Beranda / Romansa / Istriku, Jangan Lari Dariku / Bab 6 Tidak Bisa Menahan Godaan

Share

Bab 6 Tidak Bisa Menahan Godaan

Penulis: Fachra. L
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-20 22:46:08

Ketika waktu makan malam tiba, Emilia memanggil Esme untuk turun ke bawah. Dia sudah membuat sup tonik untuk kesehatan Esme dan itu masih mengepulkan asap. Aroma harumnya membuat Esme tidak tahan untuk menyisakan.

Setelah makan dua mangkuk penuh, dia berkeringat dan pergi ke kamar untuk mandi.

Berendam dalam air hangat, pikiran Esme melayang ke kehidupan sebelumnya.

Sejak ditinggalkan di istana, dia tidak pernah lagi menikmati mandi yang nyaman dan hangat seperti ini. Meskipun tinggal di istana, tapi statusnya sebagai tahanan.

Ini adalah kelahiran kembali yang sangat indah. Di masa depan, terlepas dari apa yang mungkin terjadi, dia harus mencintai dirinya sendiri dengan baik dan hidup nyaman.

Pada saat Jason kembali ke vila, seluruh lampu di lantai pertama telah padam. Bukan hanya lantai pertama, tapi hampir seluruh ruangan sudah gelap.

Mata Jason tajam seperti burung hantu di malam hari. Meskipun semua lampu padam, tapi vila ini memiliki dinding dengan banyak kaca tebal. Masih ada cahaya bulan dan lampu taman yang memantul ke dalam, memberikan cahaya samar-samar.

Dengan mudah Jason bermanuver melewati sudut dengan penerangan minim.

Satu-satunya cahaya yang dia lihat hanya lampu di kamar mandi kamarnya masih menyala. Jason berpikir jika dia lupa mematikannya pagi tadi. Tidak pernah terlintas di benaknya jika Esme telah kembali.

Di kamar tidurnya, dia menanggalkan jas dan dengan santai melempar ke sofa. Lalu, dia berjalan menuju lemari sambil melonggarkan dasi.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Penglihatannya menyempit tajam dan berbahaya.

Ya, kamar mandi itu bukan hanya kosong, tapi ada seseorang di dalamnya. Pupil gelap Jason semakin meruncing.

Memiliki tingkat waspada yang tinggi, dia mencium aroma yang bukan miliknya keluar dari kamar mandi.

Jason mendekat perlahan. Pintunya sedikit terbuka sebelum dia membukanya penuh tanpa menimbulkan suara.

Aroma ini … ini sama sekali tidak mengganggunya. Justru aroma ini sangat menyenangkan seolah dia sedang menghirup ribuan bunga.

Esme Andreas?

Ketika dia melihat Esme yang tertidur di bak kamar mandi, seluruh syaraf di tubuhnya berkontraksi.

Air di bak mandi sangat jernih, dan Esme tertidur nyenyak di sana. Ketika air di bak begitu tenang, setiap inci dari tubuhnya terlihat jelas.

Sosok telan jang yang terekspos di depan mata ini terlihat begitu seksi dan berisi. Seolah-olah setiap bagian dari tubuhnya telah diciptakan tanpa celah.

Cantik, mulus, dan … seperti ada rasa misteri yang membungkus tubuh kecil itu.

Sesaat di mana Jason menjadi linglung, dia bisa merasakan aura ini. Dan itu hanya berlangsung sepersekian detik.

Detik selanjutnya, Esme tiba-tiba bangun dan membuka mata. Dalam tidurnya tadi, dia merasa seseorang sedang mengawasinya.

Melihat seorang pria berdiri di depannya, Esme sangat terkejut dan refleks langsung bangkit berdiri.

Karena tindakannya yang terburu-buru, dia kehilangan pijakan, terpeleset lalu jatuh kembali.

Ketika manusia merasa mereka dalam bahaya, gerakan refleks sebagai pertahanan diri akan muncul secara alami. Tangan Esme mengayun, mencoba meraih sesuatu untuk digapai. Jadi secara sah dia berhasil menangkap lengan Jason.

Tindakan Esme membuat Jason kehilangan keseimbangan. Jika dalam keadaan normal, Jason pasti masih bisa bertahan. Namun menit-menit sebelumnya, dia menjadi linglung melihat tubuh Esme yang telan jang bulat. Akhirnya, dia tidak bisa menopang dua tubuh dalam waktu singkat. Kakinya naik, dan mereka jatuh bersama.

