MasukAditya membeku saat menyadari satu hal yang paling ia takuti telah terjadi, Naira tahu segalanya. Bukan hanya soal perselingkuhannya, tapi juga kehamilan Kirana.
Rasa bersalah menyusupi hati Aditya. Malu, getir, dan penyesalan menggerogoti batinnya. Bagaimana bisa ia, yang dulu begitu mencintai Naira, berubah menjadi lelaki sekeji ini? Bagaimana bisa ia melukai perempuan yang selama ini selalu mendampingi dan mendukungnya? Di tengah kehancuran yang tergambar jelas di wajah Naira, semua kenikmatan tadi malam terasa begitu memuakkan. Ia ingin menyentuh bahu istrinya, ingin memohon maaf, tapi lidahnya kelu, hatinya pun beku. "Aku ingin pulang," bisik Naira lirih, nyaris tak terdengar, meski parau tapi tetap tegas. Tatap matanya nanar menembus jendela rumah sakit. "Aku tidak sanggup lagi tinggal di sini." Naira tak ingin melihat wajah Aditya, tidak ingin mendengar suaranya, tidak ingin berada di kota yang telah merenggut segalanya dari hidupnya. Setiap napas yang ia hirup di sini terasa menyesakkan, penuh aroma pengkhianatan dan trauma yang mendalam. Aditya tersentak. “Tapi, Nai… kamu belum pulih. Dokter bilang kamu masih butuh istirahat.” Naira menoleh perlahan, tatap matanya penuh kehampaan. “Aku mau istirahat di rumah.” “Lebih baik di sini dulu, sampai…” “Sampai aku benar-benar hancur?” potong Naira sambil menatap Aditya dengan penuh luka. Aditya menggeleng samar, nyaris tak terlihat. “Kita bisa perbaiki semuanya…” “Apa yang mau diperbaiki?” tanya Naira, kali ini tanpa menatapnya. Aditya ingin mengatakan ‘kita bisa bicara, kita bisa cari jalan keluar’, tapi semua kata terasa hambar tanpa makna. Bagaimana mungkin ia meminta Naira bertahan, di tempat yang telah mencabik-cabik kehidupannya? “Aku hanya ingin pulang. Sekarang.” Suara Naira tajam, tak menyisakan ruang untuk penolakan. Aditya mematung melihat sorot putus asa yang dalam di mata Naira, keinginan untuk lari, menjauh dari segalanya. Dan ia tahu, menahan Naira hanya akan membuat luka itu semakin dalam. Akhirnya dengan berat hati, Aditya mengangguk. Jika itu bisa sedikit meringankan luka istrinya, maka ia rela melakukan apa pun itu. *** Harapan untuk mendapat sedikit ketenangan pupus sudah. Perjalanan pulang berubah menjadi mimpi buruk yang panjang. Dengan alasan ingin membantu merawat Naira yang baru keluar dari rumah sakit, Kirana ikut pulang bersama mereka. Mobil melaju membelah kota, tapi di dalamnya keheningan begitu menusuk. Naira duduk di belakang, wajahnya menempel pada kaca jendela. Pandangannya kosong, mengikuti bayangan kota yang berlalu. Setiap kilometer yang terlewati justru terasa semakin mendekatkan pada kehancuran. Sesekali Aditya meliriknya lewat kaca spion. Wajahnya penuh penyesalan, tapi Naira tak peduli. Di kursi depan, Kirana duduk dengan tenang, sesekali menoleh ke belakang dan menyunggingkan senyum tipis, senyum yang bagi Naira lebih menyakitkan dari tamparan. Kehadiran Kirana seperti duri yang tertancap dalam. Wanita itu, dengan perut yang mulai membuncit, ingin menunjukkan kepeduliannya. "Kau butuh sesuatu, Nai?" tanya Kirana pelan. Naira diam, tak menoleh sama sekali, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak ada energi untuk menjawab. Setiap kata yang terlontar dari mulut Kirana terdengar seperti ejekan. Setiap gesturnya seolah ingin menunjukkan dialah sang pemenang. Bagi Naira, Kirana telah menghancurkan hidupnya, tapi sekarang, dia bersikap seolah peduli. Membuat amarah di dada Naira bergemuruh, tapi dia tidak tahu bagaimana melampiaskannya. Setibanya di rumah keluarga Pramudito, sambutan yang seharusnya hangat yang diterima sama sekali tidak mampu menenangkan hati Naira, dadanya terasa semakin sesak. Retno Kinasih, ibu mertuanya langsung memeluknya erat dengan air mata membanjiri pipinya. “Naira, syukurlah kamu selamat. Ibu khawatir saat mendengar kabar kamu kesrempet mobil.” Retno membimbing langkah