Home / Romansa / Istri di Bawah Kuasanya / H6. Ruang yang Terlalu Sunyi

Share

H6. Ruang yang Terlalu Sunyi

Author: Cheezyweeze
last update Last Updated: 2025-12-31 13:49:35

Malam itu terlalu sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menekan—seperti ruang tertutup tanpa jendela.

Jennaira duduk di tepi ranjang besar yang bahkan belum sempat ia sentuh dengan tubuhnya sepenuhnya. Gaun tidur sederhana membalut tubuhnya, namun rasa dingin merambat sampai ke tulang.

Ini kamar mereka atau lebih tepatnya kamar yang disediakan untuknya.

Tangannya gemetar saat memeluk lutut. Pernikahan kilat itu masih terasa tidak nyata. Semua berlangsung terlalu cepat. Tanda tangan, saksi, cincin, dan nama yang kini terikat secara hukum.

Istri Radiva Emha Sanjaya.

Status itu seharusnya memberi rasa aman., tapi yang Jenna rasakan justru sebaliknya.

Dadanya sesak.

Ia menoleh ke pintu. Sejak mereka kembali ke penthouse, Radiva hanya mengantarnya ke kamar ini dan berkata singkat agar ia beristirahat, lalu pergi ke ruang kerja. Tanpa sentuhan, tanpa penjelasan., tanpa satu pun kalimat yang memberi kehangatan pada dirinya.

"Ini hanya kontrak," ucap Jennaira pada dirinya sendiri.

Kalimat itu seharusnya menenangkan.

Namun, anehnya justru itulah yang membuatnya merasa kosong.

Ia bangkit perlahan, berjalan ke arah jendela besar. Kota terhampar di bawah sana, penuh cahaya dan kehidupan. Dunia terus bergerak, seolah tidak peduli bahwa hidupnya telah berubah arah sepenuhnya.

Pikirannya berkelebat—wajah Pak Handoyo. Sorot mata ayahnya. Diamnya sang ibu saat ia dibawa pergi. Tubuhnya menegang. Nafasnya memburu.

Tenang, Jenna … kau aman sekarang. Namun, ingatan tidak mengenal kata aman.

Tangannya mencengkeram tirai. Jantungnya berdegup keras, telinganya berdenging. Ia kembali merasakan hari itu—rumah besar berpagar tinggi, tatapan lapar, tangan yang hendak menariknya masuk.

"Kau tidak punya pilihan." Suara itu menggema di kepalanya.

Jennaira kembali terisak. Ia merosot ke lantai, punggungnya bersandar ke dinding. Air mata jatuh tanpa suara. Ia menutup mulut, menahan isak agar tidak terdengar siapa pun. Ia tidak ingin terlihat lemah.

Tidak sekarang dan tidak di rumah pria yang kini menjadi suaminya—meski hanya di atas kertas.

Radiva berdiri di ruang kerjanya, menatap layar ponsel dengan rahang mengeras. Bima berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan ekspresi serius.

"Media mulai bergerak, Pak,"lapor Bima. "Ada yang mencium aroma pernikahan mendadak. Nama Anda sudah mulai dibicarakan."

Radiva menghela nafas pelan. "Belum ada yang tahu soal Jenna?"

"Belum. Tapi tinggal menunggu waktu. Pak Handoyo juga tidak diam. Orang-orangnya terlihat aktif."

Radiva mengepalkan tangan. Semua ini ia perkirakan. Yang tidak ia perkirakan adalah … beban yang kini ikut ia pikul. Seorang perempuan yang terlalu lama hidup dalam tekanan.

"Keamanan Jenna?" tanyanya singkat.

"Berlapis. Tidak ada yang bisa masuk tanpa izin, Pak."

Radiva mengangguk, lalu terdiam. Pikirannya melayang ke kamar di ujung lorong itu. Ia tahu, ia seharusnya bicara dan memberi penjelasan. Tapi ia juga tahu—kata-katanya bisa jadi hanya akan menambah beban.

"Aku akan menyusulnya," ujar Radiva akhirnya.

Bima ragu sejenak. "Pak Diva, satu hal lagi."

