共有

Bab 53

作者: Dyara
last update 公開日: 2026-03-04 19:42:54

Mentari musim panas di Jakarta terasa lebih bersahabat sore itu. Di dalam ruang kerja CEO Araska Group yang megah, Araska sedang fokus menatap layar monitornya, bukan untuk memeriksa laporan keuangan, melainkan memandangi rekaman CCTV ruang tengah rumah mereka. Di sana, Alya tampak sedang membacakan buku cerita untuk Tsaqif. Araska tersenyum tipis, rahangnya yang tegas tampak jauh lebih rileks dibandingkan malam penuh drama di rumah Om Wijaya kemarin.

Tiba-tiba, ponsel di atas meja jati itu ber
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 145

    Saat Kania berjalan keluar dari area bank dengan langkah gontai, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di lobi. Pintu belakang terbuka, dan seorang pria paruh baya berjas rapi turun. Kania terkejut saat mengenali siapa pria itu. Dia adalah Pak Baskoro, salah satu rekan bisnis terbesar Pak Araska yang beberapa kali sempat datang ke rumah untuk makan malam."Lho, Kania? Kamu asisten di rumah Araska, kan?" sapa Pak Baskoro ramah."Benar, Pak Baskoro. Selamat sore," Kania membungkuk hormat.Pak Baskoro menatap Kania yang tampak pucat dan tidak bersemangat. "Kamu sedang sakit? Kenapa wajahmu muram sekali? Araska tidak memberimu libur?" tanya pria itu setengah bercanda.Kania menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Pak Araska sangat baik. Saya hanya ... sedang ada urusan keluarga."Pak Baskoro, yang terkenal sebagai pengusaha tajir melintir namun memiliki reputasi sebagai pria yang 'suka menolong' wanita-wanita muda dengan pamrih terselubung, men

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 144

    Tangan Kania yang memegang ponsel gemetar hebat. Angka dua ratus juta seolah menjelma menjadi batu besar yang runtuh tepat di atas kepalanya, meremukkan seluruh kebahagiaan yang baru beberapa jam lalu ia rasakan. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh tanpa suara, membasahi pipinya yang mendadak pias."Nduk? Kania? Kamu masih di situ, toh?" Suara ibunya terdengar bergetar di seberang telepon, penuh dengan rasa bersalah yang teramat sangat."Maafkan Ibu sama Bapak, Nduk. Kami benar-benar tidak punya pilihan waktu itu. Biaya rumah sakit Bapakmu waktu jantungnya kambuh, ditambah gagal panen berturut-turut ... bunga-bunga rentenir yang harus segera dibayar, Pak Waluyo, ayah Adi yang langsung datang membawa uang itu tanpa kami minta. Kami pikir ... kami bisa mencicilnya pelan-pelan."Kania menenggelamkan wajahnya di antara lutut. Suaranya tercekat di tenggorokan. "Dua ratus juta bukan uang yang sedikit, Bu. Dan sekarang ... mereka meminta Kania sebagai gantin

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 143

    Tangan Kania bergetar saat menatap cincin emas polos yang berkilau lembut di telapak tangan Beni. Di meja taman itu, waktu seolah berhenti. Semua mata tertuju pada Kania, menunggu sebuah jawaban yang akan mengubah segalanya."Jadi ... jawabannya gimana, Mbak?" Beni mengulangi pertanyaannya, suaranya sedikit serak karena menahan gugup yang luar biasa.Kania menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Ia menatap Beni, lalu melirik Pak Araska dan Bu Alya bergantian."Mas Beni ...." suara Kania akhirnya keluar, meski agak bergetar."Sejujurnya .... saya juga punya perasaan yang sama. Sudah lama sekali.""Waduh! Akhirnya ngaku juga!" celetuk Rendy spontan. Sontak Araska pun melihat ke arah Rendy, agar lelaki itu bisa memberikan ruang bagi Kania.Kania menyeka setitik air mata yang jatuh di pipinya. "Tapi Mas ... Pak Araska, Bu Alya ... Saya ini anak perempuan satu-satunya. Orang tua saya di kampung sangat menjunjung tinggi tata krama. Meskipun hati saya sudah bilang 'iya

