แชร์

H5. Nikah Kilat

ผู้เขียน: Cheezyweeze
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-18 23:30:55

Waktu tidak memberi Jennaira kesempatan untuk bernapas. Jam di dinding bergerak terlalu cepat, seolah mengejarnya. Setiap detik berdetak seperti palu yang menghantam dadanya. Tangannya masih gemetar saat map kontrak itu diambil kembali oleh Bima dan dimasukkan ke dalam tas kerja.

"Dua jam," ucap Radiva datar. "Itu waktu yang kita punya."

Jennaira menatapnya kosong. "Untuk apa?"

"Untuk mengakhiri semua celah," jawab Radiva. "Dan membuatmu tidak bisa disentuh siapa pun."

Kata terakhiri terdengar seperti vonis.

Ponsel Radiva bergetar. Ia mengangkatnya tanpa ekspresi, mendengarkan sebentar, lalu menutup panggilan.

"Mereka sudah tahu bahwa kau tidak pulang ke rumah," katanya. "Ibumu yang pertama kali bicara."

Jennaira tersentak. "Ibu ...?"

"Ia menangis di telepon," lanjut Radiva dingin. "Tapi bukan karena kehilanganmu, tapi arena takut kehilangan uang."

Tubuh Jennaira melemas. Ia sudah menduganya, tapi mendengar kebenaran tetap terasa seperti pisau yang diputar perlahan.

"Ayahmu mengancam akan melaporkanmu sebagai anak tidak tahu diri," tambah Radiva. "Pak Handoyo sedang menyiapkan langkah hukum dan non-hukum."

Jennaira memejamkan mata. Napasnya bergetar. "Aku tidak mau kembali," bisiknya. "Aku tidak mau hidup seperti barang."

"Itu tidak akan terjadi lagi," jawab Radiva singkat. " Karena itu kita menikah. Hari ini."

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa basa-basi. Tanpa ruang untuk menawar.

"Hari ini?" Jennaira membuka mata. "Sekarang?"

"Sekarang," ulang Radiva. "Nikah kilat."

"Aku-" Jennaira mundur satu langkah. "Aku belum siap."

Radiva menatapnya lurus. "Tidak ada kesiapan dalam keadaanmu."

"Itu tidak adil," suara Jennaira pecah.

"Kehidupanmu sejak awal memang tidak adil," balas Radiva tenang. "Aku hanya memberimu posisi yang membuatmu tidak bisa diinjak lagi."

"Dengan mengikatku?" Jennaira tertawa kecil, getir. "Dengan menjadikanku istrimu?"

"Dengan menjadikanmu untouchable," tegas Radiva. "Status itu satu-satunya hal yang dihormati orang-orang seperti mereka."

Jennaira terdiam. Dadanya sesak. Ia merasa seperti berdiri di tepi jurang-di belakangnya neraka yang sudah ia kenal, di depannya neraka baru yang belum ia pahami.

"Jika aku menolak sekarang?" tanyanya lirih.

Radiva tidak langsung menjawab. "Aku akan tetap melindungimu malam ini. Tapi besok, kau sendirian."

Kalimat itu menghabisi sisa lekuatan yang dimiliki oleh Jennaira.

Bima masuk dengan setelan jas lebih rapi. "Pak Diva, penghulu sudah siap. Dokumen sudah lengkap. Saksi aman."

Jennaira menoleh cepat. "Saksi?"

"Orang-orang yang tidak akan bicara," jawab Bima singkat.

Dua jam kemudian, ruang tamu apartemen berubah.

Tidak ada dekorasi. Tidak ada bunga. Tidak ada keluarga. Hanya meja kecil, kursi, dan udara yang terasa terlalu berat.

Jennaira berdiri di depan cermin kamar. Gaun sederhana warna pucat membalut tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai, wajahnya pucat, matanya merah. Ia tidak terlihat seperti pengantin. Ia terlihat seperti seseorang yang akan diserahkan ke takdir lain.

