LOGINMalam itu terlalu sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menekan—seperti ruang tertutup tanpa jendela.
Jennaira duduk di tepi ranjang besar yang bahkan belum sempat ia sentuh dengan tubuhnya sepenuhnya. Gaun tidur sederhana membalut tubuhnya, namun rasa dingin merambat sampai ke tulang. Ini kamar mereka atau lebih tepatnya kamar yang disediakan untuknya. Tangannya gemetar saat memeluk lutut. Pernikahan kilat itu masih terasa tidak nyata. Semua berlangsung terlalu cepat. Tanda tangan, saksi, cincin, dan nama yang kini terikat secara hukum. Istri Radiva Emha Sanjaya. Status itu seharusnya memberi rasa aman., tapi yang Jenna rasakan justru sebaliknya. Dadanya sesak. Ia menoleh ke pintu. Sejak mereka kembali ke penthouse, Radiva hanya mengantarnya ke kamar ini dan berkata singkat agar ia beristirahat, lalu pergi ke ruang kerja. Tanpa sentuhan, tanpa penjelasan., tanpa satu pun kalimat yang memberi kehangatan pada dirinya. "Ini hanya kontrak," ucap Jennaira pada dirinya sendiri. Kalimat itu seharusnya menenangkan. Namun, anehnya justru itulah yang membuatnya merasa kosong. Ia bangkit perlahan, berjalan ke arah jendela besar. Kota terhampar di bawah sana, penuh cahaya dan kehidupan. Dunia terus bergerak, seolah tidak peduli bahwa hidupnya telah berubah arah sepenuhnya. Pikirannya berkelebat—wajah Pak Handoyo. Sorot mata ayahnya. Diamnya sang ibu saat ia dibawa pergi. Tubuhnya menegang. Nafasnya memburu. Tenang, Jenna … kau aman sekarang. Namun, ingatan tidak mengenal kata aman. Tangannya mencengkeram tirai. Jantungnya berdegup keras, telinganya berdenging. Ia kembali merasakan hari itu—rumah besar berpagar tinggi, tatapan lapar, tangan yang hendak menariknya masuk. "Kau tidak punya pilihan." Suara itu menggema di kepalanya. Jennaira kembali terisak. Ia merosot ke lantai, punggungnya bersandar ke dinding. Air mata jatuh tanpa suara. Ia menutup mulut, menahan isak agar tidak terdengar siapa pun. Ia tidak ingin terlihat lemah. Tidak sekarang dan tidak di rumah pria yang kini menjadi suaminya—meski hanya di atas kertas. Radiva berdiri di ruang kerjanya, menatap layar ponsel dengan rahang mengeras. Bima berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan ekspresi serius. "Media mulai bergerak, Pak,"lapor Bima. "Ada yang mencium aroma pernikahan mendadak. Nama Anda sudah mulai dibicarakan." Radiva menghela nafas pelan. "Belum ada yang tahu soal Jenna?" "Belum. Tapi tinggal menunggu waktu. Pak Handoyo juga tidak diam. Orang-orangnya terlihat aktif." Radiva mengepalkan tangan. Semua ini ia perkirakan. Yang tidak ia perkirakan adalah … beban yang kini ikut ia pikul. Seorang perempuan yang terlalu lama hidup dalam tekanan. "Keamanan Jenna?" tanyanya singkat. "Berlapis. Tidak ada yang bisa masuk tanpa izin, Pak." Radiva mengangguk, lalu terdiam. Pikirannya melayang ke kamar di ujung lorong itu. Ia tahu, ia seharusnya bicara dan memberi penjelasan. Tapi ia juga tahu—kata-katanya bisa jadi hanya akan menambah beban. "Aku akan menyusulnya," ujar Radiva akhirnya. Bima ragu sejenak. "Pak Diva, satu hal lagi." Radiva menoleh. "Ada akun anonim yang mulai mengunggah foto lama Jenna, tidak jelas sumbernya