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 142

    Pagi harinya, tepat pukul enam, lapangan basket di samping kediaman Araska sudah riuh. Suara decit sepatu kets yang beradu dengan lantai semen dan pantulan bola menjadi musik pembuka hari. Sesuai janji yang mereka buat semalam, Araska dan Rendy bekerja sama untuk menguji ketangkasan Beni."Ayo, Ben! Mana tenaga pengantin?" teriak Rendy sambil melakukan dribble rendah, mencoba melewati penjagaan Beni.Beni hanya diam, matanya fokus, tubuhnya bergerak lincah menutup ruang gerak Rendy. Dengan satu gerakan cepat, Beni berhasil mencuri bola (steal) dan langsung melakukan layup sempurna. Masuk."Skor enam-empat. Bapak dan Rendy masih tertinggal," ujar Beni datar, sedikit menyeka keringat di dahinya.Araska tertawa, mengambil bola yang membal. "Jangan sombong dulu. Ren, pakai strategi, sebut nama Kania kalau dia mau memasukkan bola!""Siap, Pak!" Rendy nyengir nakal.Permainan berlanjut semakin seru. Mereka bertiga tampak sangat lepas, tanpa sekat majikan dan anak buah. Keringat bercucuran,

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 141

    Malam itu, setelah semua urusan selesai, Araska memanggil Beni dan Rendy ke area balkon lantai atas. Suasana di sana begitu hangat, ada kepulan asap kopi hitam yang aromanya sangat kuat, dan udara malam Jakarta Selatan yang sedikit lebih sejuk dari biasanya. Araska duduk di kursi rotan, melonggarkan kancing kerah kemejanya, sementara Rendy sudah asyik menyandarkan kaki di pagar pembatas dengan gaya santainya. Beni? Ia tetap berdiri tegap, meski wajahnya tak lagi sekaku semen tadi pagi."Duduk, Ben. Malam ini nggak ada atasan, nggak ada bawahan. Anggap saja kita lagi nongkrong di kafe mahal," ujar Araska sambil menunjuk kursi kosong di depannya.Beni akhirnya duduk, meski punggungnya tetap lurus. "Siap, Pak.""Masih saja 'Siap Pak'. Rendy, kasih tahu temanmu ini cara santai sedikit," kelakar Araska.Rendy tertawa renyah. "Susah, Pak. Beni ini kalau tidur kayaknya posisinya juga siap gerak. Gimana tadi belanja bulanannya, Ben?"Beni melirik Rendy den

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 140

    Sesampainya di supermarket, Beni tidak membiarkan Kania menyentuh satu pun troli. Dengan gerakan sigap, ia menarik sebuah troli besar dan berdiri di belakang Kania seperti ia bertugas biasanya."Mas Beni, nggak usah kaku-kaku banget begitu," bisik Kania sambil tertawa kecil saat mereka mulai memasuki lorong sayuran."Ini kita Cuma mau belanja, nggak mau ngelawan musuh."Beni berdeham, mencoba melonggarkan bahunya yang tegang. "Kebiasaan, Mbak. Rasanya aneh kalau tidak waspada."Kania Cuma geleng-geleng kepala, kemudian menyodorkan ponselnya. "Tolong ambilkan wortel yang ukurannya sedang-sedang saja ya, Mas. Jangan yang terlalu besar, biasanya rasanya kurang manis."Beni memicingkan mata, menatap tumpukan wortel dengan sangat serius. Ia memilih satu per satu."Gimana, Mas? Sudah lulus sensor?" goda Kania."Ini ... sepertinya memenuhi kriteria," jawab Beni sambil memasukkan kantong wortel ke troli."Mbak Kania setiap hari masak buat Bapak dan Ibu, ya?""Nggak, Mas. Kan ada Bik Sari … pa

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status