Share

Bab 53

Author: Dyara
last update publish date: 2026-03-04 19:42:54

Mentari musim panas di Jakarta terasa lebih bersahabat sore itu. Di dalam ruang kerja CEO Araska Group yang megah, Araska sedang fokus menatap layar monitornya, bukan untuk memeriksa laporan keuangan, melainkan memandangi rekaman CCTV ruang tengah rumah mereka. Di sana, Alya tampak sedang membacakan buku cerita untuk Tsaqif. Araska tersenyum tipis, rahangnya yang tegas tampak jauh lebih rileks dibandingkan malam penuh drama di rumah Om Wijaya kemarin.

Tiba-tiba, ponsel di atas meja jati itu ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 193

    Sinar senter yang dibawa Beni memantul liar di dinding marmer lantai bawah yang kini gulita. Hujan lebat di luar bergemuruh bagai ribuan genderang perang, beradu dengan suara angin yang menghantam kencang kaca-kaca jendela utama.Beni bergegas menuju ruang panel listrik utama di sudut lantai bawah. Dengan napas memburu, ia membuka kotak besi pelindung dan mendapati saklar circuit breaker utama telah hangus berasap akibat sambaran petir langsung di tiang eksternal. Genset cadangan otomatis gagal bekerja karena modul kontrolnya tersambar arus pendek."Sial! Sistem auto-relay-nya korsleting!" umpat Beni tertahan, mengerutkan kening di tengah gelap. Ia segera merogoh saku jasnya untuk menghubungi teknisi darurat langganan kediaman Adiguna.Di dekat tangga utama, Mutia berdiri dengan perasaan cemas yang teramat sangat. Wanita itu baru saja memindahkan si kecil Kayla dan pengasuhnya ke ruang bawah tanah yang dilengkapi ventilasi aman. Napas Mutia memburu; ia tahu betul watak dan masa lalu s

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 192

    Kemegahan kediaman utama Adiguna di kawasan Menteng selalu berhasil memukau siapa saja yang memandangnya. Pagi itu, sinar matahari menembus celah-celah kaca jendela besar di ruang makan utama, memantulkan kilau lembut pada perangkat makan porselen bersepuh emas. Di meja panjang bernuansa kayu jati tua itu, secangkir kopi hitam tanpa gula dan sepiring roti panggang tertata rapi di samping laptop kerja berlogo buah yang menyala redup.Alya duduk di kursi utama dengan balutan blouse sutra berwarna sage green yang melekat anggun di tubuhnya. Rambut hitam panjangnya digelung longgar, menyisakan beberapa helai anak rambut di sisi pipinya. Penampilannya memancarkan aura ketenangan, wibawa, dan keanggunan seorang wanita yang telah sepenuhnya menguasai takdir hidupnya.Di seberang meja, Araska sedang membaca laporan bisnis versi digital di tabletnya sambil mengenakan jas abu-abu arang. Di sebelah Araska, Zayyan sibuk melahap roti selai cokelatnya sebelum berangkat sekolah, sementara si kecil Ka

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 191

    Suasana di dalam ruang tamu khusus Yayasan Cahaya Alya mendadak senyap seketika. Hawa dingin dari pendingin ruangan seolah membeku, berpadu dengan deru napas tertahan dari Sylvia yang masih terduduk lemas di lantai marmer. Kalimat yang diucapkan Araska barusan bukan sekadar gertakan kosong, itu adalah vonis final dari seorang pria yang menguasai urat nadi perekonomian negeri ini.Alya menatap wanita paruh baya di hadapannya dengan pandangan yang dalam. Sebagai seorang psikolog, ia bisa melihat kehancuran mental yang paripurna di mata Sylvia. Keangkuhan, kalung berlian puluhan miliar, dan status sosial mentereng yang selama ini diagung-agungkan, musnah dalam sekejap begitu berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa kekuasaan manusia itu sangat rapuh.Alya melepaskan diri secara perlahan dari rangkulan tangan Araska, lalu melangkah maju dua langkah. Ia berjongkok sedikit agar posisinya sejajar dengan Sylvia yang terduduk di lantai."Nyonya Sylvia," ucap Alya dengan suara yang lembut namun

