LOGINLelaki itu masih tertawa rendah. “Belum. Kamu hanya belum mengingatku, Aira… dan aku akan membuat kamu mengingatku,” ucapnya sambil mengerling nakal. Tatapannya turun ke dua gundukan milik Aira yang menantang, lebih besar daripada yang ada di video itu, membuatnya meneguk salivanya, hasratnya jelas bangkit.Seketika tubuh Aira menegang. Rasa takut menusuk sampai ke tulang membuat tubuhnya bergetar hebat, seolah dirinya terlempar keluar dari dunia nyata.Ini mimpi? Kalau ini mimpi, tolong bangunkan Aira karena dia tidak sanggup.Namun ketika lelaki itu mengangkat wajahnya dan meremas pahanya, Aira tersadar sepenuhnya. Ya, ini nyata. Dia benar-benar terperangkap dengan lelaki gila ini, hanya berdua di ruangan yang bahkan terasa seperti neraka.“Jadi kamu sekongkol dengan Mitha menjebakku? Kamu tidak akan mendapatkan apa pun dariku! Aku akan melaporkanmu ke polisi!” seru Aira, berusaha mengumpulkan sisa keberaniannya.“Kamu berani?” Lelaki itu terkekeh sinis. “Coba saja. Aku akan seb
"Jangan macam-macam, suamiku akan membunuhmu sedikit saja kamu menyentuh tubuhku!" kata Aira masih terisak. Tubuhnya yang sudah mentok di sisi ranjang membuatnya tak bisa kabur ke mana pun."Benarkah suamimu akan menolongmu? Tapi bagaimana kalau Gavin tahu bahwa yang di dalam video itu adalah kamu?" Lelaki itu mendekat dengan senyum miring. "Pasti sangat menarik… karena bisa saja dia akan membuangmu, atau mungkin membunuhmu."Sekejap Aira membeku. Wajahnya mempias, seakan seluruh darahnya menghilang. Ancaman itu menusuk tepat ke jantungnya.Benar. Siapa pun kebenaran yang berada dalam video itu, Gavin pasti akan hancur. Entah itu Lyra… ataupun dirinya, Aira.Gavin yang sudah jatuh hati, yang selama ini mati-matian membuka diri, melindungi, memberi tempat untuknya di hidupnya, akan murka dan pastinya aAkan terluka.Kalaupun Lyra yang ada dalam video itu… bagaimana jadinya Gavin? Pria itu pasti kecewa setengah mati. Selama ini Gavin mencintai Lyra membabi-buta, memperlakukannya bak ra
Air mata yang tadi sudah bisa ia kendalikan kini kembali mengalir. Aira tidak peduli make up-nya akan luntur, saat ini dia sangat takut sambil berharap Gavin akan menolongnya.“Kamu bertanya siapa aku?” tanya lelaki itu, mengulangi pertanyaan Aira.Suara berat itu terdengar asing. Aira tidak tahu siapa orang di balik topeng itu. Tapi dia tahu di tangan lelaki bertopeng itu sedang menggenggam sebuah pisau kecil.Lelaki itu mendekat, dan Aira beringsut semakin menjauh. Tubuhnya terasa tidak bernyawa.Apa Mithq sengaja menjebaknya dengan memasukkan seorang lelaki ke dalam sini untuk melukainya?Lelaki itu berdiri tepat di hadapan Aira dan hendak menyentuhnya. Aira langsung mendorong lelaki itu, tapi sialnya tubuh lelaki itu sangat kuat hingga dirinya lah yang jatuh menghantam lantai keras.Seketika perutnya terasa nyeri.“Apa maumu dan siapa kamu!?” teriak Aira ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat, wajahnya mempias penuh ketakutan.Lelaki itu berjongkok kemudian mencengkram pipi Aira kuat-
"Jangan mengarang agar aku salah paham dengan Gavin. Aku tahu kamu punya perasaan padanya. Mungkin saja kamu hanya mengarang agar aku bertengkar dengan Gavin," kata Aira yang sudah tak mampu mengontrol dirinya.Mitha memutar matanya jengah, seakan sangat muak pada Aira. Wanita itu melangkah lebih dalam ke kamar hotel, berdiri tepat di depan ranjang, lalu membuka koper kecilnya untuk mengambil sebuah mini dress hitam dengan lengan bahu transparan, cukup elegan."Aku tidak mengarang. Untuk apa aku melakukannya? Asal kamu tahu, buktinya ada di depan mata, Gavin tertarik padaku, denganku dan menceritakan apa pun padaku ketimbang padamu," kata Mitha, membuat hati Aira terasa makin sesak.Benar. Gavin tidak pernah bercerita apa pun padanya.Dada Aira naik turun, berusaha menahan sakit yang menusuk dadanya."Ini baju bekasku. Pakai. Bersyukurlah aku masih baik padamu," ujar Mitha, seakan menunjukkan bahwa Aira hanyalah wanita rendah dan tidak pantas berada di sisi Gavin.Aira tidak menerim
Aira tahu betul siapa Mitha. Wanita itu jelas memiliki perasaan pada suaminya dan lebih dari itu, terang-terangan ingin merebutnya.“Aku tidak akan bersikap pura-pura baik padamu, karena kamu sudah tahu aku seperti apa,” ucap Mitha datar tanpa basa-basi. Wajah cantiknya menatap Aira dingin, nyaris tanpa emosi.Wanita yang mengenakan gaun hitam panjang dengan renda di bagian lengan itu mengambil kunci kamar, memutar knop pintu, lalu masuk begitu saja. Aira masih mematung di depan pintu, terpaku setelah mendengar kalimat barusan.Mitha berbalik, menatap Aira dengan sorot tak suka saat Aira tak kunjung melangkah masuk.“Kenapa masih berdiri di sana? Jangan berpura-pura terkejut. Aku tahu kamu melihat kami melakukan hal itu di ruangan Gavin,” katanya sinis. Membanggakan diri. “Jadi aku tidak perlu bersandiwara seolah-olah kamu adalah Nyonya Gavin, padahal nyatanya kamu hanya pajangan sebagai istri. Sebentar lah Gavin milikku.”Nada suaranya ketus, tak tahu malu. “Cepat masuk! Aku tidak s
“Sepertinya Tuan Obi juga lupa memberi tahumu,” ujar Mitha cepat, menyadari raut Gavin yang mulai mengeras. Ia sengaja melempar kesalahan pada Obi. Mitha tidak ingin Gavin marah padanya, terlebih setelah lelaki itu mau membuka diri, meski hanya sebagai teman.“Sudahlah. Ayo kita pulang….” kata Gavin dingin sambil menarik tangan Aira, berniat keluar dari acara.Amarahnya bukan tanpa alasan. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, semua tamu mengenakan pakaian hitam, bahkan para pelayan pun seragam dalam warna yang sama. Hanya para penghibur yang mengenakan warna lain. Dan hanya Aira… yang berdiri mencolok dengan gaun berbeda.Seolah-olah hanya dia yang tak diberi tahu.Namun tangan Mitha sigap menahan lengan Gavin.“Obi sebentar lagi akan memberi sambutan. Dia akan mengucapkan terima kasih padamu dan memintamu menemaninya menyambut para kolega,” ujar Mitha cepat namun lembut. “Apa kamu ingin membuat dia kecewa karena kamu tidak ada? Lagipula ini kesempatan besar buatmu, mencari koleg