Air dalam bak meluber keluar karena tekanan yang mereka berikan.

“Ah ….” Esme menjerit kesakitan karena kepalanya terbentur tepi bak mandi.

Bahkan Esme tidak punya waktu untuk menarik napas. Tubuhnya secara berlahan tenggelam karena berat badan Jason yang menekannya.

Esme tertegun pada awalnya, tapi dalam waktu berikutnya dia pulih dengan cepat, mencoba mendorong tubuh Jason. “Jason Hall, turun!”

“Untuk apa kau masih memelihara keangukahnmu? Apakah aku harus berpura-pura ini tidak disengaja?” Kedua tangan dan kaki Jason mengunci tubuh Esme di tengah-tengahnya.

Beberapa saat yang lalu, tubuh kerasnya telah menghadapi sebuah kelembutan. Napasnya terhenti sejenak. Suatu perasaan yang menakutkan menusuk ke arahnya.

Untuk mencegah Esme menyadari kekejiannya, dia mendukung tubuhnya jatuh. Dengan kedua lengannya, dia mempertahankan jarak tertentu darinya.

“Ini kecelakaan!” Esme menekannya dengan kesal. Tubuhnya menolak keras, sementara detak jantungnya semakin menggila.

“Apakah kau bersalah atau tidak, hasilnya tetap sama. Kau telah berhasil membuatku menekanmu.” Tatapan Jason jatuh pada tubuhnya sendiri seolah mengisyaratkan jika posisinya saat ini atas kesalahan Esme.

Warna merah merona naik dari leher lalu mendominasi wajah Esme. Dua kepalan kecil melayang di dada Jason dengan sedikit membentak. “Kau berdirilah dulu!”

“Esme Andreas, kemampuan aktingmu semakin meningkat.” Pujian itu sepenuhnya diwarnai dengan ejekan.

Kesal karena Jason terus menekannya, Esme menarik napas dan berkata tegas. “Karena kau sudah tahu aku berakting, kenapa kau tidak cepat berdiri? Apakah kesanku di matamu berubah menjadi lebih baik?”

Esme melirik ke tubuhnya sendiri, lalu tatapannya yang menawan mempertegas fitur cantiknya. “Atau … kau tidak bisa menahan godaan tubuhku?”

“Bagaimana menurutmu?”

“Perlawananmu hanya sebanyak ini?” Esme tersenyum miring. Jika Jason adalah seorang pria yang menjunjung kehormatannya, maka untuk menjatuhkan dia juga dengan cara yang sama.

Menangkap pemahaman sekilas di mata Esme, Jason tertawa hambar. Dia menyentuh dagu Esme. Matanya berkilau dingin saat dia berkata, “Esme Andreas, jangan bermain lidah denganku. Aku tahu setiap menit kau selalu memikirkan metode untuk naik ke atas ranjangku. Sekarang, kesempatan itu tepat berada di depan matamu. Apakah kau tidak mau menikmatinya?”

Menjijikkan!

Esme mengumpat dalam hati, tapi di depan Jason, dia tersenyum manis. “Aku juga akan menikmatinya, tapi sayangnya tubuhku baru pulih. Aku tidak memiliki nafsu dan tubuhku tidak mengizinkan.”

Senyuman Esme semanis madu, tapi nadanya dingin. Dia mengangkat pandangannya, lalu jemari lentiknya menyusuri dada Jason dengan gerakan 3rotis. “Jason Hall, apakah kau menginginkannya?”

Tindakannya ini brutal dan memikat.

Jason melihat tangan ramping itu menggambar lingkaran kecil di dadanya. Tangannya lembut, meruncing dengan indah.

Intensitas yang digunakan di jari-jarinya tepat, memperparah pikirannya yang berkabut. Tatapannya beralih ke tubuh telan jang yang berkilauan di air. Sangat mulus, lembut, dan kurva bulat itu begitu memikat. Mata Jason menggelap karena gairahnya.

Sesuatu yang panas seperti sedang membakar perut bagian bawahnya.

“Jason Hall, aku merasakan dadamu yang bergetar. Apa kau menginginkannya?” Nada menggodanya semakin meningkat dengan suara manja.