Radiva menunggunya di ruang tamu. Jas hitam. Wajah dingin. Sama sekali tidak terlihat seperti pria yang akan menikah-lebih seperti eksekutor keputusan.

Penghulu membuka acara.

Suara doa terdengar jauh, teredam oleh detak jantung Jennaira sendiri. Tangannya dingin, telapak tangannya basah oleh keringat.

"Apakah Saudara Radiva Emha Sanjaya menerima nikahnya-"

Radiva menjawab tegas. Tanpa ragu dan tanpa jeda.

"Sah."

Satu kata, tapi pendek, dan mematikan.

Jennaira merasa sesuatu di dalam dirinya runtuh. Bukan karena sedih-melainkan karena sebuah pintu telah tertutup selamanya.

Cincin melingkar di jarinya. Logamnya dingin dan berat.

Radiva menatapnya sesaat. "Mulai sekarang," ucapnya pelan, hanya cukup untuk didengar Jennaira, "tidak ada yang bisa menyentuhmu tanpa izin dariku."

Jennaira mengangguk. Tenggorokannya terlalu kering untuk menjawab.

Setelah semua selesai, penghulu dan saksi pergi tanpa jejak. Ruangan kembali sunyi.

Jennaira berdiri mematung.

"Aku tidak akan masuk ke kamarmu," kata Radiva tiba-tiba. "Kamar itu milikmu."

"Dan kau?" tanya Jennaira pelan.

"Aku bekerja malam ini." Radiva berbalik, lalu berhenti sejenak. "Di luar sana, kau istriku. Di dalam rumah ini, kau aman."

"Aman ... tapi tidak bebas," gumam Jennaira.

Radiva menoleh. "Kebebasan bisa dibangun, tapi tidak dari posisi lemah."

Pintu tertutup.

Jennaira duduk perlahan di tepi ranjang. Tangannya menatap cincin di jarinya. Kini ia adalah seorang istri. Tanpa cinta. Tanpa pilihan romantis. Namun, setidaknya untuk pertama kalinya tidak ada tangan yang berani memaksanya.

Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal.

[Kau pikir menikah bisa menyelamatkanmu? Ini belum selesai, Jennaira.]

Darahnya membeku.

Dari luar kamar, suara langkah Radiva terdengar berhenti.

"Ada apa?" suara pria itu terdengar dingin dari balik pintu.

Jennaira menelan ludah, lalu menjawab pelan, "Mereka sudah tahu."

Dan saat itu ia sadar bahwa pernikahan ini bukan akhir dari ancaman, melainkan awal perang yang sebenarnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Istri di Bawah Kuasanya   HB90

    Radiva perlahan menurunkan moncong senjatanya, membiarkan keheningan malam kembali menguasai ruang kerja yang porak-poranda itu. Kepalan tangan kirinya perlahan mengendur, menyembunyikan getaran amarah yang nyaris meledak demi sebuah kalkulasi yang jauh lebih matang. Menyerang kepala gurita ini sekarang adalah bunuh diri. Aku harus mengulur waktu sampai posisi Ayah benar-benar aman, batinnya menenangkan diri.​Ia merogoh saku mantelnya, mengeluarkan map perak yang dicari Dirgantara, lalu melemparkannya ke atas meja kerja hingga debu kayu jati berterbangan. "Ambil ini dan keluar dari wilayahku. Kamu mendapatkan apa yang kamu mau, Dirgantara."​Dirgantara meraih map itu dengan senyum kemenangan yang memuakkan, memeriksa sekilas lembaran koordinat di dalamnya tanpa menyadari bahwa Radiva telah menukar beberapa digit angka penting saat lampu padam tadi. "Keputusan yang sangat bijaksana, Radiva. Aku senang kamu lebih memilih masa depan daripada ego jalanan yang tidak berguna."​Pria necis