dan narasinya … tidak baik." Radiva menatap layar ponsel. Sebuah foto buram Jenna di depan rumah reyot itu terpampang, dengan caption bernada merendahkan. Rahangnya mengeras. "Blokir dan hapus. Lacak sumbernya," perintahnya dingin. "Sudah kami lakukan, tapi ... publik bisa lebih kejam dari yang kita kira." Radiva tahu itu dan untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam hati—'Apakah aku benar-benar siap menyeretnya ke dunia ini? Ketukan pelan terdengar di pintu kamar. Jennaira tersentak. Ia buru-buru menghapus air mata, bangkit dengan gerakan tergesa. Pintu terbuka perlahan. Radiva berdiri di sana. Tatapan mereka bertemu. Hening .... "Kau belum tidur?" ujar Radiva. Jennaira menggeleng pelan. "Belum." Radiva melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Jarak di antara mereka terasa aneh—tidak dekat dan tidak jauh, tapi penuh tekanan. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Radiva. Pertanyaan itu sederhana. Namun bagi Jennaira, terdengar terlalu besar. Jenna ingin menjawab ya. Ingin terlihat kuat, tapi dadanya terasa sesak. "Aku … tidak tahu," ucapnya jujur. Radiva terdiam. Ia bukan pria yang terbiasa menghadapi emosi rapuh. Dunia yang ia kenal adalah negosiasi, kekuasaan, dan kendali. Bukan air mata yang ditahan. "Ini akan sulit," katanya akhirnya. "Aku tidak akan membohongimu." Jennaira menatapnya. "Kenapa anda begitu tenang?" tanyanya lirih. "Bagi Anda ini hanya strategi, tapi bagiku … ini hidup saya." Kalimat itu menancap. Radiva mengerutkan kening. "Aku melakukan ini untuk melindungimu." "Apa melindungi berarti memutuskan segalanya tanpa bertanya?" suara Jennaira bergetar. "Aku menikah hari ini tanpa tahu apa yang akan terjadi besok." Radiva terdiam. Ia tidak menyangkal. "Aku tidak punya waktu untuk memberi pilihan panjang," jawabnya datar. Jennaira tertawa kecil—pahit. "Sejak kapan hidupku punya waktu?" Kalimat itu menciptakan retakan kecil. Tipis, tapi nyata. Radiva menatap Jennaira lebih lama. "Kau aman di sini." "Aman dari luar," sahut Jennaira cepat. "Tapi di dalam kepalaku … semuanya masih berantakan." Jenna menunduk. "Saya tidak tahu bagaimana harus menjadi istri seseorang, bahkan istri kontrak." Radiva ingin mengatakan bahwa ia juga tidak tahu bagaimana harus menjadi suami, tapi kalimat itu tidak keluar. "Aku tidak menuntut apa pun darimu," kata Radiva. Jennaira mengangkat wajah. "Itu justru yang membuatku takut." Radiva terdiam. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ketenangannya bukan penguat bagi Jennaira. Justru menjadi tembok dingin. "Aku akan memberimu ruang," ucapnya kaku. "Jika itu yang kau butuhkan." Ia berbalik, hendak pergi. "Pak Radiva," panggil Jennaira. Pria itu berhenti. "Apa setelah ini ... hidupku akan jadi konsumsi publik?" tanyanya pelan. Radiva tidak langsung menjawab. "Ya," katanya jujur. "Dan itu tidak bisa kuhentikan selamanya." Jennaira menelan ludah. "Kalau begitu, tolong jangan biarkan aku sendirian." Radiva menoleh. Tatapan mereka bertemu kembali. Kali ini, ada sesuatu yang tidak bisa disembunyikan. "Aku tidak akan," ucap Radiva pelan. Namun, bahkan janji itu terdengar rapuh. Di tempat lain, sebuah unggahan baru