แชร์

Bab 53

ผู้เขียน: Dyara
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-04 19:42:54

Mentari musim panas di Jakarta terasa lebih bersahabat sore itu. Di dalam ruang kerja CEO Araska Group yang megah, Araska sedang fokus menatap layar monitornya, bukan untuk memeriksa laporan keuangan, melainkan memandangi rekaman CCTV ruang tengah rumah mereka. Di sana, Alya tampak sedang membacakan buku cerita untuk Tsaqif. Araska tersenyum tipis, rahangnya yang tegas tampak jauh lebih rileks dibandingkan malam penuh drama di rumah Om Wijaya kemarin.

Tiba-tiba, ponsel di atas meja jati itu ber
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 148

    Beni tersenyum lebar, kelegaan yang amat besar terpancar dari sepasang matanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena saking bahagianya, ia mengeluarkan cincin perak itu dari bantalannya lalu menyematkannya perlahan ke jari manis Kania. Ukurannya pas, melingkar indah seolah memang diciptakan khusus untuk jemari gadis itu.Kania menatap jemarinya sendiri yang kini berhias cincin, lalu beralih menatap Beni. Air mata yang menetes, bukan lagi air mata keputusasaan yang menguras tenaganya sejak kemarin."Baguslah kalau pas," bisik Beni lega, lalu terkekeh pelan sembari menghapus sisa air mata di pipi Kania dengan ibu jarinya."Tahu tidak, saya sampai harus membongkar laci kamarmu diam-diam minggu lalu, cuma untuk mencari tahu ukuran jarimu lewat cincin mainan yang sering kamu pakai. Untung kamu tidak memergoki saya, bisa-bisa saya dikira maling."Kania spontan mencubit pelan lengan Beni, membuat pria itu mengaduh pelan sembari tertawa. "Ooh, jadi Mas Beni diam-diam suka membongkar laci

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 147

    Pria yang berdiri di hadapannya, yang membuka pintu kamar 1208 dengan senyuman misterius itu ... bukanlah Pak Baskoro."Lho ... Kania?"Suara di depan Kania berdesis terkejut. Langkah pria itu yang semula hendak berbalik ke dalam kamar langsung terhenti. Matanya yang tajam menatap Kania dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan alis yang bertaut dalam.Pria itu adalah Pak Araska. Majikannya sendiri.Kania merasa seluruh sendi di tubuhnya lolos seketika. Lorong hotel yang sunyi mendadak berdengung hebat di telinganya. Rasa dingin yang menjalar dari telapak kaki membuat lututnya gemetar hebat. Bagaimana bisa Pak Araska yang ada di sini? Di mana Pak Baskoro?"Pak ... Pak Araska?" suara Kania keluar berupa bisikan parau, nyaris tenggelam oleh debaran jantungnya yang menggila.Pak Araska melipat kedua tangannya di dada, bersandar pada bingkai pintu dengan ekspresi kaget. "Kania, apa yang kamu lakukan di sini dengan pakaian seperti ini?

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 146

    Kania masih terduduk di balik pintu, memeluk lututnya erat-erat. Kamar paviliun itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara embusan napasnya yang sesak dan detak jantungnya yang bertalu-talu. Di lantai teras luar, kotak martabak manis pemberian Beni pasti mulai mendingin, sama dinginnya dengan keputusannya malam ini.Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Kania bangkit berdiri. Langkahnya terseret mendekati meja kerja kecil di sudut ruangan. Tangannya yang gemetar membuka laci, mengambil selembar kartu nama berlapis emas yang tadi ia sembunyikan.Di bawah pendar lampu meja yang remang, kartu nama itu tampak begitu berkilau, kontras dengan kegelapan yang sedang melingkupi jiwanya. Kania membalik kartu itu. Di sana, tertulis deretan nomor telepon dengan tinta hitam tebal, ditulis langsung menggunakan pena premium.“Jika kamu butuh bantuan ... bantuan apa pun, terutama yang berkaitan dengan angka yang sulit kamu selesaikan sendiri, hubungi nomor pribadi saya ....”Suara Pak Baskoro kembali

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 145

    Saat Kania berjalan keluar dari area bank dengan langkah gontai, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di lobi. Pintu belakang terbuka, dan seorang pria paruh baya berjas rapi turun. Kania terkejut saat mengenali siapa pria itu. Dia adalah Pak Baskoro, salah satu rekan bisnis terbesar Pak Araska yang beberapa kali sempat datang ke rumah untuk makan malam."Lho, Kania? Kamu asisten di rumah Araska, kan?" sapa Pak Baskoro ramah."Benar, Pak Baskoro. Selamat sore," Kania membungkuk hormat.Pak Baskoro menatap Kania yang tampak pucat dan tidak bersemangat. "Kamu sedang sakit? Kenapa wajahmu muram sekali? Araska tidak memberimu libur?" tanya pria itu setengah bercanda.Kania menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Pak Araska sangat baik. Saya hanya ... sedang ada urusan keluarga."Pak Baskoro, yang terkenal sebagai pengusaha tajir melintir namun memiliki reputasi sebagai pria yang 'suka menolong' wanita-wanita muda dengan pamrih terselubung, men

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 144

    Tangan Kania yang memegang ponsel gemetar hebat. Angka dua ratus juta seolah menjelma menjadi batu besar yang runtuh tepat di atas kepalanya, meremukkan seluruh kebahagiaan yang baru beberapa jam lalu ia rasakan. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh tanpa suara, membasahi pipinya yang mendadak pias."Nduk? Kania? Kamu masih di situ, toh?" Suara ibunya terdengar bergetar di seberang telepon, penuh dengan rasa bersalah yang teramat sangat."Maafkan Ibu sama Bapak, Nduk. Kami benar-benar tidak punya pilihan waktu itu. Biaya rumah sakit Bapakmu waktu jantungnya kambuh, ditambah gagal panen berturut-turut ... bunga-bunga rentenir yang harus segera dibayar, Pak Waluyo, ayah Adi yang langsung datang membawa uang itu tanpa kami minta. Kami pikir ... kami bisa mencicilnya pelan-pelan."Kania menenggelamkan wajahnya di antara lutut. Suaranya tercekat di tenggorokan. "Dua ratus juta bukan uang yang sedikit, Bu. Dan sekarang ... mereka meminta Kania sebagai gantin

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 143

    Tangan Kania bergetar saat menatap cincin emas polos yang berkilau lembut di telapak tangan Beni. Di meja taman itu, waktu seolah berhenti. Semua mata tertuju pada Kania, menunggu sebuah jawaban yang akan mengubah segalanya."Jadi ... jawabannya gimana, Mbak?" Beni mengulangi pertanyaannya, suaranya sedikit serak karena menahan gugup yang luar biasa.Kania menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Ia menatap Beni, lalu melirik Pak Araska dan Bu Alya bergantian."Mas Beni ...." suara Kania akhirnya keluar, meski agak bergetar."Sejujurnya .... saya juga punya perasaan yang sama. Sudah lama sekali.""Waduh! Akhirnya ngaku juga!" celetuk Rendy spontan. Sontak Araska pun melihat ke arah Rendy, agar lelaki itu bisa memberikan ruang bagi Kania.Kania menyeka setitik air mata yang jatuh di pipinya. "Tapi Mas ... Pak Araska, Bu Alya ... Saya ini anak perempuan satu-satunya. Orang tua saya di kampung sangat menjunjung tinggi tata krama. Meskipun hati saya sudah bilang 'iya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status