Naira menuju ke kamar agar bisa segera istirahat. Keluarga yang lain ikut datang, menatap iba, mengucapkan simpati melihat keadaan Naira. Sepengetahuan mereka, Naira pamit untuk mengunjungi suami yang telah terpisah selama enam bulan, karena harus mengurus proyek di luar kota, tapi justru mengalami kecelakaan. “Bagaimana sih, Dit, sampai Naira kesrempet mobil?” tanya Retno dengan tatap mata penuh kekecewaan. “Menjaga istri sehari saja tidak bisa.” “Maaf, Bu. Kejadiannya begitu cepat, saat itu saya masih sibuk.” Aditya menunduk tidak memiliki keberanian mengungkap kebenaran yang terjadi. Terdengar suara bersahutan yang menghakimi Aditya yang dianggap gagal melindunginya. Naira hanya tersenyum tipis. Setiap ucapan simpati terdengar seperti ironi, karena saat ini dia hanya ingin sendiri. Aditya tidak lagi mengeluarkan suara. Tidak membuka satu pun fakta tentang pelecehan yang dialami Naira. Bagitu juga perselingkuhannya dengan Kirana. Sementara itu, Kirana berdiri agak jauh, menatap dengan sorot mata yang sulit dijelaskan, antara cemburu dan tersingkir. Saat ini dia sedang mengandung keturunan Pramudito, kini menjadi bayangan yang sama sekali tak dianggap. Hanya seorag ART yang menghampirinya menunjukkan kamar tamu, untuk tempatnya beristirahat setelah perjalanan jauh. Malam datang, rumah bergaya arsitektur Jawa itu perlahan sepi. Sanak saudara telah pulang. Kini hanya tinggal Naira dan Aditya di kamar itu. Suami istri yang dulu saling mencintai, kini terpisah oleh keheningan yang pekat. Naira duduk di tepi ranjang, membelakangi Aditya. Menatap langit malam yang kelam di luar jendela. Naira merasa sudah tidak sanggung lagi menyimpan semua luka. Kini, di tengah sunyi yang menggantung, ia merasa ini sudah waktunya. “Aku ingin cerai, Mas.”Langkah kaki Alex dan Naira bergema seirama di koridor rumah sakit yang dingin. Jemari mereka saling mengunci, begitu erat hingga buku-buku jari memutih. Bagi Alex, genggaman itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut; seolah jika terlepas satu inci saja, dunia yang baru saja ia tata akan runtuh untuk kedua kalinya. Dokter spesialis yang kemarin mengambil sampel darah Alex mendongak, lalu tersenyum tipis saat melihat mereka ambang pintu. Sebuah senyum yang sulit diterjemahkan maknanya. “Silakan duduk.” Alex mendaratkan tubuhnya di kursi, sementara Naira tetap merapat di sampingnya, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya lewat sentuhan tangan yang tak kunjung lepas. Di atas meja, sebuah map cokelat tampak begitu mengintimidasi. Sang dokter membukanya perlahan, mengeluarkan selembar kertas yang aromanya seperti bau obat dan kecemasan. Dokter itu menatap Alex, lalu senyumnya melebar, kali ini lebih tulus. “Hasil pemeriksaan awal Anda... negati
"Seberapa besar kemungkinan kamu... tertular?"Suara Naira bergetar. Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan mencekam. Di hadapannya, Alex terpaku.Mata Alex yang biasa memancarkan ketegasan kini meredup, kehilangan binar yang biasanya selalu menenangkan Naira."Aku tidak berani mengira-ngira, Nai." Alex menjawab lirih.Ada nada kepasrahan yang menyakitkan. Dia tidak ingin memberi harapan palsu, namun kejujuran ini terasa seperti belati yang dihunus ke jantung istrinya.Naira merasakan badai berkecamuk di benaknya. Marah, cemburu, dan rasa takut yang melumpuhkan berpilin menjadi satu.Tentang masa lalu Alex yang hidup bersama perempuan lain tanpa ikatan, Naira sudah mencoba berdamai.Mita bisa paham latar belakang budaya mereka berbeda. Lagi pula, ia sendiri tidak datang ke pernikahan ini dengan lembaran yang sepenuhnya putih.Namun, pengakuan Alex barusan mengubah segalanya.Naira mengusap perutnya yang mulai membuncit. Di sana, ada kehidupan yang sedang bertumbuh, bayi kembar m
