Share

Bab 131. Racun Putih

Author: Miss Caya 88
last update publish date: 2026-09-28 18:11:48

"Apa yang kau pikirkan?" protes Alara. "Kau tidak lihat Julian sedang terluka?" gertak Alara. Dia sibuk membalut lengan bagian kiri Varek yang terkena sayatan pedang.

Raut wajah penuh kekhawatiran terlihat di ekspresi Alara. Varek memperhatikannya dengan seksama.

"Kendalikan dirimu," ujar Varek dengan suara yang lembut dan lirih. "Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir."

'Seandainya kita hanya berdua saja, pasti kau sudah kupeluk Alara. Pasti peristiwa tadi membuatmu sangat ketaku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 147. Sang Selir Kesayangan

    "Valdes datang?" Selor Mita tertegun sejenak. Cangkir teh yang hendak diminumnya tertahan di udara. "Dia memang suka datang seenaknya tanpa memberitahuku," keluh Selir Mira. Alara tertegun. Itu keluhan yang tak biasa. Biasanya seorang selir seharusnya sangat senang ketika didatangi oleh sang raja. "Persilakan beliau itu masuk. Tak mungkin juga mengusir beliau," sahut Sekor Mira. "Ajak saja dia kemari. Salah sendiri datang tanpa pemberitahuan" Kedua bola mata Alara semakin membulat saat mendengar Selir Mira langsung memanggil Raja Valdes hanya dengan nama saja. Bahkan seolah tidak antusias atas kedatangan sang raja. "Maaf ya, Lady, sepertinya ayah Varek ingin ikut bertemu denganku. Kuharap kau tidak keberatan," ujar Selir Mira. Alara langsung menggelengkan kepalanya,"Tentu saja tidak. Suatu kehormatan bisa bertemu Raja Valdes di sini." 'Mampus, kuharap hari ini aku hanya bertemu calon ibu mertua saja. Kenapa sekarang sang raja juga ikut. Kevin, kau masih tidur atau diman

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 146. Mansion Legendaris

    "Selir Mira Helion?" Alara mengernyitkan dahinya. Dia tertegun sejenak. Hanya ada satu nama keluarga di Dragerium. Kuda yang dinaiki bersama Varek berhenti tepat di sebelah pengawal itu. Varek langsung turun dari atas kuda. Alara dibantu turun sambil mengulurkan tangannya. "Ibuku?" Varek bertanya kepada prajurit itu. "Kau orang yang berasal dari mansion ibuku kan?" tanya Varek. Prajurit itu mengganguk. Dia menyerahkan sebuah surat berwarna ungu yang masih tersegel. "Benar, Pangeran. Saya diminta oleh Yang Mulia Selir Mira untuk menyampaikan surat undangan ini kepada Lady Norabel Valedel." Alara langsung menunjuk ke arah dirinya sendiri. Prajurit itu menggangguk pelan. Surat itu Alara terima. Pada bagian belakang terdapat stempel warna ungu dengan emboss segel berupa burung elang yang mengepakkan kedua sayapnya di udara. "Surat dari ibumu?" Alara menatap ke arah Varek. Varek mengganguk. Tidak salah lagi, itu lambang dari House of Helion. "Coba buka suratnya. Aku ingin

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 145. Bicara Dua Hati

    "Apa kau tidak mau berbincang di luar ruangan?" ajak Varek. Alara mengangguk. Tanpa ragu dia berdiri lalu mengikuti Varek keluar dari dalam hall utana mansion itu. Keduanya berjalan-jalan di lorong mansion itu. Malam itu cerah. Rembulan bersinar terang. Bintang -bintang berkerlap-kerlip. Alara memperhatikan halaman mansion itu saat malam hari. Pohon-pohon anggur yang menghampar luas tetap saja menarik. Apalagi pohon itu mulai berbuah. "Selamat atas kebebasanmu," Varek memulai pembicaraan. Dia berjalan pelan di samping Alara. "Aku tak tahu harus berkata apa. Ya, aku senang sudah bebas dari Si Babi Hutan pemarah itu. Rasanya lega sangat lega," sahut Alara. Alara masih saja berjalan di arah depan. Terlihat sebuah danau buatan kecil. Ikan-ikan warna putih kekuningan terlihat berenang di danau itu. Alara memutuskan duduk di kursi yang ada di tepi kolam itu. "Aku sudah resmi menjadi janda sekarang. Atau lebih tepatnya Norabel Valedel sudah menjadi janda," ujar Alara. Di dek

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 144. Setelah Badai Datang Berlalu Lalang