Jika dia ingin menyingkirkan Jason, maka hal yang harus dia lakukan tentu saja menekan harga diri pria itu sampai serendah-rendahnya. Tapi Esme lupa jika mempermainkan g4riah lelaki, orang itu tidak akan selamat.

Bulu matanya bergerak-gerak seperti sayap kupu-kupu. Esme tidak bisa melewatkan setiap hal yang dia lakukan untuk tidak menggoda Jason. Semakin dia mendorong Jason, semakin Jason akan mempertahankan kehormatannya.

“Jason Hall, jika kau menginginkannya, mungkin aku bisa melakukan penawaran dengan tubuhku.”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istriku, Jangan Lari Dariku   Bab 136 Istriku, Jangan Lari Dariku Final Chapter

    Selama sebulan setelah kematian Seth, hidup Jason seperti berhenti bergerak.Bukan hanya karena ia kehilangan seorang sahabat—satu-satunya orang yang ia percaya sepenuh hati—tetapi karena sesuatu di dalam dirinya ikut mati bersamanya.Rumah terasa kosong. Ruang kerja terasa asing. Bahkan napasnya sendiri terkadang terasa berat, seolah ia sedang hidup dengan tubuh yang bukan miliknya.Jason menjadi semakin bungkam.Malam-malamnya lebih sering dihabiskan di bar. Duduk sendirian, menatap gelas tanpa benar-benar minum, membiarkan waktu mengalir tanpa makna. Cahaya lampu yang redup, musik pelan, dan suara orang-orang yang tertawa samar justru membuat kesunyian di dadanya semakin nyaring.Noe beberapa kali mencoba mendekat.Awalnya dengan secangkir kopi. Lalu dengan laporan. Hingga akhirnya hanya dengan duduk diam di seberangnya. Namun setiap kali Noe membuka mulut untuk mengatakan sesuatu yang lebih dari sekadar formalitas, Jason menatapnya dingin.“Keluar,” katanya singkat.Noe tidak lang

  • Istriku, Jangan Lari Dariku   Bab 135 Aku Akan Selalu di Sisimu

    Satu bulan setelah kematian Seth.Esme tinggal di sebuah vila putih di dekat pantai, jauh dari hiruk-pikuk kota. Tempat itu tenang. Debur ombak terdengar teratur, angin asin menyentuh kulit, dan matahari sore selalu jatuh miring ke teras kayu dengan warna keemasan yang lembut. Vila itu bukan pilihannya. Itu pemberian Nyonya Jier.“Setidaknya tinggallah di sini,” kata wanita itu waktu itu, dengan nada yang tidak memberi ruang penolakan. “Aku ingin bisa menemuimu kapan pun.”Ia memintanya tinggal bersama Emilia. Ia juga meminta sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar vila.Memanggil dia dengan sebutan Ibu, menerimanya sebagai Ibunya, karena Nyonya Jier menyayanginya. Terlepas dari siapa dia sebenarnya.Dan Esme … tidak menolak.Selama sebulan itu, Esme memang hidup.Ia tercukupi. Tidak ada yang kurang. Ia tidak perlu bekerja, tidak perlu memikirkan uang, tidak perlu memikirkan apa pun yang bersifat duniawi. Pelayan tersedia. Makanan selalu tersaji hangat. Emilia ada di sisinya setiap

  • Istriku, Jangan Lari Dariku   Bab 134 Jangan Bawa Raga Anakku

    Nyonya Jier mengusap wajahnya yang basah. Napasnya masih tersengal, tapi ia memaksa dirinya bicara dengan lebih stabil.“Tidak apa-apa jika kau tidak memaafkanku,” katanya lirih. “Aku pantas menerima itu.” Ia menatap Esme dengan mata yang penuh harap dan takut sekaligus.“Tapi … jangan diam seperti ini. Jangan menatapku seolah aku orang asing. Setidaknya—katakan sesuatu padaku. Apa kau akan pergi? Kenapa kau membawa koper? Kenapa kau meninggalkan suamimu?”Mobil kembali tenggelam dalam keheningan.Beberapa detik berlalu. Lama.Lalu Esme akhirnya berbicara.Ia tidak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, menembus kaca jendela, seolah kata-kata itu tidak diarahkan pada Nyonya Jier, melainkan pada dunia yang sudah terlalu kacau untuk dipahami.“Saya minta maaf,” ucapnya pelan. Suaranya tenang—terlalu tenang untuk sebuah pengakuan yang akan menghancurkan segalanya. “Tapi saya memang tidak bisa merespons seperti yang Anda harapkan.”Nyonya Jier menegang.“Saya … bukan Esme Andreas.”Kalimat i

