LOGINWaktu tidak memberi Jennaira kesempatan untuk bernapas. Jam di dinding bergerak terlalu cepat, seolah mengejarnya. Setiap detik berdetak seperti palu yang menghantam dadanya. Tangannya masih gemetar saat map kontrak itu diambil kembali oleh Bima dan dimasukkan ke dalam tas kerja.
"Dua jam," ucap Radiva datar. "Itu waktu yang kita punya." Jennaira menatapnya kosong. "Untuk apa?" "Untuk mengakhiri semua celah," jawab Radiva. "Dan membuatmu tidak bisa disentuh siapa pun." Kata terakhiri terdengar seperti vonis. Ponsel Radiva bergetar. Ia mengangkatnya tanpa ekspresi, mendengarkan sebentar, lalu menutup panggilan. "Mereka sudah tahu bahwa kau tidak pulang ke rumah," katanya. "Ibumu yang pertama kali bicara." Jennaira tersentak. "Ibu ...?" "Ia menangis di telepon," lanjut Radiva dingin. "Tapi bukan karena kehilanganmu, tapi arena takut kehilangan uang." Tubuh Jennaira melemas. Ia sudah menduganya, tapi mendengar kebenaran tetap terasa seperti pisau yang diputar perlahan. "Ayahmu mengancam akan melaporkanmu sebagai anak tidak tahu diri," tambah Radiva. "Pak Handoyo sedang menyiapkan langkah hukum dan non-hukum." Jennaira memejamkan mata. Napasnya bergetar. "Aku tidak mau kembali," bisiknya. "Aku tidak mau hidup seperti barang." "Itu tidak akan terjadi lagi," jawab Radiva singkat. " Karena itu kita menikah. Hari ini." Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa basa-basi. Tanpa ruang untuk menawar. "Hari ini?" Jennaira membuka mata. "Sekarang?" "Sekarang," ulang Radiva. "Nikah kilat." "Aku-" Jennaira mundur satu langkah. "Aku belum siap." Radiva menatapnya lurus. "Tidak ada kesiapan dalam keadaanmu." "Itu tidak adil," suara Jennaira pecah. "Kehidupanmu sejak awal memang tidak adil," balas Radiva tenang. "Aku hanya memberimu posisi yang membuatmu tidak bisa diinjak lagi." "Dengan mengikatku?" Jennaira tertawa kecil, getir. "Dengan menjadikanku istrimu?" "Dengan menjadikanmu untouchable," tegas Radiva. "Status itu satu-satunya hal yang dihormati orang-orang seperti mereka." Jennaira terdiam. Dadanya sesak. Ia merasa seperti berdiri di tepi jurang-di belakangnya neraka yang sudah ia kenal, di depannya neraka baru yang belum ia pahami. "Jika aku menolak sekarang?" tanyanya lirih. Radiva tidak langsung menjawab. "Aku akan tetap melindungimu malam ini. Tapi besok, kau sendirian." Kalimat itu menghabisi sisa lekuatan yang dimiliki oleh Jennaira. Bima masuk dengan setelan jas lebih rapi. "Pak Diva, penghulu sudah siap. Dokumen sudah lengkap. Saksi aman." Jennaira menoleh cepat. "Saksi?" "Orang-orang yang tidak akan bicara," jawab Bima singkat. Dua jam kemudian, ruang tamu apartemen berubah. Tidak ada dekorasi. Tidak ada bunga. Tidak ada keluarga. Hanya meja kecil, kursi, dan udara yang terasa terlalu berat. Jennaira berdiri di depan cermin kamar. Gaun sederhana warna pucat membalut tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai, wajahnya pucat, matanya merah. Ia tidak terlihat seperti pengantin. Ia terlihat seperti seseorang yang akan diserahkan ke takdir lain. Radiva menunggunya di ruang tamu. Jas hitam. Wajah dingin. Sama sekali tidak terlihat seperti pria yang akan menikah-lebih seperti eksekutor keputusan. Penghulu membuka acara. Suara doa terdengar jauh, teredam oleh detak jantung Jennaira sendiri. Tangannya dingin, telapak tangannya basah oleh keringat. "Apakah Saudara Radiva Emha Sanjaya menerima nikahnya-" Radiva menjawab tegas. Tanpa ragu dan tanpa jeda. "Sah." Satu kata, tapi pendek, dan mematikan. Jennaira merasa sesuatu di dalam dirinya runtuh. Bukan karena sedih-melainkan karena sebuah pintu telah tertutup selamanya. Cincin melingkar di jarinya. Logamnya