muncul. Judulnya provokatif. “SIAPA JENNAIRA KIREI ATMAJA? ISTRI BARU RADIVA EMHA SANJAYA?" Foto Jenna terpampang. Di bawahnya—potongan masa lalu yang dipelintir. Tuduhan, Spekulasi, Narasi kejam , dan komentar mulai membanjiri. Dan di kamar yang terlalu sunyi itu, Jennaira belum tahu, bahwa esok hari, seluruh dunia akan ikut masuk ke dalam nerakanya."Perlindungan versi siapa?" Radiva menegang. "Aku tidak bisa mengontrol opini semua orang." "Tapi kau mengontrol aku," balas Jennaira cepat. Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan. Radiva menatapnya lama. "Aku melakukan ini agar kau tetap hidup." "Aku hidup," bisik Jennaira. "Tapi aku tidak bernapas." Radiva melangkah maju setengah langkah. "Jenna—" "Jangan,” potong Jennaira. "Jangan sentuh aku dengan nada seperti itu. Aku bukan bagian dari rencanamu." "Kau istriku." "Di atas kertas," sahut Jennaira pahit. "Dan di mata publik, aku milikmu, tapi di dalam diriku … aku kosong." Radiva terdiam. Untuk pertama kalinya, ada keraguan melintas di wajahnya. Bukan ragu pada keputusannya, melainkan pada dampaknya. "Aku tidak pernah berniat menyakitimu," katanya lebih rendah. "Tapi kau melakukannya," jawab Jennaira lirih. "Tanpa sadar dan tanpa bertanya." Radiva menarik napas dalam. "Handoyo tidak akan berhenti. Jika kau goyah sekarang—" "Aku bukan lemah." Jennaira menyela
Pintu kamar tertutup tanpa suara. Namun bagi Jennaira, bunyinya seperti ledakan. Ia berdiri di tengah ruangan luas yang seharusnya terasa mewah, ranjang besar berseprai putih, jendela kaca setinggi dinding, lampu kristal yang berkilau lembut. Tapi semua itu tidak memberi rasa aman. Justru sebaliknya, membuatnya merasa kecil, terkurung, dan … dipajang.Aku bukan pajangan, tapi ... ini yang terjadi padaku.Ponselnya bergetar lagi. Satu notifikasi. Ah ... ralat, bukan hanya satu, tapi puluhan. Jennaira tidak perlu membukanya untuk mengetahui isinya. Ia sudah membaca terlalu banyak sejak konferensi pers berakhir.Istri kontrak ... Boneka CEO ... Perempuan yang dibeli untuk citra.Jarinya gemetar saat akhirnya layar menyala."Cantik sih, tapi kelihatan kosong.""Pasti dibayar mahal.""Kasihan? Ah, tidak. Dia memilih hidup nyaman."Napas Jennaira tersangkut di tenggorokan. Ia menekan ponsel ke dada, seolah itu bisa menghentikan suara-suara di kepalanya,tapi komentar itu sudah terlanjur mera
Ruangan itu terlalu terang. Lampu-lampu sorot menyilaukan mata Jennaira begitu ia melangkah masuk. Kilatan kamera menyambutnya seperti hujan peluru. Suara klik, bisik-bisik, dan gumaman para jurnalis berlapis-lapis, menciptakan dengung yang menusuk telinganya.Tangannya dingin, tapi bukan karena pendingin ruangan—melainkan karena ratusan pasang mata menatapnya dalam satu waktu.Di sampingnya, Radiva Emha Sanjaya berjalan dengan langkah mantap. Setelan jas hitamnya rapi, wajahnya tenang, nyaris tanpa cela. Seolah konferensi pers ini hanyalah satu rapat biasa yang bisa ia kuasai dengan satu kalimat.Jenna menelan ludah dengan susah payah. Seolah tercekat di tenggorokan.Ia adalah istrinya sekarang. Namun, di hadapan dunia—ia hanya seorang perempuan asing yang tiba-tiba berdiri di sisi seorang CEO berpengaruh."Tarik napas." Suara Radiva rendah, hampir tidak terdengar. Tangannya menyentuh punggung Jenna sekilas. Bukan pelukan, juga bukan genggaman. Hanya sentuhan singkat. Cukup untuk men