  • Istri di Bawah Kuasanya   HB89

    "Mereka bergerak cepat, Pak. Sistem komunikasi kita diputus dari pusat kendali," bisik Bima, wajahnya mengeras di bawah temaram cahaya luar ruangan yang menembus kaca jendela.​Radiva tidak terkejut. Ia melipat dokumen intelijen itu dan menyimpannya di balik mantel. "Mereka bukan orang-orang Arkana, Bima. Ini pasukan bentukan orang-orang di ibu kota. Jangan gunakan taktik jalanan."​BRAKK!​Pintu ruang kerja jebol dihantam tendangan taktis. Dua siluet berpakaian hitam dengan rompi antipeluru dan helm taktis merangsek masuk, moncong senapan mesin berperedam mereka langsung memuntahkan timah panas secara beruntun. Radiva dan Bima menjatuhkan diri bersamaan ke balik meja kerja kayu jati yang tebal. Peluru-peluru meremukkan kayu, menerbangkan serpihan tajam dan kertas-kertas laporan di udara.​Mengandalkan kegelapan, Bima berguling ke sisi kiri sofa, melepaskan dua tembakan presisi dari bawah. Satu penyusup tumbang dengan peluru menembus celah leher y

  • Istri di Bawah Kuasanya   HB88.

    Arkana terbatuk, memuntahkan cairan kental kemerahan yang langsung menodai lantai marmer di bawah kepalanya. Meskipun ujung pisau taktis Radiva sudah menekan kulit lehernya, sepasang mata yang mulai meredup itu masih memancarkan sisa-sisa kelicikan. Tangan kiri Arkana yang bebas perlahan merayap ke balik pinggang, mencoba menjangkau belati kecil yang sengaja ia sembunyikan untuk situasi darurat seperti ini. ​Namun, Radiva tidak sedungu itu. Menangkap pergerakan statis yang mencurigakan dari bahu lawannya, Radiva langsung menghentakkan lutut kirinya ke atas pergelangan tangan Arkana hingga terdengar bunyi gemertak tulang yang patah. ​Arkana menjerit parau, belati kecilnya terlepas dan berdenting di atas lantai. Sebelum gema jeritan itu habis, Radiva menarik pisaunya sedikit ke belakang, lalu menghujamkannya tanpa ragu menembus jakun sang rival dalam satu sentakan kuat yang mematikan. ​Tubuh Arkana kejang seketika. Sepasang matanya melotot lurus menatap langit-langit ruangan yang han

  • Istri di Bawah Kuasanya   HB87.

    ​Langkah kaki Radiva dan Bima nyaris tak terdengar saat menyusuri lorong berkarpet tebal menuju ruang VIP lounge Restoran Amethys. Di luar, hujan badai masih lebat, namun di dalam sini, atmosfernya jauh lebih mendominasi. Dua orang penjaga berbadan kekar yang berdiri di depan pintu kayu jati itu bahkan tidak sempat mencabut senjata mereka. Dengan satu gerakan taktis yang cepat, Radiva menghantam tengkuk penjaga sebelah kanan dengan pistol, sementara Bima mengunci dan membanting penjaga satunya hingga tak sadarkan diri di atas lantai. ​Radiva tidak membuang waktu. Ia memutar knop pintu, lalu mendobraknya dengan satu sentakan kaki yang kuat. ​BRAKK! ​Pintu terbuka lebar, mengejutkan tiga orang yang sedang duduk mengelilingi meja marmer di dalam ruangan mewah yang temaram itu. Arkana, yang sedang memegang cerutu, langsung membeku dengan mata membelalak sempurna. Di hadapannya, duduk seorang pria asing bermata sedingin es dengan setelan jas mahal. Dia-lah Ivanov, sang utusan. ​"Lan