dingin dan berat. Radiva menatapnya sesaat. "Mulai sekarang," ucapnya pelan, hanya cukup untuk didengar Jennaira, "tidak ada yang bisa menyentuhmu tanpa izin dariku." Jennaira mengangguk. Tenggorokannya terlalu kering untuk menjawab. Setelah semua selesai, penghulu dan saksi pergi tanpa jejak. Ruangan kembali sunyi. Jennaira berdiri mematung. "Aku tidak akan masuk ke kamarmu," kata Radiva tiba-tiba. "Kamar itu milikmu." "Dan kau?" tanya Jennaira pelan. "Aku bekerja malam ini." Radiva berbalik, lalu berhenti sejenak. "Di luar sana, kau istriku. Di dalam rumah ini, kau aman." "Aman ... tapi tidak bebas," gumam Jennaira. Radiva menoleh. "Kebebasan bisa dibangun, tapi tidak dari posisi lemah." Pintu tertutup. Jennaira duduk perlahan di tepi ranjang. Tangannya menatap cincin di jarinya. Kini ia adalah seorang istri. Tanpa cinta. Tanpa pilihan romantis. Namun, setidaknya untuk pertama kalinya tidak ada tangan yang berani memaksanya. Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal. [Kau pikir menikah bisa menyelamatkanmu? Ini belum selesai, Jennaira.] Darahnya membeku. Dari luar kamar, suara langkah Radiva terdengar berhenti. "Ada apa?" suara pria itu terdengar dingin dari balik pintu. Jennaira menelan ludah, lalu menjawab pelan, "Mereka sudah tahu." Dan saat itu ia sadar bahwa pernikahan ini bukan akhir dari ancaman, melainkan awal perang yang sebenarnya.Radiva sampai di lapas. Ia segera melangkah menemui polisi yang berjaga. Bima melangkah di belakang Radiva. Polisi itu membawa Radiva beserta Bima menuju ruang tunggu."Pak Diva, tunggu sebentar. Silakan duduk." Polisi yang bertugas mempersilakan Radiva duduk. Radiva hanya mengangguk kepala.Polisi penjaga itu melangkah keluar dari ruang tunggu menuju sel tempat Handoyo.0Ruang kunjungan itu dingin. Dinding abu-abu, meja besi, dan kaca pembatas yang memisahkan dua dunia—bebas dan terkurung. Radiva duduk tegak, tangannya terlipat di atas meja. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.Di seberang kaca, Handoyo tersenyum. Seragam tahanan tak menghapus wibawanya. Ia tetap terlihat seperti pria yang terbiasa mengendalikan keadaan.“Selamat,” ucapnya santai begitu telepon diangkat. “Kau menang.”Radiva tidak tersenyum. “Ini bukan permainan.”Handoyo terkekeh pelan. “Oh, ini selalu permainan, Radiva. Kau hanya baru sadar sekarang.”Radiva menatapnya lurus. “Kau kalah. Bukti-bukti sudah lengkap.
Handoyo duduk di balik jeruji, wajahnya memar, tapi senyumnya masih ada. Polisi menutup berkas dengan keras. "Kau sudah selesai, Handoyo." Handoyo mengangkat kepala, matanya berkedip. "Sudah selesai?" Ia terkekeh pelan, seperti mendengar lelucon. Radiva berdiri di depan sel, tatapannya tajam. "Siapa yang membantumu?" Handoyo menatapnya lama. Lalu ia mendekat ke jeruji, suaranya turun. "Kau pikir aku punya cukup kekuatan untuk melakukan semua ini sendirian?" Radiva tidak bergerak. Handoyo tersenyum. "Permainan ini… milik Arkana." Udara mendadak dingin. Radiva membeku. "Apa? Nama itu ...." Handoyo hanya menatapnya, puas. "Iya, benar. Nama itu yang kelak akan menghancurkanmu …" Senyumnya melebar. " ... Ia akan datang menghampirimu." *** Flashback beberapa tahun silam .... Hujan turun deras malam itu. Lampu jalanan berpendar samar di atas aspal basah. Kota seperti kuburan hidup—sunyi, dingin, dan penuh rahasia. Arkana duduk di dalam mobil, kedua tangannya mencengkeram