Malam itu terlalu sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menekan—seperti ruang tertutup tanpa jendela. Jennaira duduk di tepi ranjang besar yang bahkan belum sempat ia sentuh dengan tubuhnya sepenuhnya. Gaun tidur sederhana membalut tubuhnya, namun rasa dingin merambat sampai ke tulang.Ini kamar mereka atau lebih tepatnya kamar yang disediakan untuknya.Tangannya gemetar saat memeluk lutut. Pernikahan kilat itu masih terasa tidak nyata. Semua berlangsung terlalu cepat. Tanda tangan, saksi, cincin, dan nama yang kini terikat secara hukum.Istri Radiva Emha Sanjaya.Status itu seharusnya memberi rasa aman., tapi yang Jenna rasakan justru sebaliknya.Dadanya sesak.Ia menoleh ke pintu. Sejak mereka kembali ke penthouse, Radiva hanya mengantarnya ke kamar ini dan berkata singkat agar ia beristirahat, lalu pergi ke ruang kerja. Tanpa sentuhan, tanpa penjelasan., tanpa satu pun kalimat yang memberi kehangatan pada dirinya."Ini hanya kontrak," ucap Jennaira pada dirinya
Waktu tidak memberi Jennaira kesempatan untuk bernapas. Jam di dinding bergerak terlalu cepat, seolah mengejarnya. Setiap detik berdetak seperti palu yang menghantam dadanya. Tangannya masih gemetar saat map kontrak itu diambil kembali oleh Bima dan dimasukkan ke dalam tas kerja."Dua jam," ucap Radiva datar. "Itu waktu yang kita punya."Jennaira menatapnya kosong. "Untuk apa?""Untuk mengakhiri semua celah," jawab Radiva. "Dan membuatmu tidak bisa disentuh siapa pun."Kata terakhiri terdengar seperti vonis.Ponsel Radiva bergetar. Ia mengangkatnya tanpa ekspresi, mendengarkan sebentar, lalu menutup panggilan."Mereka sudah tahu bahwa kau tidak pulang ke rumah," katanya. "Ibumu yang pertama kali bicara."Jennaira tersentak. "Ibu ...?""Ia menangis di telepon," lanjut Radiva dingin. "Tapi bukan karena kehilanganmu, tapi arena takut kehilangan uang."Tubuh Jennaira melemas. Ia sudah menduganya, tapi mendengar kebenaran tetap terasa seperti pisau yang diputar perlahan."Ayahmu mengancam
Jennaira tidak tidur malam itu. Ia berbaring kaku di atas ranjang besar yang terlalu empuk untuk tubuh yang terbiasa tidur dengan waspada. Lampu kamar redup. Udara dingin. Namun, yang membuatnya menggigil bukan suhu, melainkan pikirannya sendiri. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan itu datang. Tangan ayahnya yang terangkat. Suara ibunya yang dingin— 'Ini demi keluarga.' Tatapan Pak Handoyo yang menyapu tubuhnya seolah ia adalah barang. Napas Jennaira tersendat. Dadanya terasa sempit. Ia duduk, memeluk lututnya sendiri. Kuku jarinya menekan kulit, berusaha memastikan bahwa semua ini nyata—bahwa ia benar-benar sudah pergi dari rumah itu. Namun, rasa aman tidak ikut bersamanya. Pintu kamar terbuka pelan. Jennaira refleks menoleh, tubuhnya menegang. Radiva berdiri di ambang pintu. Masih dengan kemeja gelap yang rapi, seolah waktu tidak berpengaruh apa pun padanya. "Kau belum tidur?" katanya datar. Jennaira menggeleng. "Aku tidak bisa memejamkan kedua mataku." Radiva masuk, ta