  • Istri di Bawah Kuasanya   H86

    Suara gemercik sisa air hujan yang menetes dari talang atap menjadi satu-satunya latar belakang yang memecah keheningan mencekam di dalam ruang keluarga. Radiva masih berdiri terpaku, memegang ponsel milik eksekutor yang baru saja tewas dengan tangan yang perlahan bergetar. Kabar dari Bima menghantamnya lebih keras daripada peluru mana pun. Markas utamanya jatuh. Brankas rahasia, dokumen legal, dan seluruh fondasi kekuasaan yang ia bangun bertahun-tahun kini berada di bawah cengkeraman Arkana. Dalam satu malam, posisinya berbalik seratus delapan puluh derajat.​"Pak Radiva, kita tidak bisa berlama-lama di sini," bisik Bima, suaranya sarat akan desakan yang amat sangat. "Orang-orang Arkana yang berada di luar mungkin sedang menuju ke mari setelah menyadari tim pertama mereka gagal."​Radiva menarik napas dalam-dalam, memaksa paru-parunya yang sesak untuk bekerja. Ia menepis segala kepanikan dan ego yang sempat melumpuhkan logikanya. Tenang, Radiva. Kalau kamu mati m

  • Istri di Bawah Kuasanya   H85. Kebrutalan Arkana

    "Tiga," suara Arkana bergaung dingin dari pengeras suara tablet, memecah kesunyian malam yang mencekam di dalam ruang keluarga. ​Eksekutor berjas kelabu itu perlahan menarik pelatuk pistolnya. Moncong senjata berperedam itu menekan lebih dalam ke pelipis ayah Radiva. Sang ayah memejamkan mata rapat-rapat, napasnya yang tersengal menahan sakit membuat bahunya yang renta bergetar. ​"Jangan turunkan senjatamu, Radiva! Jangan memohon pada keparat ini!" teriak ayahnya dengan sisa tenaga, suaranya parau berkawan darah yang meleleh di sudut bibir. ​Radiva bergeming, namun isi kepalanya berputar bak angin topan. Keringat dingin mengucur melewati pelipisnya, jatuh ke lantai beton yang senyap. Menurunkan senjata berarti menyerahkan nyawa mereka berdua ke tangan Arkana. Melalui sudut matanya yang tajam, Radiva melirik ke arah bayangan gorden di sisi kanan ruangan dan posisi Bima yang luput dari pandangan sang eksekutor. Radiva memberikan isyarat ket

  • Istri di Bawah Kuasanya   H18. Ancaman Untuk Radiva

    Handoyo tidak pernah terbiasa kalah. Apalagi kalah oleh perempuan yang seharusnya sudah berada di bawah telapak kakinya. Perempuan yang seharusnya jadi miliknya karena piutang orang tuanya. Di ruang tamu sebuah vila tersembunyi di pinggiran kota, pria itu duduk tenang dengan segela

  • Istri di Bawah Kuasanya   H17. Dia Tidak Sendiri

    Lampu sorot menyilaukan mata. Jennaira baru menyadari betapa bising dunia ketika ia benar-benar berdiri di tengahnya. Kilatan kamera datang dari segala arah, suara reporter saling tindih, dan nama Radiva Emha Sanjaya diucapkan berulang kali. Bukan sebagai penyelamat, melainkan seb

  • Istri di Bawah Kuasanya   H13. Di Balik Kendali

    Malam turun seperti selimut berat. Jennaira duduk di tepi ranjang, menatap ponsel di tangannya. Layar itu sudah gelap, tapi kata-kata dari pesan siang tadi masih terukir jelas di kepalanya. [Kau bukan kebetulan.] Kalimat sederhana, tapi cukup untuk membuat dadanya be

  • Istri di Bawah Kuasanya   H12. Permainan Baru Dimulai

    Pagi datang tanpa kehangatan. Cahaya matahari menyelinap melalui tirai tipis kamar Jennaira, jatuh di lantai marmer yang dingin. Rumah itu terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang katanya aman. Tidak ada suara tawa, tidak ada langkah santai, hanya dengungan pendingin udara dan detak jam dinding yan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status