Radiva menoleh.

"Ada akun anonim yang mulai mengunggah foto lama Jenna, tidak jelas sumbernya dan narasinya … tidak baik."

Radiva menatap layar ponsel. Sebuah foto buram Jenna di depan rumah reyot itu terpampang, dengan caption bernada merendahkan.

Rahangnya mengeras.

"Blokir dan hapus. Lacak sumbernya," perintahnya dingin.

"Sudah kami lakukan, tapi ... publik bisa lebih kejam dari yang kita kira."

Radiva tahu itu dan untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam hati—'Apakah aku benar-benar siap menyeretnya ke dunia ini?

Ketukan pelan terdengar di pintu kamar.

Jennaira tersentak. Ia buru-buru menghapus air mata, bangkit dengan gerakan tergesa. Pintu terbuka perlahan. Radiva berdiri di sana. Tatapan mereka bertemu.

Hening ....

"Kau belum tidur?" ujar Radiva.

Jennaira menggeleng pelan. "Belum."

Radiva melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Jarak di antara mereka terasa aneh—tidak dekat dan tidak jauh, tapi penuh tekanan.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Radiva.

Pertanyaan itu sederhana. Namun bagi Jennaira, terdengar terlalu besar. Jenna ingin menjawab ya. Ingin terlihat kuat, tapi dadanya terasa sesak.

"Aku … tidak tahu," ucapnya jujur.

Radiva terdiam. Ia bukan pria yang terbiasa menghadapi emosi rapuh. Dunia yang ia kenal adalah negosiasi, kekuasaan, dan kendali. Bukan air mata yang ditahan.

"Ini akan sulit," katanya akhirnya. "Aku tidak akan membohongimu."

Jennaira menatapnya. "Kenapa anda begitu tenang?" tanyanya lirih. "Bagi Anda ini hanya strategi, tapi bagiku … ini hidup saya."

Kalimat itu menancap.

Radiva mengerutkan kening. "Aku melakukan ini untuk melindungimu."

"Apa melindungi berarti memutuskan segalanya tanpa bertanya?" suara Jennaira bergetar. "Aku menikah hari ini tanpa tahu apa yang akan terjadi besok."

Radiva terdiam. Ia tidak menyangkal. "Aku tidak punya waktu untuk memberi pilihan panjang," jawabnya datar.

Jennaira tertawa kecil—pahit. "Sejak kapan hidupku punya waktu?"

Kalimat itu menciptakan retakan kecil. Tipis, tapi nyata.

Radiva menatap Jennaira lebih lama. "Kau aman di sini."

"Aman dari luar," sahut Jennaira cepat. "Tapi di dalam kepalaku … semuanya masih berantakan." Jenna menunduk. "Saya tidak tahu bagaimana harus menjadi istri seseorang, bahkan istri kontrak."

Radiva ingin mengatakan bahwa ia juga tidak tahu bagaimana harus menjadi suami, tapi kalimat itu tidak keluar.

"Aku tidak menuntut apa pun darimu," kata Radiva.

Jennaira mengangkat wajah. "Itu justru yang membuatku takut."

Radiva terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ketenangannya bukan penguat bagi Jennaira. Justru menjadi tembok dingin.

"Aku akan memberimu ruang," ucapnya kaku. "Jika itu yang kau butuhkan." Ia berbalik, hendak pergi.

"Pak Radiva," panggil Jennaira.

Pria itu berhenti.

"Apa setelah ini ... hidupku akan jadi konsumsi publik?" tanyanya pelan.

Radiva tidak langsung menjawab.

"Ya," katanya jujur. "Dan itu tidak bisa kuhentikan selamanya."

Jennaira menelan ludah. "Kalau begitu, tolong jangan biarkan aku sendirian."

Radiva menoleh. Tatapan mereka bertemu kembali. Kali ini, ada sesuatu yang tidak bisa disembunyikan.

"Aku tidak akan," ucap Radiva pelan. Namun, bahkan janji itu terdengar rapuh.

Di tempat lain, sebuah unggahan baru muncul.

Judulnya provokatif.