"Pak Radiva, saya sudah mendapatkan lokasi di mana Bu Jennaira disekap." Bima melapor setelah Radiva mempersilakan masuk ke ruang kantornya.Radiva memutar kursinya. Menatap Bima untuk memastikan sesuatu. Bima menelan ludah dengan kesusahan karena tatapan maut Radiva."Saya bersumpah, Pak. Untuk kali ini, info yang saya dapat benar-benar akurat," aku Bima membela diri."Hm ...." Hanya begitu jawaban Radiva.Bima masih berdiri di sana. Hal itu membuat Radiva kembali menatapnya. "Kenapa masih berdiri di situ? Cepat keluar!"Bima menekuk kedua bibirnya ke dalam, lalu buru-buru keluar dari ruangan Radiva.Beberapa detik setelah itu Bima menyembulkan kepalanya tanpa mengetuk pintu. "Pak Diva, jangan pergi sendirian.""Bimaaa!" teriak Radiva. Pintu langsung tertutup dengan suara yang lumayan memekakkan telinga. Kembali pintu terbuka sedikit dan kepala Bima masuk."Pak, saya serius. Pak Radiva jangan datang sendirian. Itu berbahaya.""Bim, jangan ganggu aku dulu. Pergilah bekerja. Aku ingin
Suara telepon itu masih menggema di kepala Radiva.“Kalian pikir aku tidak tahu kamu bersembunyi di mana?”Radiva berdiri kaku, napasnya berat. Aurelia menurunkan gagang telepon perlahan, wajahnya tidak pucat—tapi dingin, seperti seseorang yang baru saja menyadari permainan ini jauh lebih besar dari dugaan mereka.“Dia sengaja,” bisik Radiva.Aurelia mengangguk pelan.“Dia ingin kamu kehilangan kendali.”Radiva menatapnya tajam.“Jenna masih hidup?”“Kita tidak punya pilihan selain menganggap iya,” jawab Aurelia cepat. “Kalau dia ingin Jenna mati, dia tidak akan menelepon. Handoyo butuh kamu hidup dalam ketakutan.”Radiva mengepalkan tangan.“Aku akan membunuhnya.”“Tidak,” potong Aurelia. “Kamu akan menyelamatkan istrimu dulu.”Radiva terdiam, matanya merah oleh amarah yang ditahan paksa. Aurelia membuka laptop dan beberapa dokumen di meja.“Dia sudah tahu lokasi ini. Itu artinya… dia punya orang yang memantau pergerakanmu. Kita harus bergerak sekarang, sebelum dia memindahkan Jenna
Radiva tidak langsung pergi. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di tempat yang sama, ponsel masih dalam genggamannya dan pesan itu seperti bara api.[Kau akan bermain sesuai aturanku.]Handoyo mengira Radiva akan datang sendiri. Mengira ia akan panik, kehilangan logika, dan masuk ke dalam perangkap seperti binatang yang mengejar umpan.Radiva memang panik. Tapi ia bukan bodoh.Ia menutup mata, menarik napas panjang, memaksa dirinya kembali waras. Lalu ia berbalik, masuk ke mobil, dan melaju tanpa arah yang jelas—bukan untuk kabur, tapi untuk berpikir.Tangannya gemetar saat menekan nomor Aurelia sekali lagi. Kali ini tersambung.“Aurelia,” suara Radiva serak, berat.“Aku dengar,” jawab Aurelia cepat. Tidak ada basa-basi.“Kamu dapat video itu, ya?”Radiva menelan ludah.“Jenna ada di tangan Handoyo.”Hening sesaat di seberang. Lalu Aurelia berkata pelan, tapi tegas,“Kalau
Alamat itu membawanya ke pinggir kota. Jalanan semakin sepi, lampu-lampu semakin jarang, dan setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk dada Radiva. Tangannya mencengkeram setir sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tidak peduli aturan. Tidak peduli strategi. Yang ia pedulikan hanya satu: Jennaira.Mobil berhenti mendadak di depan bangunan tua yang bahkan nyaris tidak terlihat sebagai tempat layak. Halaman kosong. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.Radiva turun dengan langkah cepat, matanya menyapu setiap sudut. Kosong.Ia berjalan masuk, pintu besi berderit pelan saat didorong. Debu. Udara pengap. Dan… tidak ada siapa-siapa.Radiva berdiri di tengah ruangan, napasnya berat, dadanya naik turun seperti menahan amarah yang sudah mendidih sejak tadi.“Bajingan…” gumamnya.Ia melangkah lebih jauh, memeriksa ruangan satu per satu, tapi jawabannya tetap sama. Tidak ada Jenna. Tidak ada Handoyo. Tidak ada apa pun selain kesunyian yang mengejek.Radiva mengangkat ponselnya, menatap alamat