    "Apa isi suratnya?" Alara langsung berdiri. Dia seolah ingin melompat saat mendengar surat itu datang. Sepucuk surat yang menentukan takdir dari hidupnya. "Ini...ini...." Marquess Valko nampak terengah-engah. Dia mengusap peluh di wajahnya terlebih dahulu. Marchioness Rose langsung menyambar sepucuk surat itu. Sebuah surat yang dibungkus dengan amplop warna merah darah warna khas Dragerium. Logo emas berupa lambang singa menggigit kepala naga tercetak dengan tinta emas di halaman depan amplop itu. Bagian belakang amplop masih disegel dengan lilin warna kuning keemasan, logo Raja Valdes menjadi segel resmi di surat itu. "Cepat sedikit, Sayang. Kau belum setua itu!" keluh Marchioness Rose. "Dia mengamati amplop itu. Amplop itu dipastikan masih tersegel utuh. "Ini menyangkut hidup dan nasib putri kita!" Alara tanpa sadar menggigit kuku di ibu jari tangan kanannya. Dia terus melihat ke arah amplpp itu. Anplop itu dibuka tepat di hadapannya. Sebuah kertas kuning kecoklatan te

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 143. Menunggu Kabar

    Raja Valdes nampak terdiam sejenak. Tatapannya sangat tajam. Semua orang yang ada di ruangan itu tidak ada yang berani menyela sang raja. "Akan kuadakan penyelidikan secara mandiri dan netral di bawah pengawasanku langsung" ujar Raja Valdes sambil berdiri. "Tapi Yang Mulia, semua ingin hanya kebohongan semata. Tak mungkin Diller menyakiti istrinua sendiri!" teriak Ratu Belvara. Diller menatap tajam."Jadi ayah lebih mempercayai semua omong kosong ini? Semua ini hanya kebohongan." "Justru karena ini menyangkut martabat kerajaan, aku harus turun langsung. Beginikah tatakrama yang kau ajarkan kepada anakmu, Belvara?" Raja Valdes menunjuk ke arah sang ratu. "Dia sama sekali tidak bisa menutup mulut besarnya saat orang lain berbicara." Ratu Belvara tertunduk. Dia memilih kembali duduk di kursinya. Diller menatap tajam ke arah Alara. Wajahnya terlihat memerah menahan amarah. "Sidang kerajaan diakhiri sampai di sini. Akan kubentuk tim untuk penyelidikan secara mandiri di bawah

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 142. Sidang Kerajaan

    "Apa kau takut, Gadis Aneh?" terdengar suara Draven lewat telepati. "Tentu saja tidak, Si Babi Diller itu harus diberi pelajaran," sahut Alara lewat telepati. Alara saat ingin sudah berada di depan sebuah pintu masuk yang besar. Dua prajurit lengkap dengan tombak panjang dan pedang menjaga pintu itu. Hari menjelang siang saat Alara menghadiri undangan sidang kerajaan dari Raja Valdes.Pintu dengan bagian atas bulat itu berwarna dasar cokelat. Lambang Dragerium berupa singa menggigit leher naga terukir megah di pintu masuk itu. "Tolong umumkan kedatanganku," ujar Alara. Salah seorang penjaga itu membukakan pintu masuk itu. Terlihat sebuah belasan meja panjang yang disusun menjadi bentuk kotak mengelilingi ruangan itu. Di meja center paling utara dan tepat di tengah terlihat Raja Valdes. Varek juga berada di sana, dia duduk di meja lain dekat dengan pintu masuk. "Putriku akhirnya tiba," terdengar suara celetukan itu. Arah suara itu berasal dari Marquess Valko, ayah kandung N

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 7. Sang Singa Medan Perang

    "Kenapa?!" gertak penjaga yang duduk tepat di sebelah Alara. Netra Alara mengamati dari pintu kereta. Terlihat seorang prajurit turun dari kuda warna putih. "Kau mau apa?" teriak penjaga berbadan tambun itu. Suara teriakannya yang serak namun nyaring membuat telinga Alara berasa sakit. "Mi

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 3. Menghadapi Selir Berbisa

    “Ehm….” Alara memikirkan sejenak jawaban yang pas. Manik mata biru kehijauan itu berusaha menurunkan pandangannya. Napasnya seolah tertahan. Alara berusaha merangkai kata dengan hati-hati. Wenda terus memandang dengan curiga ke arah Alara. “Aku ingin memperkuat posisiku.” Alara menjawab singkat.

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 2. Cincin dan Strategi

    “Hah? Kasa?”Alara mengenali kedua benda yang tiba-tiba muncul di tangannya. “Bagaimana benda ini muncul?”“Lady!” Panggilan terdengar dari pintu kamar.‘Gawat, harus disembunyikan dulu kasanya,’ batin Alara. Dengan cepat, Alara memasukkan kasa itu ke dalam kantong gaun Alara. Pandangan mata Alar

  • Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang   Bab 1. Jadi Norabel?

    “Lady Norabel, kumohon bangunlah!” Sebuah suara memohon terdengar sayup di telinga Alara. Berulang kali memanggil nama yang asing baginya.Satu tarikan napas yang terasa sungguh berat. Rasanya seperti tenggelam di dalam air tapi terpaksa menghirup oksigen. Hingga Alara mulai membuka mata perlahan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status