“SIAPA JENNAIRA KIREI ATMAJA? ISTRI BARU RADIVA EMHA SANJAYA?"

Foto Jenna terpampang. Di bawahnya—potongan masa lalu yang dipelintir. Tuduhan, Spekulasi, Narasi kejam , dan komentar mulai membanjiri.

Dan di kamar yang terlalu sunyi itu, Jennaira belum tahu, bahwa esok hari, seluruh dunia akan ikut masuk ke dalam nerakanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri di Bawah Kuasanya   H79. Penjara yang Dingin

    Radiva sampai di lapas. Ia segera melangkah menemui polisi yang berjaga. Bima melangkah di belakang Radiva. Polisi itu membawa Radiva beserta Bima menuju ruang tunggu."Pak Diva, tunggu sebentar. Silakan duduk." Polisi yang bertugas mempersilakan Radiva duduk. Radiva hanya mengangguk kepala.Polisi penjaga itu melangkah keluar dari ruang tunggu menuju sel tempat Handoyo.0Ruang kunjungan itu dingin. Dinding abu-abu, meja besi, dan kaca pembatas yang memisahkan dua dunia—bebas dan terkurung. Radiva duduk tegak, tangannya terlipat di atas meja. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.Di seberang kaca, Handoyo tersenyum. Seragam tahanan tak menghapus wibawanya. Ia tetap terlihat seperti pria yang terbiasa mengendalikan keadaan.“Selamat,” ucapnya santai begitu telepon diangkat. “Kau menang.”Radiva tidak tersenyum. “Ini bukan permainan.”Handoyo terkekeh pelan. “Oh, ini selalu permainan, Radiva. Kau hanya baru sadar sekarang.”Radiva menatapnya lurus. “Kau kalah. Bukti-bukti sudah lengkap.

  • Istri di Bawah Kuasanya   H78. Nama Itu ....

    Handoyo duduk di balik jeruji, wajahnya memar, tapi senyumnya masih ada. Polisi menutup berkas dengan keras. "Kau sudah selesai, Handoyo." Handoyo mengangkat kepala, matanya berkedip. "Sudah selesai?" Ia terkekeh pelan, seperti mendengar lelucon. Radiva berdiri di depan sel, tatapannya tajam. "Siapa yang membantumu?" Handoyo menatapnya lama. Lalu ia mendekat ke jeruji, suaranya turun. "Kau pikir aku punya cukup kekuatan untuk melakukan semua ini sendirian?" Radiva tidak bergerak. Handoyo tersenyum. "Permainan ini… milik Arkana." Udara mendadak dingin. Radiva membeku. "Apa? Nama itu ...." Handoyo hanya menatapnya, puas. "Iya, benar. Nama itu yang kelak akan menghancurkanmu …" Senyumnya melebar. " ... Ia akan datang menghampirimu." *** Flashback beberapa tahun silam .... Hujan turun deras malam itu. Lampu jalanan berpendar samar di atas aspal basah. Kota seperti kuburan hidup—sunyi, dingin, dan penuh rahasia. Arkana duduk di dalam mobil, kedua tangannya mencengkeram

  • Istri di Bawah Kuasanya   H77. Akhir Dari Dendam

    "Pak Radiva, saya sudah mendapatkan lokasi di mana Bu Jennaira disekap." Bima melapor setelah Radiva mempersilakan masuk ke ruang kantornya.Radiva memutar kursinya. Menatap Bima untuk memastikan sesuatu. Bima menelan ludah dengan kesusahan karena tatapan maut Radiva."Saya bersumpah, Pak. Untuk kali ini, info yang saya dapat benar-benar akurat," aku Bima membela diri."Hm ...." Hanya begitu jawaban Radiva.Bima masih berdiri di sana. Hal itu membuat Radiva kembali menatapnya. "Kenapa masih berdiri di situ? Cepat keluar!"Bima menekuk kedua bibirnya ke dalam, lalu buru-buru keluar dari ruangan Radiva.Beberapa detik setelah itu Bima menyembulkan kepalanya tanpa mengetuk pintu. "Pak Diva, jangan pergi sendirian.""Bimaaa!" teriak Radiva. Pintu langsung tertutup dengan suara yang lumayan memekakkan telinga. Kembali pintu terbuka sedikit dan kepala Bima masuk."Pak, saya serius. Pak Radiva jangan datang sendirian. Itu berbahaya.""Bim, jangan ganggu aku dulu. Pergilah bekerja. Aku ingin

