Home / Romansa / Istri yang Terabaikan / Pengusiran Secara Halus

Share

Pengusiran Secara Halus

Author: Alverna
last update Huling Na-update: 2025-11-10 20:20:20

Jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan. Eyang Mandala dan ketiga istrinya sudah duduk di meja makan.

Lelaki tua yang karismatik itu menyuruh Mbok Inah memanggil Gavin, Aira, dan Elvand, hal yang sangat jarang ia lakukan.

Ketiga istrinya, Mia, Indah, dan Lia, langsung saling pandang.

Kegelisahan tampak jelas dari cara mereka duduk. Mia bahkan terlihat pucat karena takut sesuatu terjadi pada Elvand, apalagi setelah kejadian semalam ia yang membawa Aira.

Mereka takut Mandala benar-benar akan mengusir anak dan cucunya demi menjaga nama baik keluarga.

Tak lama kemudian, Gavin turun dari kamarnya. Pakaian kerja rapi, sepatu mengkilat, rambut klimis disisir ke belakang. Namun matanya merah, wajahnya lelah.

Ia menarik napas panjang. Apa pun yang terjadi, terjadilah.

Ia tahu ia tidak bisa menahan mulut Aira atau Elvand. Apa pun yang mereka katakan bisa menjadi bom waktu untuk dirinya.

“Pagi semua,” ucap Gavin.

Neneknya, Sarah, langsung menarik kursi dan duduk di sampingnya. Wajah wani
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Istri yang Terabaikan   Lelaki Bertopeng

    "Jangan mengarang agar aku salah paham dengan Gavin. Aku tahu kamu punya perasaan padanya. Mungkin saja kamu hanya mengarang agar aku bertengkar dengan Gavin," kata Aira yang sudah tak mampu mengontrol dirinya.Mitha memutar matanya jengah, seakan sangat muak pada Aira. Wanita itu melangkah lebih dalam ke kamar hotel, berdiri tepat di depan ranjang, lalu membuka koper kecilnya untuk mengambil sebuah mini dress hitam dengan lengan bahu transparan, cukup elegan."Aku tidak mengarang. Untuk apa aku melakukannya? Asal kamu tahu, buktinya ada di depan mata, Gavin tertarik padaku, denganku dan menceritakan apa pun padaku ketimbang padamu," kata Mitha, membuat hati Aira terasa makin sesak.Benar. Gavin tidak pernah bercerita apa pun padanya.Dada Aira naik turun, berusaha menahan sakit yang menusuk dadanya."Ini baju bekasku. Pakai. Bersyukurlah aku masih baik padamu," ujar Mitha, seakan menunjukkan bahwa Aira hanyalah wanita rendah dan tidak pantas berada di sisi Gavin.Aira tidak menerim

  • Istri yang Terabaikan   Hanya Pajangan

    Aira tahu betul siapa Mitha. Wanita itu jelas memiliki perasaan pada suaminya dan lebih dari itu, terang-terangan ingin merebutnya.“Aku tidak akan bersikap pura-pura baik padamu, karena kamu sudah tahu aku seperti apa,” ucap Mitha datar tanpa basa-basi. Wajah cantiknya menatap Aira dingin, nyaris tanpa emosi.Wanita yang mengenakan gaun hitam panjang dengan renda di bagian lengan itu mengambil kunci kamar, memutar knop pintu, lalu masuk begitu saja. Aira masih mematung di depan pintu, terpaku setelah mendengar kalimat barusan.Mitha berbalik, menatap Aira dengan sorot tak suka saat Aira tak kunjung melangkah masuk.“Kenapa masih berdiri di sana? Jangan berpura-pura terkejut. Aku tahu kamu melihat kami melakukan hal itu di ruangan Gavin,” katanya sinis. Membanggakan diri. “Jadi aku tidak perlu bersandiwara seolah-olah kamu adalah Nyonya Gavin, padahal nyatanya kamu hanya pajangan sebagai istri. Sebentar lah Gavin milikku.”Nada suaranya ketus, tak tahu malu. “Cepat masuk! Aku tidak s

