam Alara. Nampak lorong batu yang panjang di hadapan Alara. Cahaya obor menyala dengan redup. Suara gema sepatu besi penjaga bergaung di lorong itu. Hawa lorong itu terasa dingin nan lembab. Alara berusaha keras menyamakan langkahnya dengan penjaga yang tinggi itu. Gaunnnya sed

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status