LOGIN"Hati-hati, Alex..." Suara Naira nyaris tercekik, terpecah di antara deru napas yang memburu saat Alex bergerak di atasnya.Mungkin ini adalah euforia. Kabar mengenai hasil pemeriksaan yang negative, sebuah kelegaan yang luar biasa, bercampur dengan hasrat yang tertahan sejak semalam, membuat Alex seolah kehilangan kendali diri.Ayah satu anak itu sejenak lupa bahwa di dalam rahim istrinya, sebuah kehidupan baru yang rapuh sedang kembali bersemi.Awalnya, sentuhan Alex terasa seperti belaian angin pagi; ragu, lembut, dan penuh pemujaan. Namun, ketika mereka hampir menyentuh ambang puncak, ritme itu berubah.Alex bergerak dengan intensitas yang mendesak, seolah sedang mengejar sesuatu yang hampir luput dari genggamannya, membuat Naira kewalahan namun sekaligus terhanyut.Hingga akhirnya, mereka jatuh bersama dalam ledakan kenikmatan yang sunyi.Lampu temaram di sudut kamar hotel menyisakan rona jingga yang lembut, menyelimuti sisa-sisa keintiman yang baru saja usai.Udara masih terasa
Langkah kaki Alex dan Naira bergema seirama di koridor rumah sakit yang dingin. Jemari mereka saling mengunci, begitu erat hingga buku-buku jari memutih. Bagi Alex, genggaman itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut; seolah jika terlepas satu inci saja, dunia yang baru saja ia tata akan runtuh untuk kedua kalinya. Dokter spesialis yang kemarin mengambil sampel darah Alex mendongak, lalu tersenyum tipis saat melihat mereka ambang pintu. Sebuah senyum yang sulit diterjemahkan maknanya. “Silakan duduk.” Alex mendaratkan tubuhnya di kursi, sementara Naira tetap merapat di sampingnya, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya lewat sentuhan tangan yang tak kunjung lepas. Di atas meja, sebuah map cokelat tampak begitu mengintimidasi. Sang dokter membukanya perlahan, mengeluarkan selembar kertas yang aromanya seperti bau obat dan kecemasan. Dokter itu menatap Alex, lalu senyumnya melebar, kali ini lebih tulus. “Hasil pemeriksaan awal Anda... negati
"Seberapa besar kemungkinan kamu... tertular?"Suara Naira bergetar. Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan mencekam. Di hadapannya, Alex terpaku.Mata Alex yang biasa memancarkan ketegasan kini meredup, kehilangan binar yang biasanya selalu menenangkan Naira."Aku tidak berani mengira-ngira, Nai." Alex menjawab lirih.Ada nada kepasrahan yang menyakitkan. Dia tidak ingin memberi harapan palsu, namun kejujuran ini terasa seperti belati yang dihunus ke jantung istrinya.Naira merasakan badai berkecamuk di benaknya. Marah, cemburu, dan rasa takut yang melumpuhkan berpilin menjadi satu.Tentang masa lalu Alex yang hidup bersama perempuan lain tanpa ikatan, Naira sudah mencoba berdamai.Mita bisa paham latar belakang budaya mereka berbeda. Lagi pula, ia sendiri tidak datang ke pernikahan ini dengan lembaran yang sepenuhnya putih.Namun, pengakuan Alex barusan mengubah segalanya.Naira mengusap perutnya yang mulai membuncit. Di sana, ada kehidupan yang sedang bertumbuh, bayi kembar m
Ujung jari Alex baru saja menyentuh dinginnya gagang pintu logam itu ketika suara datar sang dokter menahannya."Satu hal lagi, Pak Alex."Alex mematung. Punggungnya menegang, seolah setiap saraf di tubuhnya sedang bersiap menerima hantaman badai. Ia tidak berbalik, namun ia bisa merasakan tatapan tajam dokter itu menembus jas mahal yang ia kenakan."Kepanikan tidak akan mengubah angka di hasil laboratorium itu. Tetaplah tenang. Untuk keluarga yang Anda cintai, dan untuk diri Anda sendiri."Alex menoleh sedikit, hanya cukup untuk memperlihatkan profil wajahnya yang keras. Sebuah senyum tipis tersungging di sudut bibirnya, getir, hambar, dan sarat akan keputusasaan.Itu bukan senyum seorang pemenang, melainkan senyum seorang pria yang sadar bahwa ia sedang berdiri di tepi jurang, bertaruh habis-habisan dengan takdir yang tak pernah berpihak padanya."Saya tidak panik, Dok," bisik Alex. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri yang terasa berat. "Saya hanya takut."A
Theo, yang sejak tadi menyimak dari sudut ruangan, akhirnya angkat bicara. “Saya tetap di sini.”Alex menoleh, alisnya bertaut sedikit. “Ya.”Theo mengangguk mantap.“Archie dan Naira tidak perlu beradaptasi dengan wajah-wajah baru dalam situasi genting ini. Anak buahmu sudah hafal setiap sudut rumah, rute perjalanan, hingga kebiasaan terkecil mereka. Keamanan domestik adalah prioritas.”Selo Ardi menambahkan, “Itu pilihan paling logis. Fokus Anda tidak boleh terbagi antara lapangan dan rumah.”Alex terdiam sejenak.“Theo, kau pegang kendali penuh di sini. Tidak ada kompromi, tidak ada celah. Mengerti?”Theo menepuk dadanya singkat, sebuah gestur loyalitas tanpa syarat. “Mengerti.”Alex beralih pada Revan dan Selo. “Kalian berangkat sekarang.”Revan menyambar kunci mobil di atas meja. “Jika Peter melawan?”Alex menatap Revan lurus-lurus, ada kilatan gelap di matanya yang dalam. “Dia sudah lama melawan, Revan. Akhiri saja.”Jawaban itu sudah lebih dari cukup. Tanpa kata lagi, Selo Ardi
Alex terdiam. Kali ini, ketenangannya bukan topeng yang ia pasang dengan sengaja. Ada sesuatu yang runtuh pelan di dadanya.“HIV,” ulang Alex lirih.Satu kata itu menggantung di udara, dingin dan mematikan.Seketika, bayangan Naira melintas tanpa permisi. Ia teringat senyum istrinya pagi tadi. Tangannya yang melingkar di lehernya. Perut yang baru mulai menyimpan kehidupan.Belum lagi suara cempreng Archie yang meneriakkan "Dadda!" dan "Dede!" dengan binar mata yang membuat Alex merasa menjadi pria paling dibutuhkan di seluruh dunia.Alex menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti padang pasir yang tandus.“Sejak... kapan?” tanyanya akhirnya. Suaranya pecah, sebuah getaran ketakutan yang gagal ia sembunyikan di balik wibawanya.Revan menghela napas panjang, beban di pundaknya tampak semakin nyata.“Waktu di Bali, statusnya masih reaktif. Dokter belum berani memberi vonis final. Tapi dua kali pemeriksaan mendalam setelah itu...”Revan menjeda, menatap Alex dengan tatapan iba yang meny