  • Istri yang Terabaikan   Jebakan

    “Sepertinya Tuan Obi juga lupa memberi tahumu,” ujar Mitha cepat, menyadari raut Gavin yang mulai mengeras. Ia sengaja melempar kesalahan pada Obi. Mitha tidak ingin Gavin marah padanya, terlebih setelah lelaki itu mau membuka diri, meski hanya sebagai teman.“Sudahlah. Ayo kita pulang….” kata Gavin dingin sambil menarik tangan Aira, berniat keluar dari acara.Amarahnya bukan tanpa alasan. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, semua tamu mengenakan pakaian hitam, bahkan para pelayan pun seragam dalam warna yang sama. Hanya para penghibur yang mengenakan warna lain. Dan hanya Aira… yang berdiri mencolok dengan gaun berbeda.Seolah-olah hanya dia yang tak diberi tahu.Namun tangan Mitha sigap menahan lengan Gavin.“Obi sebentar lagi akan memberi sambutan. Dia akan mengucapkan terima kasih padamu dan memintamu menemaninya menyambut para kolega,” ujar Mitha cepat namun lembut. “Apa kamu ingin membuat dia kecewa karena kamu tidak ada? Lagipula ini kesempatan besar buatmu, mencari koleg

  • Istri yang Terabaikan   Pesta

    “Kamu terlihat sangat cantik,” puji Gavin saat melihat sang istri baru saja keluar dari salon.Salon itu milik teman Lyra, sebab itu Gavin bisa datang kapan saja meski jam operasional sudah tutup. Rambut Aira dikepang membentuk gulungan rapi, dihiasi beberapa aksesoris putih yang menempel anggun di sela-selanya. Poni yang kini terbelah membuat wajahnya terlihat lebih segar, lebih hidup.Gaun merah yang kemarin mereka beli semakin membuat Aira terlihat bersinar. Gavin yakin, tak ada satu pun wanita di sana yang bisa menandingi kecantikan istrinya malam ini.Sementara itu, Gavin tampak gagah dalam balutan jas hitam yang melekat sempurna di tubuhnya, serasi berdiri di samping Aira.Aira terlihat berbeda. Aura kecantikannya benar-benar keluar, padahal hanya dengan riasan tipis. Wajahnya bersih, lembut, namun memikat.“Apa aku mirip dengan Lyra?” tanya Aira sambil tersenyum lebar. “Aku seperti melihat dia di diriku sendiri.”Mata Aira yang berbinar membuat Gavin kembali jatuh cinta, entah

  • Istri yang Terabaikan   Luluhnya Berhati Batu

    Gavin memicingkan matanya lalu terkekeh pelan saat menyadari bahwa benar, mata Eyang Mandala telah berkaca-kaca. Mungkin terharu karena sebentar lagi akan memiliki cicit. Gavin masih sulit percaya, Eyangnya yang keras kepala, berhati dingin, dan dikenal kejam itu bisa terharu hanya karena melihat gambar janin di layar ponsel.“Eyang menangis?”Alih-alih mendapat jawaban, Gavin justru sengaja mengejek.“Tidak! Mata saya hanya perih karena cahaya ponselmu terlalu terang,” sanggah Eyang Mandala ketus. Namun gerakan tangannya yang mengusap mata justru membuat Gavin tertawa semakin lebar.“Bilang saja Eyang cengeng. Astaga… aku tidak pernah menyangka Eyang bisa menangis hanya karena melihat gambar janin yang bahkan belum benar-benar berbentuk. Apa dulu Eyang juga menangis setiap kali para Nenek hamil?” tanya Gavin, masih dengan nada mengejek.“Diam kamu!” bentak Eyang Mandala. “Sudah saya bilang saya tidak menangis. Lagipula… kamu tahu sendiri anakmu itu akan menjadi penerus keluarga ini.

  • Istri yang Terabaikan   Menguji Kesabaran

    “Benarkah aku jadi lebih berisi?” tanya Aira sambil mengamati tubuhnya sendiri.“Padahal berat badanku masih turun,” gumamnya pelan. Seperti biasa, Aira sangat nyaman bercerita dengan Elvand. Dua kali sebelumnya, lelaki itu yang menemani Aira cek kandungan dan selalu memberi semangat, terutama saat berat badannya terus turun karena sulit makan.“Iya. Kayaknya dedeknya udah makin besar di sana. Sayang banget bulan ini aku nggak ikut lihat kamu cek kandungan. Padahal pengen banget nyapa dedek bayinya,” kata Elvand sambil menunjuk perut Aira.Gavin yang mendengar itu langsung melotot. “Mulai sekarang gue yang nemenin istri gue. Orang yang nggak berkepentingan nggak usah sok peduli,” katanya ketus.“Dih… Aira, dia kenapa sih? Obatnya habis? Kemarin ke mana? Bukannya nggak peduli dan masa bodoh, lah… sekarang sok perhatian,” Elvand mendecak. “Ini orang beneran kesambet setan, ya? Atau emang udah gila?” lanjutnya, nada suaranya jelas mengejek.Elvand cukup terkejut melihat perubahan Gavin

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status