  • Istriku, Jangan Lari Dariku   Bab 133 Aku Bukan Anakmu

    Esok itu, vila Jason dipenuhi kesedihan yang pekat, seperti udara dingin yang tak terlihat namun menekan dada siapa pun yang berada di dalamnya.Tidak ada suara yang benar-benar keras, tidak ada tangisan yang meledak, namun setiap sudut vila seakan menyimpan duka yang mengendap, lama, dan tak terucap.Esme mengemas barang-barangnya dengan tenang. Terlalu tenang, justru itulah yang membuatnya terasa menyakitkan. Setiap pakaian dilipat rapi, setiap benda kecil dimasukkan ke dalam koper tanpa ragu, seolah ia telah membuat keputusan itu jauh sebelum pagi ini tiba.Emilia berdiri di ambang pintu, memperhatikannya tanpa berani mendekat. Ia tidak benar-benar tahu apa yang terjadi antara Tuan Muda dan Nona Muda-nya.Namun satu hal bisa ia lihat dengan jelas—kesedihan di wajah Esme hari ini jauh lebih dalam dari apa pun yang pernah ia saksikan selama bertahun-tahun mengabdi di sisinya. Kesedihan yang tidak menjerit, tidak memohon, hanya diam… dan itu justru paling melukai.Dengan suara pelan n

  • Istriku, Jangan Lari Dariku   Bab 132 Bukan Lagi Istrinya

    Buku catatan itu terasa lebih berat dari yang terlihat.Tulisan tangan memenuhi hampir setiap halaman.Rapi. Tegas. Namun di beberapa bagian, goresannya terlihat lebih dalam, seolah pena itu ditekan dengan emosi yang tidak bisa diredam. Di sela-sela tulisan, ada halaman-halaman yang tidak berisi kata-kata sama sekali—hanya gambar.Wajahnya.Digambar dengan tangan. Berkali-kali. Dari berbagai sudut. Ada yang hanya garis tipis, ada yang begitu detail hingga sorot matanya terasa hidup. Tidak satu pun terlihat dibuat tergesa-gesa.Esme menatap gambar-gambar itu lama.Selama ini, ia hidup dengan satu keyakinan yang tak pernah ia goyah.Bahwa Dong Fang Xuan adalah kaisar paling kejam yang pernah ia kenal.Ia menemaninya ke medan perang. Berdiri di sisinya saat darah dan mayat menumpuk. Namun setelah kemenangan diraih, Dong Fang Xuan justru membunuh sembilan koneksi keluarganya—satu demi satu—seolah ingin memutus seluruh jalan pulang baginya.Ia percaya Dong Fang Xuan membencinya.Ia percaya

  • Istriku, Jangan Lari Dariku   Bab 131 Terlalu Banyak

    Langit hari itu kelabu, seolah tahu siapa yang sedang mereka antar pulang.Pemakaman Seth digelar dengan kehormatan penuh—bukan sebagai seorang prajurit yang gugur di medan perang, melainkan sebagai putra dari seorang jenderal besar, dan sebagai pria yang namanya dikenal luas di lingkaran kekuasaan, bisnis, dan keluarga-keluarga berpengaruh.Deretan mobil hitam memenuhi area pemakaman. Pelat nomor khusus. Pengawalan resmi. Bendera setengah tiang berkibar pelan tertiup angin. Para perwira tinggi, mantan jenderal, tokoh pemerintahan, pengusaha besar, hingga orang-orang yang tak pernah muncul di hadapan publik, berdiri dalam diam yang sama—sunyi, tertunduk, dan penuh hormat.Tidak ada bisik-bisik.Tidak ada tatapan ingin tahu.Semua yang hadir tahu, kematian Seth bukan kematian biasa.Peti jenazahnya terbuat dari kayu gelap, dipoles rapi, dikelilingi karangan bunga yang terlalu banyak untuk dihitung. Namun tak satu pun bunga itu mampu mengimbangi beratnya kehilangan yang menggantung di u

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status