Ujung jari Alex baru saja menyentuh dinginnya gagang pintu logam itu ketika suara datar sang dokter menahannya."Satu hal lagi, Pak Alex."Alex mematung. Punggungnya menegang, seolah setiap saraf di tubuhnya sedang bersiap menerima hantaman badai. Ia tidak berbalik, namun ia bisa merasakan tatapan tajam dokter itu menembus jas mahal yang ia kenakan."Kepanikan tidak akan mengubah angka di hasil laboratorium itu. Tetaplah tenang. Untuk keluarga yang Anda cintai, dan untuk diri Anda sendiri."Alex menoleh sedikit, hanya cukup untuk memperlihatkan profil wajahnya yang keras. Sebuah senyum tipis tersungging di sudut bibirnya, getir, hambar, dan sarat akan keputusasaan.Itu bukan senyum seorang pemenang, melainkan senyum seorang pria yang sadar bahwa ia sedang berdiri di tepi jurang, bertaruh habis-habisan dengan takdir yang tak pernah berpihak padanya."Saya tidak panik, Dok," bisik Alex. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri yang terasa berat. "Saya hanya takut."A
Theo, yang sejak tadi menyimak dari sudut ruangan, akhirnya angkat bicara. “Saya tetap di sini.”Alex menoleh, alisnya bertaut sedikit. “Ya.”Theo mengangguk mantap.“Archie dan Naira tidak perlu beradaptasi dengan wajah-wajah baru dalam situasi genting ini. Anak buahmu sudah hafal setiap sudut rumah, rute perjalanan, hingga kebiasaan terkecil mereka. Keamanan domestik adalah prioritas.”Selo Ardi menambahkan, “Itu pilihan paling logis. Fokus Anda tidak boleh terbagi antara lapangan dan rumah.”Alex terdiam sejenak.“Theo, kau pegang kendali penuh di sini. Tidak ada kompromi, tidak ada celah. Mengerti?”Theo menepuk dadanya singkat, sebuah gestur loyalitas tanpa syarat. “Mengerti.”Alex beralih pada Revan dan Selo. “Kalian berangkat sekarang.”Revan menyambar kunci mobil di atas meja. “Jika Peter melawan?”Alex menatap Revan lurus-lurus, ada kilatan gelap di matanya yang dalam. “Dia sudah lama melawan, Revan. Akhiri saja.”Jawaban itu sudah lebih dari cukup. Tanpa kata lagi, Selo Ardi
Alex terdiam. Kali ini, ketenangannya bukan topeng yang ia pasang dengan sengaja. Ada sesuatu yang runtuh pelan di dadanya.“HIV,” ulang Alex lirih.Satu kata itu menggantung di udara, dingin dan mematikan.Seketika, bayangan Naira melintas tanpa permisi. Ia teringat senyum istrinya pagi tadi. Tangannya yang melingkar di lehernya. Perut yang baru mulai menyimpan kehidupan.Belum lagi suara cempreng Archie yang meneriakkan "Dadda!" dan "Dede!" dengan binar mata yang membuat Alex merasa menjadi pria paling dibutuhkan di seluruh dunia.Alex menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti padang pasir yang tandus.“Sejak... kapan?” tanyanya akhirnya. Suaranya pecah, sebuah getaran ketakutan yang gagal ia sembunyikan di balik wibawanya.Revan menghela napas panjang, beban di pundaknya tampak semakin nyata.“Waktu di Bali, statusnya masih reaktif. Dokter belum berani memberi vonis final. Tapi dua kali pemeriksaan mendalam setelah itu...”Revan menjeda, menatap Alex dengan tatapan iba yang meny
Revan benci saat dia harus kembali ke apartemen tempat dia menyembunyikan Regina selama ini. Entah apa tujuan Alex mengajak mereka bertemu di tempat ini.Bagi Revan yang sudah keluar masuk apartemen ini merasa kedatangannya disambut dengan kesunyian yang mencekik. Bukan jenis sunyi yang menenangkan, melainkan kesunyian predator, kosong, dingin, dan penuh ancaman.Revan melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup dengan dentum halus yang menggema di lorong yang hampa.Sepatu pantofelnya berhenti tepat di tengah ruang tamu. Ia mematung. Udara di sana terasa berat dan pengap, namun ada satu aroma yang menusuk indranya hingga ke ulu hati. Aroma white musk dan peony. Bau parfum Regina.Aroma itu masih tertinggal di sana, tipis, mewah, dan menyiksa karena pemiliknya tidak ada di depan mata.Ingatan kebersamaan dengan Regina menyerang Revan, bukan karena cinta atau rindu, tapi khawatir mengingat saat ini Regina memasuki kendang srigala sendiri.Kembali Revan membuka kertas yang ditinggalkan o







