Share

Bab 11 Kalah dan Ditinggalkan

Author: Artemis Z.Y.
Sudut Pandang Mia:

Dunia seakan berputar-putar saat aku tergeletak di dasar tangga, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku dengan gelombang tanpa ampun. Pertunjukan Tasya dimulai dengan satu tetes air mata yang jatuh di saat yang tepat.

"Keenan!" Suara Tasya pecah, penuh keputusasaan yang dibuat-buat. "Kamu sudah sampai!" Tangannya gemetar saat dia memeluk dirinya sendiri, menampilkan sosok yang tampak rapuh.

Mata Keenan bergerak cepat di antara kami, menangkap keseluruhan pemandangan. Aku terge
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 50 Tarik Ulur

    Sudut Pandang Mia:Kegelapan punya keunikannya sendiri. Di hari keempat tanpa penglihatan, aku sudah belajar membedakan nuansanya. Gelap lembut di pagi buta, berbeda dengan gelap berat di tengah malam. Para dokter terus meyakinkanku ini hanya sementara, respons tubuh terhadap stres dan tekanan darah yang tinggi. Namun, pengetahuan itu tak membuat rasa takutku menjadi lebih ringan.Bunyi notifikasi ponselku yang lembut memotong lamunanku. Aku meraba-raba mencarinya, jariku menemukan kaca licin itu lewat ingatan otot. Setelah tiga hari berlatih, akhirnya aku menguasai perintah suara."Hai, Cantik!" Suara Starla memenuhi kamarku lewat fitur text-to-speech. "Para kontraktor butuh persetujuan final warna ruang terapi. Mau makan siang bareng sambil bahas sampelnya?"Tenggorokanku menegang. Aku belum memberi tahu dia tentang kondisiku. Starla sudah memikul begitu banyak beban. Mengatur pemasok, meninjau material, menghadiri rapat lokasi atas namaku."Maaf, lagi dikejar tenggat waktu." Aku ber

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 49 Jangan Bersikap Seolah Kamu Peduli

    Sudut Pandang Mia:Kesadaranku perlahan kembali, seperti berenang naik dari air yang gelap. Kepalaku terasa berat dan tumpul, rasa sakitnya diredam oleh obat apa pun yang mereka berikan kemarin. Kegelapan itu masih ada. Bukan gelap biasa seperti ruangan tertutup atau malam hari, melainkan sesuatu yang mutlak dan tak tertembus.Ada hembusan udara halus yang menyentuh kulitku saat seseorang bergerak di dekatku. Kemudian, aku menyadarinya. Aroma parfum mahal yang begitu familier, bercampur dengan sesuatu yang khas milik Keenan. Indra-indraku yang lain seolah-olah menajam untuk menutupi penglihatanku yang hilang, membuat keberadaannya terasa nyaris menyakitkan.Aku mencoba bangkit, tanganku ragu-ragu menyentuh seprai rumah sakit yang asing. Seketika itu juga aku merasakan Keenan mendekat, kasur sedikit menurun saat dia condong ke arahku."Hati-hati." Suaranya terdengar dari sebelah kiriku, serak seperti orang kurang tidur. Dia pasti tertidur di kursi di samping ranjangku. "Biar aku bantu k

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 48 Ketakutan Alami

    Sudut Pandang Keenan:Aku mendengar suara kaca pecah disusul jeritan Mia yang ketakutan. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat darahku membeku. Bukan kepanikan lirih yang biasa, tetapi ketakutan alami.Kakiku sudah bergerak sebelum pikiranku sempat menyusul. Aku menaiki tangga dua anak tangga sekaligus dan tiba di kamarnya tepat ketika jeritan lain menggema di kegelapan."Tolong! Siapa saja, tolong!"Pemandangan di hadapanku membuat jantungku nyaris berhenti. Mia tergeletak di lantai, dikelilingi pecahan berkilau dari vas kristal di nakasnya. Darah merembes dari kakinya. Dia pasti menginjak kaca. Namun, yang membuatku terpaku adalah wajahnya. Mata yang tak fokus, tangan yang meraba-raba udara kosong dengan putus asa."Mia?" Aku melangkah hati-hati melewati pecahan kaca. "Apa yang terjadi?""Aku nggak ...." Suaranya pecah, air mata mengalir di pipinya. "Aku nggak bisa melihat. Aku nggak bisa melihat apa pun."Dalam dua puluh tahun memimpin Grup KT, melewati merger, krisis, dan kesepak