  • Istri di Bawah Kuasanya   H76. Dendam yang Membakar Hati

    Suara telepon itu masih menggema di kepala Radiva.“Kalian pikir aku tidak tahu kamu bersembunyi di mana?”Radiva berdiri kaku, napasnya berat. Aurelia menurunkan gagang telepon perlahan, wajahnya tidak pucat—tapi dingin, seperti seseorang yang baru saja menyadari permainan ini jauh lebih besar dari dugaan mereka.“Dia sengaja,” bisik Radiva.Aurelia mengangguk pelan.“Dia ingin kamu kehilangan kendali.”Radiva menatapnya tajam.“Jenna masih hidup?”“Kita tidak punya pilihan selain menganggap iya,” jawab Aurelia cepat. “Kalau dia ingin Jenna mati, dia tidak akan menelepon. Handoyo butuh kamu hidup dalam ketakutan.”Radiva mengepalkan tangan.“Aku akan membunuhnya.”“Tidak,” potong Aurelia. “Kamu akan menyelamatkan istrimu dulu.”Radiva terdiam, matanya merah oleh amarah yang ditahan paksa. Aurelia membuka laptop dan beberapa dokumen di meja.“Dia sudah tahu lokasi ini. Itu artinya… dia punya orang yang memantau pergerakanmu. Kita harus bergerak sekarang, sebelum dia memindahkan Jenna

  • Istri di Bawah Kuasanya   H75. Langkah Diam-Diam

    Radiva tidak langsung pergi. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di tempat yang sama, ponsel masih dalam genggamannya dan pesan itu seperti bara api.[Kau akan bermain sesuai aturanku.]Handoyo mengira Radiva akan datang sendiri. Mengira ia akan panik, kehilangan logika, dan masuk ke dalam perangkap seperti binatang yang mengejar umpan.Radiva memang panik. Tapi ia bukan bodoh.Ia menutup mata, menarik napas panjang, memaksa dirinya kembali waras. Lalu ia berbalik, masuk ke mobil, dan melaju tanpa arah yang jelas—bukan untuk kabur, tapi untuk berpikir.Tangannya gemetar saat menekan nomor Aurelia sekali lagi. Kali ini tersambung.“Aurelia,” suara Radiva serak, berat.“Aku dengar,” jawab Aurelia cepat. Tidak ada basa-basi.“Kamu dapat video itu, ya?”Radiva menelan ludah.“Jenna ada di tangan Handoyo.”Hening sesaat di seberang. Lalu Aurelia berkata pelan, tapi tegas,“Kalau

  • Istri di Bawah Kuasanya   H74. Tempat Kosong

    Alamat itu membawanya ke pinggir kota. Jalanan semakin sepi, lampu-lampu semakin jarang, dan setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk dada Radiva. Tangannya mencengkeram setir sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tidak peduli aturan. Tidak peduli strategi. Yang ia pedulikan hanya satu: Jennaira.Mobil berhenti mendadak di depan bangunan tua yang bahkan nyaris tidak terlihat sebagai tempat layak. Halaman kosong. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.Radiva turun dengan langkah cepat, matanya menyapu setiap sudut. Kosong.Ia berjalan masuk, pintu besi berderit pelan saat didorong. Debu. Udara pengap. Dan… tidak ada siapa-siapa.Radiva berdiri di tengah ruangan, napasnya berat, dadanya naik turun seperti menahan amarah yang sudah mendidih sejak tadi.“Bajingan…” gumamnya.Ia melangkah lebih jauh, memeriksa ruangan satu per satu, tapi jawabannya tetap sama. Tidak ada Jenna. Tidak ada Handoyo. Tidak ada apa pun selain kesunyian yang mengejek.Radiva mengangkat ponselnya, menatap alamat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status