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 190

    Kejadian malam itu di Hotel Mulia menyebar bagaikan api dalam sekam di kalangan elite sosialita ibu kota. Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, rekaman video saat Alya yang mematahkan argumen Sylvia dengan begitu tenang, elegan, dan menohok telah menjadi topik perbincangan hangat di berbagai grup pesan eksklusif kalangan atas. Sylvia, yang tadinya dikenal sebagai ratu arisan yang paling ditakuti dan disegani, mendadak menjadi bahan gunjingan. Harga dirinya hancur berkeping-keping tanpa Alya perlu mengangkat satu jari pun untuk membalas dendam secara kasar.Dua hari setelah insiden tersebut, di ruang kerja pribadinya yang luas berlantai marmer hitam di gedung pencakar langit Adiguna Tower, Araska sedang memeriksa beberapa dokumen laporan keuangan bulanan ketika pintu diketuk pelan. Rendy melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang menyiratkan ketegangan."Tuan Araska, maaf mengganggu waktu pagi Anda," ucap Rendy seraya membungkuk hormat, lalu meletakkan sebuah map merah teb

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 189

    "Maaf mengganggu jalannya acara yang sangat khidmat ini," suara Sylvia melengking tajam melalui mikrofon ruangan, sengaja mengeraskan volumenya agar seluruh tamu undangan mendengarkan. Ia berdiri dari kursinya, merapikan gaun emasnya, lalu melemparkan senyuman sinis ke arah meja tempat Alya dan Araska duduk.Suasana ballroom mendadak hening. Semua mata tertuju pada Sylvia."Saya sangat mengapresiasi laporan dari Yayasan Cahaya Alya yang dipimpin oleh Nyonya Alya Adiguna," lanjut Sylvia dengan nada sarkastis yang dibungkus senyuman manis palsu."Namun, sebagai salah satu pendiri senior di yayasan amal ini, saya merasa ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi secara transparan di hadapan publik dan para donatur terhormat."Alya tidak menunjukkan sedikit pun gestur kaget. Ia tetap duduk tenang, menyesap sedikit air putih dari gelas di depannya, lalu menoleh pelan menatap Sylvia dengan pandangan mata yang tajam, tatapan khas seorang sarjana ps

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 188

    Kemewahan Ballroom Hotel Mulia malam itu berpendar lewat pantulan lampu crystal chandelier raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi. Alunan musik klasik dari kuartet gesek mengalun lembut, berpadu dengan derap langkah sepatu berhak tinggi dan gemerincing gelas kristal tempat bersatunya para kaum elite, pejabat tinggi, serta para sosialita papan atas ibu kota.Di salah satu sudut ruangan, sekelompok wanita sosialita tampak berkumpul melingkar di atas sofa velvet merah marun. Topik perbincangan mereka tidak jauh-jauh dari pameran koleksi perhiasan terbaru, tas designer edisi terbatas, hingga gosip seputar donasi fantastis yang digelontorkan demi mendongkrak status sosial di hadapan publik.Di tengah lingkaran itu berdiri Sylvia, seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal, balutan gaun malam berpayet emas rancangan desainer internasional, dan kalung berlian yang melingkar angkuh di leher jenjangnya. Sylvia dikenal sebagai salah satu donatur tetap Elite Circle Foundation yang k

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   BAB IV

    Pintu lift di lobi utama terbuka.Alya melangkah keluar lift dan dia melihat pemandangan kacau balau. Seketika, suara keributan yang memekakkan telinga menyerbu masuk."Minggir kalian semua, dasar babu tidak berguna! Mana Araska? Suruh cucuku turun atau aku bakar gedung ini!"Di tengah lobi marmer

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab III

    "Pastikan bahwa kau tidak berusaha kabur malam ini atau kubatalkan semua pembayaran pengobatan anakmu!"KLIK.Pintu tertutup.Alya merosot kembali ke kursi dan kakinya terasa lemas.Dia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis berwajah malaikat. Tapi saat ia membelai pipi Tsaqif yang mulai han

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab VI

    Alya tersentak, hampir menjatuhkan ponsel tipis itu ke lantai marmer. Araska berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, matanya yang tajam seolah mampu menembus layar ponsel Alya dan membaca nama yang tertera di sana. "Angkat, Alya! Aktifkan speaker-nya," perintah Araska lagi. Dingin, denga

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   BAB V

    Alya tidak boleh membiarkan Araska tahu.Jika Araska tahu dia membawa masalah rumah tangga ke kantor, dia bisa dipecat. Dan jikad dia dipecat, perlindungan untuk Tsaqif, Aisya, dan Zayyan akan hilang.Dengan langkah gemetar, Alya berbalik arah.Dia setengah berlari menuju toilet private yang terlet

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status