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 47 Kegelapan Total

    Sudut Pandang Mia:Layar laptopku memancarkan cahaya lembut di sisa cahaya langit sore ketika aku membuka obrolan grup. Tiga wajah muncul di jendela masing-masing. Rambut merah menyala Starla yang tak mungkin salah dikenali meski tampil kecil, senyum hangat Jonah yang akrab, dan pantulan wajahku sendiri yang terlihat lelah."Nah, ini dia!" Suara Starla berderak dari pengeras suara. "Arsitek genius kita akhirnya muncul juga.""Maaf telat," kataku sambil menyesuaikan layar. "Aku baru saja meninjau survei lokasi terbaru.""Ngomong-ngomong soal itu ...." Jonah mengangkat setumpuk kertas. "Aku punya beberapa masukan soal tata letak taman terapeutik. Integrasinya dengan vegetasi yang sudah ada itu inspiratif, Mia, tapi kamu kepikiran menambah taman kupu-kupu? Anak-anak pasti suka.""Itu ... ide yang brilian." Aku meraih buku sketsaku, imajinasi langsung bekerja. "Kita bisa bikin area khusus dekat taman sensorik, pakai tanaman lokal untuk menarik spesies setempat.""Dan aku sudah ngobrol deng

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 46 Tak Ada Kata yang Lebih Tepat

    Sudut Pandang Mia:Koridor rumah sakit sudah terasa akrab selama empat hari terakhir. Setiap pagi, aku datang tepat saat matahari mulai terbit dengan warna keemasan dan merah muda. Para perawat sif pagi kini mengenalku namaku, menyapaku dengan senyum lembut saat aku melangkah menuju kamar ibuku.Hari ini pun tak berbeda. Emma, si kepala perawat, mendongak dari mejanya dengan senyum hangat. "Selamat pagi, Bu Mia. Ibumu melewati malam dengan tenang.""Ada perubahan?" tanyaku, pertanyaan yang kini terasa otomatis, seperti bernapas."Semua indikatornya stabil." Senyum Emma sedikit melebar. "Dokter Nanda juga baru saja masuk untuk memeriksanya."Aku menemukan Nanda berdiri di samping ranjang ibuku, menatap grafik medis dengan konsentrasi penuh. Lingkar hitam membayangi matanya dan penampilannya yang biasanya rapi menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Lengan kemejanya digulung asal, kerahnya sedikit miring."Nanda?"Dia menoleh, wajah profesionalnya melunak menjadi senyum tulus. "Mia. Aku meman

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 45 Keluar

    Sudut Pandang Mia:Kesadaranku perlahan kembali, seperti berenang naik dari air yang sangat dalam. Hal pertama yang kudengar adalah bunyi bip monitor yang stabil. Baru kusadari, itu bukan milikku, melainkan dari ranjang di sebelahku."Apa yang terjadi?" tanyaku, suaraku serak karena baru bangun.Seorang perawat muncul di sisiku sambil mengatur sesuatu di monitor. "Kamu pingsan, Sayang. Stres dan kelelahan."Aku menegakkan tubuh dengan hati-hati, kepalaku sedikit berputar. "Berapa lama aku nggak sadar?""Hanya beberapa jam." Dia membantu merapikan bantal. "Dokter Nanda bilang ini murni karena kelelahan. Kapan terakhir kali kamu makan?"Aku mencoba mengingat, tetapi kosong. Perawat itu mendecak pelan, tidak setuju."Ya, itu dugaanku. Kamu harus istirahat dan makan sampai kenyang." Gerakannya cekatan saat memeriksa tanda vitalku. "Oh ya, kondisi ibumu sangat baik. Operasinya berhasil sepenuhnya."Mendengarnya menyebut ibuku, aku langsung menoleh ke ranjang di sebelah. Dia terbaring tenang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status